[The Unthinkable Things Around Us] Mendengar Itu Mahal


Pagi ini aku bersyukur sekali. Betapa tidak? Pagi kemarin aku tidak mendengar adzan subuh. Aku seperti hidup di dalam air. Bising kepala, tapi tak jelas suara apa.

Bahkan ketika hendak melakukan rutinitas pagi, yaitu buang sampah ke TPS dekat rumah aku agak-agak ngeri. Pasalnya untuk mecapai TPS itu, aku harus menyeberang jalan Dewi Sartika yang kalau pagi dan sore ramainya minta ampun. Meskipun saat itu masih jam 5.30 pagi, tapi cukup banyak kendaraan yang berseliweran.

Memang aku bisa melihat (meskipun harus dengan kaca mata), tapi bising kendaraan itu membuat kepalaku pusing. Pasalnya deru mesin itu seperti tak terdeteksi asalnya dari mana.

Masyaallah… aku merasakan nikmat mendengar yang mahal. Padahal hanya telinga kiriku yang bermasalah. Tapi ini mempengaruhi hampir semua aktivitasku. Gara-gara keasyikan korek-korek kuping, eh malah kotoran kupingnya terdorong masuk dan menghalangi pendengaran hiiiii…. Alhasil jadi ‘budi’ alias budeg dikit deh!

Ya sudah… hari itu terpaksa aku meliburkan diri dan mendatangi spesialis THT untuk ‘membetulkan’ pendengaranku. Dan dengan biaya Rp 40 ribu di RS Budhi Asih alhamdulillah aku bisa mendengar seperti sedia kala.

Subhanallah… mendengar itu memang mahal! Lucunya kita seringkali tidak mau mendengar. Terlalu asyik dengan diri sendiri dan tidak mau ‘mendengar’ sekeliling kita. Mungkin ‘kecelakaan korek kuping’ yang kualami ini juga salah satu bentuk teguran. Mungkin selama ini aku jarang ‘mendengar’ dan tidak peduli pada mereka yang seharusnya kita pedulikan…

Wallahu’alam bishawab

Advertisements
Leave a comment

4 Comments

  1. korek kuping emang asyik.
    apalagi sambil ngorek upil.
    maaf ya rada jorok hehehe.

    Reply
  2. hehehe… asal abis itu cuci tangan aja yud

    Reply
  3. tapi g mahal itu belajar mendengarkan orang lain teh, susah bgt. ajeng masih hrs belajar, soalnya klo ngomong suka kayak jalan tol, kasian yg denger. gliran orang g ngomong, suka gatel pengen nyela, jelek bgt ya:(

    Reply
  4. Mba, untuk emailnya, bisa dirubah ke format file doc. tidak?
    Mohon dikirim ulang dengan bentuk file itu ya.. (berupa attachment) 🙂

    Dan dalam tulisan ini, sertakan link lombanya

    Terima kasih sudah berpartisipasi

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: