UN Oh UN…

Kutipan berita hari ini:

Guru Bongkar Kecurangan UN

Kalibata, Warta Kota

Sejumlah
guru bersama praktisi pendidikan dari berbagai daerah mendatangi kantor
Indonesian Corruption Watch (ICW), Selasa (27/6). Mereka mengungkapkan
berbagai kecurangan ujian nasional (UN).

Para guru juga mengemukakan kecurangan di
banyak sekolah akibat standar kelulusan yang ditargetkan pemerintah.
Menurut mereka, kecurangan dilakukan banyak sekolah demi tercapainya
tingkat kelulusan yang tinggi untuk mengangkat prestasi sekolah dan
daerah. Di Garut (Jawa Barat) dan Cilegon (Banten), misalnya,
kecurangan muncul berupa tindakan guru yang memberikan hasil jawaban
melalui pesan pendek (SMS) dan menjadi joki. Kecurangan seperti ini
bahkan terjadi sejak dua tahun lalu dan sudah jadi rahasia umum.

Yeah… kecurangan seperti ini sudah jadi rahasia umum, bahkan aku
mengalami sendiri saat masih duduk di kelas 6 SD, sekitar 13 tahun lalu.

Masih terngiang di kepalaku, aku kecil mendapat ‘nasihat’ dari kepala
sekolah, “Jati, nanti  pas ujian jangan pelit-pelit ya sama yang
lain.”

“????” jawabku

“Nanti kalau pengawas ujiannya kasih kamu kunci jawaban, terima saja,” lanjut sang kepala sekolah.

“Lho, kok begitu bu?” protesku.

Wajah kepala sekolah mendadak tak bersahabat di hadapanku. Sepertinya
dia kecewa atas sikap murid yang juara kelas. Di akhir pembicaraan,
kepala sekolah berusaha meyakinkanku agar aku membagi ‘kepintaranku’
saat EBTANAS (waktu itu namanya belum UN. Red).

Benar saja, saat waktu ujian tiba, teman-teman yang duduk tak jauh
dariku sibuk bertanya jawaban padaku. Aku pura-pura gak dengar.
“Menyontek kan perbuatan curang,” pikirku.

Yang paling membuatku terbelalak, para pengawas ujian diam-diam
memberikan jawaban kepada murid-murid, termasuk aku. Sedikit tergoda
juga waktu itu untuk melirik kunci jawaban. Namun aku bersikeras pada
pendirianku, “AKU TIDAK AKAN MENYONTEK!”

Nah… apa yang terjadi kemudian saudara-saudara? Aku gagal meraih NEM
(Nilai Ebtanas Murni) tertinggi di sekolah. NEM-ku peringkat kedua di
sekolah. Ajaib, temanku yang tidak pernah menonjol dalam pelajaran,
tiba-tiba menjadi ‘bintang’ dengan NEM tertinggi. Namun aku tidak
pernah menyesal. Aku masih merasa menang dari sang ‘bintang’, karena
aku mengerjakan ujian dengan jujur.

Tapi yang membuatku terenyuh, salah satu sahabatku yang sama-sama
idealis–Sari, aku bangga padamu–gagal masuk sekolah favorit gara-gara
NEM yang rendah. Yeah… NEM-nya rendah karena dia tak mau sedikitpun
menyontek, meski sang pengawas ujian telah memberinya kunci jawaban.

Masyaallah… akan seperti apakah potret dunia pendidikan kita di masa
depan, jika institusi pencetak generasi (yang harusnya) unggul justru
mencoreng dirinya sendiri???   

Photo by Triswan/PRO Edukasi zine

UN Oh UN…

Kutipan berita hari ini:

Guru Bongkar Kecurangan UN

Kalibata, Warta Kota

Sejumlah guru bersama praktisi pendidikan dari berbagai daerah mendatangi kantor Indonesian Corruption Watch (ICW), Selasa (27/6). Mereka mengungkapkan berbagai kecurangan ujian nasional (UN).

Para guru juga mengemukakan kecurangan di banyak sekolah akibat standar kelulusan yang ditargetkan pemerintah. Menurut mereka, kecurangan dilakukan banyak sekolah demi tercapainya tingkat kelulusan yang tinggi untuk mengangkat prestasi sekolah dan daerah. Di Garut (Jawa Barat) dan Cilegon (Banten), misalnya, kecurangan muncul berupa tindakan guru yang memberikan hasil jawaban melalui pesan pendek (SMS) dan menjadi joki. Kecurangan seperti ini bahkan terjadi sejak dua tahun lalu dan sudah jadi rahasia umum.

Yeah… kecurangan seperti ini sudah jadi rahasia umum, bahkan aku mengalami sendiri saat masih duduk di kelas 6 SD, sekitar 13 tahun lalu.

Masih terngiang di kepalaku, aku kecil mendapat ‘nasihat’ dari kepala sekolah, “Jati, nanti pas ujian jangan pelit-pelit ya sama yang lain.”

“????” jawabku

“Nanti kalau pengawas ujiannya kasih kamu kunci jawaban, terima saja,” lanjut sang kepala sekolah.

“Lho, kok begitu bu?” protesku.

Wajah kepala sekolah mendadak tak bersahabat di hadapanku. Sepertinya dia kecewa atas sikap murid yang juara kelas. Di akhir pembicaraan, kepala sekolah berusaha meyakinkanku agar aku membagi ‘kepintaranku’ saat EBTANAS (waktu itu namanya belum UN. Red).

Benar saja, saat waktu ujian tiba, teman-teman yang duduk tak jauh dariku sibuk bertanya jawaban padaku. Aku pura-pura gak dengar. “Menyontek kan perbuatan curang,” pikirku.

Yang paling membuatku terbelalak, para pengawas ujian diam-diam memberikan jawaban kepada murid-murid, termasuk aku. Sedikit tergoda juga waktu itu untuk melirik kunci jawaban. Namun aku bersikeras pada pendirianku, “AKU TIDAK AKAN MENYONTEK!”

Nah… apa yang terjadi kemudian saudara-saudara? Aku gagal meraih NEM (Nilai Ebtanas Murni) tertinggi di sekolah. NEM-ku peringkat kedua di sekolah. Ajaib, temanku yang tidak pernah menonjol dalam pelajaran, tiba-tiba menjadi ‘bintang’ dengan NEM tertinggi. Namun aku tidak pernah menyesal. Aku masih merasa menang dari sang ‘bintang’, karena aku mengerjakan ujian dengan jujur.

Tapi yang membuatku terenyuh, salah satu sahabatku yang sama-sama idealis–Sari, aku bangga padamu–gagal masuk sekolah favorit gara-gara NEM yang rendah. Yeah… NEM-nya rendah karena dia tak mau sedikitpun menyontek, meski sang pengawas ujian telah memberinya kunci jawaban.

Masyaallah… akan seperti apakah potret dunia pendidikan kita di masa depan, jika institusi pencetak generasi (yang harusnya) unggul justru mencoreng dirinya sendiri???

Photo by Triswan/PRO Edukasi zine

Kamu Cantik, Imel


Cantik…

Pintar…

Dua kata yang terpahat di kepala saat bertemu langsung dengan Miss
Indonesia, Imelda Fransisca. Kuakui Imel memang cantik secara fisik.
Namun aku juga mengakui adanya inner beauty dalam diri sarjana
psikologi dari Ohio University ini. Terbukti lewat kepeduliannya pada
pendidikan anak-anak Indonesia.

21 Juni malam lalu gadis keturunan Tionghoa ini mendirikan Yayasan
Imelda Fransisca. Yayasan yang bergerak di bidang pendidikan ini
diresmikan oleh plh walikota Bogor. Tak pelak acara ‘wah’  ini
menjadi ajang ‘jor-joran’ harta dalam charity night bertajuk “Love for
Live”.

Tentu tak sulit bagi sang Miss Indonesia untuk mengumpulkan dana hingga
mencapai 800-an juta malam itu. Apalagi sang ayah adalah pemilik
perusahaan Olympic furniture. Acara yang digelar di Gedung
Brajamustika, Bogor, itu dihadiri pejabat, artis, pengusaha, serta
pers. Para ‘produser’ uang malam itu diajak untuk menyisihkan hata
untuk anak-anak yang kurang beruntung.

Mulia sekali hatimu Imel. Kau bantu Asep, Annisa, dan anak-anak kurang
mampu lainnya untuk mewujudkan cita-cita mereka. Tekadmu untuk ikut
menyumbang kasih sayang buat mereka patut diacungkan jempol.

Kau memang cantik, Imel. Dengan hatimu yang tulus dan pemikiranmu yang
tajam, kau pantas dianugerahi tiara Miss Indonesia. Bahkan kau akan
tetap cantik, Imel tanpa perlu memperlihatkan belahan dadamu dengan
gaun merahmu itu… 

Kamu Cantik, Imel

Cantik…
Pintar…

Dua kata yang terpahat di kepala saat bertemu langsung dengan Miss Indonesia, Imelda Fransisca. Kuakui Imel memang cantik secara fisik. Namun aku juga mengakui adanya inner beauty dalam diri sarjana psikologi dari Ohio University ini. Terbukti lewat kepeduliannya pada pendidikan anak-anak Indonesia.

21 Juni malam lalu gadis keturunan Tionghoa ini mendirikan Yayasan Imelda Fransisca. Yayasan yang bergerak di bidang pendidikan ini diresmikan oleh plh walikota Bogor. Tak pelak acara ‘wah’ ini menjadi ajang ‘jor-joran’ harta dalam charity night bertajuk “Love for Live”.

Tentu tak sulit bagi sang Miss Indonesia untuk mengumpulkan dana hingga mencapai 800-an juta malam itu. Apalagi sang ayah adalah pemilik perusahaan Olympic furniture. Acara yang digelar di Gedung Brajamustika, Bogor, itu dihadiri pejabat, artis, pengusaha, serta pers. Para ‘produser’ uang malam itu diajak untuk menyisihkan hata untuk anak-anak yang kurang beruntung.

Mulia sekali hatimu Imel. Kau bantu Asep, Annisa, dan anak-anak kurang mampu lainnya untuk mewujudkan cita-cita mereka. Tekadmu untuk ikut menyumbang kasih sayang buat mereka patut diacungkan jempol.

Kau memang cantik, Imel. Dengan hatimu yang tulus dan pemikiranmu yang tajam, kau pantas dianugerahi tiara Miss Indonesia. Bahkan kau akan tetap cantik, Imel tanpa perlu memperlihatkan belahan dadamu dengan gaun merahmu itu…

Jangan Katakan Cinta

Jangan katakan cnta


Jika tak tahu mengapa


 


Jangan katakan cinta


Jka tak tahu untuk apa


 


Sebab cinta berbuah dosa


Jika tanpa bingkai ridho-Nya


 


Simpan saja kata cinta


Sebelum ikrar suci membahana


 


Jakarta, 24 Juni 2006

Jangan Katakan Cinta

Jangan katakan cnta

Jika tak tahu mengapa

Jangan katakan cinta

Jka tak tahu untuk apa

Sebab cinta berbuah dosa

Jika tanpa bingkai ridho-Nya

Simpan saja kata cinta

Sebelum ikrar suci membahana

Jakarta, 24 Juni 2006

Pengkhianatan

Aku tak tahu kemana harus palingkan muka

Saat adikku menggugat ‘jilbab lebar’ saudariku

Sebab semua benar adanya

Ya Rabb…

Berikan aku hati seluas samudera…

Bogor, 19 Juni 2006 at 14.45

JERAWAT

Kau lihat jerawat di pipi kiriku?

Ya… Besar Sekali!

Dan semalam baru saja pecah

Berbarengan dengan pecahnya tangisku

Hingga basah sajadahku

Bogor, 19 Juni
2006

HAJI

“Katanya sebentar lagi Jati mau ‘berangkat’ ya?” tanya
ibu kosku.

“Ha? Berangkat kemana?” aku tak mengerti.

“Katanya mau berangkat haji?”

“Oh… iya insyaallah. Doakan ya, bu.”

Bukan sekali itu aku ditanya soal ‘berangkat’, sangat sering. Dan sering pula aku gak mudeng* dengan kata ‘berangkat’. Berbeda
dengan ibuku yang juga akan berhaji bersamaku. Ibu langsung mudeng kalau orang
bilang ‘berangkat’.

Entahlah… bagiku ibadah haji tak lain dengan
ibadah-ibadah lain. Tidak ada yang spesial dalam berhaji, sebab bukankah semua
ibadah itu spesial, tergantung dari kekhusyu’an pelakunya?

Mungkin sebagian besar orang saat ini, haji merupakan
ibadah super spesial. Di dunia yang makin materialis ini, haji menjadi super
special karena ia terkait dengan materi yang cukup besar. Kita tahu sendiri,
Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) tidaklah murah (Sudah gitu, sering
dikorupsi lagi… na’udzubillahimindzalik!!-Red), yaitu berkisar Rp 27 juta untuk
saat ini. Karena itu tak heran kalau gelar haji menjadi prestige.

Haji pada akhirnya menjadi ibadah simbolik yang beneran
simbolik. Pasalnya, gelar haji sendiri akhirnya menjadi simbol ‘keshalehan’
seseorang. Ibadah haji ibarat cuci tangan dari kebejatan sehari-hari. “Masak
sih dia korupsi? Dia kan haji?”
Mungkin begitu pikir kebanyakan orang, padahal???

Tak heran kenapa ada tradisi baru ‘slametan keberangkatan
haji’. Tradisi ini seolah menjadi sebuah keharusan sesorang yang akan berangkat
ke tanah suci. Namun, apakah Rasulullah mencontohkan hal ini? Mungkin ada yang
berdalih bahwa slametan ini sebagai ajang silaturahmi untuk meminta doa dan
maaf kepada handai taulan, jika saja kita meninggal di tanah suci nanti.

Tapi… apakah itu sejatinya? Bukankah Islam mewajibkan
kita untuk meminta maaf segera jika kita berbuat salah? Bukankah dalam tiap
sholat kita selalu saling mendo’akan saudara-saudara kita sesama muslim? Atau
jangan-jangan ada ‘udang di balik batu’? Jangan-jangan secara tak langsung
slametan ini sekedar pengumuman ‘gelar keshalihan’ yang akan segera didapat.
Wallahu’alam bishawab.

*) mudeng = nyambung

JERAWAT

Kau lihat jerawat di pipi kiriku?
Ya… Besar Sekali!
Dan semalam baru saja pecah
Berbarengan dengan pecahnya tangisku
Hingga basah sajadahku

Bogor, 19 Juni 2006