Pesan Dari Seberang Samudra*

Di tepian pantai yang lengang dan cerah sesuatu menyandung kakiku yang telanjang dan basah. Sesuatu berkilauan itu teronggok kaku di permukaan pasir putih yang tersapu ombak. Sebuah botol kaca.

Entah kekuatan apa yang memaksaku memungutnya dan membuka penutupnya. Lalu kedua jariku menggamit kertas putih yang ada di dalamnya. Sepucuk surat tanpa identitas dan tujuan jelas…

Teruntuk Saudaraku di seberang lautan sana,

Engkau mungkin tidak pernah mengenalku bahkan menjumpaiku. Dan bila kau tanya apakah aku sangat mengenalmu, aku pun akan menjawab hal yang sama. Untuk itulah surat ini kukirim dari seberang samudra.

Wahai Saudaraku di seberang benua, mungkin kau tidak pernah menyadari bahwa namaku selalu kau sebut dalam doa-doamu. Atau mungkin kau bahkan lupa berdoa untukku? Sementara aku di sini tak pernah kering bibirku melantunkan doa bagi keselamatanmu?

Saudaraku, sepucuk surat yang ada di tanganmu ini bukanlah sihir, dimana mesin-mesin bernama teknologi berhasil meretas jarak dan ‘mendamaikan’ dunia. Sebaliknya, surat ini hanyalah sebentuk mantra pengusir sihir mesin-mesin dingin itu. Surat ini hanyalah sebuah bentuk keterasinganku diantara mesin-mesin yang kini mengatur manusia.

Ketika surat ini sampai di tanganmu, aku tak tahu bagaimana keadaanku saat itu, pun keadaanmu kala itu. Namun satu hal pasti, aku yakin surat ini akan sampai di tanganmu.

Maafkan aku wahai Saudaraku atas keluh kesahku ini. Aku berharap belum terlambat saatnya ketika surat ini sampai di tanganmu. Semoga kata cinta yang tak mungkin kuucap di negriku yang terjajah dapat kulantunkan padamu lewat surat ini.

Sekali lagi maafkan aku, Saudaraku. Mungkin bagimu surat ini hanyalah sebuah ratapan cengeng orang yang kesepian. Sungguh tiada maksudku menyusahkanmu. Aku hanya ingin menyapa saudaraku yang berada diantara puing-puing peradaban. Aku hanya ingin menyapa bagian tubuhku yang lain.

Aku mencintaimu, Saudaraku… Aku mencintaimu karena Allah. Meskipun aku tak mengenalmu dan kau pun tak mengenalku, namun namamu selalu kusebut dalam doa-doaku, karena kita satu tubuh. Kita adalah saudara.

Ketika aku terluka di sini, aku yakin kau pun meradang di sana. Dan aku yakin, kau merasakan pula kemerdekaan kami yang terenggut di seberang sini. Kumohon, jangan lupakan kami…

Tak sadar air mataku menitik. Tidak… Aku tidak akan melupakan kalian, wahai saudara-saudaraku di seberang samudra. Ketika kalian meradang di sana, kami pun menjerit di sini. (Jatining Siti Handayani)

* )Pernah dimuat di Majalah ‘Amal Amanah edisi November 2004

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

3 Comments

  1. Lagi kangen sama Oppie yang udah di Riau ya?

    Reply
  2. ferrifirm said: Lagi kangen sama Oppie yang udah di Riau ya?

    well, meskipun teks yang telah dikonsumsi publik itu multiinterpretasi, tapi yang pasti tulisan ini aku tujukan untuk saudara-saudaraku di Palestina yang sedang ‘meradang’. Semoga Allah SWT selalu merahmati kalian… Semoga kejayaan Islam segera menjelang.. Allahu Akbar!

    Reply
  3. Sayang para pemimpin di negara-negara tetangga Palestina nggak punya empati yang sama dengan lo. Tidak akan masuk surga orang yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya kelaparan (Al Hadits).

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: