Makanan Spesifik

Coba perhatikan foto di samping!

Ini adalah foto kemasan makanan keripik jamur oleh-oleh dari Wonosobo. Jujur, semalam saya tertawa terbahak-bahak gara-gara sampul kemasan makanan ini.

Coba baca baik-baik tulisan yang tertera pada kemasan tersbut, terutama kata-kata “makanan spesifik”. Saya tidak habis pikir. Apa maksud dari frase “makanan spesifik”? Apakah maksudnya spesifik untuk camilan? teman makan nasi? atau spesifik dari Wonosobo?

Saya tidak tahu pasti kesalahan ada dimana. Apakah ini karena copy writer kemasan makanan tersebut tidak menguasai EYD atau memang saya yang tidak memahami konteks budaya di balik kemasan makanan ini…. Well, ada yang tahu?

Makanan Spesifik

Coba perhatikan foto di samping!

Ini adalah foto kemasan makanan keripik jamur oleh-oleh dari Wonosobo. Jujur, semalam saya tertawa terbahak-bahak gara-gara sampul kemasan makanan ini.

Coba baca baik-baik tulisan yang tertera pada kemasan tersbut, terutama kata-kata “makanan spesifik”. Saya tidak habis pikir. Apa maksud dari frase “makanan spesifik”? Apakah maksudnya spesifik untuk camilan? teman makan nasi? atau spesifik dari Wonosobo?

Saya tidak tahu pasti kesalahan ada dimana. Apakah ini karena copy writer kemasan makanan tersebut tidak menguasai EYD atau memang saya yang tidak memahami konteks budaya di balik kemasan makanan ini…. Well, ada yang tahu?

EUROPE ON SCREEN

Start:      Oct 25, ’08
End:      Nov 2, ’08
Location:      Erasmus Huis, Jl HR Rasuna Said Kav S-3, Jakarta

Europe on Screen Film Festival
26 October – 2 November 2007

EUROPE ON SCREEN

Screening of the films will be taken place at four European cultural centres in Indonesia: Goethe Haus, Erasmus Huis, CCF Jakarta and Istituto Italiano di Cultura. Screening of the films will also be held from 3 – 25 November 2007 in seven cities in Indonesia: Bandung, Medan, Aceh, Yogyakarta, Surabaya, Bali & Makassar.

Ticket/invitation (for free) can be obtained at least 30 minutes before the screenings take place.

Contactperson: Lulu Ratna/Veronica Kusuma, 021 – 2355 0208

Emailadres prakt1@jakarta.goethe.org

Screening at the Erasmus Huis

Saturday, 27 October

25 Degrés en Hiver 13.00

(25 Degrees in Winter)

Stéphane Vuillet. Belgium 2003. 92 min.

French with some dialogues in Spanish, Russian and Dutch

with English subtitles.

Externe link http://www.qfilmfestival.org

Peronika

Bowo Leksono. Indonesia 2004. 13 min.

Javanese with English subtitles.

En Garde 15.00

Aye Polat. Germany 2004. 94 min.

Kara, Anak Sebatang Pohon

(Kara, A Daughter of A Tree)

Edwin. Indonesia 2005. 9 min. Indonesian with English subtitles

Herkes Kendi Evinde 17.00

(Away from Home)

Semih Kaplanoglu. Turkey 2001. 110 min.

Turkish / English / Russian with English subtitles.

Tyttö sinä olet tähti 19.30

(Beauty and the Bastard)

Dome Karukoski. Finland 2005. 102 min.

Finnish with English subtitles.

Find a Beautiful Place

Vera Ita Lestafa & Dwiandhika Citrabudi Dharmapermana.

15 min. 2006. Indonesian.

Sunday, 28 October

Polleke 13.00

Ineke Houtman. Netherlands 2003. 95 min.

Dutch with English subtitles.

Metu Getih

Heru C. Wibowo. Indonesia 2006. 10 min.

Javanese with English subtitles.

Almost Adult 15.00

Yousaf Ali Khan. UK 2006. 75 min. English

Still Life

Ariani Darmawan & Hosanna Heinrich. 2006. 7 min.

fiction. Indonesian, French, Dutch, English

Zozo 17.00

Josef Fares. Sweden 2005. 103 min. Swedish/Arabic withEnglish subtitles.

Lisboetas (Lisboners) 19.30

Sérgio Tréfaut. Portugal 2004. 100 min.

Portuguese, Mandarin, Ukrainian, Russian, Romanian with English subtitles.

Monday, 29 October

No screening

Tuesday, 30 October

Lisboetas (Lisboners) 15.00

Sérgio Tréfaut. Portugal 2004. 100 min.

Portuguese, Mandarin, Ukrainian, Russian, Romanian with English subtitles.

Les Mauvais Jouers (Gamblers) 17.00

Frédéric Balekdjian. France 2005. 85 min.

French with English subtitles.

Your Learn is very God

Ivan Handoyo. Indonesia 2004. 3 min. English.

Extranjeras (Foreign Women) 19.30

Helena Taberna. Spain 2003. 75 min.

Spanish with English subtitles.

Indonesian Workers in England

Zeke Haris. 2004. 5 min.

Indonesian with English subtitles.

Wednesday, 31 October

A Porcelánbaba (The Porcelain Doll) 15.00

Péter Gárdos. Hungary 2005. 75 min.

Hongarian with English subtitles.

Across the Universe

Steven F. Winata. 2007. 15 min. Fiction.

Indonesian with English subtitles.

Vadászat angolokra 17.00

(Hunting for Englishmen)

Bertalan Bagó. Hungary 2005. 86 min.

Hongarian with English subtitles.

Djedjak Darah: Surat Teruntuk Adinda

(Blood Print: A Letter For Beloved)

M. Aprisiyanto. Indonesia 2004. 12 min.

Fiction. Javanese with English subtitles.

Best European Shorts 19.30

Various short films from the European countries.

11:59

Johan Kramer. Netherlands 2004. Short fiction.8 min.

Dutch with English subtitles.

A film that articulates nine nervous minutes in the life of Khalid, a teenage Morrocan boy. At 11.50am he makes a decision to return to school one last time for an encounter that will change his life forever. Shot in one take, 11.59 shows how long a short film can be.

League of Legends

Jeffrey Elmont. Netherlands 2004. Short fiction. 12 min.

Dutch with English subtitles.

The secret organization ‘League of Legends’ consists of legendary soccer players who select young players to give them the chance to proof their talent, through a secret test. Two young men, Lenny and Edward, are invited to participate and play a duel against each other. In a remote factory, they discover what it’s all about: passion

and love for the game…

Thursday, 1 November

Vidange Perdue (The Only One) 15.00

Geoffrey Enthoven. Belgium 2006. 88 min.

Dutch with English subtitles.

Klayaban

Farishad I. Latjuba. Indonesia 2005. 15 min.

Indonesian with English subtitles

Nous nous sommes tant haïs 17.00

(After Years of Hate)

Franck Apprédéris. European Commission. 2006. 120 min.

French and German with English subtitles.

Life and Lyrics 19.30

Richard Laxton. UK 2005. 75 min. English.

Free As a Bird

Dessy Darmayanti. Indonesia 2006. 8 min.

Indonesian with English subtitles

Free admission

Date: 26 October 2007 – 2 November 2007
Location

At 4 European cultural centres in Indonesia

klik
http://www.mfa.nl/erasmushuis/en/algemeen/events/europe_on_screen
http://www.itacultjkt.or.id/

AKHIRNYA AKU PUNYA PASPOR!!

Alhamdulillah… Akhirnya setelah sedikit berjuang dan meluangkan waktu pada jam dan hari kerja, akhirnya gue punya paspor!

Pastinya orang bertanya-tanya, “Emang mau kemana, Jat?”

Well, kalau ditanya mau kemana sih, ya maunya kemana-mana hehehe… But one for sure is, it is part of my struggle to STUDY ABROAD. Setidaknya kalau sudah punya paspor, kan kalau isi formulir pendaftaran sekolah/beasiswa gue bisa dengan mudah isi kolom “nomor paspor”. Atau kalau disuruh melampirkan foto copy paspor, gue udah punya kan.

Selain itu, kalau seandainya mendadak gue ditugasin kantor untuk keluar negeri, gue udah siap. Jadi, bikinnya juga gak terburu-buru, alih-alih menggunakan jasa calo yang memakan biaya berkali-kali lipat…..

FYI, normalnya bikin paspor itu paling lama 7 hari kerja, kecuali pake ‘surat sakti’ seperti surat keterangan dari lembaga pers (kalo kita wartawan) atau ketebelece dari ‘orang penting’. Biaya pembuatan pasor juga relatif tidak mahal kok. Buat yang pingin bikin paspor, inilah rinciannya (berdasarkan pengalaman saya mengurus paspor di kantor keimigrasian Jakarta Timur. Red):

1. Formulir permohonan pembuatan paspor         Rp    5.000

2. Paspor 48 hlm (paspor umum)                       Rp 200.000

3. Foto                                                            Rp   55.000

4. Sidik jari                                                      Rp   15.000

TOTAL                                                            Rp 275.000

Syarat-syaratnya juga mudah kok.  

Langkah 1
Isi formulir permohonan dengan lengkap, kemudian melampirkan foto kopi KTP, KK, akte kelahiran, ijazah terakhir. Serahkan formulir kepada petugas di loket. Nanti Anda akan diberikan tanda terima dan keterangan tanggal untuk wawancara, foto, dan pengambilan sidik jari.

Langkah 2
Kembali ke loket tempat Anda menyerahkan berkas permohonan. Lalu Anda difoto, diambil sidik jari tangan, dan diwawancara. Saat diwawancara, Anda akan diminta untuk menunjukkan dokumen asli (KTP, KK, akte lahir, ijazah). Jadi, saat wawancara jangan lupa bawa dokumen asli. Setelah itu membayar di kasir. Simpan struk pembayaran baik-baik. Karena struk itu akan digunakan sebagai bukti untuk pengambilan paspor. Biasanya paspor siap dalam 4 hari kerja.

Langkah 3
Mengambil paspor di loket pengambilan paspor. Tidak perlu bayar lagi! Oh ya, jangan lupa minta sampul paspor supaya paspor Anda tidak kotor. Beres deh !

AKHIRNYA AKU PUNYA PASPOR!!

Alhamdulillah… Akhirnya setelah sedikit berjuang dan meluangkan waktu pada jam dan hari kerja, akhirnya gue punya paspor!

Pastinya orang bertanya-tanya, “Emang mau kemana, Jat?”

Well, kalau ditanya mau kemana sih, ya maunya kemana-mana hehehe… But one for sure is, it is part of my struggle to STUDY ABROAD. Setidaknya kalau sudah punya paspor, kan kalau isi formulir pendaftaran sekolah/beasiswa gue bisa dengan mudah isi kolom “nomor paspor”. Atau kalau disuruh melampirkan foto copy paspor, gue udah punya kan.

Selain itu, kalau seandainya mendadak gue ditugasin kantor untuk keluar negeri, gue udah siap. Jadi, bikinnya juga gak terburu-buru, alih-alih menggunakan jasa calo yang memakan biaya berkali-kali lipat…..

FYI, normalnya bikin paspor itu paling lama 7 hari kerja, kecuali pake ‘surat sakti’ seperti surat keterangan dari lembaga pers (kalo kita wartawan) atau ketebelece dari ‘orang penting’. Biaya pembuatan pasor juga relatif tidak mahal kok. Buat yang pingin bikin paspor, inilah rinciannya (berdasarkan pengalaman saya mengurus paspor di kantor keimigrasian Jakarta Timur. Red):

1. Formulir permohonan pembuatan paspor Rp 5.000

2. Paspor 48 hlm (paspor umum) Rp 200.000

3. Foto Rp 55.000

4. Sidik jari Rp 15.000

TOTAL Rp 275.000

Syarat-syaratnya juga mudah kok.

Langkah 1
Isi formulir permohonan dengan lengkap, kemudian melampirkan foto kopi KTP, KK, akte kelahiran, ijazah terakhir. Serahkan formulir kepada petugas di loket. Nanti Anda akan diberikan tanda terima dan keterangan tanggal untuk wawancara, foto, dan pengambilan sidik jari.

Langkah 2
Kembali ke loket tempat Anda menyerahkan berkas permohonan. Lalu Anda difoto, diambil sidik jari tangan, dan diwawancara. Saat diwawancara, Anda akan diminta untuk menunjukkan dokumen asli (KTP, KK, akte lahir, ijazah). Jadi, saat wawancara jangan lupa bawa dokumen asli. Setelah itu membayar di kasir. Simpan struk pembayaran baik-baik. Karena struk itu akan digunakan sebagai bukti untuk pengambilan paspor. Biasanya paspor siap dalam 4 hari kerja.

Langkah 3
Mengambil paspor di loket pengambilan paspor. Tidak perlu bayar lagi! Oh ya, jangan lupa minta sampul paspor supaya paspor Anda tidak kotor. Beres deh !

Pesta Blogger 2008

Start:      Nov 22, ’08
Location:      Gd. BPPT II, lantai 3, Jl. MH. Thamrin Jakarta

SEKRETARIAT PESTA BLOGGER 2008
Jl. Balitung III no. 8, Senopati Keb. Baru – Jkt 12110
Ph. +62 21 727 898 33 Fx. +62 21 727 898 34 E: hanny@maverick.co.id
http://pestablogger.com/

SIARAN PERS: PESTA BLOGGER 2008

Muhammad Nuh: “Blogger punya kontribusi positif terhadap masyarakat.”

Pada tahun 2008 ini, Pesta Blogger sebagai ajang temu nasional blogger terbesar di Indonesia akan memperlihatkan bagaimana para blogger dan komunitasnya masing-masing dapat memainkan peran konstruktif di tengah masyarakat. Pesta Blogger 2008 ini rencananya akan digelar pada hari Sabtu, 22 November 2008 mendatang di Gd. BPPT II, lantai 3, Jl. MH. Thamrin
8, Jakarta.

“Tema Pesta Blogger 2008 adalah “blogging for society” atau nge-blog untuk masyarakat. Beberapa bulan belakangan ini, para blogger dan komunitas blogger dari berbagai daerah di Indonesia juga telah menyelenggarakan berbagai aktivitas sosial untuk memberikan kontribusi positif bagi masyarakat di
sekitarnya,” ujar Wicaksono, Ketua Panitia Pesta Blogger 2008.

Jika tahun lalu Pesta Blogger yang pertama menarik perhatian lebih dari 500 blogger dan peminat blog dari seluruh Indonesia, tahun ini Panitia Penyelenggara telah bersiap diri untuk mengantisipasi jumlah
peserta hingga dua kali lipat, yaitu 1,000 orang.

“Seiring dengan semakin populernya blog di Indonesia, para blogger juga memiliki pengaruh yang lebih besar di tengah masyarakat,” tambah Wicaksono. “Di Bali, Makassar, Jogjakarta, dan Jakarta, misalnya, komunitas blogger di daerah-daerah tersebut telah memulai aktivitas sosial yang melibatkan sekolah,
rumah sakit jiwa, sampai mengumpulkan buku-buku untuk anak-anak yang kurang mampu. Ini merupakan perkembangan yang sangat menggembirakan, sekaligus positif.”

Hingga saat ini, terdapat lebih dari 300 ribu blogger di Indonesia, dari angka 150 ribu yang tercatat pada Pesta Blogger tahun lalu. Hal ini tentunya menunjukkan pertumbuhan blog yang sangat pesat.

Pesta Blogger sendiri digelar sebagai forum alternatif bagi para blogger di Indonesia untuk bertemu muka secara langsung, saling bertukar informasi dan memicu diskusi, serta memperluas jaringan—agar ke depannya mereka dapat bekerja sama untuk melakukan hal-hal positif yang mampu memberikan
dampak yang lebih besar terhadap masyarakat.

Dengan dukungan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI, Pesta Blogger 2008 juga menambah rangkaian aktivitasnya dengan mengundang beberapa blogger dari mancanegara untuk mengunjungi Bali dan Jogjakarta dalam sebuah blogging trip; sebelum bergabung dalam ajang Pesta Blogger 2008 di Jakarta
pada 22 November. Dalam blogging trip ini, para blogger mancanegara akan berbagi kesan mereka terhadap potensi pariwisata Indonesia serta komunitas blogger yang mereka temui dalam perjalanan melalui blog mereka masing-masing.

Tahun ini Pesta Blogger 2008 juga meluncurkan kompetisi foto; di mana para peminat fotografi diminta untuk menerjemahkan tema “blogging for society” dari balik lensa kamera. “Dengan semakin berkembangnya fasilitas photoblogging yang ada, kami juga ingin turut memperkenalkan blog terhadap komunitas fotografi di Indonesia. Itulah sebabnya ajang ini terbuka bagi para blogger maupun nonblogger yang gemar memotret,” tambah Iman Brotoseno, Penanggung jawab Pesta Blogger Photo Contest 2008.

PRINCESS AL GHUMAISHA

Once upon a time in a far desert land of Arabian Peninsula. There was a beautiful princess named Al Ghumaisha. She married to a brave and handsome prince named Malik bin An-Nadhr. They loved each other. They had a son named Sulaim. That was why Al Ghumaisha was also called ‘Ummu Sulaim’ (mother of Sulaim).

Even tough Ummu Sulaim and Malik bin An-Nadhr loved each other, they loved Allah more than anything in the world. They both praised Allah, because they realized that Allah had created all creatures and beautiful scenery in the world. They also realized that their love was blessed by Allah. That was why Malik An-Nadhr didn’t hesitate to wage war. He fought the enemies bravely in the name of Allah.

Unfortunately, Malik An-Nadhr was killed in the battle. Ummu Sulaim was upset for that. But she didn’t too sad, because she knew that her husband were still alive in the heaven. Everyday she prayed for her Malik An-Nadhr to Allah.

Knowing that Ummu Sulaim had been a widow, every man on that land wanted to marry her. Her beauty and her beautiful manner had attracted all men, including Abu Thalhah. Abu Thalhah was a brave warrior. He was a great archer. He was kind, handsome, and rich too. He loved Ummu Sulaim deeply. So then, he proposed Ummu Sulaim.

Ummu Sulaim then fell in love with Abu Thalhah. She wanted to be her wife. But unfortunately, Abu Thalhah was not a Moslem. He didn’t praise Allah. He worshiped sculptures. Ummu Sulaim couldn’t marry him, unless he became a Moslem. Then, Ummu Sulaim asked for a requirement. Abu Thalhah could marry her if he became a Moslem. “I ask your faith to Allah as a gift for our wedding,” said Ummu Sulaim.

For his true love, Abu Thalhah did anything to marry beautiful Ummu Sulaim. He then learnt much about Islam and being a Moslem. Finally, he praised Allah. He said, “I vow that no God but Allah and Muhammad is His messenger.” Ummu Sulaim was very happy to hear that. Then they married and lived happily ever after.

 ~ THE END ~ 


Al Ghumaisha, Putri Cantik Yang Mencintai Allah

Pada zaman dahulu kala di Jazirah Arab hidup seorang wanita cantik jelita bernama Al Ghumaisha. Ia menikah dengan seorang ksatria tampan dan gagah berani bernama Malik bin An-Nadhr. Keduanya saling mencintai. Mereka kemudian dikaruiniai seorang anak bernama Sulaim. Sejak itu, Al Ghumaisha dipanggil „Ummu Sulaim“ yang berarti ibu dari Sulaim.

Meskipun Ummu Sulaim dan Malik bin An-Nadhr saling mencintai, namun cinta mereka pada Allah SWT jauh lebih dalam. Mereka berdua beriman kepada Tuhan Pencipta alam semesta dan segala isinya, yaitu Allah SWT. Karena cintanya kepada Allah, Malik bin An-Nadhr tidak takut terjun ke medan perang untuk melawan musuh.

Pada suatu ketika, Malik An-Nadhr gugur di medan perang. Ummu Sulaim bersedih atas kepergian suami tercintanya. Namun kesedihan Ummu Sulaim tidaklah begitu mendalam, karena ia yakin bahwa suaminya telah berada di surga.

Kabar gugurnya suami Ummu Sulaim tersebar ke seluruh Jazirah Arab. Semua orang tahu bahwa Ummu Sulaim telah menjanda. Maka hampir semua pria  di Jazirah Arab ingin menikahi Ummu Sulaim. Mereka terpesona dengan kecantikan dan keluhuran budi Ummu Sulaim, termasuk Abu Thalhah.

Abu Thalhah adalah seorang ksatria pemberani. Ia seorang pemanah ulung yang kaya raya. Wajahnya tampan dan baik hatinya. Ia sangat mencintai Ummu Sulaim. Kemudian Abu Thalhah melamar Ummu Sulaim.

Ummu Sulaim pun jatuh cinta pada Abu Thalhah. Namun sayangnya Abu Thalhah belum beriman pada Allah SWT. Saat itu, Abu Thalhah masih menyembah berhala. Akhirnya, Ummu Sulaim mengajukan syarat pada Abu Thalhah. “Wahai Abu Thalhah, aku bersedia menjadi istrimu, jika engkau beriman pada Allah SWT dan rasul-Nya,” ujar Ummu Sulaim.

Demi cintanya, Abu Thalhah menyanggupi syarat itu. Akhirnya Abu Thalhah mengucapkan dua kalimat syahadat dan menjadi seorang muslim. Ummu Sulaim dan Abu Thalhah pun menikah. Mereka hidup bahagia selamanya.

~ TAMAT ~

PRINCESS AL GHUMAISHA

Once upon a time in a far desert land of Arabian Peninsula. There was a beautiful princess named Al Ghumaisha. She married to a brave and handsome prince named Malik bin An-Nadhr. They loved each other. They had a son named Sulaim. That was why Al Ghumaisha was also called ‘Ummu Sulaim’ (mother of Sulaim).

Even tough Ummu Sulaim and Malik bin An-Nadhr loved each other, they loved Allah more than anything in the world. They both praised Allah, because they realized that Allah had created all creatures and beautiful scenery in the world. They also realized that their love was blessed by Allah. That was why Malik An-Nadhr didn’t hesitate to wage war. He fought the enemies bravely in the name of Allah.

Unfortunately, Malik An-Nadhr was killed in the battle. Ummu Sulaim was upset for that. But she didn’t too sad, because she knew that her husband were still alive in the heaven. Everyday she prayed for her Malik An-Nadhr to Allah.

Knowing that Ummu Sulaim had been a widow, every man on that land wanted to marry her. Her beauty and her beautiful manner had attracted all men, including Abu Thalhah. Abu Thalhah was a brave warrior. He was a great archer. He was kind, handsome, and rich too. He loved Ummu Sulaim deeply. So then, he proposed Ummu Sulaim.

Ummu Sulaim then fell in love with Abu Thalhah. She wanted to be her wife. But unfortunately, Abu Thalhah was not a Moslem. He didn’t praise Allah. He worshiped sculptures. Ummu Sulaim couldn’t marry him, unless he became a Moslem. Then, Ummu Sulaim asked for a requirement. Abu Thalhah could marry her if he became a Moslem. “I ask your faith to Allah as a gift for our wedding,” said Ummu Sulaim.

For his true love, Abu Thalhah did anything to marry beautiful Ummu Sulaim. He then learnt much about Islam and being a Moslem. Finally, he praised Allah. He said, “I vow that no God but Allah and Muhammad is His messenger.” Ummu Sulaim was very happy to hear that. Then they married and lived happily ever after.

~ THE END ~


Al Ghumaisha, Putri Cantik Yang Mencintai Allah

Pada zaman dahulu kala di Jazirah Arab hidup seorang wanita cantik jelita bernama Al Ghumaisha. Ia menikah dengan seorang ksatria tampan dan gagah berani bernama Malik bin An-Nadhr. Keduanya saling mencintai. Mereka kemudian dikaruiniai seorang anak bernama Sulaim. Sejak itu, Al Ghumaisha dipanggil „Ummu Sulaim“ yang berarti ibu dari Sulaim.

Meskipun Ummu Sulaim dan Malik bin An-Nadhr saling mencintai, namun cinta mereka pada Allah SWT jauh lebih dalam. Mereka berdua beriman kepada Tuhan Pencipta alam semesta dan segala isinya, yaitu Allah SWT. Karena cintanya kepada Allah, Malik bin An-Nadhr tidak takut terjun ke medan perang untuk melawan musuh.

Pada suatu ketika, Malik An-Nadhr gugur di medan perang. Ummu Sulaim bersedih atas kepergian suami tercintanya. Namun kesedihan Ummu Sulaim tidaklah begitu mendalam, karena ia yakin bahwa suaminya telah berada di surga.

Kabar gugurnya suami Ummu Sulaim tersebar ke seluruh Jazirah Arab. Semua orang tahu bahwa Ummu Sulaim telah menjanda. Maka hampir semua pria di Jazirah Arab ingin menikahi Ummu Sulaim. Mereka terpesona dengan kecantikan dan keluhuran budi Ummu Sulaim, termasuk Abu Thalhah.

Abu Thalhah adalah seorang ksatria pemberani. Ia seorang pemanah ulung yang kaya raya. Wajahnya tampan dan baik hatinya. Ia sangat mencintai Ummu Sulaim. Kemudian Abu Thalhah melamar Ummu Sulaim.

Ummu Sulaim pun jatuh cinta pada Abu Thalhah. Namun sayangnya Abu Thalhah belum beriman pada Allah SWT. Saat itu, Abu Thalhah masih menyembah berhala. Akhirnya, Ummu Sulaim mengajukan syarat pada Abu Thalhah. “Wahai Abu Thalhah, aku bersedia menjadi istrimu, jika engkau beriman pada Allah SWT dan rasul-Nya,” ujar Ummu Sulaim.

Demi cintanya, Abu Thalhah menyanggupi syarat itu. Akhirnya Abu Thalhah mengucapkan dua kalimat syahadat dan menjadi seorang muslim. Ummu Sulaim dan Abu Thalhah pun menikah. Mereka hidup bahagia selamanya.

~ TAMAT ~

TEROR EKONOMI – INDIKATOR PALSU IHSG

TEROR EKONOMI – INDIKATOR PALSU IHSG    
Pernahkah Anda menyaksikan film di mana banyak orang terbirit-birit ditodong perampok? Film tersebut ternyata drama komedi. Si penodong adalah seorang ayah yang kepepet karena anaknya sakit, dan senjata yang digunakan adalah pistol kosong tanpa peluru. Komedi itu sedang terjadi di banyak negara, termasuk Indonesia. Terorisnya adalah bursa saham, pistol kosongnya adalah indeks harga, korbannya adalah investor yang tak pernah berpikir soal pistol kosong, penontonnya adalah kita semua yang tegang karena, seperti umumnya penonton yang “baik”, mengidentifikasikan diri sebagai korban.

Teror itu datang ketika indeks-indeks harga saham di berbagai bursa, praktis di seluruh muka bumi ini, berjatuhan. Kolaps masal itu terjadi karena indeks saham-saham unggulan di altar bursa saham dunia, New York Stock Exchange, terjun bebas. Ada banyak penjelasan yang cukup masuk akal mengapa indeks Dow Jones Industrial Average terpuruk, tapi sulit mencari penjelasan yang sama terkait dengan indeks di bursa-bursa lain, kecuali karena alasan panik dan takut — efek psikologis utama orang-orang yang terteror. Di Indonesia kondisinya sama saja. Indeks-indeks bursa utama dunia menjadi teror tersendiri bagi sebagian investor, yang kemudian melakukan panic selling yang membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menukik tajam, dan teror yang lebih massif pun terjadi.

Indeks dibuat untuk dijadikan indikator pergerakan harga saham di satu bursa efek. Tetapi orang sering tak lagi membacanya sebagai sekadar indikator harga, tetapi sebagai indikator bursa. Sekilas tidak ada masalah di sana. Tetapi pergeseran tersebut bukan hanya secara teori tidak benar melainkan juga berbahaya. Sesuai dengan namanya, indeks (khususnya IHSG) hanya menjadi indikator harga, padahal secara teori bursa tidak bisa hanya dilihat dari sisi harganya, karena di sana masih ada banyak variabel lain seperti investor (siapa saja mereka dan berapa jumlahnya) serta nilai dan volume transaksi.

Potensi penyesesatan indeks (mari kita spesifikkan ke IHSG) bisa dilihat dengan contoh hipotetis ekstrim berikut. Karena mempunyai nilai kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia, saham Telkom memiliki kontribusi terbesar terhadap IHSG. Artinya setiap pergerakan harga saham Telkom besar sekali perannya terhadap perubahan IHSG. Sepanjang hari ini, misalnya Senin, saham tersebut sangat aktif diperdagangkan, melibatkan banyak investor dalam dan luar negeri, dengan volume transaksi yang sangat besar pula. Katakan saja sepanjang hari itu harga saham bergerak pada rentang Rp 8.000 – Rp8.200. Kalau sampai penutupan pasar terus bergerak seperti itu, dan harga-harga saham lain juga kurang lebih demikian, maka IHSG hari itu akan naik atau turun, katakan saja sekitar 1%-2%. Tetapi apa yang akan terjadi kalau sedetik sebelum penutupan ada satu transaksi super kecil oleh investor iseng, misalnya satu lot, dengan harga Rp10.000, dan itu menjadi transaksi terakhir hari itu? Tak pelak lagi, IHSG hari itu bisa melejit di atas 10%. Sebaliknya kalau ada yang melakukan hal yang sama pada harga Rp 6.000, maka IHSG berpotensi jatuh di atas 10%. Intinya, secara teori, (1) harga saham satu perusahaan bisa digerakkan oleh pemicu kecil, dan (2), pergerakan harga satu saham bisa menggerakkan indeks secara dramatis.

Mungkin Anda mengatakan itu contoh konyol yang tidak mungkin terjadi. Tak apa, karena bukan contohnya yang penting, melainkan logika di baliknya. Yang lebih mungkin begini. Hari ini investor-investor besar memilih parkir, karena pasar sedang tidak menentu. Tapi pasar sibuk luar biasa oleh investor kecil yang panik. Coba jual di angka Rp8.000 nggak laku, maka dia obral, di angka Rp7.500. Tak lama kemudian harga segitu sudah tidak laku, maka mulai ditawarkan di bawahnya lagi dan seterusnya. Mengapa begitu? Karena orang panik, kemudian melakukan apa yang namanya cut loss (daripada kerugiannya berdarah-darah).

Hal seperti ini bukan hanya benar secara teori, tetapi itulah yang terjadi paling tidak di Bursa Efek Indonesia. Pada pekan kerontokan indeks (5-8 Oktober), volume dan nilai transaksi di BEJ sangat kecil dibanding biasanya. Pada tanggal 7 Oktober misalnya, nilai transaksi hanya sekitar Rp2 triliun, padahal pada 7 September mencapai Rp8 triliun. Bahkan pada 8 Oktober, nilai transaksi di BEI hanya dalam hitungan ratusan miliar saja. Yang mengerikan adalah bahwa sekecil apa pun nilai transaksinya, sesedikit apa pun yang melakukan transaksi, faktanya hal itulah yang membuat indeks harga saham terjungkal. Sialnya lagi, terjungkalnya indeks membuat semua orang seperti terteror bahwa ekonomi berada dalam bencana. Padahal (1) membaca indeks sebagai satu-satunya indikator sudah tidak tidak tepat, di samping itu (2) faktanya indeks jeblok lebih karena faktor psikologi massa.

Jadi ekonomi Indonesia baik-baik saja? Bursa kita baik-baik saja? Bukan itu soalnya. Soalnya adalah, marilah kita bersikap lebih proporsional dalam menyikapi keadaan. Yang de facto jeblok saat ini adalah ekonomi Amerika. Pengaruh langsung pada Indonesia adalah kemungkinan turunnya ekspor Indonesia ke negeri itu. Ekspor ke Eropa juga mungkin akan berkurang, karena Eropa sangat terpukul oleh krisis ekonomi di Amerika, karena ada hubungan yang lebih langsung terkait dengan saling-silang modal di kedua benua. Jadi, akan terkena pengaruh langsung adalah perusahaan-perusahaan Indonesia yang mempunyai ekspor ke Amerika atau ke Eropa. Tetapi jangan lupa bahwa Eropa Timur, Timur Tengah, Sub Sahara dan Amerika Latin relatif terisolasi dari krisis ini, sehingga ekspor ke kawasan itu masih akan bertahan dan bisa ditingkatkan.

Kedua, tidak semua produk ekspor Indonesia diekspor ke Amerika atau Eropa. Ada begitu banyak produk, terutama komoditas primer (belum diolah), yang pasar ekspor utamanya adalah justru negara-negara Asia, Eropa Timur, Afrika atau Amerika Latin. Sementara itu krisis ini sendiri “hanya sekadar” mengurangi ekspor ke Amerika dan Eropa. Jadi, ekspor tetap akan jalan, walaupun pertumbuhannya (bukan ekspornya) akan menurun (slowdown).

Alasan ketiga untuk lebih proporsional adalah bahwa pasar dalam negeri Indonesia luar biasa besarnya, hanya dikalahkan oleh Cina, India dan Amerika Serikat. Artinya, sejauh pemerintah dan Bank Indonesia mampu menciptakan kondisi yang memungkinkan, pasar dalam negeri akan menjadi peredam kejut (shock-breaker) yang cukup efektif. Modal itu itu ada. Total dana masyarakat dalam sistem perbankan kita lebih dari seribu triliun rupiah. Sementara itu dana nganggur di Bank Indonesia dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia jumlahnya lebih dari seratus triliun. Hanya tinggal pilihan Bank Indonesia untuk mempermudah kredit (bunga rendah) atau mempersulit kredit (bunga tinggi). [Pilihannya “sederhana”, kalau bunga rendah memang ada bahaya inflasi, tapi ekonomi jalan. Sementara kalau bunga tinggi inflasi memang rendah, tapi ekonomi mandek.]

Jadi apa poinnya? Sederhana saja: tak usah terlalu panik. Memang ada persoalan, tapi tak sedahsyat yang kita bayangkan. Memang ada teroris, dan teroris itu membawa pistol. Tapi saya optimis itu pistol kosong, dan yang lebih pasti teroris itu tak membawa bom atau senapan mesin. Dan perlu diingat, teroris mencatat sukses pertama tepat ketika kita mulai merasa takut. (Her Suharyanto, http://www.jurutulis.com)

diambil dari http://www.pembelajar.com

TEROR EKONOMI – INDIKATOR PALSU IHSG

TEROR EKONOMI – INDIKATOR PALSU IHSG
Pernahkah Anda menyaksikan film di mana banyak orang terbirit-birit ditodong perampok? Film tersebut ternyata drama komedi. Si penodong adalah seorang ayah yang kepepet karena anaknya sakit, dan senjata yang digunakan adalah pistol kosong tanpa peluru. Komedi itu sedang terjadi di banyak negara, termasuk Indonesia. Terorisnya adalah bursa saham, pistol kosongnya adalah indeks harga, korbannya adalah investor yang tak pernah berpikir soal pistol kosong, penontonnya adalah kita semua yang tegang karena, seperti umumnya penonton yang “baik”, mengidentifikasikan diri sebagai korban.

Teror itu datang ketika indeks-indeks harga saham di berbagai bursa, praktis di seluruh muka bumi ini, berjatuhan. Kolaps masal itu terjadi karena indeks saham-saham unggulan di altar bursa saham dunia, New York Stock Exchange, terjun bebas. Ada banyak penjelasan yang cukup masuk akal mengapa indeks Dow Jones Industrial Average terpuruk, tapi sulit mencari penjelasan yang sama terkait dengan indeks di bursa-bursa lain, kecuali karena alasan panik dan takut — efek psikologis utama orang-orang yang terteror. Di Indonesia kondisinya sama saja. Indeks-indeks bursa utama dunia menjadi teror tersendiri bagi sebagian investor, yang kemudian melakukan panic selling yang membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menukik tajam, dan teror yang lebih massif pun terjadi.

Indeks dibuat untuk dijadikan indikator pergerakan harga saham di satu bursa efek. Tetapi orang sering tak lagi membacanya sebagai sekadar indikator harga, tetapi sebagai indikator bursa. Sekilas tidak ada masalah di sana. Tetapi pergeseran tersebut bukan hanya secara teori tidak benar melainkan juga berbahaya. Sesuai dengan namanya, indeks (khususnya IHSG) hanya menjadi indikator harga, padahal secara teori bursa tidak bisa hanya dilihat dari sisi harganya, karena di sana masih ada banyak variabel lain seperti investor (siapa saja mereka dan berapa jumlahnya) serta nilai dan volume transaksi.

Potensi penyesesatan indeks (mari kita spesifikkan ke IHSG) bisa dilihat dengan contoh hipotetis ekstrim berikut. Karena mempunyai nilai kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia, saham Telkom memiliki kontribusi terbesar terhadap IHSG. Artinya setiap pergerakan harga saham Telkom besar sekali perannya terhadap perubahan IHSG. Sepanjang hari ini, misalnya Senin, saham tersebut sangat aktif diperdagangkan, melibatkan banyak investor dalam dan luar negeri, dengan volume transaksi yang sangat besar pula. Katakan saja sepanjang hari itu harga saham bergerak pada rentang Rp 8.000 – Rp8.200. Kalau sampai penutupan pasar terus bergerak seperti itu, dan harga-harga saham lain juga kurang lebih demikian, maka IHSG hari itu akan naik atau turun, katakan saja sekitar 1%-2%. Tetapi apa yang akan terjadi kalau sedetik sebelum penutupan ada satu transaksi super kecil oleh investor iseng, misalnya satu lot, dengan harga Rp10.000, dan itu menjadi transaksi terakhir hari itu? Tak pelak lagi, IHSG hari itu bisa melejit di atas 10%. Sebaliknya kalau ada yang melakukan hal yang sama pada harga Rp 6.000, maka IHSG berpotensi jatuh di atas 10%. Intinya, secara teori, (1) harga saham satu perusahaan bisa digerakkan oleh pemicu kecil, dan (2), pergerakan harga satu saham bisa menggerakkan indeks secara dramatis.

Mungkin Anda mengatakan itu contoh konyol yang tidak mungkin terjadi. Tak apa, karena bukan contohnya yang penting, melainkan logika di baliknya. Yang lebih mungkin begini. Hari ini investor-investor besar memilih parkir, karena pasar sedang tidak menentu. Tapi pasar sibuk luar biasa oleh investor kecil yang panik. Coba jual di angka Rp8.000 nggak laku, maka dia obral, di angka Rp7.500. Tak lama kemudian harga segitu sudah tidak laku, maka mulai ditawarkan di bawahnya lagi dan seterusnya. Mengapa begitu? Karena orang panik, kemudian melakukan apa yang namanya cut loss (daripada kerugiannya berdarah-darah).

Hal seperti ini bukan hanya benar secara teori, tetapi itulah yang terjadi paling tidak di Bursa Efek Indonesia. Pada pekan kerontokan indeks (5-8 Oktober), volume dan nilai transaksi di BEJ sangat kecil dibanding biasanya. Pada tanggal 7 Oktober misalnya, nilai transaksi hanya sekitar Rp2 triliun, padahal pada 7 September mencapai Rp8 triliun. Bahkan pada 8 Oktober, nilai transaksi di BEI hanya dalam hitungan ratusan miliar saja. Yang mengerikan adalah bahwa sekecil apa pun nilai transaksinya, sesedikit apa pun yang melakukan transaksi, faktanya hal itulah yang membuat indeks harga saham terjungkal. Sialnya lagi, terjungkalnya indeks membuat semua orang seperti terteror bahwa ekonomi berada dalam bencana. Padahal (1) membaca indeks sebagai satu-satunya indikator sudah tidak tidak tepat, di samping itu (2) faktanya indeks jeblok lebih karena faktor psikologi massa.

Jadi ekonomi Indonesia baik-baik saja? Bursa kita baik-baik saja? Bukan itu soalnya. Soalnya adalah, marilah kita bersikap lebih proporsional dalam menyikapi keadaan. Yang de facto jeblok saat ini adalah ekonomi Amerika. Pengaruh langsung pada Indonesia adalah kemungkinan turunnya ekspor Indonesia ke negeri itu. Ekspor ke Eropa juga mungkin akan berkurang, karena Eropa sangat terpukul oleh krisis ekonomi di Amerika, karena ada hubungan yang lebih langsung terkait dengan saling-silang modal di kedua benua. Jadi, akan terkena pengaruh langsung adalah perusahaan-perusahaan Indonesia yang mempunyai ekspor ke Amerika atau ke Eropa. Tetapi jangan lupa bahwa Eropa Timur, Timur Tengah, Sub Sahara dan Amerika Latin relatif terisolasi dari krisis ini, sehingga ekspor ke kawasan itu masih akan bertahan dan bisa ditingkatkan.

Kedua, tidak semua produk ekspor Indonesia diekspor ke Amerika atau Eropa. Ada begitu banyak produk, terutama komoditas primer (belum diolah), yang pasar ekspor utamanya adalah justru negara-negara Asia, Eropa Timur, Afrika atau Amerika Latin. Sementara itu krisis ini sendiri “hanya sekadar” mengurangi ekspor ke Amerika dan Eropa. Jadi, ekspor tetap akan jalan, walaupun pertumbuhannya (bukan ekspornya) akan menurun (slowdown).

Alasan ketiga untuk lebih proporsional adalah bahwa pasar dalam negeri Indonesia luar biasa besarnya, hanya dikalahkan oleh Cina, India dan Amerika Serikat. Artinya, sejauh pemerintah dan Bank Indonesia mampu menciptakan kondisi yang memungkinkan, pasar dalam negeri akan menjadi peredam kejut (shock-breaker) yang cukup efektif. Modal itu itu ada. Total dana masyarakat dalam sistem perbankan kita lebih dari seribu triliun rupiah. Sementara itu dana nganggur di Bank Indonesia dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia jumlahnya lebih dari seratus triliun. Hanya tinggal pilihan Bank Indonesia untuk mempermudah kredit (bunga rendah) atau mempersulit kredit (bunga tinggi). [Pilihannya “sederhana”, kalau bunga rendah memang ada bahaya inflasi, tapi ekonomi jalan. Sementara kalau bunga tinggi inflasi memang rendah, tapi ekonomi mandek.]

Jadi apa poinnya? Sederhana saja: tak usah terlalu panik. Memang ada persoalan, tapi tak sedahsyat yang kita bayangkan. Memang ada teroris, dan teroris itu membawa pistol. Tapi saya optimis itu pistol kosong, dan yang lebih pasti teroris itu tak membawa bom atau senapan mesin. Dan perlu diingat, teroris mencatat sukses pertama tepat ketika kita mulai merasa takut. (Her Suhary
anto, http://www.jurutulis.com)

diambil dari http://www.pembelajar.com