MUDIK

“Kasihan deh lo gak mudik,” ledek seorang teman.

“So what gitu loh?”

“Kasihan deh lo, orang laen pada mudik, elo enggak.”

Gue makin terheran-heran dengan ucapan orang satu ini. Emang kenapa gitu kalo gak mudik? Toh gue emang gak punya kewajiban mudik. Secara, nenek gue tinggal di Jakarta gitu loh.

“Makanya punya kampong biar bisa mudik,” omongannya makin menjadi-jadi. Gue jadi tambah heran, kenapa sih nih orang bangga banget dengan tradisi mudik yang setiap tahun selalu memakan korban jiwa. Malahan tiap tahun korbannya makin bertambah. Lagipula, ongkos transportasi selama musim libur Lebaran bisa berkali-kali lipat. Udah gitu perjalanan yang normalnya bisa ditempuh sekian jam, selama musim mudik ini bisa menjadi seharian. Bukankah fenomena mudik ini lebih banyak mudhorotnya ketimbang manfaatnya? Lihat saja ikhtilat antara laki-laki dan perempuan di tempat-tempat umum itu. Belum lagi peluang kejahatan makin menjadi, seperti pencopetan, pembiusan, dll. 

“Justru Alhamdulillah gue gak mudik. Gue gak perlu repot mikirin ongkos mudik. Gak perlu stress gara-gara macet di jalan yang nauzubillah. Gue gak perlu berdesak-desakan dalam kendaraan. Belum lagi resiko kecopetan di jalan atau malah kecelakaan,” akhirnya gue jawab aja tuh ledekan temen yang menurut gue lumayan nyolot juga.

“Justru di situ serunya.”

Halah…Halah… Emang dasar keras kepala ya nih bocah satu. Baru juga mudik ke Majalengka, belom mudik ke kampong akherat. Bukankah itu adalah mudik yang hakiki?

Depok, 25 sept 2008

MUDIK

“Kasihan deh lo gak mudik,” ledek seorang teman.

“So what gitu loh?”

“Kasihan deh lo, orang laen pada mudik, elo enggak.”

Gue makin terheran-heran dengan ucapan orang satu ini. Emang kenapa gitu kalo gak mudik? Toh gue emang gak punya kewajiban mudik. Secara, nenek gue tinggal di Jakarta gitu loh.

“Makanya punya kampong biar bisa mudik,” omongannya makin menjadi-jadi. Gue jadi tambah heran, kenapa sih nih orang bangga banget dengan tradisi mudik yang setiap tahun selalu memakan korban jiwa. Malahan tiap tahun korbannya makin bertambah. Lagipula, ongkos transportasi selama musim libur Lebaran bisa berkali-kali lipat. Udah gitu perjalanan yang normalnya bisa ditempuh sekian jam, selama musim mudik ini bisa menjadi seharian. Bukankah fenomena mudik ini lebih banyak mudhorotnya ketimbang manfaatnya? Lihat saja ikhtilat antara laki-laki dan perempuan di tempat-tempat umum itu. Belum lagi peluang kejahatan makin menjadi, seperti pencopetan, pembiusan, dll.

“Justru Alhamdulillah gue gak mudik. Gue gak perlu repot mikirin ongkos mudik. Gak perlu stress gara-gara macet di jalan yang nauzubillah. Gue gak perlu berdesak-desakan dalam kendaraan. Belum lagi resiko kecopetan di jalan atau malah kecelakaan,” akhirnya gue jawab aja tuh ledekan temen yang menurut gue lumayan nyolot juga.

“Justru di situ serunya.”

Halah…Halah… Emang dasar keras kepala ya nih bocah satu. Baru juga mudik ke Majalengka, belom mudik ke kampong akherat. Bukankah itu adalah mudik yang hakiki?

Depok, 25 sept 2008

The Quran Codes

Mengapa ayat pertama Surat Al Baqarah berbunyi “alif lam mim”?
Mengapa ayat pertama Surat Ali Imran berbunyi “alif lam mim”?
Mengapa ayat pertama Surat Yunus berbunyi “alim lam ra”?

Dalam sebagian besar keterangan dalam terjemahan Al Quran menyebutkan bahwa makna huruf-huruf tersebut hanya Allah yang tahu. Benarkah demikian? Jika memang itu rahasia Allah, mengapa Ia menyampaikan pesan tersebut kepada umat manusia?

“Inilah PR dari orang-orang tua kita dulu. Masalahnya mereka tidak buat PR. Kalau ditanya, orang-orang tua dulu cuma jawab bahwa itu rahasia Allah,” ujar KH Fahmi Basya, instruktur Sains Spiritual Quran (SSQ) dalam ceramahnya.

Jujur, awalnya aku sama sekali tidak tertarik dengan kajian yang diadakan di Masjid Raya At Tin ini. Lebih baik tilawah, pikirku. Ternyata, pertanyaan-pertanyaan di atas cukup mengganggu rasa penasaranku.

Mengapa surat-surat yang diawali dengan 3 huruf tunggal antara lain surat ke-2, 3, 11, ….?
Ternyata angka-angka surat tersebut membentuk suatu deret matematika yang kemudian memunculkan kode-kode yang sarat makna.

Subhanallah… mataku langsung tertarik pada penjelasan sang ustadz yang mempresentasikan materinya lengkap dengan in focus, layar, dan sound system. Aku seperti diajak menjelajahi kode-kode seperti dalam buku The Da Vinci Code.

Lewat penjelasan singkatnya, ada beberapa kode angka dalam Al Quran yang sering diulang-ulang, yaitu angka 6, 19, 23, 11, 19. Semua angka-angka itu merujuk pada angka 50 (gue lupa perhitungan matematisnya gimana. Red). Angka 50 ini tak lain adalah ‘waktu 50’, yaitu realitas waktu yang tengah kita jalani sekarang. Itulah sebabnya mengapa perintah sholat wajib pada awalnya adalah 50 waktu.

Intinya, Allah berbicara pada manusia lewat kode-kode angka ini. Al Quran yang terdiri dari 114 surat dan 632632 ayat ini sarat akan makna jika dibedah dari berbagai sisi. Subhanallah… Seketika itu juga, aku merasa menggenggam semesta. Al Quran mungil yang ada di tanganku saat itu berisi jutaan informasi tentang alam semesta, seperti kromosom manusia yang super mikroskopis yang berisi jutaan informasi/kode genetik seorang manusia

“Ini sudah jadi mata kuliah di UI lho!” ujar penulis buku best-seller Matematika Islam yang juga dosen matematika Islam di UIN Jakarta ini.

Subhanallah… aku jadi penasaran baca bukunya. Seharusnya buku ini lebih dahsyat dari The Da Vinci Codes.

The Quran Codes

Mengapa ayat pertama Surat Al Baqarah berbunyi “alif lam mim”?
Mengapa ayat pertama Surat Ali Imran berbunyi “alif lam mim”?
Mengapa ayat pertama Surat Yunus berbunyi “alim lam ra”?

Dalam sebagian besar keterangan dalam terjemahan Al Quran menyebutkan bahwa makna huruf-huruf tersebut hanya Allah yang tahu. Benarkah demikian? Jika memang itu rahasia Allah, mengapa Ia menyampaikan pesan tersebut kepada umat manusia?

“Inilah PR dari orang-orang tua kita dulu. Masalahnya mereka tidak buat PR. Kalau ditanya, orang-orang tua dulu cuma jawab bahwa itu rahasia Allah,” ujar KH Fahmi Basya, instruktur Sains Spiritual Quran (SSQ) dalam ceramahnya.

Jujur, awalnya aku sama sekali tidak tertarik dengan kajian yang diadakan di Masjid Raya At Tin ini. Lebih baik tilawah, pikirku. Ternyata, pertanyaan-pertanyaan di atas cukup mengganggu rasa penasaranku.

Mengapa surat-surat yang diawali dengan 3 huruf tunggal antara lain surat ke-2, 3, 11, ….?
Ternyata angka-angka surat tersebut membentuk suatu deret matematika yang kemudian memunculkan kode-kode yang sarat makna.

Subhanallah… mataku langsung tertarik pada penjelasan sang ustadz yang mempresentasikan materinya lengkap dengan in focus, layar, dan sound system. Aku seperti diajak menjelajahi kode-kode seperti dalam buku The Da Vinci Code.

Lewat penjelasan singkatnya, ada beberapa kode angka dalam Al Quran yang sering diulang-ulang, yaitu angka 6, 19, 23, 11, 19. Semua angka-angka itu merujuk pada angka 50 (gue lupa perhitungan matematisnya gimana. Red). Angka 50 ini tak lain adalah ‘waktu 50’, yaitu realitas waktu yang tengah kita jalani sekarang. Itulah sebabnya mengapa perintah sholat wajib pada awalnya adalah 50 waktu.

Intinya, Allah berbicara pada manusia lewat kode-kode angka ini. Al Quran yang terdiri dari 114 surat dan 632632 ayat ini sarat akan makna jika dibedah dari berbagai sisi. Subhanallah… Seketika itu juga, aku merasa menggenggam semesta. Al Quran mungil yang ada di tanganku saat itu berisi jutaan informasi tentang alam semesta, seperti kromosom manusia yang super mikroskopis yang berisi jutaan informasi/kode genetik seorang manusia

“Ini sudah jadi mata kuliah di UI lho!” ujar penulis buku best-seller Matematika Islam yang juga dosen matematika Islam di UIN Jakarta ini.

Subhanallah… aku jadi penasaran baca bukunya. Seharusnya buku ini lebih dahsyat dari The Da Vinci Codes.

Doa Para Nabi

Rating: ★★★★★
Category: Books
Genre: Childrens Books
Author: Zaenal A. Soedjari

Apa yang dilakukan Nabi Adam as setelah melanggar larangan Allah? Beliau berdoa mohon ampunan Allah swt. Apa yang dilakukan Nabi Musa as sebelum menghadapi Firaun yang keji? Beliau berdoa memohon pertolongan agar dimudahkan segala urusannya. Lalu, apa yang dilakukan Nabi Muhammad saw saat dilempari batu hingga berdarah oleh orang-orang kafir? Beliau mendoakan orang-orang kafir itu agar Allah swt mengampuni mereka.

Para manusia mulia yang telah dijamin surga oleh Allah swt ini tidak pernah berhenti berdoa. Doa-doa mereka bahkan diabadikan Allah swt dalam Al Qur’an, karena sarat akan hikmah. Tidak berlebihan kiranya jika kita sebagai orang tua memperkenalkan doa-doa para nabi sejak dini.

Bukan hendak melebih-lebihkan buku yang saya edit ini, tetapi buku ini layak menjadi koleksi bagi putra putri kita. Selain berisi kumpulan 20 doa yang ada dalam Al Qur’an, buku ini disajikan secara menarik dengan gambar yang penuh warna. Setiap doa disertai kisah yang melatarbelakangi lantunan doa tersebut. Sehingga anak-anak, bahkan kita, mudah memahami dan menghayati doa para nabi tersebut. Dengan demikian, diharapkan anak-anak lebih mudah menghafal doa-doa tersebut.

Yuk, kita rajin berdoa, seperti para nabi!

LITTLE STRUGGLE (continued)

(This writing is continued from this blog)

“Miss, I’m a BE-3 student. Do you know where the teacher is?” She then entered the teachers room. Five minutes later she came back to inform an unpleasant announcement.

“Because the students are only three, we are afraid that the class will not be opened.”

“What??” 

Latter on, I decided to take Presentation Skill class. Last Friday supposed to be the first day of the class. Since only five students participated in the class, so it was postponed until this Friday–that is today.

There are only five students until now! Perfect!! I’ll take the refund then. Finally I don’t take any English course for this term. It’s unpredictable actually. But thanks to Britzone English speaking community. I keep on practicing my English with this friendly community. Besides, it’s free of charge .

Ultimately, it’s only part of “my quest”. Just a little struggle to get scholarship. Wish me luck!

Scholarship Calendar 2008/2009

http://kalenderbeasiswa.com/calendar/

Membacaku

Membaca blog seorang teman membuatku berkaca. Thanks mpok atas sharing-mu yang cukup membuatku meneteskan air mata….

Aku seolah menghadapi situasi yang sama dengan temanku itu. Aku bisa merasakan kesedihannya, kepanikannya, dan rasa tertekan karena perasaan yang tak menentu. Aku sangat sangat mengerti bagaimana perasaannya campur aduk di saat ia harus bergulat dengan tesisnya di negeri orang—mengingat masa studi yang diberikan lembaga pemberi beasiswa tinggal beberapa bulan lagi—sementara ayahnya sedang sakit sehingga sempat menginap di ICU. Namun aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hening doa dan secuil kata-kata, “Sabar yaa..”

Mpok, membaca curhatmu membuatku membaca diriku sendiri. Hanya saja, mungkin aku jauh lebih beruntung darimu karena aku tidak pernah mencemaskan ayahku sebegitu rupa sepertimu. Tentu saja, karena ayahku sudah tenang di alam sana. Beliau pergi begitu cepat tanpa sempat mengucapkan kata berpisah. Karena itu, aku sangat sangat mengerti perasaanmu.

Bukannya aku ingin menakutimu. Tentu saja aku sangat berharap ayahmu pulih dan sehat kembali. Karena aku ingin kau pulang ke tanah air dengan senyum mengembang dan membawa gelar baru.

Aku hanya ingin berbagi. Rasa cemas dan takut itu manusiawi. Hanya saja, kita manusia tidak akan pernah luput dari suratan takdir-Nya. Itulah sebabnya Tuhan mengajarkan kita untuk ikhlas. Mungkin amat mudah diucapkan, tapi amat sulit melakukannya. Tetapi ikhlas dalam segala hal kudapati sebagai sebuah kunci dalam hidup ini. Aku jadi teringat pesan seorang bijak, “Hidup kita akan tenang jika skenario yang kita punya kita sesuaikan dengan skenario Tuhan.” Mungkin memang benar adanya, bahwa manusia yang merasa tertekan adalah mereka yang tidak bisa menerima kehendak Yang Maha Kuasa. Wallahi…

Yang pasti, kisahmu Mpok, cukup membuatku mempersiapkan diri untuk menghadapi situsasi yang sama seperti yang tengah engkau hadapi. Jujur saja, itu adalah kekhawatiran terbesarku. Aku yang tinggal seorang diri dengan ibuku seorang tentu memiliki ‘beban’ untuk selalu ada di sampingnya dan menjaganya.

Hhh… entahlah… Kadang jika teringat hal ini, keinginanku yang menggebu-gebu untuk meneruskan sekolah ke luar negeri menjadi sedikit surut, meskipun hati kecilku terus menggugat. Seandainya Tuhan mengabulkan keinginanku untuk sekolah di luar negeri dan seandainya terjadi hal buruk pada ibuku sementara aku berada amat jauh darinya, mungkin itu akan menjadi penyesalan terbesar seumur hidupku (na’udzubillahimindzalik… semoga hal itu tidak terjadi).

Seandainya… mungkin… apabila… jika… Semuanya hanya probabilitas. Aku tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Semuanya serba ghaib. Dan ternyata hal-hal ‘ghaib’ itu membuatku cemas tak menentu. Hal-hal yang belum tentu terjadi itu membuatku khawatir sehingga hati tidak tenang. Itulah sebabnya aku memutuskan untuk ‘nekat’.

“Bu, seandainya aku sekolah ke luar negeri gimana?” tanyaku suatu ketika.

“Ibu sih gak apa-apa. Malah ibu senang, apalagi kalau dapat beasiswa,” ujarnya bangga.

“Tapi kan nanti bakal jauh dari ibu.”

“Ibu gak apa-apa. Yang penting itu baik buat kamu.” Duh ibu, kau membuatku terharu.

Berbekal percakapan yang terus kurekam dalam benakku itu, aku mengukuhkan diri untuk berani melangkah. Tentu saja bukan karena aku tidak berbakti pada ibu atau ingin melarikan diri darinya. Tidak, sama sekali tidak! Justru akan menjadi penyesalan terbesar ibu jika aku tidak bisa menggapai mimpiku karena dirinya.

Aku selalu menangkap setitik sesal di mata ibu setiap beliau bercerita tentang kesempatannya mengikuti pertukaran pelajar ke Uni Soviet (saat itu) pupus lantaran larangan dari sang ayah (kakeku). Aku bersyukur memiliki ibu yang demokratis. Subhanallah… sungguh aku tidak akan pernah dapat membalas segala cintamu ibu…

Tentu aku tak akan pernah berani melangkah jika aku tidak yakin dan ikhlas pada suratan takdir-Nya yang penuh misteri. Dan aku tak mungkin bisa ikhlas jika tidak bisa memahami bahwa semua yang terjadi semata karena izin dan ridho-Nya. Bukankah sehelai daun yang jatuh ke bumi pun atas suratan takdir-Nya? Lalu, kenapa aku harus risau? Bukankah semua telah diatur oleh-Nya?

Perkara ajal, bukankah itu sudah ditetapkan saat usia kita masih 4 bulan dalam rahim ibu kita masing-masing? Bukankah semua yang hidup akan mati? Bahkan diriku sendiri. Hanya saja aku tak tahu kapan waktunya itu. Ah, itu semua urusan-Nya. Semua sudah diatur-Nya. Suratan takdir-Nya pastilah yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya.

Karena itu, aku hanya mohon keridhoan-Nya. Jika memang Ia ridho aku melanjutkan sekolah ke luar negeri dan terpisah jauh dari ibu, aku yakin itu yang terbaik. Namun jika tidak, tentu itu pula yang terbaik di mata-Nya… wallahua’lam bishawab.

Penebar Swadaya Publisher

http://www.penebar-swadaya.com
PT Penebar Swadaya (PS) is a book publisher established in 1980 by Bina Swadaya Foundation, and NGO concerned about community empowerment.

PS focuses on agriculture, education, skills, architecture, health, and life-style. We have published 1402 titles. You can find it more through this link. Enjoy!

Frankfurt Book Fair 2008

Start:      Oct 8, ’08
End:      Oct 13, ’08
Location:      Frankfurt, Germany

The biggest international annual book fair will be held at:

Ausstellungs- Und Messe GmbH
Reineckstrasse 3, 60313 Frankfurt, Germany
+49 69 21020