Bu Guru Kembar

Ruang kelas itu atapnya hanya sejengkal dari kepalaku.
Bahkan di sisi lain aku harus menundukkan kepala. Tidak ada pencahayaan kecuali
cahaya matahari dari celah atap yang merupakan jalan layang di kawasan Jembatan
III, Penjaringan Jakarta Utara, sisanya cahaya dari celah pintu masuk kelas
yang berada di atas rumah petak warga setempat. Ruang kelas ‘darurat’ itu
terbuat dari bedeng yang berada di lantai dua rumah petak milik Pak Jamin,
pemulung yang rumahnya digusur pemda.

Sekolah beratapkan jembatan layang itu adalah Sekolah
Darurat Kartini yang didirikan oleh Ibu Guru Kembar, Ryan dan Rossy. Sekolah gratis
untuk TK hingga SMA ini dibangun atas kocek Bu Guru Kembar sendiri. Bahkan mereka
sendiri yang mengajar murid-murid yang sebagian besarnya anak-anak jalanan.

“Mereka kita didik untuk tidak lagi mengemis di
jalan-jalan,” ujar Ryan. “Memang banyak dari mereka yang harus bekerja mencari
uang, tapi tidak dengan mengemis,” lanjutnya. Karenanya Sekolah Darurat Kartini
juga mengajarkan keterampilan aplikatif seperti masak, jahit, bengkel, stir
mobil, dll.

Perlu kita akui, tanpa bekal keterampilan, ijazah yang
kita dapat dari sekolah formal takkan berarti apa-apa. Lembaran ijazah hanya
mampu menarik mata HRD saat CV diterima. Selebihnya adalah penilaian nyata dari
kerja kita sehari-hari. Tentu tidak saja terampil, tapi juga berakhlak. Kalau meminjam
istilahnya Ary Ginanjar, ESQ-nya lah.

Apalagi untuk orang-orang papa, ijazah tidak berarti
apa-apa bagi mereka tanpa bekal keterampilan. Karena itu murid-murid Sekolah
Darurat Kartini ini sejak kelas 2 SD sudah diajar masak, jahit, montir, baik
yang laki-laki maupun yang perempuan. Setidaknya itu bekal mereka untuk
mengubah nasib mereka sendiri, demikian kata Bu Guru Kembar. “Memangnya siapa
yang mau mempekerjakan orang kere?” tegas Rossy.

Iya juga sih… mana ada orang kantoran yang mau menerima
mereka yang tidak berpenampilan necis? Karena itu pula Bu Guru Kembar ini
menekankan kebersihan dan kerapihan. “Waktu pertama berdiri yang kita ajarkan
kepada anak-anak itu MANDI.” Papar Ryan, “Selain itu juga budi pekerti,” ujar
guru yang sebagian muridnya bekerja sebagai PSK.

Tapi lucunya upaya Bu Guru Kembar ini seolah tak didukung
pemerintah. “Wong kita bisa diakui Diknas itu sempet ‘berantem’ dulu,” kenang
Rossy. Bahkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang sempat ramai
didengungkan pemerintah, tidak sampai ke sekolah ini.

“Ya sudahlah gak apa-apa. Kita juga gak minta-minta ke
pemerintah kok. Niat kita cuma karena Allah kok,” imbuh Ryan.

Hujan turun seiring dengan berakhirnya waktu belajar di
sekolah kolong jembatan itu. Derasnya air langit menyebabkan bocor kelas yang
dihuni sekitar 40-an murid. Kaki mereka pun harus rela basah dan kotor akibat
tanah becek dan genangan air yang berada di pintu kelas. Meski demikian,
semangat anak-anak itu tak pernah luntur oleh hujan, demikian juga dengan Bu
Guru Kembar. Setiap hari dari Senin sampai Sabtu, Bu Guru yang selalu
berpakaian unik ini tak kenal lelah memberikan ilmu bagi anak-anak papa. Terus berjuang
Bu Guru! Tunas-tunasmu kelak akan berbunga indah…

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

3 Comments

  1. Hello mbak.. mo tanya dong, punya contact number Sekolah Darurat ini ga? Thank you.

    Reply
  2. Hello 'lagosse'…
    meskipun sekolah darurat kartini yg aku datangi ini sekarang udah digusur, tapi bu guru kembar tetap menyelenggarakan kelas di daerah jakarta utara juga. Nomor kontak bu guru kembar, nanti aku posting via pm ya

    Reply
  3. Asslamkm mbak,
    aku mau tau kontak numbernya ibu guru kembar juga dong, via pm aja yach, thx…

    wasslam…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: