LINGKARAN-LINGKARAN CINTA

http://cerpenonline.multiply.com/journal/item/1595/LINGKARAN-LINGKARAN_CINTA
It is a short story

Advertisements

“Wahai Orang Berpantat Kuning!” (Kritik Terhadap Terjemahan Buku)

Suatu ketika Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad, yang baru pulang berburu mendengar kabar bahwa Muhammad dianiaya oleh Abu Lahab cs. Di depan ka’bah Muhammad diolok-olok bahkan dilempari batu hingga berdarah. Mendengar itu, Hamzah meradang. Tanpa tedeng aling-aling Hamzah menghampiri Abu Lahab dengan penuh amarah. Hamzah lalu berseru pada Abu Lahab “Wahai orang yang berpantat kuning (???), apakah engkau berani mencela anak saudaraku padahal aku berada di atas agamanya?” (Sirah Nabawiyah, hlm. 137)

Huahahahahahaha….!!!! Spontan meledaklah tawa di tengah-tengah pembahasan serius tentang sirah nabawiyah (sejarah nabi).

“Oh, aku baru tahu. Ternyata Abu Lahab pantatnya kuning ya?” celetuk salah seorang. Wakakakakakak… ketawa kembali pecah. Duh, aku sampai sakit perut menahan tawa, hihihihi….

Maaf, tiada maksud menjelek-jelekan sejarah nabi. Yang ingin aku garis bawahi di sini adalah kualitas terjemahan sebuah buku. Jujur aku langsung ilfil sama penerbit tuh buku. Sekali lagi, bukan ilfil sama sirah-nya loh! Padahal di cover depan ditulis “Juara I penulisan sejarah nabi” juga label “best seller”.

Well, mungkin memang buku ini dalam bahasa aslinya, yaitu Arab, memang bagus. Bahkan di negara asalnya sampai best seller. Tapi plis dong ah…. Terjemahannya mbok ya jangan letterlek gitu dong. Frase “Orang berpantat kuning” yang ada dalam terjemahan buku karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury itu aku yakin hanyalah sebuah ungkapan Bahasa Arab. Seperti halnya dalam Bahasa Indonesia, “panjang tangan” artinya suka mencuri. Tapi plis deh, mbok ya terjemahin sesuai dengan Bahasa Indonesia yang lazim dipakai.

Selain itu, masih ada beberapa kejanggalan dalam buku terjemahan ini. Misalnya kata-kata “Demi Allah” yang sering dipakai orang-orang kafir untuk menyumpah serapah, bahkan ketika menghina nabi. Padahal kan mereka tidak mengimani Allah. Kok anehnya mereka menggunakan kata “Demi Allah”?? 

Memang aku tidak jago Bahasa Arab. Tapi menurut analisa sederhanaku yang pernah sekali menginjakkan kaki di tanah Arab, bahwa kata-kata “Yalla!” sering diungkapkan secara spontan tanpa makna oleh orang Arab. Seperti halnya kata “Jancuk!” yang tidak punya arti, namun sering diungkapkan arek Suroboyo. Dan mungkin kata “Yalla” di buku ini disama artikan dengan “Ya Allah” yang kemudian diterjemahkan sebagai “Demi Allah”. Wallahua’lam.

Masih seputar kualitas terjemahan. Pernah juga dulu aku temui dua buku dengan isi dan pengarang yang sama, yaitu Zainab Al Ghazali. Hanya saja diberi judul berbeda dalam Bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh penerbit yang berbeda. Meskipun isinya sama, tapi nilai rasa yang ditimbulkannya jauh berbeda. Yang satu bener-benar diterjemahin saklek dan yang satunya lagi tidak sekedar menerjemahkan isi, tapi juga menerjemahkan gaya bahasa dan nilai rasa yang digunakan pengarang dalam bahasa aslinya.

Pernah juga baca buku Layla Majnun karya Nizami yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh dua penerbit berbeda. Sumpah, baca versi penerbit A membuat aku eneg sama cerita cengeng orang gila yang satu buku isinya cuma puisi bualan dan rayuan gombal. Sementara baca versi penerbit B lumayan bisa merasakan keindahan kisah yang disukai jutaan orang di dunia sejak ratusan tahun silam. Karena memang kekuatan kisah ini ada dalam syair-syair yang dilantunkan si majnun dan juga Layla.

Oh ya ada lagi. Dulu pernah beli buku kumpulan cerpennya Ernest Hemingway, sastrawan klasisk asal AS. Pingin dong merasakan keindahan karya sastrawan terkenal. Tapi apa yang terjadi? Belum selesai satu cerpen, buku sudah kututup dan emoh dibuka lagi!! Asli terjemahannya gak enak buangeet!! 

Itulah kenapa aku paling males baca-apalagi beli-buku terjemahan. Mungkin untuk buku teks, terjemahan yang ‘agak’ letterlek masih dimaafkan. Karena memang mengedepankan isi. Tapi untuk buku-buku yang berbau sastra, sejarah, spiritual, dan sejenisnya, tentu harus mengedepankan nilai rasa juga.

Memang tidak semua terjemahan ke Bahasa Indonesia jelek kok. Buktinya Harry Potter bikin orang gak bisa berhenti baca. The Da Vinci Code juga bagus, atau Chicken Soup for Soul, Ghoosebumps, buku-buku karya Enid Blyton, dll.

Ironisnya, saat ini aku diamanahi sebagai copyrigt editor alias editor yang menangani buku-buku terjemahan. Mungkin aku dikasih jalan sama Allah biar gak cuma protes doang ya hehehehe… Tapi juga berbuat dan tentu saja mengupayakan untuk lebih baik dari yang lain… insya Allah!!   

“Wahai Orang Berpantat Kuning!” (Kritik Terhadap Terjemahan Buku)

Suatu ketika Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad, yang baru pulang berburu mendengar kabar bahwa Muhammad dianiaya oleh Abu Lahab cs. Di depan ka’bah Muhammad diolok-olok bahkan dilempari batu hingga berdarah. Mendengar itu, Hamzah meradang. Tanpa tedeng aling-aling Hamzah menghampiri Abu Lahab dengan penuh amarah. Hamzah lalu berseru pada Abu Lahab “Wahai orang yang berpantat kuning (???), apakah engkau berani mencela anak saudaraku padahal aku berada di atas agamanya?” (Sirah Nabawiyah, hlm. 137)

Huahahahahahaha….!!!! Spontan meledaklah tawa di tengah-tengah pembahasan serius tentang sirah nabawiyah (sejarah nabi).

“Oh, aku baru tahu. Ternyata Abu Lahab pantatnya kuning ya?” celetuk salah seorang. Wakakakakakak… ketawa kembali pecah. Duh, aku sampai sakit perut menahan tawa, hihihihi….

Maaf, tiada maksud menjelek-jelekan sejarah nabi. Yang ingin aku garis bawahi di sini adalah kualitas terjemahan sebuah buku. Jujur aku langsung ilfil sama penerbit tuh buku. Sekali lagi, bukan ilfil sama sirah-nya loh! Padahal di cover depan ditulis “Juara I penulisan sejarah nabi” juga label “best seller”.

Well, mungkin memang buku ini dalam bahasa aslinya, yaitu Arab, memang bagus. Bahkan di negara asalnya sampai best seller. Tapi plis dong ah…. Terjemahannya mbok ya jangan letterlek gitu dong. Frase “Orang berpantat kuning” yang ada dalam terjemahan buku karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury itu aku yakin hanyalah sebuah ungkapan Bahasa Arab. Seperti halnya dalam Bahasa Indonesia, “panjang tangan” artinya suka mencuri. Tapi plis deh, mbok ya terjemahin sesuai dengan Bahasa Indonesia yang lazim dipakai.

Selain itu, masih ada beberapa kejanggalan dalam buku terjemahan ini. Misalnya kata-kata “Demi Allah” yang sering dipakai orang-orang kafir untuk menyumpah serapah, bahkan ketika menghina nabi. Padahal kan mereka tidak mengimani Allah. Kok anehnya mereka menggunakan kata “Demi Allah”??

Memang aku tidak jago Bahasa Arab. Tapi menurut analisa sederhanaku yang pernah sekali menginjakkan kaki di tanah Arab, bahwa kata-kata “Yalla!” sering diungkapkan secara spontan tanpa makna oleh orang Arab. Seperti halnya kata “Jancuk!” yang tidak punya arti, namun sering diungkapkan arek Suroboyo. Dan mungkin kata “Yalla” di buku ini disama artikan dengan “Ya Allah” yang kemudian diterjemahkan sebagai “Demi Allah”. Wallahua’lam.

Masih seputar kualitas terjemahan. Pernah juga dulu aku temui dua buku dengan isi dan pengarang yang sama, yaitu Zainab Al Ghazali. Hanya saja diberi judul berbeda dalam Bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh penerbit yang berbeda. Meskipun isinya sama, tapi nilai rasa yang ditimbulkannya jauh berbeda. Yang satu bener-benar diterjemahin saklek dan yang satunya lagi tidak sekedar menerjemahkan isi, tapi juga menerjemahkan gaya bahasa dan nilai rasa yang digunakan pengarang dalam bahasa aslinya.

Pernah juga baca buku Layla Majnun karya Nizami yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh dua penerbit berbeda. Sumpah, baca versi penerbit A membuat aku eneg sama cerita cengeng orang gila yang satu buku isinya cuma puisi bualan dan rayuan gombal. Sementara baca versi penerbit B lumayan bisa merasakan keindahan kisah yang disukai jutaan orang di dunia sejak ratusan tahun silam. Karena memang kekuatan kisah ini ada dalam syair-syair yang dilantunkan si majnun dan juga Layla.

Oh ya ada lagi. Dulu pernah beli buku kumpulan cerpennya Ernest Hemingway, sastrawan klasisk asal AS. Pingin dong merasakan keindahan karya sastrawan terkenal. Tapi apa yang terjadi? Belum selesai satu cerpen, buku sudah kututup dan emoh dibuka lagi!! Asli terjemahannya gak enak buangeet!!

Itulah kenapa aku paling males baca-apalagi beli-buku terjemahan. Mungkin untuk buku teks, terjemahan yang ‘agak’ letterlek masih dimaafkan. Karena memang mengedepankan isi. Tapi untuk buku-buku yang berbau sastra, sejarah, spiritual, dan sejenisnya, tentu harus mengedepankan nilai rasa juga.

Memang tidak semua terjemahan ke Bahasa Indonesia jelek kok. Buktinya Harry Potter bikin orang gak bisa berhenti baca. The Da Vinci Code juga bagus, atau Chicken Soup for Soul, Ghoosebumps, buku-buku karya Enid Blyton, dll.

Ironisnya, saat ini aku diamanahi sebagai copyrigt editor alias editor yang menangani buku-buku terjemahan. Mungkin aku dikasih jalan sama Allah biar gak cuma protes doang ya hehehehe… Tapi juga berbuat dan tentu saja mengupayakan untuk lebih baik dari yang lain… insya Allah!!