PENDENDAM

Pernahkah kau membenci seseorang karena kesalahan yang bahkan dia sendiri telah lupa?
Pernahkah kau membenci seseorang seumur hidup karena setitik kekhilafannya?
Pernahkah kau menolak maaf seseorang padahal ia telah memohonkan maafnya padamu?
Pernahkah kau membenci suatu kaum hanya karena kesalahan sedikit orang dari kaum itu?
Pernahkah kau merasa diri paling benar?

Jika pernah,
selamat!
Karena kau telah membuatnya belajar makna “maaf” dan “kebijaksanaan” dari hal-hal yang bertentangan

Jika belum pernah,
selamat!
Karena kau telah menjadi hamba-Nya yang pemaaf dan bijaksana

Advertisements

PENDENDAM

Pernahkah kau membenci seseorang karena kesalahan yang bahkan dia sendiri telah lupa?
Pernahkah kau membenci seseorang seumur hidup karena setitik kekhilafannya?
Pernahkah kau menolak maaf seseorang padahal ia telah memohonkan maafnya padamu?
Pernahkah kau membenci suatu kaum hanya karena kesalahan sedikit orang dari kaum itu?
Pernahkah kau merasa diri paling benar?

Jika pernah,
selamat!
Karena kau telah membuatnya belajar makna “maaf” dan “kebijaksanaan” dari hal-hal yang bertentangan

Jika belum pernah,
selamat!
Karena kau telah menjadi hamba-Nya yang pemaaf dan bijaksana

Behind The Screen

another college comic-strip!
Yup, ini komik buatan gue waktu mata kuliah PIJ (Pengantar Ilmu Jurnalistik). Dan inilah curhat gue cs waktu dapet tugal peliputan berita untuk pertama kali hehehe…

MIMPI

Mimpi membuatku hidup

Karena itu…

Teruslah bermimpi

Depok, 24 Juli 2008

MIMPI

Mimpi membuatku hidup

Karena itu…

Teruslah bermimpi

Depok, 24 Juli 2008

Selamat Jalan Adik Kecilku….

Hari ini jam 8.10 pagi tadi dilakukan fogging alias pengasapan di RT 05 RW 07 Kelurahan Cililitan Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. Pengasapan yang bertujuan untuk membasmi nyamuk-nyamuk deman berdarah ini dilakukan karena satu alasan konket, yaitu “DBD telah memakan korban di RT kami”.

Nia, demikian orang memanggilnya. Aku tidak tahu siapa nama lengkapnya. Yang kutahu, gadis kecil berumur tiga tahun ini adalah anak pertama pasangan suami istri penjual martabak asal Tegal yang tinggal di rumah petak di lingkungan RT kami. Ibunya yang sedang hamil empat bulan adalah ibu rumah tangga yang selalu menjadi asisten sang ayah dalam bekerja.

“Nia, ayo pulang!” demikian selalu sang ibu membujuk Nia yang ogah pulang kalau main di rumahku. Bangku kayu modifikasi dari tempat tidur hasil rancanganku adalah tempat favorit Nia. Dia senang tidur-tiduran di situ sambil mengoceh sendiri dengan logat anak kecil yang lucu.

“Chichil… Chichil…,” ujar Nia memanggil kucing kesayanganku.

“Krrr,” jawab Chichil cuek sambil memejamkan matanya. Dasar kucing pemalas . Tapi Nia tak henti-henti merajuk Chichil dengan logat lucunya untuk main bersamanya.

Tapi kelucuan-kelucuan itu kini tiada lagi. Karena Nia sudah tidak bersama kami lagi. Ia telah dipanggil oleh Pemilik Langit dan Bumi. Hari Sabtu, 12 Juli 2008 pukul 11.00 Nia menghembuskan nafas terakhirnya di RS Budi Asih Jakarta setelah menderita panas tinggi akibat Demam Berdarah Dengue (DBD).

Kematiannya cukup tragis. Aku sempat mengurut dada mendengar tragedi ini. Setelah panas tinggi selama beberapa hari, orang tua Nia yang kebingungan langsung membawa Nia ke tukang pijat. “Nia sakit tampek gak keluar nih,” ujar sang tukang pijat.

Namun seorang tetangga berpesan pada pasangan suami istri asal Tegal itu agar sebaiknya membawa Nia ke dokter anak. “Kalau anak sakit, bawa ke dokter. Jangan ke tukang pijat,” ujar tetanggaku itu.

Benar saja. Saat diperiksa dokter, sang dokter langsung merujuk Nia ke rumah sakit untuk dirawat karena menampakkan gejala-gejala DBD. Namun nyawa Nia tidak sempat tertolong. Baru beberapa jam di RS Budi Asih, Nia menghembuskan nafas terakhirnya.

Selamat jalan adik kecilku. Allah amat sayang padamu. Semoga engkau menjadi tabungan di surga bagi kedua orang tuamu…

 

Selamat Jalan Adik Kecilku….

Hari ini jam 8.10 pagi tadi dilakukan fogging alias pengasapan di RT 05 RW 07 Kelurahan Cililitan Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. Pengasapan yang bertujuan untuk membasmi nyamuk-nyamuk deman berdarah ini dilakukan karena satu alasan konket, yaitu “DBD telah memakan korban di RT kami”.

Nia, demikian orang memanggilnya. Aku tidak tahu siapa nama lengkapnya. Yang kutahu, gadis kecil berumur tiga tahun ini adalah anak pertama pasangan suami istri penjual martabak asal Tegal yang tinggal di rumah petak di lingkungan RT kami. Ibunya yang sedang hamil empat bulan adalah ibu rumah tangga yang selalu menjadi asisten sang ayah dalam bekerja.

“Nia, ayo pulang!” demikian selalu sang ibu membujuk Nia yang ogah pulang kalau main di rumahku. Bangku kayu modifikasi dari tempat tidur hasil rancanganku adalah tempat favorit Nia. Dia senang tidur-tiduran di situ sambil mengoceh sendiri dengan logat anak kecil yang lucu.

“Chichil… Chichil…,” ujar Nia memanggil kucing kesayanganku.

“Krrr,” jawab Chichil cuek sambil memejamkan matanya. Dasar kucing pemalas . Tapi Nia tak henti-henti merajuk Chichil dengan logat lucunya untuk main bersamanya.

Tapi kelucuan-kelucuan itu kini tiada lagi. Karena Nia sudah tidak bersama kami lagi. Ia telah dipanggil oleh Pemilik Langit dan Bumi. Hari Sabtu, 12 Juli 2008 pukul 11.00 Nia menghembuskan nafas terakhirnya di RS Budi Asih Jakarta setelah menderita panas tinggi akibat Demam Berdarah Dengue (DBD).

Kematiannya cukup tragis. Aku sempat mengurut dada mendengar tragedi ini. Setelah panas tinggi selama beberapa hari, orang tua Nia yang kebingungan langsung membawa Nia ke tukang pijat. “Nia sakit tampek gak keluar nih,” ujar sang tukang pijat.

Namun seorang tetangga berpesan pada pasangan suami istri asal Tegal itu agar sebaiknya membawa Nia ke dokter anak. “Kalau anak sakit, bawa ke dokter. Jangan ke tukang pijat,” ujar tetanggaku itu.

Benar saja. Saat diperiksa dokter, sang dokter langsung merujuk Nia ke rumah sakit untuk dirawat karena menampakkan gejala-gejala DBD. Namun nyawa Nia tidak sempat tertolong. Baru beberapa jam di RS Budi Asih, Nia menghembuskan nafas terakhirnya.

Selamat jalan adik kecilku. Allah amat sayang padamu. Semoga engkau menjadi tabungan di surga bagi kedua orang tuamu…

The Girls of Riyadh

Rating: ★★★★
Category: Books
Genre: Nonfiction
Author: Rajaa Al Sanea

Sebenarnya udah lama pingin bikin review buku ini. Tapi baru bisa mencuri-curi waktu sekarang untuk posting…

Bintang 4 untuk buku yang kabarnya dilarang terbit di Saudi ini. Pastinya aku yakin, akibat pelarang ini juga maka penjualan buku ini jadi terdongkrak. Awalnya sempat penasaran juga kenapa kok nih buku ampe dilarang terbit gitu. Apakah Arab Saudi sebegitu represifnya kah hingga mengekang kebebasan berekspresi dan berkarya?

Tapi setelah membaca habis buku ini, aku jadi paham kenapa pemerintah Saudi melarang buku ini terbit. Buku yang berisi kisah nyata lima gadis Riyadh ini menceritakan hal-hal yang dianggap menyimpang bahkan tabu bagi bangsa Saudi, seperti berduaan antara laki-laki dan perempuan non muhrim, membuka hijab, bahkan seks pra nikah. Memang contoh-contoh tersebut adalah yang paling ekstrim yang ada di buku tersebut.

Di negara yang mengaku menerapkan syariat Islam ini, ada yang disebut polisi syariat. Jika dua sejoli yang bukan muhrim tertangkap basah oleh mereka, maka dua sejoli itu bisa dipenjara.

Aku memandang kenyataan ini dari dua sisi. Pertama, semangat penegakan syariat Islam yang kemudian diformalkan seperti ini seolah-olah menjadi sebuah bentuk pengekangan yang represif. Kedua, kekuatan memaksa ini sebenarnya beritikad baik agar rakyatnya mematuhi aturan-aturan dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

Hanya saja, dalam beberapa kasus di buku ini, aku memandang bahwa masyarakat Saudi yang katanya sudah ‘modern’ ternyata masih berpikir kolot. Bayangkan saja, mereka memandang sebelah mata status ‘janda’. Padahal, mana ada perempuan yang ingin bercerai dari suaminya? Betapa tidak adilnya pandangan orang-orang itu pada perempuan. Aku jadi teringat kembali masa jahiliyah yang berlaku sangat tidak adil pada perempuan. Hmm… ternyata, sisa-sisa jahiliyah masih banyak di negeri para nabi itu hingga sekarang.

Intinya, setelah baca buku ini aku bersyukur jadi orang Indonesia :))