Merencanakan Masa Depan Dengan NLP

Sedikit berbagi. Aku dapat ‘formulasi’ ini dari seorang karib yang
tergila-gila pada NLP (Neuro Linguistic Program). Kalau tidak salah NLP
ini merupakan salah satu metode pengembangan diri yang tergolong baru
di Indonesia. Menurut Master NLP Indonesia (aku lupa namanya), NLP ini
tak lain adalah Al Qur’an. Lho kok bisa?

NLP mencoba merinci dan memformulasikan apa yang diperintahkan Al
Qur’an. Bukan bermaksud menandingi hadist, NLP adalah ayat kauniyah
yang berhasil ditangkap seseorang non muslim (aku lupa juga siapa
pencetusnya). Tapi menurutku, tidak ada salahnya formulasi NLP ini coba
kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

NLP memulai segala sesuatunya dengan kata. Ya, KATA. Mirip dengan ayat
pertama yang turun berbunyi ‘iqro’! NLP mencoba mem-break down diri
kita dengan kata-kata. Mulai dari tujuan hidup kita, apa yang kita
lakukan untuk mencapai tujuan itu, hingga langkah konkret apa yang
telah kita lakukan untuk mencapai tujuan itu. Nah, bukankah hal ini
sesuai dengan Surat Al Hasyr ayat 18?

Singkatnya, NLP memformulasikan ciri orang sukses ada 4, yaitu mereka yang memiliki outcomes, action, acuity, dan flexibility.

  • Outcomes, yaitu tujuan hidup dan tujuan-tujuan yang hendak dicapai dalam hidupnya,
  • Action, yaitu tindakan nyata untuk mencapai tujuan hidupnya maupun tujuan-tujuan yang menjadi turunan tujuan hidupnya,
  • Acuity,
    yaitu kepekaan terhadap lingkungannya, misalnya bagaimana memanfaatkan
    kesempatan yang ada dalam rangka mencapai apa yang dituju atau
    dicita-citakan,
  • Flexibility,
    yaitu fleksibilitas ‘skenario’ dalam menggapai tujuannya, jadi harus
    ada plan A, plan B, bahkan plan C dalam merancang masa depan.

Kemudian, bagaimana sebenarnya menyusun outcome alias tujuan itu sendiri? Berdasarkan formulasi NLP, SUCCES menjadi syarat outcome. SUCCES merupakan singkatan dari State positive, Undeniable, Context, Congruent, Ecology, dan Self initiate.

  • State positive;
    mulai tujuan Anda dengan kalimat positif. Jangan kalimat negatif,
    karena ternyata otak kita sulit menginternalisasi kata ‘tidak’,
    ‘bukan’, ‘jangan’. Misalnya, “Aku Akan Menikah”, BUKAN “Aku tidak
    akan melajang”,
  • Undeniable; jangan sangkal tujuan Anda itu. Bayangkan kalimat positif di atas dari segi visual, audtitif, dan rasa,
  • Context;
    merupakan jawaban-jawaban dari pertanyaan 5W+1H. Contoh: What? Married;
    Why? bernilai separuh dien yang menjadi tabungan amal untuk ke surga,
    menjaga kesucian diri, meneruskan keturunan; Where? di sebuah masjid di
    Jakarta; When? September 2006; Who? si fulan/ah (kalau sudah ada calon)
    atau kriteria orang (kalau belum tahu yang mana calonnya), e.g. ikhwan
    ‘pengajian’ yang tidak merokok, sudah berpenghasilan, bergaul dengan
    orang-orang sholeh, cerdas, kreatif, bersedia menetap di rumah mertua,
    dll; dan How? minta dicarikan teman/ustadz, tidak pacaran, bergaul
    dengan orang-orang sholeh, aktif dalam kegiatan2 da’wah, dll,
  • Congruent; Apakah outcome yang
    telah kita tetapkan dengan kalimat positif ini sesuai dengan outcome
    besar hidup kita? Apakah rencana kita menikah itu sesuai dengan tujuan
    besar hidup kita?
  • Ecology;
    Jangan lupakan faktor eksternal yang mempengaruhi tujuan kita. Mereka
    antara lain keluarga, pekerjaan, teman, masyarakat, pasangan, dll,
  • Self Initiate; Ini yang penting! Outcome atau tujuan kita ini harus murni berasal dari diri sendiri, bukan paksaan dari luar.

NLP menekankan hal detil. Jika ditulis, maka break down dari tujuan
hidup kita ini akan ‘menganak sungai’ hingga sekecil-kecilnya. Dan
apa-apa yang hendak kita capai ini HARUS DITULIS. Karena berdasarkan
sebuah penelitian psikologi, jika kita menuliskan apa yang kita
inginkan, maka 60% keinginan itu akan tercapai. Subhanallah… Bukankah
ini merupakan realisasi firman-Nya, “Aku sesuai dengan prasangka
hamba-Ku”?

Sebenarnya masih banyak lagi formulasi-formulasi NLP yang tidak akan
muat kalau dipaparkan sekarang. Lagipula, baru segini niy yang aku
dapat dari sohibku itu. Thanx to Ophie !!

Kalau ada yang mau menambahkan, monggo monggo…

Next Post
Leave a comment

10 Comments

  1. Sebenarnya dalam NLP ada latihan2 rutinnya nggak sih? Saya pernah dapet lembaran latihan NLP sendiri, latihan konsentrasi, fokus, visualisasi, dll.

    Reply
  2. untuk detilnya gue kurang tahu, soalnya belum pernah ikutan training NLP. Ophie tuh yang udah ikutan. Tapi yang pasti, NLP itu mencoba mengubah pardigma dan persepsi kita ttg realita. contohnya film La Vita e Bella!

    Reply
  3. kayaknya dengan baca qur'an, sholat, shaum, dan ibadah lainnya sudah lebih dari cukup untuk menyambut dan menyongsong masa depan kita….

    Reply
  4. cukuplah ALLAH sebagai penolong, cukuplah ALLAH sebagai pelindung

    Reply
  5. “Engkau lebih tahu urusan duniamu”.
    Ini Rasul tegaskan ketika ada perdebatan
    dua sahabat mengenai cara mengelola kurma.
    Yang satu pakai cara konvensional. Apa
    adanya. “Terserah” Allah.

    Yang satu lagi mau menyilangkan
    antara serbuk sari kurma terpilih
    dengan putik kurma yang baik
    pohonnya dan tidak terserang
    penyakit.

    Rasul tidak mengatakan “udah deh
    sahabat-sahabatku. jangan macem2.
    shalat aja, shaum aja, tahsin qur'an
    yang bener”.

    Kebetulan saya kuliah di Communication
    Training and Consultant, Jurusan Manajemen
    Komunikasi Unpad. NLP itu cuma
    salah satu dari ratusan model
    pelatihan pengembangan diri.

    Sifat NLP hanya menurunkan dari
    kebaikan mental manusia. Terutama
    mengenai keteguhan, keberanian,
    kejujuran dan lainnya.

    NLP bagus, Qur'an lebih bagus lagi.
    Jangan dibentrokkan. Jadinya
    malah seperti anak-anak.

    Reply
  6. Oke, coba di-break down secara rinci; baca qur'an seperti apa untuk mencapai tujuan hidup kita? apakah yang bacaannya tartil? berapa lembar per hari? bagaimana merealisasikannya?dll. Terus untuk sholat; sholat apa saja? kalau sunnah, apa aja? Berapa rakaat? Berapa kali sepekan? dll. Begitu juga dengan shaum…
    Terus yang dimaksud dengan ibadah lainnya itu apa saja? Coba sebutkan dan bikin rinciannya. Terus outcomesnya seperti apa? Kalau masih bingung, coba tanya lagi ke diri sendiri; Apa sih tujuan hidupmu????

    Reply
  7. thanx for the addition Yud

    Reply
  8. Oke, coba di-break down secara rinci; baca qur'an seperti apa untuk mencapai tujuan hidup kita? apakah yang bacaannya tartil? berapa lembar per hari? bagaimana merealisasikannya?dll. Terus untuk sholat; sholat apa saja? kalau sunnah, apa aja? Berapa rakaat? Berapa kali sepekan? dll. Begitu juga dengan shaum…
    Terus yang dimaksud dengan ibadah lainnya itu apa saja? Coba sebutkan dan bikin rinciannya. Terus outcomesnya seperti apa? Kalau masih bingung, coba tanya lagi ke diri sendiri; Apa sih tujuan hidupmu????

    Reply
  9. kita hanya bisa merencanakan, ALLAH penentunya.
    kita punya alat untuk merencanakan hidup kita…. namanya do'a
    dengan do'a kita bisa merencanakan dan meminta apa saja. dan kalau kita ikhlas, insya allah dikabulkan.

    Reply
  10. tul betulll… gak bantah

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: