MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT??

http://irdy74.multiply.com/reviews/item/280/MAMPUKAH_KITA_MENCINTAI_TANPA_SYARAT
kisah nyata yang cukup menggetarkan… mudah-mudahan jadi inspirasi dan juga pelajaran bagi para pecinta yang selalu belajar untuk mencintai

Advertisements

ANAK BANDEL!!

Isitilah “anak bandel” yang saya yakini adalah labeling orang dewasa kepada anak-anak yang berperilaku tidak sesuia dengan keinginan orang dewasa. Sebab dunia ini ‘dihegemoni’ oleh orang dewasa, maka persepsi akan segala sesuatu pun dilihat dari sudut pandang orang dewasa. Jadinya, anak yang tidak menurut, gak bisa diem dijuluki “anak bandel”.

Selama ini saya meyakini hal itu dan mencoba untuk memandang bukan dari kacamata pihak yang ‘menghegemoni’. Well, selama ini saya memang suka berteori. Tapi ternyata prakteknya memang tidak semudah itu.

Bergaul dengan anak-anak bukan hal baru buat saya, apalagi saya bekerja sebagai jurnalis di majalah anak-anak. Namun rupanya saya belum memahami betul dunia anak-anak, karena interaksi saya dengan mereka sebatas interaksi jangka pendek saja.

Intinya, saya baru benar-benar merasakan dunia anak-anak, terutama kelas 5 dan 6 SD sejak mulai mengajar kelas KIDS 3 di Aqila English Center.

Meskipun baru mulai term ini, saya banyak sekali belajar dari kelima murid saya yang 90% laki-laki. 90% dari mereka mengulang kelas. Bukan karena mereka tidak pandai… tidak! Mereka pandai. Entah kenapa mereka mengulang, mungkin karena mereka–dalam bahasa orang dewasa–“bandel”. Yeah… mereka anak-anak yang berani, gak bisa diem, dan juga terlampau kreatif. Saking kreatifnya, mereka membuat kegiatan sendiri dan tidak memperhatikan pelajaran.

Berkali-kali saya meyakinkan diri bahwa mereka tidak bandel, bahwa mereka hanya terlalu kreatif, tak kenal takut, meskipun pada saat pelajaran mereka berlari-lari di ruangan atau mengajak saya berdebat.

“Bukan Jati, mereka bukan ‘anak bandel’,” kata hati kecil saya.

Namun ternyata kata itu terucap juga tanpa saya sadari gara-gara seorang murid laki-laki mengucapkan kata tidak senonoh kepada seorang murid perempuan…. Astaghfirullah…

Ya Allah… please guide me to be a good teacher for them…

Islamic Book Fair

Start:      Mar 1, ’08 10:00a
End:      Mar 9, ’08 8:00p
Location:      Istora Senayan Jakarta

Mari… mari para pecinta buku!! Ada ajang seru buat berburu buku nih 😉

SCHOLARSHIP EXPO

Start:      Feb 28, ’08 09:00a
End:      Mar 1, ’08 4:00p
Location:      Balairung UI, Depok

Hayo.. hayo para scholarship seeker, ada ajang yang kudu didatengin nih, tepatnya Balairung UI Scholarship Expo yang diadakan oleh CDC UI.
Insyaallah peserta expo itu adalah lembaga-lembaga penyedia beasiswa seperti AMINEF, The British Council, DAAD, NUFFIC, dll..

ANAK BANDEL!!

Isitilah “anak bandel” yang saya yakini adalah labeling orang dewasa kepada anak-anak yang berperilaku tidak sesuia dengan keinginan orang dewasa. Sebab dunia ini ‘dihegemoni’ oleh orang dewasa, maka persepsi akan segala sesuatu pun dilihat dari sudut pandang orang dewasa. Jadinya, anak yang tidak menurut, gak bisa diem dijuluki “anak bandel”.

Selama ini saya meyakini hal itu dan mencoba untuk memandang bukan dari kacamata pihak yang ‘menghegemoni’. Well, selama ini saya memang suka berteori. Tapi ternyata prakteknya memang tidak semudah itu.

Bergaul dengan anak-anak bukan hal baru buat saya, apalagi saya bekerja sebagai jurnalis di majalah anak-anak. Namun rupanya saya belum memahami betul dunia anak-anak, karena interaksi saya dengan mereka sebatas interaksi jangka pendek saja.

Intinya, saya baru benar-benar merasakan dunia anak-anak, terutama kelas 5 dan 6 SD sejak mulai mengajar kelas KIDS 3 di Aqila English Center.

Meskipun baru mulai term ini, saya banyak sekali belajar dari kelima murid saya yang 90% laki-laki. 90% dari mereka mengulang kelas. Bukan karena mereka tidak pandai… tidak! Mereka pandai. Entah kenapa mereka mengulang, mungkin karena mereka–dalam bahasa orang dewasa–“bandel”. Yeah… mereka anak-anak yang berani, gak bisa diem, dan juga terlampau kreatif. Saking kreatifnya, mereka membuat kegiatan sendiri dan tidak memperhatikan pelajaran.

Berkali-kali saya meyakinkan diri bahwa mereka tidak bandel, bahwa mereka hanya terlalu kreatif, tak kenal takut, meskipun pada saat pelajaran mereka berlari-lari di ruangan atau mengajak saya berdebat.

“Bukan Jati, mereka bukan ‘anak bandel’,” kata hati kecil saya.

Namun ternyata kata itu terucap juga tanpa saya sadari gara-gara seorang murid laki-laki mengucapkan kata tidak senonoh kepada seorang murid perempuan…. Astaghfirullah…

Ya Allah… please guide me to be a good teacher for them…

ENTP personality type

iseng-iseng tes personality pake metodenya Carl Jung. Ternyata aku termasuk tipe ENTP (Extravert, INtuition, Thinking, Perceiving) alias “the originator”. Buat yang penasaran dan ingin mencoba lebih jelasnya bisa diklik di sini. Ternyata jugak, kepribadianku matching sama kerjaanku

ENTP Career Matches

ENTPs are often happy with the following jobs which tend to match well with the Originator/Intellectual personality.

  • Actor
  • Artist
  • Comedian
  • Computer Analyst
  • Computer Programmer
  • Consultant
  • Designer
  • Engineer
  • Entrepreneur
  • Inventor
  • Journalist
  • Lawyer/Attorney
  • Marketer
  • Musician
  • Photographer
  • Politician
  • Psychiatrist
  • Psychologist
  • Public Relations
  • Sales Representative
  • Scientist
  • Systems Analyst
  • Writer

ENTP personality type

iseng-iseng tes personality pake metodenya Carl Jung. Ternyata aku termasuk tipe ENTP (Extravert, INtuition, Thinking, Perceiving) alias “the originator”. Buat yang penasaran dan ingin mencoba lebih jelasnya bisa diklik di sini. Ternyata jugak, kepribadianku matching sama kerjaanku

ENTP Career Matches

ENTPs are often happy with the following jobs which tend to match well with the Originator/Intellectual personality.

  • Actor
  • Artist
  • Comedian
  • Computer Analyst
  • Computer Programmer
  • Consultant
  • Designer
  • Engineer
  • Entrepreneur
  • Inventor
  • Journalist
  • Lawyer/Attorney
  • Marketer
  • Musician
  • Photographer
  • Politician
  • Psychiatrist
  • Psychologist
  • Public Relations
  • Sales Representative
  • Scientist
  • Systems Analyst
  • Writer

lagi gak mood nulis

Masyaallah… sumpah lagi gak mood nulis bangeeed!! Padahal kerjaan yang berkaitan dg tulis-menulis sedang menanti, mulai dari feature sampai LKS IPS……..

Gimana ya biar mood nulis…? 

Lowongan Jodoh

Membaca respon dari postingan sebelum ini, saya jadi tertawa sendiri. Menarik! Sangat menarik!

Jujur aja, postingan “application ‘love’ letter” tidak berpretensi apapun. Cuma iseng ajah! Tapi ternyata malah memunculkan sebuah wacana tentang ‘lowongan jodoh’ . Saya jadi berpikir, jangan-jangan jaman sekarang ini bukan cuma cari kerja yang susah, tapi cari jodoh juga susah ya?? hehehe…

Tingginya angka pengangguran di Indonesia disebabkan oleh ketidakseimbangan antara jumlah lowongan dan jumlah pelamar. Ditambah lagi tidak adanya link and match antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Makanya penyerapan tenaga kerja menjadi sangat kecil. Karena itu, PTN dan PTS dituding sebagai biang kerok penyumbang pengangguran terbesar di tanah air (KOMPAS Sabtu 16/2).

Kalau dianalogikan dengan tingkat persaingan kerja, fenomena ini sepertinya mirip halnya dengan ‘jodoh’–terlepas dari paradigma “jodoh itu di tangan Tuhan”. Tingginya jumlah ‘pengangguran jodoh’ (baca: lajang), bisa jadi disebabkan oleh rendahnya daya serap antara pria yang siap menikah dengan wanita yang siap menikah. Yang berarti, jumlah pelamar dan jumlah lowongan tidak sebanding, alias jumlah wanita yang siap menikah tidak sebanding dengan jumlah pria yang siap menikah. Pertanyaannya, siapa ‘biang kerok’ penyumbang pengangguran jodoh terbesar ini?

Paradigma baru tentang lowongan kerja sekarang ini terjawab dengan paradigma wirausaha, yaitu hidup dia atas kaki sendiri dan tidak tergantung pada orang lain. Dalam paradigma ini, lulusan  PT adalah manusia bebas yang bisa memperoleh penghasilan dengan tidak bergantung pada orang lain. Untuk memenuhi kebutuhan finansialnya, para sarjana tidak terkungkung oleh paradigma bekerja pada orang lain, tetapi justru membuka lahan pekerjaan, yaitu dengan berwirausaha.

Tapi bagaimana halnya dengan jodoh? Demi memenuhi kebutuhan biologis dan emosinya, apakah para lajang harus ‘mandiri’ alias ‘berwirausaha’??   Merujuk pada paradigma Islam, kondisi seperti ini terjawab dengan jalan berpuasa. Namun pertanyaan berikutnya adalah, kapan saatnya berbuka?

Lowongan Jodoh

Membaca respon dari postingan sebelum ini, saya jadi tertawa sendiri. Menarik! Sangat menarik!

Jujur aja, postingan “application ‘love’ letter” tidak berpretensi apapun. Cuma iseng ajah! Tapi ternyata malah memunculkan sebuah wacana tentang ‘lowongan jodoh’ . Saya jadi berpikir, jangan-jangan jaman sekarang ini bukan cuma cari kerja yang susah, tapi cari jodoh juga susah ya?? hehehe…

Tingginya angka pengangguran di Indonesia disebabkan oleh ketidakseimbangan antara jumlah lowongan dan jumlah pelamar. Ditambah lagi tidak adanya link and match antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Makanya penyerapan tenaga kerja menjadi sangat kecil. Karena itu, PTN dan PTS dituding sebagai biang kerok penyumbang pengangguran terbesar di tanah air (KOMPAS Sabtu 16/2).

Kalau dianalogikan dengan tingkat persaingan kerja, fenomena ini sepertinya mirip halnya dengan ‘jodoh’–terlepas dari paradigma “jodoh itu di tangan Tuhan”. Tingginya jumlah ‘pengangguran jodoh’ (baca: lajang), bisa jadi disebabkan oleh rendahnya daya serap antara pria yang siap menikah dengan wanita yang siap menikah. Yang berarti, jumlah pelamar dan jumlah lowongan tidak sebanding, alias jumlah wanita yang siap menikah tidak sebanding dengan jumlah pria yang siap menikah. Pertanyaannya, siapa ‘biang kerok’ penyumbang pengangguran jodoh terbesar ini?

Paradigma baru tentang lowongan kerja sekarang ini terjawab dengan paradigma wirausaha, yaitu hidup dia atas kaki sendiri dan tidak tergantung pada orang lain. Dalam paradigma ini, lulusan PT adalah manusia bebas yang bisa memperoleh penghasilan dengan tidak bergantung pada orang lain. Untuk memenuhi kebutuhan finansialnya, para sarjana tidak terkungkung oleh paradigma bekerja pada orang lain, tetapi justru membuka lahan pekerjaan, yaitu dengan berwirausaha.

Tapi bagaimana halnya dengan jodoh? Demi memenuhi kebutuhan biologis dan emosinya, apakah para lajang harus ‘mandiri’ alias ‘berwirausaha’?? Merujuk pada paradigma Islam, kondisi seperti ini terjawab dengan jalan berpuasa. Namun pertanyaan berikutnya adalah, kapan saatnya berbuka?