Demi Seorang Bams

Jakarta, 30 April 2006

Sabtu kemarin sungguh hari yang melelahkan buatku. Kuawali perjalanan liputanku dengan sebuah sobekan di bagian belakang rokku—gara-gara sebuah per yang timbul dari jok kursi M.19. Untung baju atasanku cukup panjang untuk menutupi sobekan yang cukup menyebalkan itu.

Perjalanan tengah hari itu dilanjutkan dengan berdesakan dalam bus “Laju Utama” jurusan Sukabumi. Beruntung masih ada satu bangku tersisa. Sesampai di daerah “Warung Nangka”, Kabupaten Bogor, sepiring nasi padang “Ajo” sudah menanti—ditraktir lagi!

Singkat cerita, aku harus meliput “Klinik Musik” di Ekaloka Sari, Bogor, yang diadakan Sekolah Musik Farabi demi sebuah tiket masuk gratis konser musik “Samsons”. Konser itu sendiri baru digelar pukul 8 malamnya di Laguna Café, Bogor.

Beruntung di hari libur kerja itu, salah satu supir kantor, Pak Fevi, sedang stand by di kantor. Mungkin kalau tidak ada dia, aku batal wawancara dan memotret Bams dan Samsons-nya. Karena ternyata tidak ada satupun kendaraan umum yang lewat Laguna Café—karena awalnya aku nekat liputan sendiri dengan kendaraan umum.

But… What can I tell about this newcomer band?? NGARET ABIEZ!! Bayangkan saja, mereka baru mulai aksi mereka dua jam dari jadwal yang sudah ditentukan. Jujur saja, aku bukan akan meliput acara konser, tapi mau ngejar wawancara dengan sang vokalis, Bams.

But thanks to Victor and Arland., kameramen dan reporter KrosceK. Dua orang ‘gila’ itu cukup membunuh 3 jam yang menjenuhkan. Hampir aku ‘diculik’ mereka kalau tidak berhasil wawancara profil grup band yang masih seumur jagung itu.

“Kalau gak dapet Samsons, dia kita bawa aja,” ujar Victor sambil menunjukku.

“Dasar, masak gak dapet Samsons terus nyulik D’Laila?” kilahku.

“Hueekk… masaak D’Laila dari Cililitan??? Hahahahahaha…”

Well, ternyata mereka tak perlu menculik “D’Laila”, karena akhirnya mendapatkan Samsons setelah menunggu lebih dari 5 jam! Dan aku? Beruntung bisa pulang duluan dari kru KrosceK karena berhasil wawancara singkat Bams plus foto-foto sebelum konser yang ngaret itu dimulai.

Yeah… untunglah sepiring kuetiaw goreng jam setengah 11 malam itu cukup ‘menambal’ rokku yang robek, cukup mengisi perutku yang keroncongan sejak magrib demi tidak kehilangan momen bertemu Bams… What a day!

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

4 Comments

  1. Aiiiih, kamu tuh. Benar deh kenapa aku tanya soal kebebasan itu. Wah, semoga job reporter itu terus membawa kamu kepada suatu fase yang belum pernah kamu alami sebelumnya. Dan aku mendukung kamu untuk terus menjadi reporter, baik di edc magazine ataupun di media lainnya

    Reply
  2. thanx for the support! I never felt sorry being a reporter

    Reply
  3. Jat, media loe bukannya majalah anak-anak? Kenapa pula wawancara Bambang Sitompul Samsons?

    Reply
  4. arifolution said: Jat, media loe bukannya majalah anak-anak? Kenapa pula wawancara Bambang Sitompul Samsons?

    Well, bagaimana pun media adalah ladang bisnis yang harus memperhitungkan ‘selera’ pasar. Meskipun aku kurang setuju, tapi apa boleh buat? redakturku pegang kendali… Mudah-mudahan saja aku masih bisa menyajikan ‘sisi kependidikan’ dalam majalah ZONA lewat sorang Bams

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: