Selamat Jalan Adik Kecilku….

Hari ini jam 8.10 pagi tadi dilakukan fogging alias pengasapan di RT 05 RW 07 Kelurahan Cililitan Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. Pengasapan yang bertujuan untuk membasmi nyamuk-nyamuk deman berdarah ini dilakukan karena satu alasan konket, yaitu “DBD telah memakan korban di RT kami”.

Nia, demikian orang memanggilnya. Aku tidak tahu siapa nama lengkapnya. Yang kutahu, gadis kecil berumur tiga tahun ini adalah anak pertama pasangan suami istri penjual martabak asal Tegal yang tinggal di rumah petak di lingkungan RT kami. Ibunya yang sedang hamil empat bulan adalah ibu rumah tangga yang selalu menjadi asisten sang ayah dalam bekerja.

“Nia, ayo pulang!” demikian selalu sang ibu membujuk Nia yang ogah pulang kalau main di rumahku. Bangku kayu modifikasi dari tempat tidur hasil rancanganku adalah tempat favorit Nia. Dia senang tidur-tiduran di situ sambil mengoceh sendiri dengan logat anak kecil yang lucu.

“Chichil… Chichil…,” ujar Nia memanggil kucing kesayanganku.

“Krrr,” jawab Chichil cuek sambil memejamkan matanya. Dasar kucing pemalas . Tapi Nia tak henti-henti merajuk Chichil dengan logat lucunya untuk main bersamanya.

Tapi kelucuan-kelucuan itu kini tiada lagi. Karena Nia sudah tidak bersama kami lagi. Ia telah dipanggil oleh Pemilik Langit dan Bumi. Hari Sabtu, 12 Juli 2008 pukul 11.00 Nia menghembuskan nafas terakhirnya di RS Budi Asih Jakarta setelah menderita panas tinggi akibat Demam Berdarah Dengue (DBD).

Kematiannya cukup tragis. Aku sempat mengurut dada mendengar tragedi ini. Setelah panas tinggi selama beberapa hari, orang tua Nia yang kebingungan langsung membawa Nia ke tukang pijat. “Nia sakit tampek gak keluar nih,” ujar sang tukang pijat.

Namun seorang tetangga berpesan pada pasangan suami istri asal Tegal itu agar sebaiknya membawa Nia ke dokter anak. “Kalau anak sakit, bawa ke dokter. Jangan ke tukang pijat,” ujar tetanggaku itu.

Benar saja. Saat diperiksa dokter, sang dokter langsung merujuk Nia ke rumah sakit untuk dirawat karena menampakkan gejala-gejala DBD. Namun nyawa Nia tidak sempat tertolong. Baru beberapa jam di RS Budi Asih, Nia menghembuskan nafas terakhirnya.

Selamat jalan adik kecilku. Allah amat sayang padamu. Semoga engkau menjadi tabungan di surga bagi kedua orang tuamu…

 

Advertisements
Next Post
Leave a comment

8 Comments

  1. Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un..
    Semoga Nia menjadi tabungan bagi kedua orang tuanya, dan semoga kedua orang tuanya diberi kesabaran dan keikhlasan melepas Nia..Amiin

    Reply
  2. Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji'un..
    Jd sedih bacanya plus ngebayangin lucunya Nia….

    Reply
  3. innalillahi wa inna ilaihi roji'un..
    8'-(

    Reply
  4. iya, aku pingin posting fotonya juga… cuma kebetulan gak kesimpan di komputer :'( but the memory of her face still remain….

    Reply
  5. -_- innalillahi wa inna ilaihi rojiun…

    Reply
  6. Selamat jalan adik kecilku. Allah amat sayang padamu. Semoga engkau menjadi tabungan di surga bagi kedua orang tuamu…
    Innalillahi wa inna ilaihi rooji'un, smoga menjadi pelajaran “amat” berharga bwt masyarakat lainnya ya..

    Reply
  7. iya, AMAT berharga… betapa pendidikan adalah 'gerbang segalanya'. Dalam hal ini pengetahuan dasar tentang kesehatan dan pola pikir manusia itu sendiri.
    Semoga Nia tidak hanya menjadi 'martir' keadaan bangsa yang terus menuntut pendidikan dan sembako murah….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: