KITA

KITA

Aku di sini

Bukan untuk aku

Aku di sini

Bukan untuk diriku sendiri

Aku di sini

Bukan untuk siapa-siapa

Selain untuk kita

KITA

Aku bukan siapa-siapa

Tanpa teman-temanku

Karena kalian adalah aku

Kamu…

Aku…

Kita…

Sahabat dalam suka dan duka

Sahabat dalam dekat dan jauh

Sahabat dulu dan sekarang

Sahabat selama-lamanya…

Bogor, 31 Maret 2006

For 56 Junior High Shcool Reunion, class 93

Cats

KITA

KITA

Aku di sini
Bukan untuk aku
Aku di sini
Bukan untuk diriku sendiri
Aku di sini
Bukan untuk siapa-siapa
Selain untuk kita
KITA

Aku bukan siapa-siapa
Tanpa teman-temanku
Karena kalian adalah aku
Kamu…
Aku…
Kita…

Sahabat dalam suka dan duka
Sahabat dalam dekat dan jauh
Sahabat dulu dan sekarang
Sahabat selama-lamanya…

Bogor, 31 Maret 2006
For 56 Junior High Shcool Reunion, class 93

Pesan Buat Chichil

Chichil, kamu tahu gak?

Kamu masih lebih bersih daripada Imam

Meskipun kamu jarang mandi,

Kamu lebih harum daripada Imam

Bulumu lebih lembut daripada kulit Imam yang hitam

Makanmu juga lebih sering daripada Imam yang makan sehari dua kali

Kandangmu juga lebih bagus daripada rumah Imam yang reyot di pinggir kali

Kamu tidak perlu minta-minta di jalan seperti Imam

Chichil, kamu masih lebih beruntung dari Imam

Makanya Chil, jadi kucing yang baik ya..

Jkt, 22 Maret 2006

Pesan Buat Chichil

Chichil, kamu tahu gak?
Kamu masih lebih bersih daripada Imam
Meskipun kamu jarang mandi,
Kamu lebih harum daripada Imam
Bulumu lebih lembut daripada kulit Imam yang hitam
Makanmu juga lebih sering daripada Imam yang makan sehari dua kali
Kandangmu juga lebih bagus daripada rumah Imam yang reyot di pinggir kali
Kamu tidak perlu minta-minta di jalan seperti Imam

Chichil, kamu masih lebih beruntung dari Imam
Makanya Chil, jadi kucing yang baik ya..

Jkt, 22 Maret 2006

Bu Guru Kembar

Ruang kelas itu atapnya hanya sejengkal dari kepalaku.
Bahkan di sisi lain aku harus menundukkan kepala. Tidak ada pencahayaan kecuali
cahaya matahari dari celah atap yang merupakan jalan layang di kawasan Jembatan
III, Penjaringan Jakarta Utara, sisanya cahaya dari celah pintu masuk kelas
yang berada di atas rumah petak warga setempat. Ruang kelas ‘darurat’ itu
terbuat dari bedeng yang berada di lantai dua rumah petak milik Pak Jamin,
pemulung yang rumahnya digusur pemda.

Sekolah beratapkan jembatan layang itu adalah Sekolah
Darurat Kartini yang didirikan oleh Ibu Guru Kembar, Ryan dan Rossy. Sekolah gratis
untuk TK hingga SMA ini dibangun atas kocek Bu Guru Kembar sendiri. Bahkan mereka
sendiri yang mengajar murid-murid yang sebagian besarnya anak-anak jalanan.

“Mereka kita didik untuk tidak lagi mengemis di
jalan-jalan,” ujar Ryan. “Memang banyak dari mereka yang harus bekerja mencari
uang, tapi tidak dengan mengemis,” lanjutnya. Karenanya Sekolah Darurat Kartini
juga mengajarkan keterampilan aplikatif seperti masak, jahit, bengkel, stir
mobil, dll.

Perlu kita akui, tanpa bekal keterampilan, ijazah yang
kita dapat dari sekolah formal takkan berarti apa-apa. Lembaran ijazah hanya
mampu menarik mata HRD saat CV diterima. Selebihnya adalah penilaian nyata dari
kerja kita sehari-hari. Tentu tidak saja terampil, tapi juga berakhlak. Kalau meminjam
istilahnya Ary Ginanjar, ESQ-nya lah.

Apalagi untuk orang-orang papa, ijazah tidak berarti
apa-apa bagi mereka tanpa bekal keterampilan. Karena itu murid-murid Sekolah
Darurat Kartini ini sejak kelas 2 SD sudah diajar masak, jahit, montir, baik
yang laki-laki maupun yang perempuan. Setidaknya itu bekal mereka untuk
mengubah nasib mereka sendiri, demikian kata Bu Guru Kembar. “Memangnya siapa
yang mau mempekerjakan orang kere?” tegas Rossy.

Iya juga sih… mana ada orang kantoran yang mau menerima
mereka yang tidak berpenampilan necis? Karena itu pula Bu Guru Kembar ini
menekankan kebersihan dan kerapihan. “Waktu pertama berdiri yang kita ajarkan
kepada anak-anak itu MANDI.” Papar Ryan, “Selain itu juga budi pekerti,” ujar
guru yang sebagian muridnya bekerja sebagai PSK.

Tapi lucunya upaya Bu Guru Kembar ini seolah tak didukung
pemerintah. “Wong kita bisa diakui Diknas itu sempet ‘berantem’ dulu,” kenang
Rossy. Bahkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang sempat ramai
didengungkan pemerintah, tidak sampai ke sekolah ini.

“Ya sudahlah gak apa-apa. Kita juga gak minta-minta ke
pemerintah kok. Niat kita cuma karena Allah kok,” imbuh Ryan.

Hujan turun seiring dengan berakhirnya waktu belajar di
sekolah kolong jembatan itu. Derasnya air langit menyebabkan bocor kelas yang
dihuni sekitar 40-an murid. Kaki mereka pun harus rela basah dan kotor akibat
tanah becek dan genangan air yang berada di pintu kelas. Meski demikian,
semangat anak-anak itu tak pernah luntur oleh hujan, demikian juga dengan Bu
Guru Kembar. Setiap hari dari Senin sampai Sabtu, Bu Guru yang selalu
berpakaian unik ini tak kenal lelah memberikan ilmu bagi anak-anak papa. Terus berjuang
Bu Guru! Tunas-tunasmu kelak akan berbunga indah…

Bu Guru Kembar

Ruang kelas itu atapnya hanya sejengkal dari kepalaku. Bahkan di sisi lain aku harus menundukkan kepala. Tidak ada pencahayaan kecuali cahaya matahari dari celah atap yang merupakan jalan layang di kawasan Jembatan III, Penjaringan Jakarta Utara, sisanya cahaya dari celah pintu masuk kelas yang berada di atas rumah petak warga setempat. Ruang kelas ‘darurat’ itu terbuat dari bedeng yang berada di lantai dua rumah petak milik Pak Jamin, pemulung yang rumahnya digusur pemda.

Sekolah beratapkan jembatan layang itu adalah Sekolah Darurat Kartini yang didirikan oleh Ibu Guru Kembar, Ryan dan Rossy. Sekolah gratis untuk TK hingga SMA ini dibangun atas kocek Bu Guru Kembar sendiri. Bahkan mereka sendiri yang mengajar murid-murid yang sebagian besarnya anak-anak jalanan.

“Mereka kita didik untuk tidak lagi mengemis di jalan-jalan,” ujar Ryan. “Memang banyak dari mereka yang harus bekerja mencari uang, tapi tidak dengan mengemis,” lanjutnya. Karenanya Sekolah Darurat Kartini juga mengajarkan keterampilan aplikatif seperti masak, jahit, bengkel, stir mobil, dll.

Perlu kita akui, tanpa bekal keterampilan, ijazah yang kita dapat dari sekolah formal takkan berarti apa-apa. Lembaran ijazah hanya mampu menarik mata HRD saat CV diterima. Selebihnya adalah penilaian nyata dari kerja kita sehari-hari. Tentu tidak saja terampil, tapi juga berakhlak. Kalau meminjam istilahnya Ary Ginanjar, ESQ-nya lah.

Apalagi untuk orang-orang papa, ijazah tidak berarti apa-apa bagi mereka tanpa bekal keterampilan. Karena itu murid-murid Sekolah Darurat Kartini ini sejak kelas 2 SD sudah diajar masak, jahit, montir, baik yang laki-laki maupun yang perempuan. Setidaknya itu bekal mereka untuk mengubah nasib mereka sendiri, demikian kata Bu Guru Kembar. “Memangnya siapa yang mau mempekerjakan orang kere?” tegas Rossy.

Iya juga sih… mana ada orang kantoran yang mau menerima mereka yang tidak berpenampilan necis? Karena itu pula Bu Guru Kembar ini menekankan kebersihan dan kerapihan. “Waktu pertama berdiri yang kita ajarkan kepada anak-anak itu MANDI.” Papar Ryan, “Selain itu juga budi pekerti,” ujar guru yang sebagian muridnya bekerja sebagai PSK.

Tapi lucunya upaya Bu Guru Kembar ini seolah tak didukung pemerintah. “Wong kita bisa diakui Diknas itu sempet ‘berantem’ dulu,” kenang Rossy. Bahkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang sempat ramai didengungkan pemerintah, tidak sampai ke sekolah ini.

“Ya sudahlah gak apa-apa. Kita juga gak minta-minta ke pemerintah kok. Niat kita cuma karena Allah kok,” imbuh Ryan.

Hujan turun seiring dengan berakhirnya waktu belajar di sekolah kolong jembatan itu. Derasnya air langit menyebabkan bocor kelas yang dihuni sekitar 40-an murid. Kaki mereka pun harus rela basah dan kotor akibat tanah becek dan genangan air yang berada di pintu kelas. Meski demikian, semangat anak-anak itu tak pernah luntur oleh hujan, demikian juga dengan Bu Guru Kembar. Setiap hari dari Senin sampai Sabtu, Bu Guru yang selalu berpakaian unik ini tak kenal lelah memberikan ilmu bagi anak-anak papa. Terus berjuang Bu Guru! Tunas-tunasmu kelak akan berbunga indah…


div.itemactions a, div.ritemactions div.addthis_toolbox a { text-decoration: none !important; border: 0 !important; -moz-box-shadow: none !important; -webkit-box-shadow: none !important; box-shadow: none !important;; padding: 0px !important; background: none !important; }

Blog Entry Belajar Dari Raju Mar 19, ’06 8:59 PM
for everyone

Jakarta, 17 Maret 2006

Beberapa jam lalu kami mengantar Muhammad Azwar alias Raju pulang ke Medan. Dengan mobil ZONA kami mengantarnya hingga Bandara Soekarno-Hatta. Tentu bukan tanpa alasan kami mengantar ia dan keluarganya.

Setelah dua jam berada di Pesantren At Taibin milik Anton Medan, kami memutuskan ikut ke bandara, karena rencananya kepulangan Raju ke Langkat, Sumatera Utara, akan dilepas Kak Seto di bandara internasional itu. Berhubung tidak sedikit anggota keluarga Bang Anton yang hendak mengantar, maka dua mobil kijang mereka tak cukup muat. Akhirnya Raju, mamak, dan bapaknya, serta Pak Aji (kenalan Bang Anton di Medan) ikut di mobil ZONA.

Dari wawancara, bincang-bincang, dan senda gurau selama di pesantren dan perjalanan ke bandara, tak kutemui sedikitpun kenakalan dalam jiwa bocah 8 tahun itu. Bahkan ketika di pesantren, dengan penuh keceriaan Raju dan Eman sempat berboncengan motor harley mini. Tak tampak permusuhan diantara keduanya. Tidak ada sedikitpun sisa pertengkaran yang membawa keduanya ke meja hijau.

Mungkin ketika aku menulis kalimat-kalimat ini, Raju dan Eman tengah menikmati jamuan dari Bupati Langkat dalam acara syukuran mereka berdua. Mungkin dua bocah itu juga tidak pernah menyangka kalau pertengkaran mereka akan membuat mereka dikenal dunia, bahkan mengundang simpati seorang Anton Medan yang mengangkat mereka sebagai anak.

Aku jadi teringat lirik lagu grup band Michael Learns To Rock:

Oh my sleeping child, the world so wild
But you build your own paradise
That’s what reason why, I’ll cover my sleeping child…

Hmmm… seandainya semua orang dewasa mau merendahkan hatinya dan mendengarkan anak-anak, mungkin perang tak perlu ada di muka bumi… Wallahu’alam bishawab. []

Belajar Dari Raju

Jakarta, 17 Maret 2006

Beberapa jam lalu kami mengantar Muhammad Azwar alias Raju pulang ke Medan. Dengan mobil ZONA kami mengantarnya hingga Bandara Soekarno-Hatta. Tentu bukan tanpa alasan kami mengantar ia dan keluarganya.

Setelah dua jam berada di Pesantren At Taibin milik Anton Medan, kami memutuskan ikut ke bandara, karena rencananya kepulangan Raju ke Langkat, Sumatera Utara, akan dilepas Kak Seto di bandara internasional itu. Berhubung tidak sedikit anggota keluarga Bang Anton yang hendak mengantar, maka dua mobil kijang mereka tak cukup muat. Akhirnya Raju, mamak, dan bapaknya, serta Pak Aji (kenalan Bang Anton di Medan) ikut di mobil ZONA.

Dari wawancara, bincang-bincang, dan senda gurau selama di pesantren dan perjalanan ke bandara, tak kutemui sedikitpun kenakalan dalam jiwa bocah 8 tahun itu. Bahkan ketika di pesantren, dengan penuh keceriaan Raju dan Eman sempat berboncengan motor harley mini. Tak tampak permusuhan diantara keduanya. Tidak ada sedikitpun sisa pertengkaran yang membawa keduanya ke meja hijau.

Mungkin ketika aku menulis kalimat-kalimat ini, Raju dan Eman tengah menikmati jamuan dari Bupati Langkat dalam acara syukuran mereka berdua. Mungkin dua bocah itu juga tidak pernah menyangka kalau pertengkaran mereka akan membuat mereka dikenal dunia, bahkan mengundang simpati seorang Anton Medan yang mengangkat mereka sebagai anak.

Aku jadi teringat lirik lagu grup band Michael Learns To Rock:

Oh my sleeping child, the world so wild
But you build your own paradise
That’s what reason why, I’ll cover my sleeping child…

Hmmm… seandainya semua orang dewasa mau merendahkan hatinya dan mendengarkan anak-anak, mungkin perang tak perlu ada di muka bumi… Wallahu’alam bishawab. []

The Journalist

I woke up this morning

Then realize I’m still breathing

Thank God I’m still alive, but…

I’m in injury DEADLINE

Bogor, March 17 2006

The Journalist

I woke up this morning
Then realize I’m still breathing
Thank God I’m still alive, but…
I’m in injury DEADLINE

Bogor, March 17 2006