Selamat Tinggal Dunia!

Assalamu’alaikum wr wb.

Teman-teman, maafkan segala khilaf dan salah ya. Maaf jika tulisan dan
foto-foto di situs ini ada yang menyinggung hati. Mohon semua
diikhlaskan.

Insyaallah saya akan segera memenuhi panggilan-Nya ke rumah-Nya yang
penuh rahmat. Mohon doa yaa….. Terima kasih atas segala kebaikan.
Semoga 4JJI balas berlipat ganda…

Wassalamu’alaikum wr wb.

Selamat Tinggal Dunia!

Assalamu’alaikum wr wb.

Teman-teman, maafkan segala khilaf dan salah ya. Maaf jika tulisan dan foto-foto di situs ini ada yang menyinggung hati. Mohon semua diikhlaskan.

Insyaallah saya akan segera memenuhi panggilan-Nya ke rumah-Nya yang penuh rahmat. Mohon doa yaa….. Terima kasih atas segala kebaikan. Semoga 4JJI balas berlipat ganda…

Wassalamu’alaikum wr wb.

Kapan Ratipan?

“Jat, kapan ratipan?”

Pertanyaan ini gak sekali dua kali diajukan. Hmmm…. bingung juga
jawabnya. Setahuku tidak pernah ada riwayatnya Rasulullah SAW
mengadakan ‘slametan’ sebelum pergi haji.

Gara-gara bayak yang nanya pertanyaan semacam ini, aku jadi kepikiran
juga. Apalagi ibuku–yang sama-sama mau berangkat haji–juga
ikut-ikutan nanya, “Jat, kita kapan ratipan?” *halah…*

Padahal kan syarat diterimanya ibadah itu adalah ikhlas dan ittiba’
(mengikuti sunnah Nabi. Red). Apalagi 4JJI jelas-jelas mengingatkan
dalam Al Isra’:36 yang artinya “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu
yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, pengelihatan, dan hati
nurani, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya.”

Well, kalau aku dan ibuku ikut-ikutan bikin ratipan alias ‘pesta’
perayaan sebelum berangkat haji, maka aku dan ibu melakukan bid’ah…
na’udzubillah. Belum lagi akibat dari pesta yang sering disebut
‘walimatul safar’ ini, bisa menimbulkan rasa riya bagi yang akan
berhaji.

Lebih heran lagi, kenapa kok orang-orang yang (kupikir) cukup berilmu
malah ikut-ikutan nanya, “Jat, kapan ratipannya?”. Weleh-weleh….
gimana ya orang alim ini, kok dalam setiap ‘ceramahnya’ menyuruh
menjauhi bid’ah, tapi dalam kesehariannya seperti itu sih?? Well, orang
alim juga manusia kali ya?

Lagipula aneh, bukankah ibadah haji itu sama halnya dengan sholat dan
ibadah lainnya? Makanya gak perlu dirayain apalagi kalau sampai
menghabiskan banyak uang. Kan keluarga yang ditinggalkan pergi juga
perlu biaya tho?

Tapi alhamdulillah… seiring berjalannya waktu, aku bisa meyakinkan
ibuku untuk tidak melakukan ‘walimatul safar’. Tapi ya itu, karena ada
pesan sponsor dari ibu untuk menghindari ‘bisik-bisik tetangga’,
jadinya aku dan ibu punya ide lain.

“Walau gimana juga, kita pergi 40 hari kan pasti titip rumah ke
tetangga, Jat. Masak kita gak ngadain apa-apa?” kata Ibu waktu itu.

Makanya aku punya ide untuk bagi-bagi ‘berkat’ ke tetangga dan beberapa
saudara yang dituakan. Yah, sebagai tanda cinta saja buat mereka. So,
gak ada ratipan, gak ada walimatul safar…. adanya walimatul ursy ajah
hehehehe…

Wallahu’alam bishawab.

Kapan Ratipan?

“Jat, kapan ratipan?”

Pertanyaan ini gak sekali dua kali diajukan. Hmmm…. bingung juga jawabnya. Setahuku tidak pernah ada riwayatnya Rasulullah SAW mengadakan ‘slametan’ sebelum pergi haji.

Gara-gara bayak yang nanya pertanyaan semacam ini, aku jadi kepikiran juga. Apalagi ibuku–yang sama-sama mau berangkat haji–juga ikut-ikutan nanya, “Jat, kita kapan ratipan?” *halah…*

Padahal kan syarat diterimanya ibadah itu adalah ikhlas dan ittiba’ (mengikuti sunnah Nabi. Red). Apalagi 4JJI jelas-jelas mengingatkan dalam Al Isra’:36 yang artinya “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, pengelihatan, dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya.”

Well, kalau aku dan ibuku ikut-ikutan bikin ratipan alias ‘pesta’ perayaan sebelum berangkat haji, maka aku dan ibu melakukan bid’ah… na’udzubillah. Belum lagi akibat dari pesta yang sering disebut ‘walimatul safar’ ini, bisa menimbulkan rasa riya bagi yang akan berhaji.

Lebih heran lagi, kenapa kok orang-orang yang (kupikir) cukup berilmu malah ikut-ikutan nanya, “Jat, kapan ratipannya?”. Weleh-weleh…. gimana ya orang alim ini, kok dalam setiap ‘ceramahnya’ menyuruh menjauhi bid’ah, tapi dalam kesehariannya seperti itu sih?? Well, orang alim juga manusia kali ya?

Lagipula aneh, bukankah ibadah haji itu sama halnya dengan sholat dan ibadah lainnya? Makanya gak perlu dirayain apalagi kalau sampai menghabiskan banyak uang. Kan keluarga yang ditinggalkan pergi juga perlu biaya tho?

Tapi alhamdulillah… seiring berjalannya waktu, aku bisa meyakinkan ibuku untuk tidak melakukan ‘walimatul safar’. Tapi ya itu, karena ada pesan sponsor dari ibu untuk menghindari ‘bisik-bisik tetangga’, jadinya aku dan ibu punya ide lain.

“Walau gimana juga, kita pergi 40 hari kan pasti titip rumah ke tetangga, Jat. Masak kita gak ngadain apa-apa?” kata Ibu waktu itu.

Makanya aku punya ide untuk bagi-bagi ‘berkat’ ke tetangga dan beberapa saudara yang dituakan. Yah, sebagai tanda cinta saja buat mereka. So, gak ada ratipan, gak ada walimatul safar…. adanya walimatul ursy ajah hehehehe…

Wallahu’alam bishawab.

perjalanan haji & ziarah

Start:      Dec 24, ’06 1:00p
End:      Feb 2, ’07
Location:      Mekkah, Madinah

semoga 4JJI mudahkan dan lancarkan perjalanan dan ibadah hajiku dan ibuku… amin

Suara Hati Istri Sholihah

Wahai lelaki yang 4JJI Pilihkan buatku,
tahukah kau perasaanku setiap aku merinduimu?
Aku merasa berdosa….
Karena aku menempatkanmu lebih tinggi daripada Rabb-ku

Bogor, 5 Desember 2006

Suara Hati Suami Sholih

Ya Rabb…
Nikmat-Mu yang manakah yang aku dustakan?
Seorang istri sholihah yang setia berjuang di jalan-Mu lebih dari cukup buatku

Bogor, 5 Desember 2006

Suara Hati Istri Sholihah

Wahai lelaki yang 4JJI Pilihkan buatku,
tahukah kau perasaanku setiap aku merinduimu?
Aku merasa berdosa….
Karena aku menempatkanmu lebih tinggi daripada Rabb-ku

Bogor, 5 Desember 2006

Suara Hati Suami Sholih

Ya Rabb…
Nikmat-Mu yang manakah yang aku dustakan?
Seorang istri sholihah yang setia berjuang di jalan-Mu lebih dari cukup buatku

Bogor, 5 Desember 2006

Poligami Oh Poligami (2)

Hmmm… belum selesai nih kontemplasinya…

Ada dua kata buat Aa Gym dan keluarga soal poligami ini; AKU SALUT!!! Mungkin kalau dibaca kaum feminis, aku bakal ‘dibabat’ kali ya ?

Well, ada alasan kenapa aku salut pada Aa dan keluarga. Bayangkan, sebagai public figure, Aa Gym siap ‘ditinggalkan jamaah’, Teh Ninih siap ‘perang batin’, dan Teh Rini (istri kedua Aa. Red) siap ‘dicemooh’ masyarakat. Sepertinya orang-orang itu adalah orang-orang yang merindu surga. Mereka tidak peduli pandangan manusia. Hanya pandangan 4JJI yang mereka cari.

Soal dimadu; perempuan mana sih yang mau dimadu? Bahkan Aisyah RA saja cemburunya setengah mati pada Rasulullah SAW. Hati perempuan mana yang tidak teriris jika suaminya bermesra dengan perempuan lain? Mungkin di situlah letak surga itu. Bagaimana  seorang istri dapat mencintai suaminya dengan sederhana saja dan menempatkan 4JJI yang tertinggi di hatinya. Karena 4JJI Maha Cemburu.

Subhanallah… Meskipun aku tidak menentang poligami, namun sepertinya aku belum sanggup seperti mereka-mereka yang hati dan jiwanya selalu merindu surga.

Aku hanya bisa mendoakan keluarga Aa Gym tetap sakinah, mawaddah, wa rahmah. Semoga hanya pandangan 4JJI yang kita cari, bukan pandangan manusia. Semoga Aa Gym dan keluarga berhasil berjuang di ‘ladang da’wah’ baru ini. Karena meluruskan opini tentang poligami juga sebuah ladang da’wah… Wallahu’alam bishawab.