PORGIG (Pekan Olah Raga Ghalia Indonesia Group)

Start:      Mar 22, ’07 07:00a
End:      Mar 25, ’07 05:00a
Location:      Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

PORGIG merupakan ajang kompetisi persahabatan antar karyawan Ghalia Indonesia Group dari seluruh Indonesia

PORGIG (Pekan Olah Raga Ghalia Indonesia Group)

Start:      Mar 22, ’07 07:00a
End:      Mar 25, ’07 05:00a
Location:      Lembang

PORGIG merupakan ajang kompetisi persahabatan antar karyawan Ghalia Indonesia Group dari seluruh Indonesia

Sadarkah…?

Sadarkah setelah badai ada pelangi?

Sadarkah setelah mendung ada cerah mentari?

Sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan,

Di balik kesulitan ada kemudahan…

Sadarkah?

Bogor, 20 Maret 2007

Sadarkah…?

Sadarkah setelah badai ada pelangi?

Sadarkah setelah mendung ada cerah mentari?

Sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan,

Di balik kesulitan ada kemudahan…

Sadarkah?

Bogor, 20 Maret 2007

Tuesdays With Morrie

Rating: ★★★★
Category: Books
Genre: Nonfiction
Author: Mitch Albon

Seorang kakek 78 tahun duduk lunglai di tempat tidurnya. Badannya sangat kurus dan kecil seperti menciut. Kaki dan tangannya tidak dapat digerakkan. Dia menderita alzimer, yaitu suatu penyakit yang mengakibatkan kelumpuhan seumur hidup. Meski tubuhnya lumpuh sejak beberapa tahun lalu, namun sorot matanya tetap berseri. Bahkan sunggingan senyum tetap menghiasi bibirnya yang keriput.

Kakek tersebut adalah guru besar di sebuah universitas di Amerika Serikat. Orang-orang akrab menyapanya, “Morrie”. Ia adalah professor lincah yang gemar berdansa. Meski sudah tidak dapat mengajar di depan kelas, namun Morrie tetap memberikan ‘kuliah kehidupan’ setiap Hari Selasa.

Bersama mantan mahasiswanya yang kini wartawan, Morrie memberikan ‘kuliah’ tentang makna hidup dan kehidupan. Kuliah yang awalnya berupa percakapan interpersonal ini kemudian dicatat, selanjutnya direkam oleh sang wartawan, lalu dibukukan dan difilmkan dengan judul “Tuesdays With Morrie” atau “Selasa Bersama Morrie”.

Kuliah ini memang berlangsung setiap Hari Selasa. Sejak Morrie masih bisa berjalan—meski harus dengan perlahan—hingga ia tergolek lunglai di tempat tidurnya. Penyakit yang diidapnya telah menggerogoti seluruh tubuhnya, namun tidak jiwa dan semangatnya.

Selama detik-detik menanti ajalnya, tak pernah sedikitpun pandangan penyesalan pada wajah Morrie. Sorot matanya selalu menampakkan kebahagiaan. Bahkan sapaan ramahnya yang khas kepada setiap orang yang mengunjunginya menunjukkan kesyukurannya pada Tuhan. “When you know how to die, you know how to live,” kata Morrie.

Morrie memang tidak menganut satu agama tertentu. Ia seorang agnostic. Tapi kegigihan dan optimismenya dalam hidup patut ditiru. Tak pernah sedikitpun ia menggugat Tuhan atas takdir yang ditimpakannya. Tak pernah ia murung lantaran penyakit yang belum ditemukan obatnya itu. Morrie tetap bersyukur dan menjalani hidupnya dengan keceriaan.

Jika umat muslim mengikrarkan rukun iman yang keenam, yaitu iman kepada qada dan qadar, Morrie tidak hanya berikrar. Morrie menemukan keyakinan kepada takdir lewat fase hidupnya.

Sebagai muslim, seharusnya kita bisa ‘lebih’ dari Morrie, karena yang kita imani ada enam hal. Masalahnya, sudahkah kita mengimani Allah, malaikat, kitab-kitab Allah, para nabi dan rasul, hari kiamat, serta qada dan qadar?

Ada sebuah kata-kata bijak, “Jika Anda ingin hidup tenang, maka sesuaikan rencana hidup Anda dengan rencara Allah.”

Wallahu’alam bishawab

Kapan…?

Wajar gak sih kalau aku merasa iri setiap datang ke pernikahan teman-temanku, bahkan menangis melihat foto-foto pernikahan?

Salah gak sih ketika aku mengucapkan kata “barakallah”, hati ini berucap, “Hix… aku kapan ya?”

Wajar gak sih kalau aku selalu terharu melihat teman-temanku yang
merasakan hamil, dan berucap dalam hati, “Kapan ya aku merasakan ada
nyawa lain dalam tubuhku?”

Wajar gak sih kalau aku menangis terharu melihat ibu dan bayinya yang
baru lahir, dan berucap dalam hati, “Kapan aku merasakan menjadi wanita
seutuhnya?”

Salahkah aku menitikkan air mata ketika melihat wajah kerinduan ibuku ketika menimang cucu orang lain?

Salahkah aku tersenyum kecut ketika ada orang bertanya, “Jadi, kapan mbak?”

Wallahu’alam…

Bogor, 6 Maret 2007