Tuesdays With Morrie

Rating: ★★★★
Category: Books
Genre: Nonfiction
Author: Mitch Albon

Seorang kakek 78 tahun duduk lunglai di tempat tidurnya. Badannya sangat kurus dan kecil seperti menciut. Kaki dan tangannya tidak dapat digerakkan. Dia menderita alzimer, yaitu suatu penyakit yang mengakibatkan kelumpuhan seumur hidup. Meski tubuhnya lumpuh sejak beberapa tahun lalu, namun sorot matanya tetap berseri. Bahkan sunggingan senyum tetap menghiasi bibirnya yang keriput.

Kakek tersebut adalah guru besar di sebuah universitas di Amerika Serikat. Orang-orang akrab menyapanya, “Morrie”. Ia adalah professor lincah yang gemar berdansa. Meski sudah tidak dapat mengajar di depan kelas, namun Morrie tetap memberikan ‘kuliah kehidupan’ setiap Hari Selasa.

Bersama mantan mahasiswanya yang kini wartawan, Morrie memberikan ‘kuliah’ tentang makna hidup dan kehidupan. Kuliah yang awalnya berupa percakapan interpersonal ini kemudian dicatat, selanjutnya direkam oleh sang wartawan, lalu dibukukan dan difilmkan dengan judul “Tuesdays With Morrie” atau “Selasa Bersama Morrie”.

Kuliah ini memang berlangsung setiap Hari Selasa. Sejak Morrie masih bisa berjalan—meski harus dengan perlahan—hingga ia tergolek lunglai di tempat tidurnya. Penyakit yang diidapnya telah menggerogoti seluruh tubuhnya, namun tidak jiwa dan semangatnya.

Selama detik-detik menanti ajalnya, tak pernah sedikitpun pandangan penyesalan pada wajah Morrie. Sorot matanya selalu menampakkan kebahagiaan. Bahkan sapaan ramahnya yang khas kepada setiap orang yang mengunjunginya menunjukkan kesyukurannya pada Tuhan. “When you know how to die, you know how to live,” kata Morrie.

Morrie memang tidak menganut satu agama tertentu. Ia seorang agnostic. Tapi kegigihan dan optimismenya dalam hidup patut ditiru. Tak pernah sedikitpun ia menggugat Tuhan atas takdir yang ditimpakannya. Tak pernah ia murung lantaran penyakit yang belum ditemukan obatnya itu. Morrie tetap bersyukur dan menjalani hidupnya dengan keceriaan.

Jika umat muslim mengikrarkan rukun iman yang keenam, yaitu iman kepada qada dan qadar, Morrie tidak hanya berikrar. Morrie menemukan keyakinan kepada takdir lewat fase hidupnya.

Sebagai muslim, seharusnya kita bisa ‘lebih’ dari Morrie, karena yang kita imani ada enam hal. Masalahnya, sudahkah kita mengimani Allah, malaikat, kitab-kitab Allah, para nabi dan rasul, hari kiamat, serta qada dan qadar?

Ada sebuah kata-kata bijak, “Jika Anda ingin hidup tenang, maka sesuaikan rencana hidup Anda dengan rencara Allah.”

Wallahu’alam bishawab

Advertisements
Previous Post
Next Post
Leave a comment

3 Comments

  1. “Jika Anda ingin hidup tenang, maka sesuaikan rencana hidup Anda dengan rencara Allah.”
    ==================================================================

    intinya tawakkal ya?
    btw, buku ini di-film-in ya?

    Reply
  2. yup, bahasa kerennya 'tawakal'. iya mbak di-film-in. tapi aku belum pernah nonton filmnya.
    Buku ini cukup inspiring dan highly recommended buat dibaca 😉

    Reply
  3. ehm…menarik juga…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: