Belahan Jiwa

Belahan Jiwa

Wahai belahan jiwa,

Kau adalah kepak sayapku

Air bagi dahagaku

Siang pada malamku

Tinta pada penaku

Wahai pasangan jiwa,

Penyatuan suci ini hanya debu tertiup angin

Tanpa simpul Sang Pemilik Kasih

Wahai jiwa yang rapuh,

Aku adalah bagian jiwamu yang hilang

Dan kau kepingan hatiku yang terserak

Namun aku bukanlah pemilik kepak sayapmu yang megah

Dan kau bukanlah pemilik gemintangku yang berkerlip

Wahai jiwa yang berada dalam genggaman-Nya,

Marilah mengabdi pada Pemberi Kehidupan

Karena kau dan aku adalah milik-Nya

Bogor, 24 Maret 2006

Advertisements

Kurma, Kismis, dan Madu

KURMA

Abu Abdillah a.s. bersabda: “Buah kurma
adalah salah satu buah

yang berasal dari surga dan dapat mensirnakan pengaruh
sihir”.

Abu Abdillah a.s. bersabda: “Orang yang
memakan 7 buah kurma

yang baik sebelum sarapan, maka pada hari itu dia tidak
akan

tertimpa racun, sihir dan tidak diganggu setan”.

Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. bersabda:
“Barangsiapa memakan 7

buah kurma yang baik, maka cacing-cacing yang ada di
perutnya

akan mati”.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Rumah yang
tidak ada kurma di

dalamnya, akan menyebabkan penghuninya kurang
sehat”.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Berilah
makanan kurma pada wanita

yang hamil sebelum dia melahirkan, sebab yang demikian
itu akan

menyebabkan anaknya menjadi seorang yang tabah dan
bertakwa

(bersih hatinya)”.

KISMIS

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa
memakan kismis merah

sebanyak 21 biji setiap hari sebelum sarapan pagi, maka
dia tidak

akan tertimpa penyakit kecuali kematian”.

Imam Ali a.s. bersabda: “Barangsiapa
memakan 21 biji kismis

merah, maka dia tidak akan melihat pada
jasadnya suatu yang

tidak disenangi”.

Imam Ali a.s. bersabda: “Kismis dapat
menguatkan jantung,

menghilangkan penyakit, menghilangkan panas dan
memulihkan

kesehatan jiwa”.

Pada riwayat lain dari Abi Ja’far At-thusi
disebutkan bahwa kismis

dapat menghilangkan lendir dan menyehatkan jiwa”.

Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Biasakanlah memakan kismis karena

kismis dapat menghilangkan kepahitan (empedu/cairan
kuning),

menghilangkan lendir, menyehatkan badan, membaguskan
rupa,

menguatkan saraf dan menghilangkan letih”.

MADU

Dari Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s., beliau
bersabda: “Rasul saw

sangat menyenangi madu”.

Dari Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s., beliau
bersabda:

“Biasakanlah dirimu memperoleh dua obat yaitu
meminum madu dan

membaca Al-Quran”.

Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Barangsiapa minum madu setiap

bulan dengan niat melakukan nasehat Al-Qur’an, maka Allah
SWT

akan menyembuhkannya dari 77 penyakit”.

Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Barangsiapa ingin memiliki

hafalan yang kuat hendaklah dia meminum madu”.

Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Sebaik-baik minuman ialah madu

karena dia dapat mengkonsentrasikan hati dan
menghilangkan dingin

yang ada di dalam dada”.

Dari Imam Ali a.s. beliau bersabda:
“Madu adalah obat dari

segala penyakit, tiada penyakit di dalamnya, ia dapat

menghilangkan lendir dan membersihkan hati”.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Allah SWt
telah meletakan berkah

di dalam madu dan menjadikannya sebagai obat dari rasa
nyeri, dan

madu telah didoakan oleh 70 Nabi”.

(forwarded by bubbles7girl@yahoo.com)

Kurma, Kismis, dan Madu

KURMA

Abu Abdillah a.s. bersabda: “Buah kurma adalah salah satu buah

yang berasal dari surga dan dapat mensirnakan pengaruh sihir”.

Abu Abdillah a.s. bersabda: “Orang yang memakan 7 buah kurma

yang baik sebelum sarapan, maka pada hari itu dia tidak akan

tertimpa racun, sihir dan tidak diganggu setan”.

Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. bersabda: “Barangsiapa memakan 7

buah kurma yang baik, maka cacing-cacing yang ada di perutnya

akan mati”.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Rumah yang tidak ada kurma di

dalamnya, akan menyebabkan penghuninya kurang sehat”.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Berilah makanan kurma pada wanita

yang hamil sebelum dia melahirkan, sebab yang demikian itu akan

menyebabkan anaknya menjadi seorang yang tabah dan bertakwa

(bersih hatinya)”.

KISMIS

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa memakan kismis merah

sebanyak 21 biji setiap hari sebelum sarapan pagi, maka dia tidak

akan tertimpa penyakit kecuali kematian”.

Imam Ali a.s. bersabda: “Barangsiapa memakan 21 biji kismis

merah, maka dia tidak akan melihat pada jasadnya suatu yang

tidak disenangi”.

Imam Ali a.s. bersabda: “Kismis dapat menguatkan jantung,

menghilangkan penyakit, menghilangkan panas dan memulihkan

kesehatan jiwa”.

Pada riwayat lain dari Abi Ja’far At-thusi disebutkan bahwa kismis

dapat menghilangkan lendir dan menyehatkan jiwa”.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Biasakanlah memakan kismis karena

kismis dapat menghilangkan kepahitan (empedu/cairan kuning),

menghilangkan lendir, menyehatkan badan, membaguskan rupa,

menguatkan saraf dan menghilangkan letih”.

MADU

Dari Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s., beliau bersabda: “Rasul saw

sangat menyenangi madu”.

Dari Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s., beliau bersabda:

“Biasakanlah dirimu memperoleh dua obat yaitu meminum madu dan

membaca Al-Quran”.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa minum madu setiap

bulan dengan niat melakukan nasehat Al-Qur’an, maka Allah SWT

akan menyembuhkannya dari 77 penyakit”.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa ingin memiliki

hafalan yang kuat hendaklah dia meminum madu”.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sebaik-baik minuman ialah madu

karena dia dapat mengkonsentrasikan hati dan menghilangkan dingin

yang ada di dalam dada”.

Dari Imam Ali a.s. beliau bersabda: “Madu adalah obat dari

segala penyakit, tiada penyakit di dalamnya, ia dapat

menghilangkan lendir dan membersihkan hati”.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Allah SWt telah meletakan berkah

di dalam madu dan menjadikannya sebagai obat dari rasa nyeri, dan

madu telah didoakan oleh 70 Nabi”.

(forwarded by bubbles7girl@yahoo.com)

Witnessing A Train Crash

Bogor, April 19, 2006

I’m not surprised at all watching today’s headline about train crash in Jakarta. Train crash is frequently happen in this country. But most of all, I witnessed that accident.

Yesterday (04/18) about 3 pm
near Duren Kalibata railway station, a Jakarta-Bogor train crashed a
mini bus. With my own eyes I witnessed the red mini bus called “Metro
Mini” broken into pieces. With my own eyes I witnessed the red dusk
blown into the air. With my own ears I heard a ‘big bang’. I saw the
express train dragged the bus about 500 meters in only few seconds.
Then people suddenly gathered to see the damaged bus.

It was so fast… then 10 people get injured—some of them died after then. ‘Pakuan’ train is known as speedy train from Jakarta to Bogor (West Java).
No wonder it was a spectacular train crash, even though it didn’t cause
many victims as a train crash happened a couple days ago in East Java.

Unfortunately I didn’t bring camera and I’m not
a daily news journalist, so I decided to look closer. I only contact my
friend who works as a reporter in daily newspaper.

Thanked God I wasn’t on that mini bus. Because
that mini bus was only several meters ahead public transportation
(angkot. Red) I rode. I could be one of the victims if I decided to
ride that mini bus from Pasar Minggu terminal.

Well, from this phenomenon, we can
conclude who’s the guilty one. Yeah… the bus driver of course, because
he break the railway crossbar. He speed up the bus even though he was
warned. Bad luck, he had no opportunity to cross the railway because
the traffic jam in front of him. Blow the horn several times was only a
useless effort.

I felt so sorry to witness the accident. If
only people obey the rules, it would not happen. As an Indonesian, I am
so embarrassed to know the fact. Discipline is such a rare character
here. Not surprising, transportation accident had happened frequently
in Indonesia.
But the funny thing is people always blame government. Well, it’s not
only government responsibility. It is our responsibility as well.

PS. Sorry for my bad English

Witnessing A Train Crash

Bogor, April 19, 2006

I’m not surprised at all watching today’s headline about train crash in Jakarta. Train crash is frequently happen in this country. But most of all, I witnessed that accident.

Yesterday (04/18) about 3 pm near Duren Kalibata railway station, a Jakarta-Bogor train crashed a mini bus. With my own eyes I witnessed the red mini bus called “Metro Mini” broken into pieces. With my own eyes I witnessed the red dusk blown into the air. With my own ears I heard a ‘big bang’. I saw the express train dragged the bus about 500 meters in only few seconds. Then people suddenly gathered to see the damaged bus.

It was so fast… then 10 people get injured—some of them died after then. ‘Pakuan’ train is known as speedy train from Jakarta to Bogor (West Java). No wonder it was a spectacular train crash, even though it didn’t cause many victims as a train crash happened a couple days ago in East Java.

Unfortunately I didn’t bring camera and I’m not a daily news journalist, so I decided to look closer. I only contact my friend who works as a reporter in daily newspaper.

Thanked God I wasn’t on that mini bus. Because that mini bus was only several meters ahead public transportation (angkot. Red) I rode. I could be one of the victims if I decided to ride that mini bus from Pasar Minggu terminal.

Well, from this phenomenon, we can conclude who’s the guilty one. Yeah… the bus driver of course, because he break the railway crossbar. He speed up the bus even though he was warned. Bad luck, he had no opportunity to cross the railway because the traffic jam in front of him. Blow the horn several times was only a useless effort.

I felt so sorry to witness the accident. If only people obey the rules, it would not happen. As an Indonesian, I am so embarrassed to know the fact. Discipline is such a rare character here. Not surprising, transportation accident had happened frequently in Indonesia. But the funny thing is people always blame government. Well, it’s not only government responsibility. It is our responsibility as well.

PS. Sorry for my bad English

Lee

Jakarta, Monday, April 17 2006

Yesterday was my ordinary day until something happened. My
steps toward At Tin Mosque were just ordinary steps until they stopped. Yeah… my
steps were stopped by a stranger. Someone from South
Korea name Lee Seungjae.

A tall-oriental looked guy with his big back packed and
camera addressed me while I was walking in a hurry toward At Tin Mosque.

“Excuse me, can I get in there?” asked Lee

“Yeah…”

“But the gate is closed… Is there another enterance?”

Finally I became his instant tour guide. He asked some
questions about Islam. He really wanted to take my picture. Interesting Lee. A
cute guy with big curiousity, friendly and polite stranger. Lucky me to know
Lee.

Unfortunately our meeting is so short because I was in an
appointment with my friends. I left him alone inside the mosque with the mosque’s
officer. I left his eyes of amazement of the mosque architecture. I just left
him with his promise to send me the photos of us.

I worry bout Lee. I called the motel he stayed, but no one
hang up the phone. Tomorrow he’ll go to another country—New
Zealand if I’m not mistake. I wish he’s okay…
I hope he can get back home safely. I wish God blessed him and give him ‘hidayah’.

I’ll await for the opportunity to meet him again. Well, actually
he asked me to be his ‘guide’ today, but I can’t. I have to go to work. If I
can ‘runaway’ from my routine, I won’t refuse Lee’s request. I’d like to walk
around Jakarta with Lee.

Well Lee, if you read this story, I bet you think
what I’m thinking… This story isn’t complete without your photos! As you
promise me, you’ll send me those photos… So, I’ll complete this story with
photos from you.

Lee, I just want you to know that it was really nice to meet
you. I hope we’ll keep in touch and I wish we’ll have opportunity to meet again
someday. Miss you pal!

Love,

-Jati-

PS. Thanx Lee, I’ve up-dated this story with your photos!

Lee

Jakarta, Monday, April 17 2006

Yesterday was my ordinary day until something happened. My steps toward At Tin Mosque were just ordinary steps until they stopped. Yeah… my steps were stopped by a stranger. Someone from South Korea name Lee Seungjae.

A tall-oriental looked guy with his big back packed and camera addressed me while I was walking in a hurry toward At Tin Mosque.

“Excuse me, can I get in there?” asked Lee
“Yeah…”
“But the gate is closed… Is there another enterance?”

Finally I became his instant tour guide. He asked some questions about Islam. He really wanted to take my picture. Interesting Lee. A cute guy with big curiousity, friendly and polite stranger. Lucky me to know Lee.

Unfortunately our meeting is so short because I was in an appointment with my friends. I left him alone inside the mosque with the mosque’s officer. I left his eyes of amazement of the mosque architecture. I just left him with his promise to send me the photos of us.

I worry bout Lee. I called the motel he stayed, but no one hang up the phone. Tomorrow he’ll go to another country—New Zealand if I’m not mistake. I wish he’s okay… I hope he can get back home safely. I wish God blessed him and give him ‘hidayah’.

I’ll await for the opportunity to meet him again. Well, actually he asked me to be his ‘guide’ today, but I can’t. I have to go to work. If I can ‘runaway’ from my routine, I won’t refuse Lee’s request. I’d like to walk around Jakarta with Lee.

Well Lee, if you read this story, I bet you think what I’m thinking… This story isn’t complete without your photos! As you promise me, you’ll send me those photos… So, I’ll complete this story with photos from you.

Lee, I just want you to know that it was really nice to meet you. I hope we’ll keep in touch and I wish we’ll have opportunity to meet again someday. Miss you pal!

Love,

-Jati-

PS. Thanx Lee, I’ve up-dated this story with your photos!


div.itemactions a, div.ritemactions div.addthis_toolbox a { text-decoration: none !important; border: 0 !important; -moz-box-shadow: none !important; -webkit-box-shadow: none !important; box-shadow: none !important;; padding: 0px !important; background: none !important; }

Blog Entry Kisah Imam Apr 13, ’06 3:53 AM
for everyone

Kisah Imam

Sejak jam enam pagi Muhammad Imam sudah berada di ‘tempat kerjanya’. Anak 6 tahun itu harus mencari uang dengan mengemis di jembatan penyebrangan di kawasan UKI, Jakarta Timur. Jangankan sekolah, untuk makan sehari-hari saja cukup sulit buat Imam dan kedua orang tuanya. Imam sekeluarga hanya makan dua kali sehari setiap hari. “Pengen sekolah, tapi gak ada biaya,” ujar anak yang belum bisa baca tulis ini.

Ayah Imam bekerja sebagai penjual poster tak jauh dari tempatnya mengemis. Menurut Imam, penghasilan ayahnya hanya Rp 5000 sehari. Ibunya tidak bekerja, hanya menunggui Imam dari kejauhan. Sulung empat bersaudara itu tinggal bertiga dengan kedua orang tuanya di gubug di pinggir kali, tak jauh dari tempatnya mengemis.

“Adik saya tiga, tinggal sama kakek dan nenek di Lampung,” ujar Imam yang lahir di Lampung.

Sejak jam enam pagi hingga delapan malam, Imam hanya duduk atau tiduran di tangga jembatan penyebrangan sambil memegang gelas bekas air mineral. Penghasilan anak yang selalu lusuh dan kotor itu mencapai Rp 20 ribu setiap hari. “Soalnya kalau pagi-pagi suka ada abang-abang yang baik, suka kasih Rp 10 ribu,” ujar Imam yang bercita-cita jadi ABRI.

Meski demikian, tak jarang Imam dimarahi ibunya kalau penghasilannya sehari sedikit. “Sekarang saya disuruh Mamak dapat Rp 25 ribu sehari,” papar anak yang ingin sekali sekolah ini.

Sebelumnya Imam pernah mengamen di lampu merah. Tapi karena larinya tidak seberapa kencang, maka Imam memutuskan untuk beralih ‘profesi’. “Kalau ngamen suka dikejar-kejar trantib,” aku anak yang sudah beberapa kali ditangkap aparat keamanan ini.

Bagi Imam, seperti itulah nasibnya sebagai anak jalanan. Ia hanya bisa melihat iri anak-anak berseragam sekolah yang melintas di jembatan penyebrangan. Setiap hari ia hanya bisa berdoa, “Ya Allah, berikanlah aku rizki. Semoga rizkiku banyak hari ini, supaya bisa bantu Bapak dan Mamakku, dan aku bisa sekolah,” pintanya. [jat]

Kisah Imam

Kisah Imam

Sejak jam enam pagi Muhammad Imam sudah berada di ‘tempat
kerjanya’. Anak 6 tahun itu harus mencari uang dengan mengemis di jembatan
penyebrangan di kawasan UKI, Jakarta Timur. Jangankan sekolah, untuk makan
sehari-hari saja cukup sulit buat Imam dan kedua orang tuanya. Imam sekeluarga
hanya makan dua kali sehari setiap hari. “Pengen sekolah, tapi gak ada biaya,”
ujar anak yang belum bisa baca tulis ini.

Ayah Imam bekerja sebagai penjual poster tak jauh dari
tempatnya mengemis. Menurut Imam, penghasilan ayahnya hanya Rp 5000 sehari. Ibunya
tidak bekerja, hanya menunggui Imam dari kejauhan. Sulung empat bersaudara itu
tinggal bertiga dengan kedua orang tuanya di gubug di pinggir kali, tak jauh
dari tempatnya mengemis.

“Adik saya tiga, tinggal sama kakek dan nenek di Lampung,”
ujar Imam yang lahir di Lampung.

Sejak jam enam pagi hingga delapan malam, Imam hanya duduk
atau tiduran di tangga jembatan penyebrangan sambil memegang gelas bekas air
mineral. Penghasilan anak yang selalu lusuh dan kotor itu mencapai Rp 20 ribu
setiap hari. “Soalnya kalau pagi-pagi suka ada abang-abang yang baik, suka
kasih Rp 10 ribu,” ujar Imam yang bercita-cita jadi ABRI.

Meski demikian, tak jarang Imam dimarahi ibunya kalau
penghasilannya sehari sedikit. “Sekarang saya disuruh Mamak dapat Rp 25 ribu
sehari,” papar anak yang ingin sekali sekolah ini.

Sebelumnya Imam pernah mengamen di lampu merah. Tapi karena
larinya tidak seberapa kencang, maka Imam memutuskan untuk beralih ‘profesi’.
“Kalau ngamen suka dikejar-kejar trantib,” aku anak yang sudah beberapa kali
ditangkap aparat keamanan ini.

Bagi Imam, seperti itulah nasibnya sebagai anak jalanan. Ia
hanya bisa melihat iri anak-anak berseragam sekolah yang melintas di jembatan
penyebrangan. Setiap hari ia hanya bisa berdoa, “Ya Allah, berikanlah aku
rizki. Semoga rizkiku banyak hari ini, supaya bisa bantu Bapak dan Mamakku, dan
aku bisa sekolah,” pintanya. [jat]

Yusuf & Zulaika

Rating: ★★★
Category: Books
Genre: Romance
Author: Hakim Nuruddin Abdurrahman Jami

Aku bukan tipe pembaca yang suka baca karya terjemahan, soalnya seringkali gara-gara diterjemahin sebuah buku jadi hilang orisinalitas karyanya. Tapi patut diakui Roman Alegoris karangan seorang sufi ini terjemahannya bagus!! Meski bukan bahasa aslinya, keindahan puisi-puisi Jami begitu menusuk.
Kisah cinta abadi yang diukir dalam Al Qur’an ini dengan cantik diceritakan oleh Jami. Lewat puisi-puisinya yang romantis, konon Yusuf & Zulaika ini merupakan karya puncak Jami.
Bagi yang suka puisi-puisi anggur dan rembulan, wajib baca karya sastrawan besar sufi ini.