Kontrak lagi, kontrak lagi…

Kemarin sore ada kejadian yang cukup ‘mengejutkan’. Lumayan njitak nih kepala deh intinya.

Setelah bekerja dengan status kontrak selama dua tahun di sebuah perusahaan, kemarin sore sang kepala personalia memanggilku ke ruangannya. Eng ing eeeng….

Di dalam ruangan berukuran 3×3 meter itu sang kepala personalia berjambul aduhai itu meminta kesan dan pesanku selama bekerja di perusahaan tersebut. Sungguh sebuah pertanyaan di luar dugaan hingga keningku berkerut dan mulutku membentuk huruf O.

Setelah blah blah blah blah ngalor ngidul, akhirnya si jambul aduhai menyodorkan sebuah surat perpanjangan kontrak 1 tahun. WHAT?? KONTRAK LAGI?? Spontan aku protes dan menanyakan alasannya. Padahal menurut UU No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, Pasal 59 menyebutkan bahwa kontrak kerja itu maksimal 2 tahun. Maka, setelah 2 tahun itu harus ada pengangkatan karyawan atau PHK.

Sebagai seorang personalia yang pandai berkelit, semua alasan seolah logis di mulutnya–meskipun sebenarnya mengada-ada. Menurutnya, kontrak kerja setahun pertama dianggap sebagai masa percobaan. Kemudian setahun berikutnya adalah kontrak kerja yang pertama, dan yang saat ini aku hadapi adalah perpanjangan kontrak yang kedua. Padahal dari awal tidak pernah ada pembahasan demikian. Sungguh mengada-ada!

Sebagai buruh, posisiku jelas lemah. Jika perusahaan bersikukuh tidak akan mengangkatku sebagai karyawan tetap saat itu juga, pilihannya hanya satu “silakan meninggalkan perusahaan ini”. Take it or leave it. Apalagi saat ini aku belum punya pekerjaan (cadangan) lain. Dilematis.

Kalau aku termasuk orang yang dizalimi, mudah-mudahan aku selamat dunia akhirat dan masuk surga…. Amiiiiin.

Well, ini hanya sebuah fenomena kecil tentang ketenagakerjaan alias perburuhan. Tidak heran kenapa banyak demo buruh. Hak-hak mereka sering tidak dipenuhi, PHK semena-mena, dan yang lebih menyakitkan adalah posisi tawar (bargaining position) yang lemah.

Jadi inget sama perkataan seseorang, “kapitalisasi asset diri” (thx gie ;)). Betul juga sih, pekerja atau buruh atau orang yang diupah orang lain secara tidak langsung adalah orang yang tergantung pada orang lain. Meskipun di dunia ini tidak ada satu manusia pun yang tidak membutuhkan orang lain. Idealnya memang, pekerja dan pemilik perusahaan adalah mitra yang saling membutuhkan. Tanpa pekerja, perusahaan gak jalan. Begitu juga sebaliknya, tanpa pekerjaan, seseorang jadi pengangguran alias tidak punya penghasilan.   

Masalahnya adalah…. Bagaimana agar posisi tawar buruh atau pekerja menjadi tinggi?

Surat Untuk Calon Istri

Link

Becoming Jane

Rating: ★★★
Category: Movies
Genre: Romance

Becoming Jane is a 2007 film inspired by the early life of author Jane Austen (portrayed by Anne Hathaway), and her posited relationship with Thomas Langlois Lefroy (played by BAFTA-winning Scottish actor James McAvoy).

Jane Austen (Anne Hathaway) is the younger daughter of Reverend Austen and his wife (Julie Walters) and has yet to find a suitable husband. She wishes to be a writer — to the disdain of her mother and pride of her father (James Cromwell). She turns down the affections of numerous men, including the nephew of Lady Gresham (Maggie Smith), a Mr. Wisley. Wisley proposes, but Jane turns him down cold. It is not until the mischievous Thomas Lefroy(James McAvoy) — the later inspiration for Pride and Prejudice’s Mr. Darcy — shows up in town that Jane begins to take the idea of marriage seriously.

Though Lefroy is a promising lawyer with a good reputation, after a bad first impression, Jane cannot stand the arrogant Londoner. The two get to know each other gradually, however, and eventually fall in love. Tom takes Jane to London to try and convince his uncle and benefactor, Judge Langlois, to let him marry Jane. The Judge considers it, but after receiving a letter informing him of Jane’s poor family, he refuses, declaring that Tom will be disowned if he marries Jane. Jane insists that she and Tom may still marry, but Tom says he has his family to think about and, outraged, she leaves London.

On her return home, and after finding out that Tom has come back to town with a new fiancee, Jane informs Mr. Wisley that she will marry him. Meanwhile, Jane’s sister Cassandra has learned that her fiancee, Robert Fowle, has died of yellow fever. The girls are both devastated. Jane meets Tom again in a wood, where he asks her to run away with him. She agrees, but halfway there, she learns that Tom’s parents, along with his many brothers and sisters, depend on the allowance he receives from his uncle to survive. Despite protestations from Tom, Jane ends their affair for his family’s sake, returns home to her own family, and begins writing Pride and Prejudice.

Years later, Jane, accompanied by her brother Henry and his wife Eliza (Jane’s cousin, a contesse), encounters Thomas Lefroy again at a social function. He is with his eldest daughter, also named Jane, who turns out to be a fan of Jane Austen’s writing.

Jalan Dewi Sartika

Pernahkah merasakan maut akan menjemput Anda di pagi hari ketika hendak beraktivitas? Sejujurnya, itulah sarapan saya.

Menyebrangi Jalan Dewi Sartika yang sangat ramai dengan kendaraan bermotor, apalagi sepeda motor yang tidak tahu diri, adalah ritual pagi menuju ke kantor. Pengalaman hampir ditabrak sepeda motor bukan barang baru buat saya.

Nekat! First thing first yang harus disiapkan sebelum menyebrangi Jalan Dewi Sartika yang terletak di Kelurahan Cililitan, Kecamatan Kramat Jati, Kotamadya Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta. Jeli! Adalah trik kedua ketika mulai melangkahkan kaki. Jangan harap ruas jalan tersebut sempat lengang—kecuali jam 2 pagi—sehingga Anda bisa melangkah leluasa. Maka Anda harus jeli melihat ‘celah’ diantara kendaraan yang berseliweran.

Sukses menyebrangi Jalan Dewi Sartika sama halnya dengan sukses menamatkan level dua permainan computer (game) “Frog”. Misi dalam game ini adalah sukses menyeberang jalan raya yang sangat padat dengan kendaraan yang lalu lalang. Kita sebagai pemain adalah sang kodok yang harus bisa menyelinap diantara kendaraan-kendaraan yang lalu lalang itu hingga sampai di seberang jalan.

Lari! Adalah kiat ketiga saat menyebrang Jalan Dewi Sartika. Sebab, jangan harap kendaraan-kendaraan tersebut akan menurunkan kecepatannya, apalagi di jam-jam berangkat kerja/sekolah. Lambaikan tangan! Trik keempat ini ditujukan khusus kepada angkot-angkot menyebalkan yang suka berhenti seenak udel supirnya. Buat orang Jakarta dan sekitarnya mungkin sudah paham dengan kelakuan supir-supir angkot yang suka berhenti mendadak di tengah jalan lantaran menunggui penyebrang jalan dengan harapan penyebrang jalan itu naik angkotnya.

Kalau disuruh memilih, saya lebih memilih berhadapan dengan mobil ketimbang motor saat menyeberang jalan. Pengalaman saya, para pengendara motor itu tidak tahu diri dan seenak udelnya saja. Jelas-jelas ada penyebrang jalan di depannya, mbok ya kurangi kecepatan sedikit saja tidak mau. Mereka lebih memilih tancap gas dan zig zag melalui si penyebrang jalan. Akibatnya saya tidak bisa maju ataupun mundur lantaran zig zag-nya itu. Saya hanya bisa mematung pasrah pada sejuta kemungkinan antara hidup dan mati ketika motor di belakang pengendara zig zag itu kaget setengah mati melihat sosok penyebarang jalan yang mematung. Untungnya rem sepeda motor yang kaget itu cukup pakem, sehingga kemungkinan mati sementara itu terpatahkan.

Kelebatan aksi-aksi fantastis kecelakaan lalu lintas seperti di film-film action spontan muncul di kepala setiap pagi saat hendak menyebrang Jalan Dewi Sartika. Berbagai bayangan cara mati karena tertabrak motor/mobil seringkali menggoreskan penyesalan tidak sempurnanya sholat Subuh pagi tadi, atau tidur yang kebablasan sehingga lupa sholat malam, atau rasa malas yang dimenangkan sehingga masuk ke peraduan tanpa berwudhu terlebih dulu.

Kadangkala, memulai hari dengan kengerian mati ditabrak motor/mobil ada pula manfaatnya. Saya masih bersyukur karena senantiasa diingatkan-Nya. Hanya saja, kepada para pengendara sepeda motor yang ugal-ugalan, para supir angkot yang berhenti seenak udelnya, atau pengemudi mobil pribadi yang tidak menghormati pejalan kali… saya belum bisa memaafkan…

Jalan Dewi Sartika

Pernahkah merasakan maut akan menjemput Anda di pagi hari ketika hendak beraktivitas? Sejujurnya, itulah sarapan saya.

Menyebrangi Jalan Dewi Sartika yang sangat ramai dengan kendaraan bermotor, apalagi sepeda motor yang tidak tahu diri, adalah ritual pagi menuju ke kantor. Pengalaman hampir ditabrak sepeda motor bukan barang baru buat saya.

Nekat! First thing first yang harus disiapkan sebelum menyebrangi Jalan Dewi Sartika yang terletak di Kelurahan Cililitan, Kecamatan Kramat Jati, Kotamadya Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta. Jeli! Adalah trik kedua ketika mulai melangkahkan kaki. Jangan harap ruas jalan tersebut sempat lengang—kecuali jam 2 pagi—sehingga Anda bisa melangkah leluasa. Maka Anda harus jeli melihat ‘celah’ diantara kendaraan yang berseliweran.

Sukses menyebrangi Jalan Dewi Sartika sama halnya dengan sukses menamatkan level dua permainan computer (game) “Frog”. Misi dalam game ini adalah sukses menyeberang jalan raya yang sangat padat dengan kendaraan yang lalu lalang. Kita sebagai pemain adalah sang kodok yang harus bisa menyelinap diantara kendaraan-kendaraan yang lalu lalang itu hingga sampai di seberang jalan.

Lari! Adalah kiat ketiga saat menyebrang Jalan Dewi Sartika. Sebab, jangan harap kendaraan-kendaraan tersebut akan menurunkan kecepatannya, apalagi di jam-jam berangkat kerja/sekolah. Lambaikan tangan! Trik keempat ini ditujukan khusus kepada angkot-angkot menyebalkan yang suka berhenti seenak udel supirnya. Buat orang Jakarta dan sekitarnya mungkin sudah paham dengan kelakuan supir-supir angkot yang suka berhenti mendadak di tengah jalan lantaran menunggui penyebrang jalan dengan harapan penyebrang jalan itu naik angkotnya.

Kalau disuruh memilih, saya lebih memilih berhadapan dengan mobil ketimbang motor saat menyeberang jalan. Pengalaman saya, para pengendara motor itu tidak tahu diri dan seenak udelnya saja. Jelas-jelas ada penyebrang jalan di depannya, mbok ya kurangi kecepatan sedikit saja tidak mau. Mereka lebih memilih tancap gas dan zig zag melalui si penyebrang jalan. Akibatnya saya tidak bisa maju ataupun mundur lantaran zig zag-nya itu. Saya hanya bisa mematung pasrah pada sejuta kemungkinan antara hidup dan mati ketika motor di belakang pengendara zig zag itu kaget setengah mati melihat sosok penyebarang jalan yang mematung. Untungnya rem sepeda motor yang kaget itu cukup pakem, sehingga kemungkinan mati sementara itu terpatahkan.

Kelebatan aksi-aksi fantastis kecelakaan lalu lintas seperti di film-film action spontan muncul di kepala setiap pagi saat hendak menyebrang Jalan Dewi Sartika. Berbagai bayangan cara mati karena tertabrak motor/mobil seringkali menggoreskan penyesalan tidak sempurnanya sholat Subuh pagi tadi, atau tidur yang kebablasan sehingga lupa sholat malam, atau rasa malas yang dimenangkan sehingga masuk ke peraduan tanpa berwudhu terlebih dulu.

Kadangkala, memulai hari dengan kengerian mati ditabrak motor/mobil ada pula manfaatnya. Saya masih bersyukur karena senantiasa diingatkan-Nya. Hanya saja, kepada para pengendara sepeda motor yang ugal-ugalan, para supir angkot yang berhenti seenak udelnya, atau pengemudi mobil pribadi yang tidak menghormati pejalan kali… saya belum bisa memaafkan…

Menikah Bukan Tujuan Hidup

Yup! Menikah bukanlah tujuan hidup. Menikah adalah pilihan hidup… sekaligus sarana untuk mendekatkan diri  kepada-Nya.

Bukan bermaksud menentang sunnah rasul, sebab mengikrarkan diri untuk hidup membujang bukan termasuk ummatnya. Bahkan menentang kodrat manusia itu sendiri.

Menikah atau tidak menikah adalah sebuah pilihan bebas dalam hidup ini. Kenapa pilihan bebas? Tentu saja, karena tindakan memilih hanya akan terjadi ketika manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan atau pada persimpangan jalan. Maka logis kiranya jika kegiatan memilih tersebut tidak terjadi, jika tidak ada persimpangan yang membentang di hadapan.

Sebuah pandangan subyektif mencermati fenomena orang-orang yang begitu terobsesi pada pernikahan. Sehingga menikah menjadi tujuan hidup. Seolah menyandang status lajang merupakan bencana besar dalam hidup yang telah merangkak melebihi seperempat abad. Tidak sedikit pula yang meratapi nasib ‘malangnya’, alih-alih mengutuk suratan Tuhan.

Sungguh… betapa kejamnya pandangan masyarakat yang main hakim sendiri terhadap status seseorang. Status lajang seolah-olah menjadi aib keluarga. Maka muncullah stigma “bujang lapuk” atau “perawan tua”. Sehingga masyarakat memandang iba pada yang bersangkutan.

“Kasihan ya si anu belum menikah,” demikian kalimat yang biasa terlontar dari bibir masyarakat budaya konteks tinggi (high context culture). Kenapa mesti kasihan? Apakah yang bersangkutan mengalami suatu musibah? Mungkin kata “kasihan” itu lebih tepat ditujukan pada “gelar sosial” yang terpaksa disandang si lajang. Kasihan lantaran masyarakat semena-mena memicingkan mata pada si lajang. Padahal status yang disandangnya adalah bagian dari suratan Tuhan.

Menikah atau tidak, setiap orang berhak hidup bahagia. Menikah atau tidak setiap orang berhak masuk surga. Tentu saja hak itu akan didapatkan setimpal dengan kewajiban yang dilakukannya. Sekali lagi, pilihan hidup!

Jika menikah hanya membawa kesengsaraan, buat apa? Jika menikah hanya mereoptkan orang lain, buat apa? Jika pernikahan justur menjauhkan seseorang dari Tuhannya, buat apa? Jika menikah hanya mengejar status sosial, buat apa? Karena menikah bukan tujuan hidup. Menikah hanyalah pilihan hidup.

Lewat sabda rasul-Nya, Allah berjanji menolong hamba-Nya yang menikah karena ingin menjaga dirinya. Saya yakin janji-Nya pasti. Karena itu, jika suatu saat Anda berada pada persimpangan antara menikah atau tidak menikah, maka menikahlah!

Hanya saja, jika persimpangan tersebut belum Anda temui, maka bersabarlah. Nikmati saja jalan lurus yang sedang Anda lalui. Jangan hiraukan vonis masyarakat tentang jalan lurus yang sedang Anda lalui. Bukankah Dia akan menambah nikmat hamba-Nya yang selalu bersyukur?

Jakarta, 28 Desember 2007