Maxwell’s Silver Hammer

This comic strip was created based on The Beatle’s song lyrics titled “Maxwell’s Silver Hammer”. It was my creation when I was in collage… Please, enjoy 😉

http://aqilaenglishcentre.multiply.com/

http://aqilaenglishcentre.multiply.com/
Aqila English Centre

CARA IMPORT BARANG BEBAS BEA DAN CUKAI

Dear Temans,
 
Ini ada sedikit intermezzo dari milis tetangga…..
 
Begini ceritanya :
Sebuah keluarga di sebuah Provinsi Selatan China ,
dibingungkan saat peti jenazah dari nenek mereka tiba
dari Amerika. Peti itu dikirimkan oleh salah satu
sepupu mereka di sana .
 
Jenazah nenek mereka nampak sangat terhimpit di dalam
peti dan tidak ada ruang lagi yang tersisa. Saat
mereka membuka tutup peti jenazah itu, mereka
menemukan sebuah surat di atasnya dan isinya adalah
sebagai berikut :

Sepupuku yang terkasih,
Bersama ini aku kirimkan tubuh nenek karena dia ingin
untuk dikremasikan di tanah leluhur kita di Tung Shin.
Maaf aku tidak bisa datang karena gajiku sudah tidak
bersisa lagi. Kalian akan menemukan di dalam peti, di
bawah tubuh nenek, 12 kaleng Yohmeitsu, 10 kantong
coklat Swiss! Dan beberapa kantong Chinatown Lap
Cheong. Itu semua untuk kalian, dibagi rata, ya!
Di kaki nenek, kalian akan menemukan sepasang sepatu
Nike Air (ukurannya 10) untuk Ah Cu. Juga ada 2 pasang
sepatu untuk Ah Mei dan Ah Lien. Semoga ukurannya
cocok.
 
Nenek memakai 6 buah T-Shirt CK (Calvin Klein). Yang
ukurannya besar untuk Ah Bak dan yang lain untuk para
keponakan. Kalian pilih sendiri yang mana.
 
2 buah celana jeans Armani yang nenek pakai adalah
untuk anak-anak. Jam tangan Rolex yang selama ini Lee
Ah Bai inginkan ada di tangan kiri nenek.
 
Untuk bibi Pei Pei , nenek mengenakan kalung, cincin
dan anting merk Tiffany yang selama ini engkau
inginkan. Itu semua untukmu. Juga ada 6 buah kaos kaki
Polo yang dipakai nenek dibagi juga untuk para sepupu.
Jangan lupa, beritahu aku apa lagi yang kalian
butuhkan karena kakek akhir-akhir ini juga memburuk
kesehatannya. .. aku dapat mengirimkan semua itu saat
kakek kita kembali ke sana juga.
Salam manis,
Dari sepupumu di Amerika.

CARA IMPORT BARANG BEBAS BEA DAN CUKAI

Dear Temans,
Ini ada sedikit intermezzo dari milis tetangga…..
Begini ceritanya :
Sebuah keluarga di sebuah Provinsi Selatan China ,
dibingungkan saat peti jenazah dari nenek mereka tiba
dari Amerika. Peti itu dikirimkan oleh salah satu
sepupu mereka di sana .

Jenazah nenek mereka nampak sangat terhimpit di dalam
peti dan tidak ada ruang lagi yang tersisa. Saat
mereka membuka tutup peti jenazah itu, mereka
menemukan sebuah surat di atasnya dan isinya adalah
sebagai berikut :

Sepupuku yang terkasih,
Bersama ini aku kirimkan tubuh nenek karena dia ingin
untuk dikremasikan di tanah leluhur kita di Tung Shin.
Maaf aku tidak bisa datang karena gajiku sudah tidak
bersisa lagi. Kalian akan menemukan di dalam peti, di
bawah tubuh nenek, 12 kaleng Yohmeitsu, 10 kantong
coklat Swiss! Dan beberapa kantong Chinatown Lap
Cheong. Itu semua untuk kalian, dibagi rata, ya!
Di kaki nenek, kalian akan menemukan sepasang sepatu
Nike Air (ukurannya 10) untuk Ah Cu. Juga ada 2 pasang
sepatu untuk Ah Mei dan Ah Lien. Semoga ukurannya
cocok.

Nenek memakai 6 buah T-Shirt CK (Calvin Klein). Yang
ukurannya besar untuk Ah Bak dan yang lain untuk para
keponakan. Kalian pilih sendiri yang mana.

2 buah celana jeans Armani yang nenek pakai adalah
untuk anak-anak. Jam tangan Rolex yang selama ini Lee
Ah Bai inginkan ada di tangan kiri nenek.

Untuk bibi Pei Pei , nenek mengenakan kalung, cincin
dan anting merk Tiffany yang selama ini engkau
inginkan. Itu semua untukmu. Juga ada 6 buah kaos kaki
Polo yang dipakai nenek dibagi juga untuk para sepupu.

Jangan lupa, beritahu aku apa lagi yang kalian
butuhkan karena kakek akhir-akhir ini juga memburuk
kesehatannya. .. aku dapat mengirimkan semua itu saat
kakek kita kembali ke sana juga.
Salam manis,
Dari sepupumu di Amerika.

Suatu Pagi di Surga

Suatu pagi di surga, seorang tokoh NU duduk di teras rumahnya yang asri. Dalam ketenangan pagi, ia khusyuk membolak-balik halaman kitab kuning seperti kebiasaannya di dunia dulu. Di meja sebelah, sepiring kacang rebus dan secangkir kopi susu mengepulkan asap hangat. Sesekali tokoh NU ini menjumput sebutir kacang rebus, membuka kulitnya, dan mengunyahnya pelan-pelan sambil matanya tak beranjak dari halaman buku yang tengah ia pegang.

Ini surga. Pagi di surga pastilah terasa sangat damai.

Tepat di depan rumah si tokoh NU, terdapat pula sebuah rumah yang tak kalah asrinya. Rumah itu terletak di seberang jalan. Bentuk, ukuran, keindahan serta kemewahan rumah itu persis sama seperti rumah jatah si tokoh NU itu. Pastilah kedua rumah itu merupakan hasil investasi yang sepadan.

Pintu rumah di seberang jalan itu membuka pelan. Sang pemilik keluar rumah menuju halaman depannya yang sangat indah. Wajah si pemilik rumah memancarkan cahaya yang menebarkan damai. Dulu di dunia, ia adalah seorang tokoh Muhammadiyah yang cukup dikenal. Intelektual yang rajin berdakwah, itulah dia.

Dan pagi itu, terkejutlah si tokoh Muhammadiyah itu, ketika ia dari halaman rumahnya memandang ke rumah tetangga di seberang jalan.

“Ya Allah, ya Rahman ya Rahim,” gumamnya, “Aku seperti kenal wajah tetangga di depan rumah itu.”

Bergegas, ia berjalan melintasi jalan di depan rumahnya untuk memastikan. Dugaannya benar. Orang di seberang jalan itu memang adalah orang yang dulu ia kenal di dunia.

Maka diucapkanlah salam. “Assalamualaikum.”

Sedikit terkejut, si tokoh NU di seberang jalan mengangkat pandangan dari kitab kuningnya, dan membalas salam, “wa’alaikum salam warahmatullah wabarakatuh.”

Lalu makin terkejutlah ia ketika melihat siapa yang baru saja menyapanya. “Ya akhi, ternyata antum. Ngapain di sini?”

“Lah, itu juga yang saya ingin tanyakan sama panjenengan,” jawab si tokoh Muhammadiyah. “Ngapain anda di sini?”

“Saya tidak tahu mengapa saya ada di sini. Seingat saya semenjak usai yaumul-hisab tiba-tiba saja saya mendapati diri berada di tempat yang indah ini. Sangat menyenangkan.”

“Ya memang menyenangkan. Tapi yang bikin saya bingung, bagaimana anda bisa masuk surga?”

“Kenapa bingung ya akhi?”

“Bukankah di masa hidup dulu anda ini terkenal banget dengan ibadah yang penuh TBC, tahyul-bid’ah-churafat, itu. Anda seingat saya gemar sekali nyampur-nyampur ajaran agama dengan tradisi masyarakat. Anda itu senangnya menyanjung-nyanjung Rasulullah dengan cara yang mengkhawatirkan.”

“Mengkhawatirkan?” Tanya si tokoh NU.

“Iya, mengkhawatirkan, sebab mudah sekali membuat anda terjerumus pada mengkultuskan Muhammad.”

“Jadi, kenapa kalau mengkultuskan Muhammad?”

“Lho, itu kan bisa menggelincirkan orang pada syirik kalau tak hati-hati.”

“Lha iya, kan saya sudah hati-hati biar kultus itu tak berubah jadi syirik.”

“Anda ini gegabah. Dan itu yang bikin saya heran.”

“Heran gimana toh antum ini?”

“Ya saya heran, bagaimana bisa anda masuk surga”

“Lha ya itu. Apa antum kira saya tidak heran juga?”

“Lho kok heran juga. Apa maksudnya?”

“Ya saya ini heran juga. Kok bisa antum ini masuk surga. Padahal antum dulu sukanya beribadah yang minim-minim saja. Tidak ada afdhol-afdholnya sama sekali ibadah antum itu. Antum suka naruh Al Qur’an sembarangan, tergeletak begitu saja di meja, seperti buku-buku biasa. Dan bukankah antum dulu sering sekali salat idul fitri di tanggal 30 Ramadlan? Ck… ck… ck… ”

“Lho, itu hasil hisab.”

“Iya hasil hisab. Kami juga hisab dulu sebelum rukyat. Dan hasil hisab kami gak senekad antum itu.”

“Itu metode anda saja yang sudah ketinggalan jaman.”

“Ah kami selalu belajar ilmu falakh terbaru, dan metode kami juga terbaru. Tapi saya gak heran kalau dalam hal ini. Dari dulu antum ini paling susah kalau diminta untuk tawaddu’ ya akhi…”

“Terus, apa maksudnya?” Tanya si tokoh Muhammadiyah lagi.

“Ya maksudnya, antum ini kok bisa basuk surga. Saya heran.”

Keduanya lalu tertegun. Benar juga. Dengan dua ragam ibadah yang satu sama lain saling berbeda, mengapa keduanya bisa sama-sama masuk surga? Bahkan, rumah mereka pun sangat mirip.

Mereka berdua lalu memutuskan untuk mencari jawaban, apa sebenarnya yang membawa mereka ke surga. Si tokoh Muhammadiyah mengajak tetangganya si tokoh NU itu untuk masuk ke rumahnya. Berdua mereka menuju ke ruang kerja si tokoh Muhammadiyah, dan duduk di depan sebuah superkomputer yang teramat canggih. Komputer itu bisa mendeteksi niat dan tujuan penggunanya. Begitu kedua tokoh ini duduk dan menatap si komputer, alat ini pun mulai mengolah kata kunci yang terbaca di benak keduanya. Tak lama, di layar komputer muncullah hasil pencarian mereka.

Komputer itu mulai dengan menyajikan statistik amal ibadah kedua tokoh ini. Betapa mengesankan nilai ibadah mereka berdua. Masing-masing tersenyum bangga membaca catatan statisitk ibadah mereka.

Tapi senyum itu tak lama. Komputer kemudian mengkonversi prestasi ibadah mereka masing-masing ke dalam nilai tukar untuk membeli tiket ke surga. Ternyata, seluruh nilai ibadah mereka berdua itu tak memiliki nilai tukar yang berarti. Dengan seluruh prestasi ibadah itu, mereka tak akan sanggup membeli sekuntum bunga surga pun–apalagi rumah indah-mewah-megah seperti yang kini mereka tinggali.

Jadi, kata komputer itu, ibadah mereka mungkin bernilai, tapi nilainya sangat kecil.

Lalu apa yang membawa mereka berdua ke surga? Komputer menjawab, yang membawa mereka ke surga adalah ridla Allah.

“Apa yang membuat Allah ridla pada kami?” tanya mereka berdua.

“Hanya Allah yang tahu,” jawab si komputer.

“Lalu tak berguna sama sekalikah ibadah kami itu?”

“Tentu berguna. Ibadah itu adalah cara anda berdua untuk meminta ridla Allah.”

“Lha bagaimana dengan ibadah teman saya ini yang penuh bid’ah?” tanya si tokoh Muhammadiyah.

“Iya,” si tokoh NU menimpali cepat. “Bagaimana pula dengan ibadah dia yang serba minim dan hambar itu?”

“Dalam penilaian Allah yang penting adalah hati yang menggerakkan ibadah itu,” jawab si komputer, “dan bukan ragam-rinci ibadah itu sendiri.”

“Jadi dengan hati yang tulus, Allah me-ridlai kami?”

“Belum tentu juga. Ridla Allah ya sepenuhnya hak Allah.”

“Jadi, wahai komputer, ente pun tak bisa sepenuhnya tahu apa yang membuat Allah ridla?”

“Begitulah.”

“Ah, payah ente.”

“Lho, tapi saya tahu apa yang bisa membuat ridla Allah lenyap musnah.”

“Apa itu?”

“Kesombongan, dan hati yang merasa diri paling benar sedang orang lain pasti salah.”[]

Catatan: Cerpen ini pertama kali ditulis di http://agkarim.staff.ugm.ac.id/2007/10/22/suatu-pagi-di-surga/

KUS

http://cerpenonline.multiply.com/journal/item/1706/KUS
ini cerita fiksi. tokoh maupun setting cerita hanya rekaan. kalau ada kemiripan dengan realita yang anda temui, itu kebetulan semata.

Suatu Pagi di Surga

Suatu pagi di surga, seorang tokoh NU duduk di teras rumahnya yang asri. Dalam ketenangan pagi, ia khusyuk membolak-balik halaman kitab kuning seperti kebiasaannya di dunia dulu. Di meja sebelah, sepiring kacang rebus dan secangkir kopi susu mengepulkan asap hangat. Sesekali tokoh NU ini menjumput sebutir kacang rebus, membuka kulitnya, dan mengunyahnya pelan-pelan sambil matanya tak beranjak dari halaman buku yang tengah ia pegang.

Ini surga. Pagi di surga pastilah terasa sangat damai.

Tepat di depan rumah si tokoh NU, terdapat pula sebuah rumah yang tak kalah asrinya. Rumah itu terletak di seberang jalan. Bentuk, ukuran, keindahan serta kemewahan rumah itu persis sama seperti rumah jatah si tokoh NU itu. Pastilah kedua rumah itu merupakan hasil investasi yang sepadan.

Pintu rumah di seberang jalan itu membuka pelan. Sang pemilik keluar rumah menuju halaman depannya yang sangat indah. Wajah si pemilik rumah memancarkan cahaya yang menebarkan damai. Dulu di dunia, ia adalah seorang tokoh Muhammadiyah yang cukup dikenal. Intelektual yang rajin berdakwah, itulah dia.

Dan pagi itu, terkejutlah si tokoh Muhammadiyah itu, ketika ia dari halaman rumahnya memandang ke rumah tetangga di seberang jalan.

“Ya Allah, ya Rahman ya Rahim,” gumamnya, “Aku seperti kenal wajah tetangga di depan rumah itu.”

Bergegas, ia berjalan melintasi jalan di depan rumahnya untuk memastikan. Dugaannya benar. Orang di seberang jalan itu memang adalah orang yang dulu ia kenal di dunia.

Maka diucapkanlah salam. “Assalamualaikum.”

Sedikit terkejut, si tokoh NU di seberang jalan mengangkat pandangan dari kitab kuningnya, dan membalas salam, “wa’alaikum salam warahmatullah wabarakatuh.”

Lalu makin terkejutlah ia ketika melihat siapa yang baru saja menyapanya. “Ya akhi, ternyata antum. Ngapain di sini?”

“Lah, itu juga yang saya ingin tanyakan sama panjenengan,” jawab si tokoh Muhammadiyah. “Ngapain anda di sini?”

“Saya tidak tahu mengapa saya ada di sini. Seingat saya semenjak usai yaumul-hisab tiba-tiba saja saya mendapati diri berada di tempat yang indah ini. Sangat menyenangkan.”

“Ya memang menyenangkan. Tapi yang bikin saya bingung, bagaimana anda bisa masuk surga?”

“Kenapa bingung ya akhi?”

“Bukankah di masa hidup dulu anda ini terkenal banget dengan ibadah yang penuh TBC, tahyul-bid’ah-churafat, itu. Anda seingat saya gemar sekali nyampur-nyampur ajaran agama dengan tradisi masyarakat. Anda itu senangnya menyanjung-nyanjung Rasulullah dengan cara yang mengkhawatirkan.”

“Mengkhawatirkan?” Tanya si tokoh NU.

“Iya, mengkhawatirkan, sebab mudah sekali membuat anda terjerumus pada mengkultuskan Muhammad.”

“Jadi, kenapa kalau mengkultuskan Muhammad?”

“Lho, itu kan bisa menggelincirkan orang pada syirik kalau tak hati-hati.”

“Lha iya, kan saya sudah hati-hati biar kultus itu tak berubah jadi syirik.”

“Anda ini gegabah. Dan itu yang bikin saya heran.”

“Heran gimana toh antum ini?”

“Ya saya heran, bagaimana bisa anda masuk surga”

“Lha ya itu. Apa antum kira saya tidak heran juga?”

“Lho kok heran juga. Apa maksudnya?”

“Ya saya ini heran juga. Kok bisa antum ini masuk surga. Padahal antum dulu sukanya beribadah yang minim-minim saja. Tidak ada afdhol-afdholnya sama sekali ibadah antum itu. Antum suka naruh Al Qur’an sembarangan, tergeletak begitu saja di meja, seperti buku-buku biasa. Dan bukankah antum dulu sering sekali salat idul fitri di tanggal 30 Ramadlan? Ck… ck… ck… ”

“Lho, itu hasil hisab.”

“Iya hasil hisab. Kami juga hisab dulu sebelum rukyat. Dan hasil hisab kami gak senekad antum itu.”

“Itu metode anda saja yang sudah ketinggalan jaman.”

“Ah kami selalu belajar ilmu falakh terbaru, dan metode kami juga terbaru. Tapi saya gak heran kalau dalam hal ini. Dari dulu antum ini paling susah kalau diminta untuk tawaddu’ ya akhi…”

“Terus, apa maksudnya?” Tanya si tokoh Muhammadiyah lagi.

“Ya maksudnya, antum ini kok bisa basuk surga. Saya heran.”

Keduanya lalu tertegun. Benar juga. Dengan dua ragam ibadah yang satu sama lain saling berbeda, mengapa keduanya bisa sama-sama masuk surga? Bahkan, rumah mereka pun sangat mirip.

Mereka berdua lalu memutuskan untuk mencari jawaban, apa sebenarnya yang membawa mereka ke surga. Si tokoh Muhammadiyah mengajak tetangganya si tokoh NU itu untuk masuk ke rumahnya. Berdua mereka menuju ke ruang kerja si tokoh Muhammadiyah, dan duduk di depan sebuah superkomputer yang teramat canggih. Komputer itu bisa mendeteksi niat dan tujuan penggunanya. Begitu kedua tokoh ini duduk dan menatap si komputer, alat ini pun mulai mengolah kata kunci yang terbaca di benak keduanya. Tak lama, di layar komputer muncullah hasil pencarian mereka.

Komputer itu mulai dengan menyajikan statistik amal ibadah kedua tokoh ini. Betapa mengesankan nilai ibadah mereka berdua. Masing-masing tersenyum bangga membaca catatan statisitk ibadah mereka.

Tapi senyum itu tak lama. Komputer kemudian mengkonversi prestasi ibadah mereka masing-masing ke dalam nilai tukar untuk membeli tiket ke surga. Ternyata, seluruh nilai ibadah mereka berdua itu tak memiliki nilai tukar yang berarti. Dengan seluruh prestasi ibadah itu, mereka tak akan sanggup membeli sekuntum bunga surga pun–apalagi rumah indah-mewah-megah seperti yang kini mereka tinggali.

Jadi, kata komputer itu, ibadah mereka mungkin bernilai, tapi nilainya sangat kecil.

Lalu apa yang membawa mereka berdua ke surga? Komputer menjawab, yang membawa mereka ke surga adalah ridla Allah.

“Apa yang membuat Allah ridla pada kami?” tanya mereka berdua.

“Hanya Allah yang tahu,” jawab si komputer.

“Lalu tak berguna sama sekalikah ibadah kami itu?”

“Tentu berguna. Ibadah itu adalah cara anda berdua untuk meminta ridla Allah.”

“Lha bagaimana dengan ibadah teman saya ini yang penuh bid’ah?” tanya si tokoh Muhammadiyah.

“Iya,” si tokoh NU menimpali cepat. “Bagaimana pula dengan ibadah dia yang serba minim dan hambar itu?”

“Dalam penilaian Allah yang penting adalah hati yang menggerakkan ibadah itu,” jawab si komputer, “dan bukan ragam-rinci ibadah itu sendiri.”

“Jadi dengan hati yang tulus, Allah me-ridlai kami?”

“Belum tentu juga. Ridla Allah ya sepenuhnya hak Allah.”

“Jadi, wahai komputer, ente pun tak bisa sepenuhnya tahu apa yang membuat Allah ridla?”

“Begitulah.”

“Ah, payah ente.”

“Lho, tapi saya tahu apa yang bisa membuat ridla Allah lenyap musnah.”

“Apa itu?”

“Kesombongan, dan hati yang merasa diri paling benar sedang orang lain pasti salah.”[]

Catatan: Cerpen ini pertama kali ditulis di http://agkarim.staff.ugm.ac.id/2007/10/22/suatu-pagi-di-surga/

The Kite Runner

Rating: ★★★★★
Category: Movies
Genre: Drama

2 kali nonton, 2 kali nangis… hix…
Ni pilem T-O-P B-G-T!!

Film ini diangkat dari novel best-seller karya Khalled Hossaini tentang kisah persahabatan 2 bocah, Amir dan Hasan. Meskipun belum pernah baca novelnya, menurutku film ini bisa menghanyutkan emosi penonton dan membawa penonton ikut merasakan dalamnya persahabatan mereka meski terpaksa berpisah karena ‘perbedaan kasta’ dan tragedi perang di tanah kelahiran mereka, Afganistan.

Secara sinematografi dan penyutradaraan, film ini okeh banget dah! Nah, saking okeh nyah, film ini secara harus mendoktrin penonton yang kurang kritis. Melalui penceritaan berlatar belakang sejarah ini–yaitu invasi Uni Soviet dan rezim Taliban–film ini secara tak langsung mendiskreditkan dua golongan.

Secara, film ini diproduksi oleh Dreamworks picture Amrik, gak heran kalau film ini mendiskreditkan Uni Soviet. Dan sebagai pihak yang menginvasi Afganistan, film produksi negeri Paman Sam ini juga secara tidak langsung mendiskreditkan Taliban yang alih-alih mendiskreditkan penegakan syariat Islam…. yang tentu saja ujung-ujungnya menjauhkan ummat Islam dari agamanya, dari syariatnya, dari hukum-hukum dalam Al Qur’an. Maka dari itu… waspadalah! Tetap kritis dan skeptis dalam mengapresiasi sebuah karya!

Peace 😉

PAMERAN HARI BUKU SEDUNIA 2008

Start:      Jun 5, ’08 09:00a
End:      Jun 8, ’08 5:00p
Location:      Plaza Gedung A Depdiknas RI Jl. Jend. Sudirman Senayan Jakarta

PAMERAN HARI BUKU SEDUNIA 2008
“Reformasi Perbukuan untuk Peradaban dan Daya Saing Bangsa”

Jadwal Acara:

Kamis, 5 Juni 2008
“Buku : Pilar Peradaban Bangsa”

09.00 – 09.45 WIB PEMBUKAAN oleh Sekretaris Jenderal Depdiknas

09.45 – 11.45 WIB Diskusi “Reformasi Perbukuan”bersama:
– Dodi Nandika (Sekretaris Jenderal Depdiknas)
– Setia Dharma Madjid (Ketua Umum IKAPI)
– Fira Basuki (Penulis)- Andari Karina Anom (Moderator)

14.00 – 16.00 WIB Putar Film “Freedom Writers”

Jum’at, 6 Juni 2008
“Dari Pendidikan Ke INDONESIA PINTAR”

13.30 – 15.30 WIB Diskusi buku dan film “Lost in Love”bersama:
– Pembicara : Rachmania Arunita (Penulis buku sekaligus sutradara film)

16.00 – 17.00 WIB Diskusi “Bagaimana Cara untuk Tidak Menjadi Bangsa yang Rabun Membaca dan Pincang Mengarang” bersama:
– Taufik Ismail
– Firman Venayaksa (Moderator)

Sabtu, 7 Juni 2008
“Komunitas Buku untuk INDONESIA CERDAS”

10.00 – 12.00 WIB Diskusi buku ”Tembang Cinta dari Pesantren”, bersama:
– Dodo Widarda (Penulis buku)
– Aris Suwartono (Moderator)

13.00 – 14.00 Diskusi ”Membangun Taman Baca” bersama:
– Yessy Gusman (Taman Bacaan Anak Yayasan Bunda Yessy)
– Kiswanti (Warung Baca Lebak Wangi)
– Soimah (Taman Baca Mutiara Ilmu)
– Firman Venayaksa (Rumah Dunia)
– Ganda Purnama (Moderator)

14.30 – 15.00 WIB Pertunjukan seni “Bon Odori”

15.00 – 17.00 WIB Putar film “Monalisa Smile”

Minggu, 8 Juni 2008
“Dunia Lisan menjunjung BANGSA”

10.00 – 12.00 WIB Diskusi ”Bercerita pada Anak-Anak” bersama:
– Ariyo (Komunitas Reading Bugs)
– Dewi Hughes
– Rito Triumbarto (Moderator)

12.30 – 14.00 WIB Diskusi “Guiding – Workshop Menjadi Guide” bersama:
– Komunitas Britzone English Speaking Club

14.00 – 16.00 WIB Putar film “Dengerous Mind”

16.00 – 16.30 WIB PENUTUPAN

——————————————————————————–
Peserta Pameran Lembaga/Institusi/ Taman Baca:
– Pusat Informasi dan Humas Depdiknas
– Pusat Perbukuan Depdiknas
– Pusat Bahasa Depdiknas
– Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini Depdiknas
– Direktorat Pendidikan Masyarakat
– Library of Congress Jakarta
– PDII-LIPI
– Perpustakaan LP3ES
– Perpustakaan Umum DKI Jakarta
– Perpustakaan Univ. Indonesia
– Yayasan Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB)
– Britzone English Speakiing Club
– Komunitas 1001 Buku
– Perahu Baca
– Pustaka Rumah Dunia
– Forum Indonesia Membaca
– Taman Bacaan Anak Yayasan Bunda Yessy
– Taman Bacaan Warabal
– Taman Baca Mutiara Ilmu

Peserta Pameran Penerbit/Distributor/Toko Buku:
– Gramedia DS
– Balai Pustaka
– Star Books
– Etnobook
– Mizan
– Pena Pund
i- Alvabet
– Citra Putra Bangsa
– Al-Huda
– Zahra Publishing
– CSIS
– IBS
– Nadi
– Kobam
– Ar-Ruzz Media
– LKiS
– Jurnal Perempuan
– Inova
– Citra Media
– Vindo Comic
– Senayan Abadi
– Darul Ulum
– Salemba Empat
– NQS
– Grafindo
– Prenada
– TokoKaos.com
– Mandar Utama Tiga
——————————————————————————–
Penyelenggara: Perpustakaan Depdiknas RIPusat Informasi dan Humas Depdiknas
Tlp. 021-5707870 Fax. 021-5731228
http://worldbookday .diknas.go. id

Salam,

Chaidir Amir
Perpustakaan Depdiknas RI

Bu Guru Cantik

“Halo… Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam. Bisa bicara dengan Rizal?”

“Rizal sedang latihan silat. Maaf ini dengan siapa?”

“Saya Jati, guru Bahasa Inggris-nya Rizal di Masjid Al Istikmal”

“Oh… Miss Jati ya? Rizal sering cerita tentang Miss Jati. Katanya orangnya baik, pinter, cantik lagi… Dan ternyata suaranya merdu!”

“Hahaha… Ibu bisa ajah! Ini dengan ibunya Rizal ya?”

”Betul, saya ibunya Rizal”

“Kebetulan bu, saya mau kasih tahu tanggal 7 Juni jam 8 malam ada pembagian rapor di Istikmal. Mohon kehadiran ibu sebagai orang tua Rizal”

“Oh iya, insyaallah saya akan datang. Saya jadi pingin ketemu sama ibu gurunya Rizal yang cantik”

”Baik bu, terima kasih. Sampai ketemu. Assalamu’alaikum”

”Wa’alaikumsalam Miss Jati”

Jakarta, 02/06/08 20:40

note: percakapan di atas bukan fiksi loh… ini benar-benar terjadi semalam Hehehehe… jadi tambah narsis akut neh!!!

Hiks… jadi terharu, ternyata “anak bandel” itu menilai aku seperti itu…