Duka Jogja dan Duka-duka Lain

Kembali air mata menetesi negri ini. Setelah duka Aceh, duka Nias, kini
duka Jogja. Sejak Sabtu (27/05) lalu perhatian media massa, terutama
elektronik, terpusat ke musibah gempa bumi 5,9 SR ini.

Hari demi hari yang kita dengar adalah tangis mereka yang kehilangan
sanak saudara. Tangis mereka yang sudah tak punya harta benda kerap
menghiasi layar kaca. Belum lagi angka korban jiwa yang kian hari kian
merangkak naik. Ditambah lagi nominal rupiah dan dollar yang semakin
menumpuk dari hari ke hari. Bencana yang menguras air mata ini menjelma
menjadi sineteron tentang tragedi kisah nyata yang lebih dramatis
ketimbang ‘Hidayah’ atau ‘Rahasia Illahi’ dan sejenisnya.

Beberapa hari belakangan, headline surat kabar memuat seputar tragedi
gempa bumi dengan 5000-an korban jiwa (kabar terakhir-red). Bahkan
tayangan-tayangan infotainment turut memberitakan tragedi ini. Ternyata
duka Jogja ini mampu menutupi ‘duka Mayangsari’, ‘duka korban Orba’,
‘duka Palestina’, ‘duka Iran’, serta duka-duka lainnya.

Bukannya tidak empati. Di balik sepotong doa dan lembaran-lembaran
rupiah di kotak sumbangan, aku mengumpat dalam hati. Mengumpat pada
para pembuat mitos. Mengapa mereka tak pernah bosan menciptakan realita
semu?

Sejak zaman raja-raja Jawa mitos sengaja diciptakan untuk melanggengkan
kekuasaan mereka. Karena belum ada koran, TV, dan radio, para
pendongeng dan penyair sengaja menyebarkan mitos-mitos kepada rakyat
agar mereka makin tunduk pada penguasa, sampai-sampai takut
ketulah/kwalat kalau menentang raja. Hingga kini mitos masih saja
diciptakan secara jauh lebih canggih. Dan media massa lah penyebar
mitos itu.

Semoga saja duka Jogja tidak menutup mata kita pada duka-duka lainnya.
Karena masih banyak PR yang masih tersimpan di laci yang menanti uluran
perhatian kita.

Buat saudara-saudaraku di Jogja dan Jateng, semoga 4JJI mengangkat
derajat kalian dan melimpahi rahmat-Nya yang tak terhingga…
Amin.

Duka Jogja dan Duka-duka Lain

Kembali air mata menetesi negri ini. Setelah duka Aceh, duka Nias, kini duka Jogja. Sejak Sabtu (27/05) lalu perhatian media massa, terutama elektronik, terpusat ke musibah gempa bumi 5,9 SR ini.

Hari demi hari yang kita dengar adalah tangis mereka yang kehilangan sanak saudara. Tangis mereka yang sudah tak punya harta benda kerap menghiasi layar kaca. Belum lagi angka korban jiwa yang kian hari kian merangkak naik. Ditambah lagi nominal rupiah dan dollar yang semakin menumpuk dari hari ke hari. Bencana yang menguras air mata ini menjelma menjadi sineteron tentang tragedi kisah nyata yang lebih dramatis ketimbang ‘Hidayah’ atau ‘Rahasia Illahi’ dan sejenisnya.

Beberapa hari belakangan, headline surat kabar memuat seputar tragedi gempa bumi dengan 5000-an korban jiwa (kabar terakhir-red). Bahkan tayangan-tayangan infotainment turut memberitakan tragedi ini. Ternyata duka Jogja ini mampu menutupi ‘duka Mayangsari’, ‘duka korban Orba’, ‘duka Palestina’, ‘duka Iran’, serta duka-duka lainnya.

Bukannya tidak empati. Di balik sepotong doa dan lembaran-lembaran rupiah di kotak sumbangan, aku mengumpat dalam hati. Mengumpat pada para pembuat mitos. Mengapa mereka tak pernah bosan menciptakan realita semu?

Sejak zaman raja-raja Jawa mitos sengaja diciptakan untuk melanggengkan kekuasaan mereka. Karena belum ada koran, TV, dan radio, para pendongeng dan penyair sengaja menyebarkan mitos-mitos kepada rakyat agar mereka makin tunduk pada penguasa, sampai-sampai takut ketulah/kwalat kalau menentang raja. Hingga kini mitos masih saja diciptakan secara jauh lebih canggih. Dan media massa lah penyebar mitos itu.

Semoga saja duka Jogja tidak menutup mata kita pada duka-duka lainnya. Karena masih banyak PR yang masih tersimpan di laci yang menanti uluran perhatian kita.

Buat saudara-saudaraku di Jogja dan Jateng, semoga 4JJI mengangkat derajat kalian dan melimpahi rahmat-Nya yang tak terhingga… Amin.

[The Unthinkable Things Around Us] Mendengar Itu Mahal


Pagi ini aku bersyukur sekali. Betapa tidak? Pagi kemarin aku tidak mendengar adzan subuh. Aku seperti hidup di dalam air. Bising kepala, tapi tak jelas suara apa.

Bahkan ketika hendak melakukan rutinitas pagi, yaitu buang sampah ke TPS dekat rumah aku agak-agak ngeri. Pasalnya untuk mecapai TPS itu, aku harus menyeberang jalan Dewi Sartika yang kalau pagi dan sore ramainya minta ampun. Meskipun saat itu masih jam 5.30 pagi, tapi cukup banyak kendaraan yang berseliweran.

Memang aku bisa melihat (meskipun harus dengan kaca mata), tapi bising kendaraan itu membuat kepalaku pusing. Pasalnya deru mesin itu seperti tak terdeteksi asalnya dari mana.

Masyaallah… aku merasakan nikmat mendengar yang mahal. Padahal hanya telinga kiriku yang bermasalah. Tapi ini mempengaruhi hampir semua aktivitasku. Gara-gara keasyikan korek-korek kuping, eh malah kotoran kupingnya terdorong masuk dan menghalangi pendengaran hiiiii…. Alhasil jadi ‘budi’ alias budeg dikit deh!

Ya sudah… hari itu terpaksa aku meliburkan diri dan mendatangi spesialis THT untuk ‘membetulkan’ pendengaranku. Dan dengan biaya Rp 40 ribu di RS Budhi Asih alhamdulillah aku bisa mendengar seperti sedia kala.

Subhanallah… mendengar itu memang mahal! Lucunya kita seringkali tidak mau mendengar. Terlalu asyik dengan diri sendiri dan tidak mau ‘mendengar’ sekeliling kita. Mungkin ‘kecelakaan korek kuping’ yang kualami ini juga salah satu bentuk teguran. Mungkin selama ini aku jarang ‘mendengar’ dan tidak peduli pada mereka yang seharusnya kita pedulikan…

Wallahu’alam bishawab

[The Unthinkable Things Around Us] Mendengar Itu Mahal

Pagi ini aku bersyukur sekali. Betapa tidak? Pagi kemarin aku tidak mendengar adzan subuh. Aku seperti hidup di dalam air. Bising kepala, tapi tak jelas suara apa.

Bahkan ketika hendak melakukan rutinitas pagi, yaitu buang sampah ke TPS dekat rumah aku agak-agak ngeri. Pasalnya untuk mecapai TPS itu, aku harus menyeberang jalan Dewi Sartika yang kalau pagi dan sore ramainya minta ampun. Meskipun saat itu masih jam 5.30 pagi, tapi cukup banyak kendaraan yang berseliweran.

Memang aku bisa melihat (meskipun harus dengan kaca mata), tapi bising kendaraan itu membuat kepalaku pusing. Pasalnya deru mesin itu seperti tak terdeteksi asalnya dari mana.

Masyaallah… aku merasakan nikmat mendengar yang mahal. Padahal hanya telinga kiriku yang bermasalah. Tapi ini mempengaruhi hampir semua aktivitasku. Gara-gara keasyikan korek-korek kuping, eh malah kotoran kupingnya terdorong masuk dan menghalangi pendengaran hiiiii…. Alhasil jadi ‘budi’ alias budeg dikit deh!

Ya sudah… hari itu terpaksa aku meliburkan diri dan mendatangi spesialis THT untuk ‘membetulkan’ pendengaranku. Dan dengan biaya Rp 40 ribu di RS Budhi Asih alhamdulillah aku bisa mendengar seperti sedia kala.

Subhanallah… mendengar itu memang mahal! Lucunya kita seringkali tidak mau mendengar. Terlalu asyik dengan diri sendiri dan tidak mau ‘mendengar’ sekeliling kita. Mungkin ‘kecelakaan korek kuping’ yang kualami ini juga salah satu bentuk teguran. Mungkin selama ini aku jarang ‘mendengar’ dan tidak peduli pada mereka yang seharusnya kita pedulikan…

Wallahu’alam bishawab

Demi Seorang Bams

Jakarta, 30 April 2006

Sabtu kemarin sungguh hari yang melelahkan buatku.
Kuawali perjalanan liputanku dengan sebuah sobekan di bagian belakang
rokku—gara-gara sebuah per yang timbul dari jok kursi M.19. Untung baju
atasanku cukup panjang untuk menutupi sobekan yang cukup menyebalkan itu.

Perjalanan tengah hari itu dilanjutkan dengan berdesakan
dalam bus “Laju Utama” jurusan Sukabumi. Beruntung masih ada satu bangku
tersisa. Sesampai di daerah “Warung Nangka”, Kabupaten Bogor, sepiring nasi padang
“Ajo” sudah menanti—ditraktir lagi!

Singkat cerita, aku harus meliput “Klinik Musik” di
Ekaloka Sari, Bogor, yang diadakan
Sekolah Musik Farabi demi sebuah tiket masuk gratis konser musik “Samsons”.
Konser itu sendiri baru digelar pukul 8 malamnya di Laguna Café, Bogor.

Beruntung di hari libur kerja itu, salah satu supir
kantor, Pak Fevi, sedang stand by di kantor. Mungkin kalau tidak ada dia, aku
batal wawancara dan memotret Bams dan Samsons-nya. Karena ternyata tidak ada
satupun kendaraan umum yang lewat Laguna Café—karena awalnya aku nekat liputan
sendiri dengan kendaraan umum.

But… What can I tell about this newcomer band?? NGARET
ABIEZ!! Bayangkan saja, mereka baru mulai aksi mereka dua jam dari jadwal yang
sudah ditentukan. Jujur saja, aku bukan akan meliput acara konser, tapi mau
ngejar wawancara dengan sang vokalis, Bams.

But thanks to Victor and Arland., kameramen dan reporter
KrosceK. Dua orang ‘gila’ itu cukup membunuh 3 jam yang menjenuhkan. Hampir aku
‘diculik’ mereka kalau tidak berhasil wawancara profil grup band yang masih
seumur jagung itu.

“Kalau gak dapet Samsons, dia kita bawa aja,” ujar Victor
sambil menunjukku.

“Dasar, masak gak dapet Samsons terus nyulik D’Laila?”
kilahku.

“Hueekk… masaak D’Laila dari Cililitan??? Hahahahahaha…”

Well, ternyata mereka tak perlu menculik “D’Laila”,
karena akhirnya mendapatkan Samsons setelah menunggu lebih dari 5 jam! Dan aku?
Beruntung bisa pulang duluan dari kru KrosceK karena berhasil wawancara singkat
Bams plus foto-foto sebelum konser yang ngaret itu dimulai.

Yeah… untunglah sepiring kuetiaw goreng jam setengah 11
malam itu cukup ‘menambal’ rokku yang robek, cukup mengisi perutku yang
keroncongan sejak magrib demi tidak kehilangan momen bertemu Bams… What a
day!

Demi Seorang Bams

Jakarta, 30 April 2006

Sabtu kemarin sungguh hari yang melelahkan buatku. Kuawali perjalanan liputanku dengan sebuah sobekan di bagian belakang rokku—gara-gara sebuah per yang timbul dari jok kursi M.19. Untung baju atasanku cukup panjang untuk menutupi sobekan yang cukup menyebalkan itu.

Perjalanan tengah hari itu dilanjutkan dengan berdesakan dalam bus “Laju Utama” jurusan Sukabumi. Beruntung masih ada satu bangku tersisa. Sesampai di daerah “Warung Nangka”, Kabupaten Bogor, sepiring nasi padang “Ajo” sudah menanti—ditraktir lagi!

Singkat cerita, aku harus meliput “Klinik Musik” di Ekaloka Sari, Bogor, yang diadakan Sekolah Musik Farabi demi sebuah tiket masuk gratis konser musik “Samsons”. Konser itu sendiri baru digelar pukul 8 malamnya di Laguna Café, Bogor.

Beruntung di hari libur kerja itu, salah satu supir kantor, Pak Fevi, sedang stand by di kantor. Mungkin kalau tidak ada dia, aku batal wawancara dan memotret Bams dan Samsons-nya. Karena ternyata tidak ada satupun kendaraan umum yang lewat Laguna Café—karena awalnya aku nekat liputan sendiri dengan kendaraan umum.

But… What can I tell about this newcomer band?? NGARET ABIEZ!! Bayangkan saja, mereka baru mulai aksi mereka dua jam dari jadwal yang sudah ditentukan. Jujur saja, aku bukan akan meliput acara konser, tapi mau ngejar wawancara dengan sang vokalis, Bams.

But thanks to Victor and Arland., kameramen dan reporter KrosceK. Dua orang ‘gila’ itu cukup membunuh 3 jam yang menjenuhkan. Hampir aku ‘diculik’ mereka kalau tidak berhasil wawancara profil grup band yang masih seumur jagung itu.

“Kalau gak dapet Samsons, dia kita bawa aja,” ujar Victor sambil menunjukku.

“Dasar, masak gak dapet Samsons terus nyulik D’Laila?” kilahku.

“Hueekk… masaak D’Laila dari Cililitan??? Hahahahahaha…”

Well, ternyata mereka tak perlu menculik “D’Laila”, karena akhirnya mendapatkan Samsons setelah menunggu lebih dari 5 jam! Dan aku? Beruntung bisa pulang duluan dari kru KrosceK karena berhasil wawancara singkat Bams plus foto-foto sebelum konser yang ngaret itu dimulai.

Yeah… untunglah sepiring kuetiaw goreng jam setengah 11 malam itu cukup ‘menambal’ rokku yang robek, cukup mengisi perutku yang keroncongan sejak magrib demi tidak kehilangan momen bertemu Bams… What a day!