Jalan Dewi Sartika

Pernahkah merasakan maut akan menjemput Anda di pagi hari ketika hendak beraktivitas? Sejujurnya, itulah sarapan saya.

Menyebrangi Jalan Dewi Sartika yang sangat ramai dengan kendaraan bermotor, apalagi sepeda motor yang tidak tahu diri, adalah ritual pagi menuju ke kantor. Pengalaman hampir ditabrak sepeda motor bukan barang baru buat saya.

Nekat! First thing first yang harus disiapkan sebelum menyebrangi Jalan Dewi Sartika yang terletak di Kelurahan Cililitan, Kecamatan Kramat Jati, Kotamadya Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta. Jeli! Adalah trik kedua ketika mulai melangkahkan kaki. Jangan harap ruas jalan tersebut sempat lengang—kecuali jam 2 pagi—sehingga Anda bisa melangkah leluasa. Maka Anda harus jeli melihat ‘celah’ diantara kendaraan yang berseliweran.

Sukses menyebrangi Jalan Dewi Sartika sama halnya dengan sukses menamatkan level dua permainan computer (game) “Frog”. Misi dalam game ini adalah sukses menyeberang jalan raya yang sangat padat dengan kendaraan yang lalu lalang. Kita sebagai pemain adalah sang kodok yang harus bisa menyelinap diantara kendaraan-kendaraan yang lalu lalang itu hingga sampai di seberang jalan.

Lari! Adalah kiat ketiga saat menyebrang Jalan Dewi Sartika. Sebab, jangan harap kendaraan-kendaraan tersebut akan menurunkan kecepatannya, apalagi di jam-jam berangkat kerja/sekolah. Lambaikan tangan! Trik keempat ini ditujukan khusus kepada angkot-angkot menyebalkan yang suka berhenti seenak udel supirnya. Buat orang Jakarta dan sekitarnya mungkin sudah paham dengan kelakuan supir-supir angkot yang suka berhenti mendadak di tengah jalan lantaran menunggui penyebrang jalan dengan harapan penyebrang jalan itu naik angkotnya.

Kalau disuruh memilih, saya lebih memilih berhadapan dengan mobil ketimbang motor saat menyeberang jalan. Pengalaman saya, para pengendara motor itu tidak tahu diri dan seenak udelnya saja. Jelas-jelas ada penyebrang jalan di depannya, mbok ya kurangi kecepatan sedikit saja tidak mau. Mereka lebih memilih tancap gas dan zig zag melalui si penyebrang jalan. Akibatnya saya tidak bisa maju ataupun mundur lantaran zig zag-nya itu. Saya hanya bisa mematung pasrah pada sejuta kemungkinan antara hidup dan mati ketika motor di belakang pengendara zig zag itu kaget setengah mati melihat sosok penyebarang jalan yang mematung. Untungnya rem sepeda motor yang kaget itu cukup pakem, sehingga kemungkinan mati sementara itu terpatahkan.

Kelebatan aksi-aksi fantastis kecelakaan lalu lintas seperti di film-film action spontan muncul di kepala setiap pagi saat hendak menyebrang Jalan Dewi Sartika. Berbagai bayangan cara mati karena tertabrak motor/mobil seringkali menggoreskan penyesalan tidak sempurnanya sholat Subuh pagi tadi, atau tidur yang kebablasan sehingga lupa sholat malam, atau rasa malas yang dimenangkan sehingga masuk ke peraduan tanpa berwudhu terlebih dulu.

Kadangkala, memulai hari dengan kengerian mati ditabrak motor/mobil ada pula manfaatnya. Saya masih bersyukur karena senantiasa diingatkan-Nya. Hanya saja, kepada para pengendara sepeda motor yang ugal-ugalan, para supir angkot yang berhenti seenak udelnya, atau pengemudi mobil pribadi yang tidak menghormati pejalan kali… saya belum bisa memaafkan…

Advertisements
Leave a comment

6 Comments

  1. entah kenapa walau sdh baca bismillah, para pengendara motor memang nalurinya ngebut, walaupun sedang tidak buru2

    Reply
  2. walah… curhat bang?kalau begitu, saya belum bisa memaafkan ;p

    Reply
  3. mbakje said: kalau begitu, saya belum bisa memaafkan ;p

    saya ngebut cuma di tanjung barat dan di jl “tol” juanda depok karena jalannya tidak ada angkotkalau di jalan padat & banyak orang nyebrang, apalagi di gang, saya nggak ngebutjadi maafin dan doakan deh pengendara motor yang lain, agar menghargai penyebrang,

    Reply
  4. iya, setuju. para pengendara motor emang suka seenaknya kalo make jalan.. Tapi..kalo saya lagi buru-buru dan harus naek ojek, sejujurnya nih, saya justru seneng banget kalo abangnya ngebut dan berzig-zag ria menerobos jalan. biar cepet sampe. hehe…

    Reply
  5. kata orang di bis:”rese banget sih nih orang, dari tadi klakson melulu, emang jalan punyanya dia”kata orang di mobil:”gimana sih ni metro, sembarangan nurunin penumpang”kata motor:”huh, mobil sama metro sama, gak mau ngasih jalan buat motor”kata pedestrian: alamak, ngeri banget di jakarta ini”siapa yang bener???”yang bener adalah kepentingan”

    Reply
  6. pranayudha said: “yang bener adalah kepentingan”

    begitulah realita masyarakat yang individualis bin egois… “tanya kenapa?”

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: