HAJI

“Katanya sebentar lagi Jati mau ‘berangkat’ ya?” tanya
ibu kosku.

“Ha? Berangkat kemana?” aku tak mengerti.

“Katanya mau berangkat haji?”

“Oh… iya insyaallah. Doakan ya, bu.”

Bukan sekali itu aku ditanya soal ‘berangkat’, sangat sering. Dan sering pula aku gak mudeng* dengan kata ‘berangkat’. Berbeda
dengan ibuku yang juga akan berhaji bersamaku. Ibu langsung mudeng kalau orang
bilang ‘berangkat’.

Entahlah… bagiku ibadah haji tak lain dengan
ibadah-ibadah lain. Tidak ada yang spesial dalam berhaji, sebab bukankah semua
ibadah itu spesial, tergantung dari kekhusyu’an pelakunya?

Mungkin sebagian besar orang saat ini, haji merupakan
ibadah super spesial. Di dunia yang makin materialis ini, haji menjadi super
special karena ia terkait dengan materi yang cukup besar. Kita tahu sendiri,
Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) tidaklah murah (Sudah gitu, sering
dikorupsi lagi… na’udzubillahimindzalik!!-Red), yaitu berkisar Rp 27 juta untuk
saat ini. Karena itu tak heran kalau gelar haji menjadi prestige.

Haji pada akhirnya menjadi ibadah simbolik yang beneran
simbolik. Pasalnya, gelar haji sendiri akhirnya menjadi simbol ‘keshalehan’
seseorang. Ibadah haji ibarat cuci tangan dari kebejatan sehari-hari. “Masak
sih dia korupsi? Dia kan haji?”
Mungkin begitu pikir kebanyakan orang, padahal???

Tak heran kenapa ada tradisi baru ‘slametan keberangkatan
haji’. Tradisi ini seolah menjadi sebuah keharusan sesorang yang akan berangkat
ke tanah suci. Namun, apakah Rasulullah mencontohkan hal ini? Mungkin ada yang
berdalih bahwa slametan ini sebagai ajang silaturahmi untuk meminta doa dan
maaf kepada handai taulan, jika saja kita meninggal di tanah suci nanti.

Tapi… apakah itu sejatinya? Bukankah Islam mewajibkan
kita untuk meminta maaf segera jika kita berbuat salah? Bukankah dalam tiap
sholat kita selalu saling mendo’akan saudara-saudara kita sesama muslim? Atau
jangan-jangan ada ‘udang di balik batu’? Jangan-jangan secara tak langsung
slametan ini sekedar pengumuman ‘gelar keshalihan’ yang akan segera didapat.
Wallahu’alam bishawab.

*) mudeng = nyambung

Advertisements
Previous Post
Next Post
Leave a comment

11 Comments

  1. wah banyak duit nih neng jati?
    bagi-bagi doong.

    Reply
  2. alhamdulillah ada rizki

    Reply
  3. Slametan keberangkatan haji sebenarnya tradisi lama. Sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Sebab jaman dahulu naik haji taruhannya nyawa. Perjalanannya bisa satu tahun belum lagi pulangnya harus di'tatar' dulu di karantina haji milik Belanda yang mirip penjara di Pulau Oonrust supaya tidak membawa ide2 kemerdekaan. Sebagian ulama di Indonesia waktu itu memfatwakan larangan pergi haji bagi perempuan. Jadi aslinya masyarakat mengadakan selametan sebagai do'a sekaligus salam perpisahan kalau-kalau yang naik haji nggak balik lagi.

    Reply
  4. begitu ya mas arif? terima kasih banyak informasinya

    Reply
  5. tahun ini ya mba? berangkat kapan? bareng donk… ;p

    Reply
  6. insyaallah tahun ini. dikau juga mau ke tanah suci tahun ini pit?? waw.. amazing 😀

    Reply
  7. insya Allah… 😀

    Reply
  8. nitiiiiiiiiiiiiiiiiiiiip……

    Reply
  9. nitip apa? nitip doa?
    doa apa? enteng jodoh?
    siapa? si akang…? hehehehe..

    Reply
  10. doanya semoga tambah dewasa, tambah sabar, tambah shalihah tambah jujur tambah amanah…
    soal si akang? teh jati mah kayak pak rony saja:d
    bonus eta mah:D

    Reply
  11. hihihihi.. insyaallah. Moga-moga bonusnya dapat deh 😉

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: