INDONESIAKU

Apa yang ada dalam kepala Anda saat disebut kata “INDONESIA”?

Semerawut, perpecahan, Madesu (masa depan suram), KKN, kotor, harga-harga melambung, rakyat sengsara, pemerintah tidak becus, anarkis, padat penduduk, potensial, kaya, beragam budaya, indah, cerdas, masa depan cerah, pemimpin, dll…??

Apapun yang ada dalam kepala Anda saat kata INDONESIA disebut merupakan mind-set Anda terhadap Indonesia. Jika gambaran/kata berkonotasi negatif yang muncul, maka itulah pandangan Anda tentang Indonesia. Namun jika gambaran/kata berkonotasi positif, maka itulah pandangan Anda tentang Indonesia.

Adalah bukan salah Anda sendiri jika kata negatif yang muncul, pun jika kata positif yang muncul. Saya pun tidak hendak menyalahkan Anda, karena saya sendiri memotret Indonesia lewat sebuah bingkai, dan bingkai itu bernama media massa.

Menjelang bulan suci Ramadhan ini, saya mendapati media massa kita kerap memberitakan hal-hal yang kurang mengenakkan hati, mulai dari harga elpiji yang melambung tinggi hingga Presiden SBY marah. Hal ini diperparah dengan iklan-iklan yang makin anyir dengan nada politik dagang sapi. Tidak hanya iklan, tapi juga advertorial kampanye politik dan promosi produk yang dibalut dalam acara talkshow macam Empat Mata, Republik Mimpi, dan sejenisnya.

Saya maklum akan kondisi ini, karena sebentar lagi bangsa ini akan merayakan ‘pesta rakyat’, dimana rakyat (seharusnya) merayakan ‘kekuasaannya’ untuk memilih pemimpinnya sendiri.

Saya mohon maaf jika tulisan ini bernada apatis terhadap dunia politik. Saya sadar pandangan saya ini berangkat dari inderawi saya yang selalu menangkap pesan-pesan negatif tentang politik di media massa. Padahal saya sadar bahwa media massa bukanlah cermin realita. Media massa hanya memotret realita yang ada melalui bingkainya sendiri.

Terkadang saya merasa sedih dengan pandangan apatis saya sendiri yang mungkin mewakili pandangan apatis jutaan orang Indonesia. Mau jadi apa negeri ini nanti jika dipimpin elit-elit politik yang diragukan kualitasnya? Alih-alih kita menjadi enggan merayakan ‘pesta rakyat’ dan memilih menjadi penonton saja.

Semalam saat iseng memindah-mindah saluran teve, minat saya tertawan pada tayangan “Kabaret” di Metro TV yang dimainkan oleh personil-personil Teater Koma. Mungkin ketertarikan saya ini lebih karena saya adalah penggemar Teater Koma yang dimotori Butet Kertarajasa dan Riantiarno.

Kabaret yang dimainkan secara apik semalam itu mengangkat isu pro-kontra energi nuklir. Menurut saya, pesan yang disampaikan secara cantik itu sangat sarat muatan moral. Kabaret semalam tidak hendak memihak pada satu kubu, tetapi lebih mengajak penonton untuk memandang sesuatu dari dua sisi, yaitu positif dan negatif. Toh meskipun percobaan nuklir menyemai protes keras disana-sini, tapi energi nuklir (secara teori) dapat menghasilkan energi yang jauh lebih hemat dan efisien.

Well, kembali ke pokok permasalahan….

Pada epilog acara tersebut, saya cukup ‘tersindir’ dengan kata-kata yang dilontarkan para pemeran Kabaret. Saya tidak hafal betul redaksionalnya, tetapi intinya adalah; Hancurnya sebuah bangsa bukan karena kemiskinan, kebodohan, atau pengangguran, tapi karena rasa apatis terhadap bangsanya sendiri. Rasa apatis itu ditandai antara lain dengan; tidak bangga pada budaya negeri sendiri dan lebih bangga pada budaya negeri orang, mengingkari bahasa ibu yang telah disepakatai dan lebih bangga menggunakan bahasa asing, tidak bangga hidup di negeri sendiri dan lebih ingin tinggal di negeri orang, dll…

Pesan lain yang tidak kalah menggelitik adalah; Raja melanggengkan kekuasaannya dengan membodohi rakyatnya agar tidak ada perlawanan. Ini mengingatkan saya pada strategi politik raja-raja Jawa dulu. Mitos dan dongeng mistis yang melekat di hati rakyat sebenarnya tak lain adalah upaya para raja tersebut untuk melanggengkan kekuasaannya. Bahkan tokoh Nyai Roro Kidul sendiri setahu saya sebenarnya adalah tokoh rekaan raja Jawa agar rakyatnya takut dan tunduk pada sang raja.

Saya jadi merefleksi pada kondisi sekarang ini. Tidak dipungkiri bahwa (mungkin) sebagian besar rakyat Indonesia sudah apatis bahkan antipati pada negerinya sendiri. Bahkan tidak sedikit yang memutuskan pindah warga negara demi mendapat kehidupan yang lebih ‘enak’. Dan jika memang realita ini yang terjadi, saya yakin para pembuat opini publik tersenyum lebar sambil bertepuk tangan merayakan keberhasilan mereka. Inilah penjajahan gaya baru. Penjajahan mind-set!

Mungkin kita tidak pernah secara fisik melihat para ‘penjajah’ itu. Selama ini kita hanya terbuai oleh bombardir pesan-pesan halus yang mereka sampaikan lewat media. Sebab saat ini cara termurah dan termudah untuk melihat ‘seluruh dunia’ adalah lewat media massa. Pelaku agenda setting memainkan perannya lewat media.

Jadi, sebagai pengkonsumsi berita, apa yang harus kita lakukan?? Tentu saja tidak menelan bulat-bulat pesan yang kita terima, melain mencernanya terlebih dulu. Saya jadi ingat sebuah hadis dan ayat yang menyuruh kita untuk tabayyun (mengkonfirmasi) berita yang kita dapat.

Selain itu, tentang mind-set, saya teringat Al Qur’an Surat Al Insyirah yang menyatakan bahwa sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Jadi, sebuah fenomena adalah ibarat keping mata uang dengan dua sisi yang saling bertolak belakang, ada positif dan negatif. Sama halnya dengan fakta/realita yang dipotret media massa. Jika media tersebut memotret dari sisi negatif, maka berita yang dihasilkan adalah berita yang membangkitkan rasa apati pembaca/pemirsa/pendengarnya. Sebaliknya, jika media memotret fakta/realita dari sisi positif, maka aroma antusiasme lah yang akan ditebarkannya. Jadi, mustahil ada berita yang ‘netral’, pasti ada kecenderungan ke arah sisi tertentu. Ibarat mata uang, kita tidak akan pernah tahu nominal mata uang tersebut jika kita memotretnya dari samping, karena hanya akan ada garis lurus yang nampak.

Tentang bingkai media massa, kalau tidak percaya, tengok saja berita-berita koran di masa perjuangan kemerdekaan RI. Hampir semua berita membakar semangat untuk merdeka, bahkan dalam bentuk yang paling terselubung pun, seperti karya sastra, karena takut diberedel para kolonialis. Tentu saja hal tersebut hanya mungkin terjadi jika lembaga surat kabar (termasuk pemilik media) memiliki agenda setting untuk membentuk opini publik yang positif tentang perlawanan melawan penjajah. Akan tetapi, apa yang terjadi pada media massa kita saat ini? Semuanya tergantung pada pemilik modal.

Nah, pertanyaan saya sekarang, apa gambaran dalam kepala Anda saat kata INDONESIA disebut? (jat)

Catatan:
Mbak Je mohon maaf apabila ada kata-kata dan sikap yang tidak berkenan. Selamat menunaikan ibadah di bulan suci Ramadhan…

INDONESIAKU

Apa yang ada dalam kepala Anda saat disebut kata “INDONESIA”?

Semerawut, perpecahan, Madesu (masa depan suram), KKN, kotor, harga-harga melambung, rakyat sengsara, pemerintah tidak becus, anarkis, padat penduduk, potensial, kaya, beragam budaya, indah, cerdas, masa depan cerah, pemimpin, dll…??

Apapun yang ada dalam kepala Anda saat kata INDONESIA disebut merupakan mind-set Anda terhadap Indonesia. Jika gambaran/kata berkonotasi negatif yang muncul, maka itulah pandangan Anda tentang Indonesia. Namun jika gambaran/kata berkonotasi positif, maka itulah pandangan Anda tentang Indonesia.

Adalah bukan salah Anda sendiri jika kata negatif yang muncul, pun jika kata positif yang muncul. Saya pun tidak hendak menyalahkan Anda, karena saya sendiri memotret Indonesia lewat sebuah bingkai, dan bingkai itu bernama media massa.

Menjelang bulan suci Ramadhan ini, saya mendapati media massa kita kerap memberitakan hal-hal yang kurang mengenakkan hati, mulai dari harga elpiji yang melambung tinggi hingga Presiden SBY marah. Hal ini diperparah dengan iklan-iklan yang makin anyir dengan nada politik dagang sapi. Tidak hanya iklan, tapi juga advertorial kampanye politik dan promosi produk yang dibalut dalam acara talkshow macam Empat Mata, Republik Mimpi, dan sejenisnya.

Saya maklum akan kondisi ini, karena sebentar lagi bangsa ini akan merayakan ‘pesta rakyat’, dimana rakyat (seharusnya) merayakan ‘kekuasaannya’ untuk memilih pemimpinnya sendiri.

Saya mohon maaf jika tulisan ini bernada apatis terhadap dunia politik. Saya sadar pandangan saya ini berangkat dari inderawi saya yang selalu menangkap pesan-pesan negatif tentang politik di media massa. Padahal saya sadar bahwa media massa bukanlah cermin realita. Media massa hanya memotret realita yang ada melalui bingkainya sendiri.

Terkadang saya merasa sedih dengan pandangan apatis saya sendiri yang mungkin mewakili pandangan apatis jutaan orang Indonesia. Mau jadi apa negeri ini nanti jika dipimpin elit-elit politik yang diragukan kualitasnya? Alih-alih kita menjadi enggan merayakan ‘pesta rakyat’ dan memilih menjadi penonton saja.

Semalam saat iseng memindah-mindah saluran teve, minat saya tertawan pada tayangan “Kabaret” di Metro TV yang dimainkan oleh personil-personil Teater Koma. Mungkin ketertarikan saya ini lebih karena saya adalah penggemar Teater Koma yang dimotori Butet Kertarajasa dan Riantiarno.

Kabaret yang dimainkan secara apik semalam itu mengangkat isu pro-kontra energi nuklir. Menurut saya, pesan yang disampaikan secara cantik itu sangat sarat muatan moral. Kabaret semalam tidak hendak memihak pada satu kubu, tetapi lebih mengajak penonton untuk memandang sesuatu dari dua sisi, yaitu positif dan negatif. Toh meskipun percobaan nuklir menyemai protes keras disana-sini, tapi energi nuklir (secara teori) dapat menghasilkan energi yang jauh lebih hemat dan efisien.

Well, kembali ke pokok permasalahan….

Pada epilog acara tersebut, saya cukup ‘tersindir’ dengan kata-kata yang dilontarkan para pemeran Kabaret. Saya tidak hafal betul redaksionalnya, tetapi intinya adalah; Hancurnya sebuah bangsa bukan karena kemiskinan, kebodohan, atau pengangguran, tapi karena rasa apatis terhadap bangsanya sendiri. Rasa apatis itu ditandai antara lain dengan; tidak bangga pada budaya negeri sendiri dan lebih bangga pada budaya negeri orang, mengingkari bahasa ibu yang telah disepakatai dan lebih bangga menggunakan bahasa asing, tidak bangga hidup di negeri sendiri dan lebih ingin tinggal di negeri orang, dll…

Pesan lain yang tidak kalah menggelitik adalah; Raja melanggengkan kekuasaannya dengan membodohi rakyatnya agar tidak ada perlawanan. Ini mengingatkan saya pada strategi politik raja-raja Jawa dulu. Mitos dan dongeng mistis yang melekat di hati rakyat sebenarnya tak lain adalah upaya para raja tersebut untuk melanggengkan kekuasaannya. Bahkan tokoh Nyai Roro Kidul sendiri setahu saya sebenarnya adalah tokoh rekaan raja Jawa agar rakyatnya takut dan tunduk pada sang raja.

Saya jadi merefleksi pada kondisi sekarang ini. Tidak dipungkiri bahwa (mungkin) sebagian besar rakyat Indonesia sudah apatis bahkan antipati pada negerinya sendiri. Bahkan tidak sedikit yang memutuskan pindah warga negara demi mendapat kehidupan yang lebih ‘enak’. Dan jika memang realita ini yang terjadi, saya yakin para pembuat opini publik tersenyum lebar sambil bertepuk tangan merayakan keberhasilan mereka. Inilah penjajahan gaya baru. Penjajahan mind-set!

Mungkin kita tidak pernah secara fisik melihat para ‘penjajah’ itu. Selama ini kita hanya terbuai oleh bombardir pesan-pesan halus yang mereka sampaikan lewat media. Sebab saat ini cara termurah dan termudah untuk melihat ‘seluruh dunia’ adalah lewat media massa. Pelaku agenda setting memainkan perannya lewat media.

Jadi, sebagai pengkonsumsi berita, apa yang harus kita lakukan?? Tentu saja tidak menelan bulat-bulat pesan yang kita terima, melain mencernanya terlebih dulu. Saya jadi ingat sebuah hadis dan ayat yang menyuruh kita untuk tabayyun (mengkonfirmasi) berita yang kita dapat.

Selain itu, tentang mind-set, saya teringat Al Qur’an Surat Al Insyirah yang menyatakan bahwa sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Jadi, sebuah fenomena adalah ibarat keping mata uang dengan dua sisi yang saling bertolak belakang, ada positif dan negatif. Sama halnya dengan fakta/realita yang dipotret media massa. Jika media tersebut memotret dari sisi negatif, maka berita yang dihasilkan adalah berita yang membangkitkan rasa apati pembaca/pemirsa/pendengarnya. Sebaliknya, jika media memotret fakta/realita dari sisi positif, maka aroma antusiasme lah yang akan ditebarkannya. Jadi, mustahil ada berita yang ‘netral’, pasti ada kecenderungan ke arah sisi tertentu. Ibarat mata uang, kita tidak akan pernah tahu nominal mata uang tersebut jika kita memotretnya dari samping, karena hanya akan ada garis lurus yang nampak.

Tentang bingkai media massa, kalau tidak percaya, tengok saja berita-berita koran di masa perjuangan kemerdekaan RI. Hampir semua berita membakar semangat untuk merdeka, bahkan dalam bentuk yang paling terselubung pun, seperti karya sas
tra, karena takut diberedel para kolonialis. Tentu saja hal tersebut hanya mungkin terjadi jika lembaga surat kabar (termasuk pemilik media) memiliki agenda setting untuk membentuk opini publik yang positif tentang perlawanan melawan penjajah. Akan tetapi, apa yang terjadi pada media massa kita saat ini? Semuanya tergantung pada pemilik modal.

Nah, pertanyaan saya sekarang, apa gambaran dalam kepala Anda saat kata INDONESIA disebut? (jat)

Catatan:
Mbak Je mohon maaf apabila ada kata-kata dan sikap yang tidak berkenan. Selamat menunaikan ibadah di bulan suci Ramadhan…

AARRGGHHH….!!!

Oh my God… what happen to me???

Duh, kenapa ya minggu ini perasaan bawaannya gak enak melulu, terutama soal pekerjaan. Entah mengapa kok motivasi kerja makin menurun aja nih? Padahal pas awal-awal semangat banged. Bisa jadi gara-gara beberapa orang yang resign dari kantor ini pas gue baru masuk. Jadi bertanya-tanya juga, ada apakah?

Meskipun gue berprinsip, mau kerja dimana pun pasti ada sisi positif dan negatifnya coz nobody’s perfect. Dan emang ini yang gue alami setelah beberapa kali pindah kerja. Pasti di perusaan ini ada positifnya,meskipun ada juga negatifnya. Begitu juga dengan perusahaan lain. So, gue sadar banget klo pindah kerja itu bukan jaminan juga akan mendapat yang lebih baik. Karena pada intinya, kenyamanan dan kesenangan itu ada dalam diri kita.

Back to my current job. Well, after being a book editor for about four months, I found that I don’t really fit with the job. Yup, rasanya gue gak cucok jadi editor buku deh. Dulu gue pikir editor buku kerjanya gak jauh beda dari editor majalah or koran. Ternyata…… Phew! Bayangin ajah, gue bisa tertidur waktu lagi ngedit buku!!!

Gue emang suka dengan dunia tulis-menulis. That’s why I used to be a reporter. Gue juga senang baca artikel/berita-berita menarik. Tapi ternyata…. mengedit buku adalah pekerjaan yang “membosankan”. Selain itu, terbukti kalau editan gue itu gak teliti!

Selain itu pula… gue baru menemukan keganjilan-keganjilan yang menurut gue gak fair. Sistem penggajian, for example. Awalnya sistem insentif yang diberikan gue pikir bakal membangun etos kerja yang baik dan positif. Tapi ternyata sistem itu justru menggerogoti perusahaan sendiri dan tidak cukup fair bagi karyawan.

Oh Lord…. what am I supposed to do? Should I quit from this job? Or should I stay here in order to make the company better?? Though a friend of mine has given up trying to make change here. He then also quit. So, should I quit too?

TRUBUS

“Beside books, what do you usually read?” asked the speaking test examiner during the speaking test.

“I usually read newspaper or magazine,” I said.

“What kind of newspaper?”

“Since I subscribe REPUBLIKA daily newspaper, so I usually read it…”

“And the magazine?”

“Magazine…ummmm (while hardly thought)…. I usually read TRUBUS…”

“TRUBUS????? Hahahaha….”

“??????… Actually, I’m in the same company group with TRUBUS…”

TRUBUS

“Beside books, what do you usually read?” asked the speaking test examiner during the speaking test.

“I usually read newspaper or magazine,” I said.

“What kind of newspaper?”

“Since I subscribe REPUBLIKA daily newspaper, so I usually read it…”

“And the magazine?”

“Magazine…ummmm (while hardly thought)…. I usually read TRUBUS…”

“TRUBUS????? Hahahaha….”

“??????… Actually, I’m in the same company group with TRUBUS…”

Accident

If I am asked about my unforgetable moment on duty, I would probably tell about accident on my way to cover a news.

It happened in February 2005 when I was a reporter at MQ FM Radio Bandung. I was assigned to cover Leuwigajah garbage slide in Cimahi, West Java, which killed more than 100 people lived near the dump site. It was actually my first duty as a radio reporter.

The path toward the location was semi off-road. So I had to take ojek (motorcycle taxi) to reach the exact location. The accident actually happened when I  got lift on the ojek. When the ojek driver speed up the motorcycle, my backpack’s rope was hooked with another motorcycle handle-bar which speed to the opposite way. Then I fell down from the motorcycle. My unhelmeted head hit the rocky road. Thank God my head was hard enough so it wasn’t crushed. I was very shocked, but fortunately I didn’t get serious injury or brain concussion.

Some local residences crowded around me. They thought I fainted, but I was totally conscious. I was just very shocked. So I didn’t make any movement for a while at that time. Some of them urged me to stay to their house, because they thought that I might be injured. I refused their offering. I told them that I was a reporter and had to gather news.

Afterwards, all the MQ FM crews didn’t know about the accident until I told them after I reported the live report news. My news director was very surprised and worried about me after knowing the accident. Indeed, I didn’t give up although I had been shocked by a motorcycle accident. 

Accident

If I am asked about my unforgetable moment on duty, I would probably tell about accident on my way to cover a news.

It happened in February 2005 when I was a reporter at MQ FM Radio Bandung. I was assigned to cover Leuwigajah garbage slide in Cimahi, West Java, which killed more than 100 people lived near the dump site. It was actually my first duty as a radio reporter.

The path toward the location was semi off-road. So I had to take ojek (motorcycle taxi) to reach the exact location. The accident actually happened when I got lift on the ojek. When the ojek driver speed up the motorcycle, my backpack’s rope was hooked with another motorcycle handle-bar which speed to the opposite way. Then I fell down from the motorcycle. My unhelmeted head hit the rocky road. Thank God my head was hard enough so it wasn’t crushed. I was very shocked, but fortunately I didn’t get serious injury or brain concussion.

Some local residences crowded around me. They thought I fainted, but I was totally conscious. I was just very shocked. So I didn’t make any movement for a while at that time. Some of them urged me to stay to their house, because they thought that I might be injured. I refused their offering. I told them that I was a reporter and had to gather news.

Afterwards, all the MQ FM crews didn’t know about the accident until I told them after I reported the live report news. My news director was very surprised and worried about me after knowing the accident. Indeed, I didn’t give up although I had been shocked by a motorcycle accident.

‘Mukjizat’

Tadi pagi sebuah sms mencengangkan di HP ibu membuatku gak berhenti geleng-geleng. “Mbak Woek, Anis baru aja dpt mukjizat dari Allah. Anis hamil!

Subhanallah… Alhamdulillah… Tante Anis, adik ibu yang berusia 47 tahun akhirnya dinyatakan positif hamil dua bulan. Setelah 20 tahun lebih usia pernikahannya, akhirnya ia hamil juga… masyaallah. Sungguh tidak ada yang mustahil bagi-Nya..

‘Mukjizat’

Tadi pagi sebuah sms mencengangkan di HP ibu membuatku gak berhenti geleng-geleng. “Mbak Woek, Anis baru aja dpt mukjizat dari Allah. Anis hamil!

Subhanallah… Alhamdulillah… Tante Anis, adik ibu yang berusia 47 tahun akhirnya dinyatakan positif hamil dua bulan. Setelah 20 tahun lebih usia pernikahannya, akhirnya ia hamil juga… masyaallah. Sungguh tidak ada yang mustahil bagi-Nya..