Dari Padang Pasir ke Banjir

Sebenarnya mau posting ini dari pekan lalu. Berhubung listrik dan air mati seminggu plus sibuk angkut-angkut air gara-gara banjir, baru posting sekarang deh….

“Jakarta banjir lo,” kata temanku di tanah air via HP sesaat sebelum pesawat take off dari Madinatul Hujaj. Ah… Jakarta banjir mah biasa.

“Jakarta banjir, jalan Thamrin aja kerendem,” kata temanku lagi via sms waktu pesawatku transit di Abu Dhabi. Hmmm…. Masak sih Thamrin ampe kerendem? Ah, paling karena genangan air.

“Jat, Jakarta banjir dimana-mana,” kata nenekku via sms pas pesawatku sudah mendarat di Cengkareng jam 07.19 pagi, Jumat 2 Februari lalu. Waduh… kok perasaanku gak enak nih.

“Assalamu’alaikum. Jati udah nyampe Cengkareng ya? Maaf Jati, Tante gak bisa jemput karena kebanjiran ampe seleher. Sekarang Tante lagi di pengungsian. Maaf ya Jat, tolong sampein ke ibu…” Innalillahi wa inna illaihi roji’un, ternyata banjir kali ini parah ya??

Ironis sekali, padahal beberapa hari sebelumnya di Masjid Nabawi, Madinah, kami melakukan sholat istisqa (minta hujan. Red) secara berjamaah dengan jamaah haji dari negara-negara lain. Masyaallah…. dari kekeringan ke kebanjiran. Atau jangan-jangan karena yang ikut sholat istisqa kebanyakan jamaah haji asal Indonesia, makanya dikabulkannya di negri sendiri… hehehehehe…

Masyaallah… ternyata banjir besar 2 Feb 2007 kali ini lebih parah dari banjir besar 2 Feb 2002 lalu. Entah kebetulan yang sangat kebetulan atau apa. Kok tanggalnya sama ya? Dan berulang 5 tahun kemudian? Wallahu’alam.

Aku Cuma bisa istighfar saat bus yang membawa kami ke asrama haji Pondok Gede terjebak banjir di tol bandara. Perjalanan yang seharusnya cuma 2 jam, gara-gara air yang melimpah jadi 5 jam!!

Sampai di Pondok Gede pun kami harus menunggu berjam-jam karena truk barang masih terjebak banjir di tol Kapuk, Jakarta Utara. Phew…! Di asrama haji pun kami terpaksa tayamum karena tidak ada air untuk wudhu.

Sirna sudah bayangan indah mandi air hangat, lalu makan masakan Indonesia yang terenak, kemudian tidur nyenyak di rumah. Karena sampai di rumah gelap gulita dan tidak ada air. “Lampu sama air mati,” kata nenekku menyambut kedatanganku dan ibuku. Mau tidak mau, setelah menenteng tas dan koper yang cukup berat, aku harus mengangkut air beberapa ember dari tetangga yang punya sumur.

Alhamdulillah… aku masih sangat bersyukur karena aku masih termasuk beruntung karena rumahku gak kemasukan air. Tetangga-tetanggaku yang rumahnya terletak di tempat yang rendah cuma bisa pasrah melihat rumahnya terendam hingga tak terlihat lagi atapnya.

Kekurangan air, tayamum, gak mandi, angkut-angkut beban (baca: air. Red), sampai kekurangan makanan menjadi sesuatu yang tidak asing lagi buatku sepulang dari haji. Aku jadi berpikir, jangan-jangan memang seperti inilah skenario yang 4JJI siapkan buatku. Inilah ‘training’ yang aku dapatkan dari tanah suci. Wallahu’alam bishawab…

Advertisements
Next Post
Leave a comment

10 Comments

  1. sabar yah, mbak.. insya ALlah ada hikmahnya…

    Reply
  2. Satu materi ujian yang harus kita jawab, apakah banjir ini akan mengembalikan kita kepada Yang Maha Kuasa ataukah akan menyibukkan kita dengan mencari kambing hitam. Innalillahi wainnailaihi rojiuun, ya Allah bimbinglah kami tuk menemukan hikmah dari setiap yang kau timpakan pada kami. Sabar, tabah dan ikhlas, jangan jalani ujian ini dengan mengundang musibah yang baru.

    Reply
  3. terima kasih ukhti kiki…. ayo ikutan nyumbang buat korban banjir. datang ya ke baksos tgl 18 feb di cililitan 😉

    Reply
  4. yup! banjir besar ini merupakan ladang amal buat kita yang mau berlomba-lomba dalam kebaikan. Ayo ikutan baksos buat korban banjir di kampungku di cililitan tgl 18 feb besok ;p
    btw, anakkebumen kebanjiran juga gak?

    Reply
  5. huhuhuhuhuuu…. kasian dirimu, dek…
    pulang kampung yang sedianya bisa bersantai harus bekerja keras… 😦

    Reply
  6. masih belum seberapa mbak… ada juga jamaah haji yang rumahnya kebanjiran sepinggang.
    thx 4 ur attention anyway… aku jadi terharu huhuhuhuhu…

    Reply
  7. pantesan….ngontak teteh sejak tanggal 2 kok gak nyambung2.padahal daku dah standby di jkt buat menyambut mu(halagh…bilang saja nunggu oleh2:D)
    padahal cililitan-pengadegan gak jauh y teh, kehalang rawajati doang, dan ntu yang paling parah…

    Reply
  8. iya jeng… telpon rumah jg bermasalah. jadi deh 'terisolir'

    Reply
  9. mabrurkanlah dirimu selalu, baik dengan bencana ini ataupun dengan ujian-ujian yang lain

    Reply
  10. amiiiiin…. wah, wejangannya 'dalem' banget. makasih ya 🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: