Rich Dad Poor Dad for Teens

Rating: ★★★★
Category: Books
Genre: Teens
Author: Robert T. Kiyosaki

Ayah Miskin: “Belajarlah dengan supaya kau bisa menemukan perusahaan bagus dan bekerja di situ”

Ayah Kaya: “Belajarlah dengan tekun supaya kau bisa menemukan perusahaan bagus dan membelinya”

Ayah Miskin: “Buatlah CV yang bagus untuk dapat pekerjaan yang bagus”

Ayah Kaya: “Tulislah rencana financial dan bisnis yang kuat untuk menciptakan perusahaan yang bagus”

Ayah Miskin: “Kalau sudah berurusan dengan uang, jangan ambil resiko!”

Ayah Kaya: “Belajarlah untuk mengelola resiko!”

Ayah Miskin: “Tabung!”

Ayah Kaya: “Investasikan!”

Ungkapan-ungkapan tersebut hanyalah secuil paradoks yang ditampilkan buku ini. Yang pasti, buku ini mencoba mengubah paradigma ‘ayah miskin’ menjadi paradigma ‘ayah kaya’.

Yang harus digarisbawahi adalah definisi ‘kaya’ itu sendiri. ‘Kaya’ bukan berarti berpenghasilan besar. Buat apa memiliki penghasilan besar jika tidak punya asset? Orang-orang berpenghasilan besar biasanya punya pengeluaran yang juga besar untuk benda-benda konsumtif (liabilitas), dan hal ini tidak menjadikan mereka kaya.

Dalam bukunya, Kiyosaki mengisahkan bagaimana ia belajar tentang finansial dari ayahnya sendiri (ayah miskin) dan ayah temannya (ayah kaya). Dimana ayah kaya berpenghasilan tidak jauh berbeda dari ayah miskin yang pekerja tulen. Namun ayah kaya memiliki banyak perusahaan dan menggaji banyak karyawan. Bahkan ayah kaya memiliki passive income yang memungkinkan uang bekerja untuknya.

Memang kedengarannya agak mustahil. How come gitu loh? Yang pasti, orang kaya adalah orang yang kaya hati, kaya kreativitas, dan terutama cerdas finansial. Orang kaya memperlakukan uang secara bijak. Mereka membeli sesuatu yang mereka butuhkan—bukan inginkan–, sehingga mereka tidak konsumtif. Artinya, mereka lebih banyak menyisihkan pendapatan mereka untuk asset ketimbang liabilitas.

Dalam mengelola asset, Kiyosaki membaginya dalam tiga ‘celengan’, yaitu:
1. beramal
2. tabungan
3. investasi

Kesimpulannya, jika Anda ingin kaya, maka Anda harus cerdas finansial dan kreatif memanfaatkan peluang. Memperturutkan hawa nafsu (berbelanja) adalah hal berbahaya! Menjadi kaya bukan berarti menjadi sombong atau haus duniawi. Sebaliknya, menjadi kaya membuka peluang kita untuk lebih banyak menolong orang lain dan beramal.

So, be wise on using money and don’t let your passion drives you!

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

4 Comments

  1. mari berjuang menjadi kaya karena Allah,
    tapi kalau semua orang punya pasif income/asset perusahaan,

    siapa yg mau jadi pegawai?

    kalau semua orang jadi kaya semua.. siapa yang amau nerima zakat?

    kalau semua orang jadi kaya semua.., Tanda kiamat sudah dekat, karena sdh masuk fase kelima (kebangkitan kembali ummat islam/stelah ada Dajjal yg dikalahkan Imam Mahdi)

    kita sekarang masih di fase ke empat (fase Raja2 memaksakan kehendak/umat islam terpuruk

    sumber: ceramah ust ihsan tanjung dari hadits2 tanda kiamat

    Reply
  2. yang pasti, kiamat makin dekat kan? gk mungkin makin jauh 🙂

    Reply
  3. Saya sering juga dengar Robert T. Kiyosaki tentang konsep motivasi financialnya. Tapi sampai sekarang saya belum menemukan buku-buku dia.
    Apa dah ada edisi bhs indonesianya gak?
    Sharing infonya ya….
    Trimakasih.

    Reply
  4. wah, banyak udah banget seri Rich Dad, Poor Dad ini!! di Indonesia yang pegang hak patennya adalah Penerbit Gramedia. Emangnya tinggal dimana mas?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: