VERTIGO*

Jam 6 pagi. Saatnya bangun dan mandi, lalu berangkat ke kantor. Duh, tapi kok pandanganku berputar-putar begini? Dinding kamar terlihat bergetar seperti ada gempa. Tapi aku yakin tidak terjadi gempa, karena aku masih merasakan badanku terbaring di tempat tidur.

Sekali lagi aku mencoba membelakakkan mata dan memfokuskan pandangan. Dinding dan langit-langit kamar tetap bergetar. Sepertinya gejala vertigo. Memang ini bukan yang pertama kali kualami. Sesekali pandangan bergetar macam ini pernah kualami, tapi aku tidak pernah memeriksakan diri ke dokter.

Well, sepertinya hari ini aku harus memeriksakan diri ke dokter sebelum vertigo-ku tambah parah. So, agenda berangkat kantor harus kubatalkan hari ini. Aku harus segera ke rumah sakit pagi-pagi agar dapat nomor antrian kecil. Phew… kebayang deh kalau harus menunggu berjam-jam di rumah sakit bersama para penderita penyakit yang beragam!

Habis mandi dan berganti pakaian aku langsung menuju RSUD Budi Asih yang tidak jauh dari rumah. Polikliniknya lumayan lengkap dan harganya tidak terlalu mahal. Sebuah pilihan pas

Jam 8 pagi. Sudah lumayan banyak yang antri. Aku sedikit telat karena harus bergerak pelan-pelan dengan pandangan yang kadang bergetar. Baiklah, aku harus menunggu dengan sabar bersama puluhan pasien lain.

“Jatining Siti!” seru petugas loket pendaftaran.

“Ya!” sahutku sambil setengah berlari menuju sumber suara.

“Mau ke poli apa, bu?”

“Umm… Kalau vertigo itu masuknya poli apa ya, mbak? Ke internis bukan?”

“Vertigo?” dahi petugas kasir itu berkerut. Kemudian ia memanggil temannya yang perawat dan mengulang pertanyaanku pada sang perawat. “Tunggu sebentar ya bu, kami tanyakan dulu,” ujar petugas kasir itu.

Setelah menunggu beberapa menit, namaku dipanggil lagi. “Maaf bu, vertigo bukan ke poli internis,” ujar petugas kasir itu.

“Coba ibu tanya ke bagian syaraf, apakah mereka menangani vertigo juga,” saran sang perawat.

Baiklah, aku menuruti saran petugas medis itu. Lalu aku melangkah menjauhi loket dan menebar pandangan mencari “poli syaraf”. Ternyata poli yang dimaksud tidak berada di bagian ini. Kemudian aku menuju loket lain yang (barangkali) melayani pasien poli syaraf. Ternyata di loket berikutnya tidak tertera tulisan “poli syaraf”. Mungkin di loket berikutnya lagi, pikirku.

Poli anak, poli THT, poli bedah, poli orthopedic, poli, poli, poli,…. Mana poli syaraf? Ini adalah loket terakhir. Jangan-jangan ada loket yang terlewat. Duh, pandanganku mulai bergetar lagi seperti ada gempa bumi. Namun lantai yang kupijak diam kukuh.

Dengan sedikit terhuyung-huyung aku kembali ke loket pertama. Poli gigi, poli internis, poli umum, poli mata, poli… Mana poli syaraf? Loket dua. Poli kulit, poli kebidanan, poli teknik, poli phonic, poli, poli…. Oh my God, pandanganku kembali bergetar. Kali ini tambah berputar-putar. Kenapa kakiku rasanya tak lagi menapak? Kenapa badanku rasanya seberti terbaring? Tuhan, apa yang terjadi padaku…?

“Jati…”. Samar-samar aku mendengar namaku dipanggil. Siapa yang memanggil? Apakah petugas loket itu menemukan poli syaraf?

“Jati…”. Ya, ya, jawabku tanpa suara. “Jati…,” lanjut suara itu.

“Jat, kamu gak ke kantor? Sekarang sudah jam 6.15!!!” seru ibu sambil mengetuk pintu kamarku.

Ha….???!!!

***

Jakarta, 15 November 2007
*) kisah nyata tadi pagi.

Selengkapnya tentang vertigo, bisa dibaca di sini

Advertisements
Next Post
Leave a comment

11 Comments

  1. mimpi..!!??,cepet baik yah,makanya jangan m*k*n g*j* b*t*…!!tu kan jadi vertigo, gimana coba kalo Verlimokan tambah parah…!!!8-))

    Reply
  2. iya mimpi. tapi emang ane sesekali ngalamin vertigo dan blm pernah periksa… Terima kasih ‘fans’ku atas perhatiannya ;p

    Reply
  3. gaswat tuh, temen skantor ada yg kena vertigo jugasekarang lagi opname.Life stylenya aja kali yah, makan bener, istirahat bener..kali2 aja kurang ada yg merhatiin,makanya ….(yah ngomporin lagi nih)

    Reply
  4. waduh.. kok serem ya? padahal pola makan, istirahat, dan olah raga insyAllah selalu dijaga neh. Jangan-jangan ………….

    Reply
  5. huhuhu.. dikirain beneran… >_<lagian kalo sakit mah, kalo gejala pertama kali, biasanya, ke dokter umum dolo… nah dari situ baru deh dapet rujukan ato minta rujukan =D

    Reply
  6. Hahaha… namanya juga mimpi di 😀

    Reply
  7. Wah kalo ngomongin vertigo, gue juga pernah tuh cuy ngalaminnya. Emang bener-bener berputar dunia ini. Sampe-sampe gue kagak berangkat liputan dan langsung dilarikan ke klinik kantor.Saran dokter waktu itu, gue harus istrirahat yang banyak. Dokter juga memvonis kalo gue terlalu cape. Hehehehe, lumayanlah gue dapet libur dua hari untuk tidur-tiduran di rumah aja.Bay de way…Vertigo itu bisa juga sebagai gejala awal stroke…mangkannya, jagalah kesehatan sedini mungkin. Karena yang namanya sehat ntu mahal bow….

    Reply
  8. Mb.. sy vertigo … tanya dokter, lalu sy dikasih daftar makanan terlarang.. intinya gak boleh berbahan coklat n kopi

    Reply
  9. sumpe lu duy, lu jg ngalamin vertigo? iya siy gw jg pernah denger klo vertigo itu gejala awal stroke… Yeah, kita emang kudu jaga banget kesehatan, mulai dari makanan, minuman, habitat hidup, dll… Tapi kayaknya jaman sekarang rada susah juga kali ye mendapatkan menkonsumsi makanan/minuman yang bebas dari polutan? Secara, air, tanah, udara udah tercemar. So, makhluk hidup yang hidup dalam rantai makanan ini pastinya jg ikut-ikutan tercemar ya..?! hix… sedih… -_-!

    Reply
  10. amilia25 said: intinya gak boleh berbahan coklat n kopi

    OYA?? wah, saya suka sekalo coklat!! ;p

    Reply
  11. kalo nggak salah gue juga pernah nulis di MP gue dah…sebentar gue liat dulu…kok gue lupa yakh…hehehehe

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: