Tahukah Kau?


Tahukah kau, hal indah baru saja terjadi…

Aku baru menyadari

Bahwa keindahan itu tidak harus dimiliki

Ibarat bunga cantik nan harum mewangi

Di pohonnya akan bertambah lestari

Jika kau petik untuk kau miliki sendiri

Ia akan layu tak lagi berseri

Tahukah kau, hal indah baru saja terjadi…

Baru saja kusemai

Bibit-bibit cinta di taman asri

Membiarkan kuncup-kuncup menanti musim semi

Agar saat mekar nanti

Indahnya bisa jua kau nikmati

Tidak hanya olehku sendiri

Tahukah kau, hal indah baru saja terjadi…

Bahwa cinta sejati hanya milik Illahi

Karena tiada yang abadi di dunia ini

Bogor, 1 April 2008

Advertisements

Rumahku*

Rumahku dari unggun timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak

Ku lari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak nampak jalan

Khemah ku dirikan tatkala senjakala
Di pagi terbang entah ke mana

Rumahku dari unggun timbun sajak
Disini aku berbini dan beranak

Rasanya lama lagi,Tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang

Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu.

*puisi karya penyair Chairil Anwar

Rumahku*

Rumahku dari unggun timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak

Ku lari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak nampak jalan

Khemah ku dirikan tatkala senjakala
Di pagi terbang entah ke mana

Rumahku dari unggun timbun sajak
Disini aku berbini dan beranak

Rasanya lama lagi,Tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang

Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu.

*puisi karya penyair Chairil Anwar

Far From The Madding Crowd

Rating: ★★★★★
Category: Books
Genre: Romance
Author: Thomas Hardy

Buat yang suka cerita romantis dan petualangan, buku klasik karya sastrawan Inggris Thomas Hardy ini layak disimak!

Pertama kali baca buku ini (Penguin English version. red) pas kelas 1 SMA. Aku langsung jatuh cinta. Setelah itu baca berkali-kali gak pernah bosen. Pelajaran yang bisa dipetik dari buku ini antara lain tentang cinta yang tulus tanpa harap imbalan juga kesabaran dan kesetiaan yang berbuah manis. Yang pasti, nih novel seru dan romantis bangeeed…

Buku ini bercerita tentang petualangan seorang pemuda petani miskin bernama Gabriel Oak yang jatuh cinta pada seorang gadis cantik jelita bernama Bathsheba Everdene. Meskipun cintanya berkali-kali ditolak oleh Bathseba, Gabriel tidak pernah berhenti mencintai gadis pujaannya dengan tulus. Bathseba bahkan sempat menertawakan ‘kenekatan’ Gabriel yang berani melamarnya padahal kala itu mereka baru bertemu.

Pada suatu kesempatan Bathseba yang kaya raya mempekerjakan Gabriel di ladang gandum dan peternakannya. Sebagai pemuda yang rajin, gesit, dan jujur, Gabriel menjadi karyawan kepercayaan Bathseba. Dan akhirnya mereka berteman baik, hanya sebagai teman meskipun Gabriel amat mencintainya.

Suatu ketika Bathseba jatuh cinta pada seorang pemuda perlente yang pandai merayu. Padahal pemuda tersebut hanya menginginkan kekayaan Bathseba dan Gabriel mengetahui hal ini. Berkali-kali Gabriel mengingatkan Bathseba, namun Bathseba yang sudah terlanjur mabuk kepayang tidak peduli pada nasihat Gabriel. Ia menganggap Gabriel hanya cemburu.

Akhirnya Bathseba menikah dengan pemuda perlente itu. Dan benar saja, setelah menikah, suami Bathseba menghambur-hamburkan kekayaannya untuk hura-hura. Kejadian demi kejadian membukakan mata Bathseba bahwa peringatan Gabriel itu benar. Sampai akhirnya ia bercerai dari suaminya yang ternyata sudah beristri itu.

Bathseba menikah lagi dengan laki-laki lain. Dan Gabriel tetap setia pada cintanya. Bahkan karena kesigapan dan kejujurannya dalam bekerja, Gabriel dipercaya sebagai manajer ladang pertanian dan peternakan milik Bathseba.

Namun kejadian demi kejadian membuat kehidupan materi Bathseba semakin terpuruk. Rumah, ladang, dan peternakannya terbakar habis karena sebuah peristiwa naas. Bahkan suaminya pergi membawa lari harta Bathseba yang tersisa. Bathseba sudah tidak punya apa-apa lagi. Hanya satu yang tersisa, yaitu Gabriel Oak sahabatnya yang tetap mencintainya.

Bathseba menyadari, selama ini hanya Gabriel yang setia menemaninya di kala senang maupun susah. Akhirnya Bathseba berkata, “Gabriel, would you marry me?”

Dan Gabriel menjawab tanpa ragu, “Of course Bathseba.”

Finally, Gabriel wins Bathseba’s heart… Ooooh… *blink blink*

Cukup Ridha Allah Sebagai Kriteria

“Ana menginginkan wanita shalehah, yaitu wanita yang berakhlak baik, memiliki naluriah mencintai dan menyayangi anak kecil, mempunyai perhatian besar bagi pendidikan anak, teliti, dan perhatian terhadap kebutuhan suami, setia, dapat memelihara dengan baik dan mempu mengatur ekonomi keluarga… bla…bla…bla…bla…”

Saudariku Muslimah, apa yang kau rasakan saat ada seorang pria yang sedang mencari istri mengajukan sederet kriteria semacam itu padamu?

Tak ingin kuketahui jawabannya. Cukuplah jawaban itu kau simpan dalam hati. Kau renungkan dan diskusikan bersama nurani.

Rasulullah berkata bahwa ada empat hal sebab seorang perempuan dinikahi. Harta, kecantikan, keturunan, dan agama. Rasulullah telah menganjurkan agar agama menjadi pilihan utama.

Pernahkah terpikir di benakmu mengapa Rasulul hanya menganjurkan hal itu kepada laki-laki? Aku bukan ahli fiqih atau hadis, apalagi ahli tafsir atau Bahasa Arab. Aku pun tak tahu mengapa.

Satu hal saja yang kumaknai dari ketiadaan petunjuk memilih jodoh bagi perempuan, yaitu “tantangan” dari Rasulullah untuk menjadi wanita shalehah! Kapan pun, dalam situasi bagaimana pun! Sehingga jika kelak menikah, siapa pun suaminya nanti, seperti apa pun keadaannya, dia tetap menjadi wanita shalehah. Seperti Ibunda Asiyah yang mulia, yang menjadi salah satu penghuni utama surga meskipun suaminya kafir harbi. Fir’aun, sang raja yang zalim lagi sombong kepada Rabbnya.

Sebuah tekad pun terpancang untuk menggembleng diri menjadi wanita yang kokoh dalam keimanan seperti Asiyah. Bahwa untuk menjadi wanita sholehah tak harus tergantung kepada suami yang shaleh. Tidak sangat penting dengan siapa aku menikah, bagaimana kondisi iman orang yang akan menikahiku (kerena aku tidak tahu bagaimana cara mengetahuinya secara tepat). Yang lebih penting adalah bagaimana ikhtiarku menjaga keimanan, sebelum menikah dan–jika Allah berkehendak–setelah aku menikah nanti.

Dulu, aku pernah berpikir bahwa mengkriteriakan dien sebagai satu-satunya adalah yang paling utama dan segalanya. Dien… yang aku sendiri sampai sekarang masih belum tahu bagaimana cara tepat mengetahui dan mengukurnya. Mengkriteriakan dien kuanggap segalanya sampai Allah mempertemukanku dengan berbagai peristiwa. Perjalanan hidup–pahit, getir, manis, pahit, asam, asin–yang kualami menjadikan aku berpikir ulang. Ternyata ada yang lebih dari itu. Apa itu? Allah! Yah, cukup ridha Allah sebagai kriteria.

(disadur dari buku “Cewek Nembak Duluan” oleh Jazimah Al-Muhyi, DAR! Mizan publishing )

Cukup Ridha Allah Sebagai Kriteria

“Ana menginginkan wanita shalehah, yaitu wanita yang berakhlak baik, memiliki naluriah mencintai dan menyayangi anak kecil, mempunyai perhatian besar bagi pendidikan anak, teliti, dan perhatian terhadap kebutuhan suami, setia, dapat memelihara dengan baik dan mempu mengatur ekonomi keluarga… bla…bla…bla…bla…”

Saudariku Muslimah, apa yang kau rasakan saat ada seorang pria yang sedang mencari istri mengajukan sederet kriteria semacam itu padamu?

Tak ingin kuketahui jawabannya. Cukuplah jawaban itu kau simpan dalam hati. Kau renungkan dan diskusikan bersama nurani.

Rasulullah berkata bahwa ada empat hal sebab seorang perempuan dinikahi. Harta, kecantikan, keturunan, dan agama. Rasulullah telah menganjurkan agar agama menjadi pilihan utama.

Pernahkah terpikir di benakmu mengapa Rasulul hanya menganjurkan hal itu kepada laki-laki? Aku bukan ahli fiqih atau hadis, apalagi ahli tafsir atau Bahasa Arab. Aku pun tak tahu mengapa.

Satu hal saja yang kumaknai dari ketiadaan petunjuk memilih jodoh bagi perempuan, yaitu “tantangan” dari Rasulullah untuk menjadi wanita shalehah! Kapan pun, dalam situasi bagaimana pun! Sehingga jika kelak menikah, siapa pun suaminya nanti, seperti apa pun keadaannya, dia tetap menjadi wanita shalehah. Seperti Ibunda Asiyah yang mulia, yang menjadi salah satu penghuni utama surga meskipun suaminya kafir harbi. Fir’aun, sang raja yang zalim lagi sombong kepada Rabbnya.

Sebuah tekad pun terpancang untuk menggembleng diri menjadi wanita yang kokoh dalam keimanan seperti Asiyah. Bahwa untuk menjadi wanita sholehah tak harus tergantung kepada suami yang shaleh. Tidak sangat penting dengan siapa aku menikah, bagaimana kondisi iman orang yang akan menikahiku (kerena aku tidak tahu bagaimana cara mengetahuinya secara tepat). Yang lebih penting adalah bagaimana ikhtiarku menjaga keimanan, sebelum menikah dan–jika Allah berkehendak–setelah aku menikah nanti.

Dulu, aku pernah berpikir bahwa mengkriteriakan dien sebagai satu-satunya adalah yang paling utama dan segalanya. Dien… yang aku sendiri sampai sekarang masih belum tahu bagaimana cara tepat mengetahui dan mengukurnya. Mengkriteriakan dien kuanggap segalanya sampai Allah mempertemukanku dengan berbagai peristiwa. Perjalanan hidup–pahit, getir, manis, pahit, asam, asin–yang kualami menjadikan aku berpikir ulang. Ternyata ada yang lebih dari itu. Apa itu? Allah! Yah, cukup ridha Allah sebagai kriteria.

(disadur dari buku “Cewek Nembak Duluan” oleh Jazimah Al-Muhyi, DAR! Mizan publishing )

Aqila Foundation | English Centre & Community

http://www.aqilafoundation.org/

FRIEND

Friend,
How do if I fall in love with you?

Friend,
How do if you fall in love with me?

Friend,
How do if I fall in love with you, but you don’t?

Friend,
How do if you fall in love with me, but i don’t?

Will this friendship be the same?
Will this friendship be better?
Will this friendship be worse?

Friend… please tell me


jtnr, 030500

FRIEND

Friend,
How do if I fall in love with you?

Friend,
How do if you fall in love with me?

Friend,
How do if I fall in love with you, but you don’t?

Friend,
How do if you fall in love with me, but i don’t?

Will this friendship be the same?
Will this friendship be better?
Will this friendship be worse?

Friend… please tell me


jtnr, 030500

‘Misbar’ Family Gathering

“Misbar” alias gerimis bubar merupakan julukan untuk acara-acara outdoor yang kesuksesannya tergantung pada sinar matahari. Dan itulah yang terjadi pada Yudhistira Family Gatering 2008 di Ciater, Subang, Jawa Barat. Lagian musim ujan begini, kok milih tempat di Ciater geto loh?

Yup, bisa dibayangkan acara yang sudah dirancang oleh panitia langsung gatot alias gagal total lantaran hujan deras yang berlangsung cukup lama. Bukannya tidak ada tempat berteduh… wong ada tenda biru 4×6 m sebanyak 7 buah kok! Tapi… ternyata tendanya bocor bo’! Udah gitu, karena derasnya hujan, maka tikar yang menjadi alas duduk pun dapat banjir kiriman dari dataran yang lebih tinggi. Alhasil… pohon dan kebun basah semua.. eh salah, maksudnya semuanya basah!!

Lomba-lomba seperti tarik tambang, sepak bola babi, dan bakiak akhirnya urung diadakan lantaran lapangannya banjir . Tapi lucu juga. Mungkin kalau dilihat dari sudut pandang orang dewasa, acara ini gagal. Tapi lain halnya dengan anak-anak karyawan yang turut serta. Mereka sangat menikmati suasana basah dan banjir itu. Yup, mereka semua main air dengan bebasnya karena yakin tidak akan dimarahi ortu mereka. Secara, ortunya juga pada basah gitu loh!

Tapi untungnya sebagian besar peserta enjoy ajah! Apalagi doorprize yang diberikan cukup banyak. Udah gitu, hadiah-hadiahnya cukup menggiurkan. Bayangin ajah, ada yang dapet kulkas, flat TV, dvd player, mesin cuci, handphone, rice cooker, dan uang cash! Jadinya, meskipun hujan, para pemenang doorprize teteup semangad mengambil voucher hadiah tersebut di bawah guyuran air.

Setelah dua jam, alhamdulillah matahari kembali bersinar. Orang-orang yang sudah terlanjur basah kemudian berendam di kolam air hangat yang tersedia. Yeah… Ciater memang terkenal dengan kolam rendam air hangat alami yang berasal dari mata air di Gunung Tangkuban Perahu.

Jadilah kolam renang air hangat yang tersedia berubah warna menjadi hijau gara-gara kelunturan kaos seragam family gatering yang warnanya sama dengan angkot Dago – Kalapa hehehe…

Sedikit terobati buatku yang tidak ikut berendam dengan mencicipi arena flying fox… mmm I love it! Secara, dulu sempat jadi instruktur (gadungan) outbond gituh… jadi ceritanya kangen jugak sama permainan satu ini

Acara misbar family gatering juga gak seberapa mengecewakanku, karena abis itu rombongan bus menuju ke Bandung. So, I can visit my old friends there. Bandung, I’m coming!