Jangan Mau Didikte Orang Lain!

Siapa coba yang mau disuruh-suruh, apalagi didikte orang
lain? Nggak ada lah yaw! Tapi seringkali tanpa sadar kita rela/mau didikte
orang. Ah, masak sih?

Well, life is about to choose. Seringkali kita dihadapkan
pada pilihan-pilihan sulit, sehingga membutuhkan curhat dan mencari second
bahkan tenth opinion. Gak jarang juga opini-opini/saran-saran orang justru
membuat kita bingung, nah loh.

Pada akhirnya, semua pilihan kembali lagi ke diri kita
sendiri. Make up your mind! Keputusan ada di tangan kita masing-masing. Mau
pilih saran si A atau si B, atau punya alternatif pilihan sendiri, semua
terserah kita.

‘Dikecam’ orang setelah kita mengambil sebuah keputusan?
Cuekin ajah! Emang sih, kadangkala ilfeel juga lantaran orang yang mengecam
kita adalah orang yang cukup ‘dipandang’ atau ‘berpengaruh’. Apalagi kalau
ternyata keputusan yang kita ambil ternyata memang salah. Alamat dibilang, “Tuh
kan, gue bilang juga apa!” or something like that.

Perasaan gak enak ati terkadang jadi pertimbangan dalam
memutuskan sesuatu. Misalnya, takut ntar dibilang begini sama si anu. Atau
takut dicap begitu sama sekelompok orang. Sekali lagi, life is about to choose.
Itulah kenapa Islam mengajarkan kita untuk beristikharah dalam segala hal.
Bahkan sahabat Rasul melakukan istikharah untuk hal-hal sepele sekalipun.
Istikharah intinya mendekatkan diri pada 4JJI dan mohon ditunjukkan pada jalan
yang diridhoi-Nya.

So, dalam mengambil keputusan yang utama adalah pandangan
4JJI, bukan pandangan orang lain atau segolongan orang. Peduli amat orang lain
bilang apa, toh yang kita cari hanya ridho 4JJI. Bukankah setiap perbuatan di
dunia kelak pertanggung jawabannya oleh diri masing-masing? Gak mungkin kan
kita menuruti pendapat si A lantas akibatnya si A yang menanggung?

“Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada 4JJI pada Hari
Kiamat dengan sendiri-sendiri” (Maryam: 95).

Masih bingung? Minta petunjuklah pada 4JJI. Berkeluh
kesahlah pada 4JJI. Sebab hanya Dia yang memberi petunjuk. Pendapat orang lain
hanyalah peneguh atau penyanggah kecenderungan hati kita.

“Dan Tuhanmu menciptakan apa saja sesuai kehendak dan
pilihan-Nya. Tidak ada pada diri mereka (hak) untuk memilih. Maha Suci dan Maha
Tinggi 4JJI dari apa-apa yang mereka sekutukan” (Al Qashash: 68).

Kebaikan adalah sesuatu yang menentramkan hati dan jiwa.
Sementara dosa adalah sesutau yang membuat jiwa gundah. Sesuai dengan sabda
Rasulullah SAW, “Kebaikan adalah apa yang jiwa dan hati tenang karenanya, dan
dosa adalah apa yang terasa mengganggu jiwa dan menimbulkan keragu-raguan dalam
dada, meskipun orang-orang memberi fatwa kepadamu dan menegaskannya.” (HR. Imam
Ahmad bin Hanbal dan Ad Darimi).

So, jangan mau didikte orang lain! Tanyakan pada hati
nurani. Tentu saja hanya hati yang bersih yang bisa memantulkan suara kebenaran
dan kebajikan. Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, 29 April 2007.

Advertisements
Leave a comment

6 Comments

  1. Bener!! kadang bukan hanya ga enak ati, tapi sampai takut ambil keputusan gara2 orang lain.
    Jangan mau didikte orang lain!!

    Reply
  2. Halo tante Je, always say Bismillah+PeDe aja n yakin sama kputusan yg diambil…mungkin kadang saran bisa jadi mejurus jadi dikte kalo qta terlalu permisif yha?

    Reply
  3. ada yang bilang keputusan yang paling baik diambil ituh yang akal membenarkan 100%, hati jugak 100%.. ini baca dimana gw yak ?? euh.. lupa..

    Reply
  4. ami, ardiar, ogie, Anda semua benarrr!!

    Reply
  5. mendengarkan orang lain memang perlu, tapi mengikutinya tidak lah selalu

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: