9 Etika Jurnalistik Dalam Al Qur’an

Sembilan etika kewartawanan tertulis di Alquran, seperti dipaparkan
penceramah dan imam Nasaruddin Umar pada acara buka puasa bersama
Presiden SBY dengan para pemimpin media dan wartawan yang sehari-hari
bertugas di Istana Kepresidenan di Istana Negara, Jakarta, Kamis
(28/9).

“Profesi kewartawanan dan dunia pemberitaan mendapat tempat yang

sangat mulia di dalam Alquran. Bahkan terdapat satu surah khusus di

dalam Alquran bernama Surah Al-Naba yaitu surah ke-78,” ujar

Nasaruddin.

Dalam ceramahnya, Nasaruddin memaparkan sembilan etika kewartawanan

seperti terdapat dalam Alquran. Pertama, mencari informasi pada

sumber
yang lebih tepat dan akurat. Kedua, menanyakan sesuatu yang

tidak justru menimbulkan resiko kepada para penanya.

Ketiga, melakukan check and recheck terhadap sebuah informasi.

Keempat, tidak melakukan pemerasan terhadap obyek informasi. Kelima,

menjauhi prasangka dan prejudice dalam investigasi. Keenam,

menghindari trial by the press yang mengakibatkan pembunuhan karir

dan karakter seseorang atau sekelompok orang.

Ketujuh, senantiasa memohon perlindungan kepada Allah agar terhindar

dari resiko negatif karena kekeliruan investigasi. Kedelapan, tidak

bernada mengejek, mengungkap aib orang lain, atau menggunakan inisial

yang merugikan orang lain. Kesembilan, memberikan hak jawab dan

klarifikasi kepada mereka yang menjadi obyek pemberitaan.

“Tampaknya, hanya profesi kewartawanan yang secara khusus ada

surahnya di Alquran,” ujar Nassaruddin.[]

Diambil dari:

Laporan Wartawan Kompas Wisnu Nugroho A

“Sembilan Etika Kewartawanan Pengantar Berbuka”

http://www.kompas.co.id/ver1/ Nasional/ 0609/28/174324. htm

Advertisements

9 Etika Jurnalistik Dalam Al Qur’an

Sembilan etika kewartawanan tertulis di Alquran, seperti dipaparkan penceramah dan imam Nasaruddin Umar pada acara buka puasa bersama Presiden SBY dengan para pemimpin media dan wartawan yang sehari-hari bertugas di Istana Kepresidenan di Istana Negara, Jakarta, Kamis (28/9).

“Profesi kewartawanan dan dunia pemberitaan mendapat tempat yang
sangat mulia di dalam Alquran. Bahkan terdapat satu surah khusus di
dalam Alquran bernama Surah Al-Naba yaitu surah ke-78,” ujar
Nasaruddin.

Dalam ceramahnya, Nasaruddin memaparkan sembilan etika kewartawanan
seperti terdapat dalam Alquran. Pertama, mencari informasi pada
sumber yang lebih tepat dan akurat. Kedua, menanyakan sesuatu yang
tidak justru menimbulkan resiko kepada para penanya.

Ketiga, melakukan check and recheck terhadap sebuah informasi.
Keempat, tidak melakukan pemerasan terhadap obyek informasi. Kelima,
menjauhi prasangka dan prejudice dalam investigasi. Keenam,
menghindari trial by the press yang mengakibatkan pembunuhan karir
dan karakter seseorang atau sekelompok orang.

Ketujuh, senantiasa memohon perlindungan kepada Allah agar terhindar
dari resiko negatif karena kekeliruan investigasi. Kedelapan, tidak
bernada mengejek, mengungkap aib orang lain, atau menggunakan inisial
yang merugikan orang lain. Kesembilan, memberikan hak jawab dan
klarifikasi kepada mereka yang menjadi obyek pemberitaan.

“Tampaknya, hanya profesi kewartawanan yang secara khusus ada
surahnya di Alquran,” ujar Nassaruddin.[]

Diambil dari:
Laporan Wartawan Kompas Wisnu Nugroho A
“Sembilan Etika Kewartawanan Pengantar Berbuka”
http://www.kompas.co.id/ver1/ Nasional/ 0609/28/174324. htm

Ramadhan di Masjid At Tin

JADWAL ACARA

• Bazar Buku Islami dan Produk Halal
( 21 – 23 September 2006 ) Jam 09.00 – 21.00 WIB
• Seminar Kesehatan “ Kiat Sehat dan Bugar Bulan Ramadhan”
~ Dr. Dewi Inong Irana SpKK
~ Ustdz. Fatiyah Chotib, MA
~ Fasion show Anne Rufaidah
21 September 2006 Jam 08.30 –12.00 WIB
• Tarhib Ramadhan Ibu Majlis Ta’lim Se – Jabotabek Oleh Ustdz.Hj. Lutfiah Sungkar & Ustdz Hj. Ru’fah Abdullah MM
21 september 2006 jam 12.30 –15.00 WIB
• Diskusi Publik “ Peran Lembaga Zakat dalam Optimalisasi zakat masyarakat “ DR. Didin Hafiduddin
21 September 2006 Jam 12.30 –15.00 WIB
• Malam Zikir & Tausyiah “ Care For Palestine “
Bersama DR. Ahzami Samiun Jazuli,
Dr. Agoes KooshartoroSpPD , Suripto,SH
QL & Muhasabah oleh Syaiful Islam Mubarok
21 September 2006 Jam 18.00 – 05.00
• Tarhib Ramadhan Pelajar
22 September 2006 Jam 14.00 – 17.00 WIB
• Bakti Sosial 300 Dhuafa Pelayanan Kesehatan
23 September 2006 Jam 09.00 –12.00 WIB
• Seminar Mengenal Dunia Lain Bersama Ust. Fadlan
23 September 2006 Jam 13.00 – 15.00

Keterangan lebih lanjut
Informasi :Soraya 081314086207
Bazar : Ferika 021-93462242 /08569806830
Mara 021-70987590/08174863013

DATANG YAAA!!!

Panggilan Itu


Setiap kudengar panggilan itu

Kenapa setiap itu pula mataku kaca?

Setiap teringat panggilan itu

Kenapa setiap itu pula aku bersedih?

Entah apa yang aku tangisi

Mungkin dosa-dosa ini

Mungkin tabungan amal yang masih sedikit

Padahal waktu semakin dekat

Pergi haji

Katanya pergi menuju Allah

Pergi haji

Katanya pergi membawa diri yang hina

Pergi haji

Katanya pergi meninggalkan dunia

Ya Allah…

Padahal masih kuyup diri ini dengan dosa

Padahal terlalu sering diri ini melupakanmu

Namun Engkau tak pernah melupakanku

Bakhan Kau panggil namaku

Labaikallahumma labaik

Labaikala syarikalaka labaik….

Panggilan Itu

Setiap kudengar panggilan itu
Kenapa setiap itu pula mataku kaca?

Setiap teringat panggilan itu
Kenapa setiap itu pula aku bersedih?

Entah apa yang aku tangisi
Mungkin dosa-dosa ini
Mungkin tabungan amal yang masih sedikit
Padahal waktu semakin dekat

Pergi haji
Katanya pergi menuju Allah
Pergi haji
Katanya pergi membawa diri yang hina
Pergi haji
Katanya pergi meninggalkan dunia

Ya Allah…
Padahal masih kuyup diri ini dengan dosa
Padahal terlalu sering diri ini melupakanmu
Namun Engkau tak pernah melupakanku
Bakhan Kau panggil namaku

Labaikallahumma labaik
Labaikala syarikalaka labaik….

Ketika Cinta Diuji


Ternyata,

Bukan matematika saja yang ada ujiannya

Kesetiaan pun diuji

Cinta juga diuji

Lulus gak yaa…?

Kita ‘Membunuh’ Mereka

Setelah longsor gunungan sampah di TPA Leuwigajah, Cimahi, kini di
Bantar Gebang, Bekasi, 8 September lalu. Sama seperti di Leuwigajah,
longsor sampah di Bantar Gebang juga memakan korban jiwa.

Sadarkah kita, khususnya penghuni Jakarta, secara tidak langsung telah
membunuh 3 pemulung yang tewas tertimbun sampah di TPA Bantar Gebang?

Setiap hari dengan mudahnya kita melempar benda-benda yang sudah tidak
terpakai lagi ke dalam tong yang kita sebut ‘tong sampah’. Kemudian,
sampah rumah tangga itu kita buang ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS)
di lingkungan RW kita. Lalu oleh dinas kebersihan kota sampah yang kita
buang itu diangkut oleh truk sampah ke TPA Bantar Gebang.

Meskipun hanya 10 meter kubik sampah yang kita buang dalam sehari,
namun berapa ratus meter kubik sampah yang kita buat dalam sebulan? Dan
berapa juta meter kubik gunungan sampah yang kita buat bersama jutaan
penduduk Jakarta yang lain dalam sebulan? Maka  berapa ribu meter
gunung sampah yang akan dihasilkan dalam setahun? Maka, secara gak
langsung kita sudah membunuh mereka yang mengais rezeki dengan
mengumpulkan sampah. Masyaallah…

Mungkin ada yang berkilah, “salah sendiri kenapa mereka memulung sampah
di sana?”. Well, bukankah lebih baik menjual sesuatu, meskipun hanya
sekedar botol/gelas plastik bekas, daripada mencopet atau mengemis.

Penyesalan memang selalu datang terlambat. Namun peristiwa mengenaskan
ini pastinya peringatan bagi kita sebagai warga negara yang peduli.
Peringatan ini tidak hanya bagi warga Jakarta, namun untuk semua
manusia di bumi ini. Karena longsor sampah ini mungkin terjadi dimana
pun.

Janganlah pernah berpikir, “Apalah artinya seorang saya”. Banyak sekali
yang dapat kita lakukan untuk menyelesaikan problem sampah ini.

Misalnya, bila kita mengurangi produksi sampah, otomatis tong/kotak
yang kita sebut ‘tempat sampah’ tidak akan terlalu penuh muatannya.
Dengan mengurangi produk-produk sekali pakai, maka kita akan mengurangi
produksi sampah. Dengan mengubah gaya hidup yang sering main buang
benda-benda yang dianggap tidak berguna, maka akan mengurangi sekian
meter kubik gunungan sampah di TPA. Bila sekian juta penduduk Jakarta
melakukan hal ini, maka timbunan sampah di TPA tentu tidak akan
menggunung.

Hal lain yang bisa dilakukan, mengelola sendiri sampah rumah tangga.
Antara lain dengan memilah sampah organik dan anorganik. Sampah organik
dapat kita kubur sendiri di pekarangan. Atau jika tidak ada pekarangan,
bisa menggunakan lahan tanah terbuka bersama-sama dengan para tetangga.
Sampah organik ini dapat menyuburkan kembali tanah. Maka secara tidak
langsung berfungsi sebagai pupuk alami.

Kemudian sampah anorganik seperti plastik, kertas, bisa kita jual ke
lapak–seperti yang dilakukan para pemulung. Kita bisa memperoleh
sejumlah uang. Atau kalau ingin membantu pemulung, berikan saja sampah
anorganik ini pada mereka. Beres kan?

Sebenarnya mudah ya mengolah sampah!

 

Kita ‘Membunuh’ Mereka

Setelah longsor gunungan sampah di TPA Leuwigajah, Cimahi, kini di Bantar Gebang, Bekasi, 8 September lalu. Sama seperti di Leuwigajah, longsor sampah di Bantar Gebang juga memakan korban jiwa.

Sadarkah kita, khususnya penghuni Jakarta, secara tidak langsung telah membunuh 3 pemulung yang tewas tertimbun sampah di TPA Bantar Gebang?

Setiap hari dengan mudahnya kita melempar benda-benda yang sudah tidak terpakai lagi ke dalam tong yang kita sebut ‘tong sampah’. Kemudian, sampah rumah tangga itu kita buang ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di lingkungan RW kita. Lalu oleh dinas kebersihan kota sampah yang kita buang itu diangkut oleh truk sampah ke TPA Bantar Gebang.

Meskipun hanya 10 meter kubik sampah yang kita buang dalam sehari, namun berapa ratus meter kubik sampah yang kita buat dalam sebulan? Dan berapa juta meter kubik gunungan sampah yang kita buat bersama jutaan penduduk Jakarta yang lain dalam sebulan? Maka berapa ribu meter gunung sampah yang akan dihasilkan dalam setahun? Maka, secara gak langsung kita sudah membunuh mereka yang mengais rezeki dengan mengumpulkan sampah. Masyaallah…

Mungkin ada yang berkilah, “salah sendiri kenapa mereka memulung sampah di sana?”. Well, bukankah lebih baik menjual sesuatu, meskipun hanya sekedar botol/gelas plastik bekas, daripada mencopet atau mengemis.

Penyesalan memang selalu datang terlambat. Namun peristiwa mengenaskan ini pastinya peringatan bagi kita sebagai warga negara yang peduli. Peringatan ini tidak hanya bagi warga Jakarta, namun untuk semua manusia di bumi ini. Karena longsor sampah ini mungkin terjadi dimana pun.

Janganlah pernah berpikir, “Apalah artinya seorang saya”. Banyak sekali yang dapat kita lakukan untuk menyelesaikan problem sampah ini.

Misalnya, bila kita mengurangi produksi sampah, otomatis tong/kotak yang kita sebut ‘tempat sampah’ tidak akan terlalu penuh muatannya. Dengan mengurangi produk-produk sekali pakai, maka kita akan mengurangi produksi sampah. Dengan mengubah gaya hidup yang sering main buang benda-benda yang dianggap tidak berguna, maka akan mengurangi sekian meter kubik gunungan sampah di TPA. Bila sekian juta penduduk Jakarta melakukan hal ini, maka timbunan sampah di TPA tentu tidak akan menggunung.

Hal lain yang bisa dilakukan, mengelola sendiri sampah rumah tangga. Antara lain dengan memilah sampah organik dan anorganik. Sampah organik dapat kita kubur sendiri di pekarangan. Atau jika tidak ada pekarangan, bisa menggunakan lahan tanah terbuka bersama-sama dengan para tetangga. Sampah organik ini dapat menyuburkan kembali tanah. Maka secara tidak langsung berfungsi sebagai pupuk alami.

Kemudian sampah anorganik seperti plastik, kertas, bisa kita jual ke lapak–seperti yang dilakukan para pemulung. Kita bisa memperoleh sejumlah uang. Atau kalau ingin membantu pemulung, berikan saja sampah anorganik ini pada mereka. Beres kan?

Sebenarnya mudah ya mengolah sampah!

Aku Bukan Wartawan Infotainment, Marshanda


Seorang gadis buru-buru menunduk ketika fotografer
Majalah Sains ‘SKALA’ masuk kelas XII IPA 1 untuk mengambil gambar suasana
belajar di SMA Labschool Kebayoran, Senin (03/09) kemarin. Sementara anak-anak
lain berpose di depan kamera, gadis kucir kuda itu menenggelamkan
wajahnya ke atas meja.

“Om, foto saya om!” seru seorang cowok sambil pasang
aksi. Suara tawa riuh di kelas yang sedang pelajaran BP (Bimbingan Penyuluhan.
Red) itu. Aku hanya senyum-senyum dari luar pintu kelas. “Yeah… begitulah
anak-anak,” ujar Pak Buang, guru yang menangani bidang akademik SMA Labschool.

“Kebetulan kelas-kelas di sini termasuk kelas besar,”
jelas Pak Buang, “Karena satu kelas isinya 38 anak,” lanjutnya. “Ooooh,” jawabku
seraya mencatat beberapa data penting di buku catatanku.

“Itu sebabnya mereka duduk bertiga?” tanyaku sambil
menunjuk gadis berkucir kuda yang terus menunduk itu. Ia memang duduk
bertiga di barisan paling depan, tepat di depan papan tulis. Gadis yang tak
sempat kulihat wajahnya itu duduk diapit dua teman ceweknya.

“Mungkin gadis itu sedang menangis. Kasihan sekali…,”
pikirku.

“Kita di sini ada artis juga lho mbak,” ujar Pak Buang.

“Oya? Siapa pak?”

“Masak gak tahu?”

“Hmmm…. Emang siapa pak?”

“Marshanda,” seru Pak Buang.

“Oya? Kelas berapa, pak?”

“Kelas berapa ya? Sebentar…,” Pak guru berkacamata itu
kemudian bertanya ke guru lain yang kebetulan lewat. “Oh, di kelas ini mbak,”
ujarnya sambil menunjuk ruang kelas di hadapan kami.

“Oya?! Mana, pak??” seruku sambil menebar pandangan ke
dalam kelas yang tengah jadi obyek foto rekan fotograferku. Satu per satu
kuamati wajah-wajah ceria murid-murid kelas XII IPA 1, tapi tidak satu pun
kutemui wajah pemeran Lala di sinetron Bidadari itu.

“Mbak, Marshanda tuh yang sedang menunduk itu,” kata bu
guru yang tadi ditanya Pak Buang. 

“Oh…,” aku hanya menahan napas.

Tiba-tiba aku jatuh iba pada gadis yang terus menunduk
itu. Sebegitu trauma kah dia pada pers? Begitu kasar kah pemberitaan media
massa tentang gadis belia itu? Begitu dalam kah beban psikologis dalam dirinya,
sehingga ia takut pada dua sosok wartawan majalah sains ‘SKALA’? Padahal aku
bukan wartawan infotainment, Marshanda. Dan aku tidak akan menggosipkan kamu… []  

Jakarta, 4 September 2006.

Aku Bukan Wartawan Infotainment, Marshanda

Seorang gadis buru-buru menunduk ketika fotografer Majalah Sains ‘SKALA’ masuk kelas XII IPA 1 untuk mengambil gambar suasana belajar di SMA Labschool Kebayoran, Senin (03/09) kemarin. Sementara anak-anak lain berpose di depan kamera, gadis kucir kuda itu menenggelamkan wajahnya ke atas meja.

“Om, foto saya om!” seru seorang cowok sambil pasang aksi. Suara tawa riuh di kelas yang sedang pelajaran BP (Bimbingan Penyuluhan. Red) itu. Aku hanya senyum-senyum dari luar pintu kelas. “Yeah… begitulah anak-anak,” ujar Pak Buang, guru yang menangani bidang akademik SMA Labschool.

“Kebetulan kelas-kelas di sini termasuk kelas besar,” jelas Pak Buang, “Karena satu kelas isinya 38 anak,” lanjutnya. “Ooooh,” jawabku seraya mencatat beberapa data penting di buku catatanku.

“Itu sebabnya mereka duduk bertiga?” tanyaku sambil menunjuk gadis berkucir kuda yang terus menunduk itu. Ia memang duduk bertiga di barisan paling depan, tepat di depan papan tulis. Gadis yang tak sempat kulihat wajahnya itu duduk diapit dua teman ceweknya.

“Mungkin gadis itu sedang menangis. Kasihan sekali…,” pikirku.

“Kita di sini ada artis juga lho mbak,” ujar Pak Buang.

“Oya? Siapa pak?”

“Masak gak tahu?”

“Hmmm…. Emang siapa pak?”

“Marshanda,” seru Pak Buang.

“Oya? Kelas berapa, pak?”

“Kelas berapa ya? Sebentar…,” Pak guru berkacamata itu kemudian bertanya ke guru lain yang kebetulan lewat. “Oh, di kelas ini mbak,” ujarnya sambil menunjuk ruang kelas di hadapan kami.

“Oya?! Mana, pak??” seruku sambil menebar pandangan ke dalam kelas yang tengah jadi obyek foto rekan fotograferku. Satu per satu kuamati wajah-wajah ceria murid-murid kelas XII IPA 1, tapi tidak satu pun kutemui wajah pemeran Lala di sinetron Bidadari itu.

“Mbak, Marshanda tuh yang sedang menunduk itu,” kata bu guru yang tadi ditanya Pak Buang.

“Oh…,” aku hanya menahan napas.

Tiba-tiba aku jatuh iba pada gadis yang terus menunduk itu. Sebegitu trauma kah dia pada pers? Begitu kasar kah pemberitaan media massa tentang gadis belia itu? Begitu dalam kah beban psikologis dalam dirinya, sehingga ia takut pada dua sosok wartawan majalah sains ‘SKALA’? Padahal aku bukan wartawan infotainment, Marshanda. Dan aku tidak akan menggosipkan kamu… []

Jakarta, 4 September 2006.