Rindu Suharto?

“Kalau Pak Harto yang membangun jalan, tidak pernah bikin macet. Malahan jadi lancar, karena dia buat jalan layang dimana-mana,” ujar seorang tukan ojek yang ‘menyelamatkan’ saya dari kemacetan jalan di Kramat Jati akibat pembangunan jalur busway.

Waduh, sindrom kangen Suharto nih. Pikiran saya langsung tertuju pada iklan hari pahlawan PKS yang menampilkan Soeharto sebagai sosok bapak pembangunan, juga pada opini yang menyatakan PKS hendak meraup ‘masa mengambang’, juga pada hasil survery di lapangan bahwa masih banyak orang yang merindukan kepemimpinan Pak Harto.

“Coba lihat sekarang, mbak,” sambung sang tukang ojek, “Pembangunan jalan malah bikin macet. Berapa orang yang rugi gara-gara pembangunan busway Kramat Jati ini.”

Saya hanya diam. Memang saya tidak sendiri. Setiap hari ratusan orang melewati Jl Raya Jakarta-Bogor Km. 1 yang terletak di kawasan Kramat Jati. Dan kemacetan total ini sangat parah. Bukan saja para pekerja seperti saya yang terpaksa membuang waktu dalam kemacetan, tetapi juga para supir angkot yang sepi setoran gara-gara penumpang yang ‘pindah ke lain hati’ mencari jalur alternatif. Bukan saya sendiri yang terpaksa mengeluarkan uang jauh lebih besar untuk ongkos demi menghindari kemacetan, tetapi ratusan orang yang setiap hari melewati jalur tersebut.

“Tetangga saya yang supir angkot juga mengeluh, mbak. Setorannya kurang, gara-gara penumpang sedikit.”

Saya hanya mengiyakan dalam hati. Saya ingat, barusan saya diturunkan di tengah jalan oleh supir angkot jurusan Mekarsari-Cililitan, gara-gara sang supir enggan menembus kemacetan. Alhasil, saya harus membayar lebih demi sampai ke tujuan lebih cepat.

Ah, saya tidak tahu salah siapa. Saya hanya bisa berandai-andai. Seandainya orang-orang yang ingin jadi pemimpin itu betul-betul mau membangun Indonesia dan mengesampingkan kepentingan pribadi dan golongan, mungkin keluh kesah ini tidak perlu terjadi. Seandainya agenda reformasi terus ditegakkan, mungkin sindrom rindu suharto ini tidak pernah ada…

wallahua’lam

Advertisements
Previous Post
Next Post
Leave a comment

17 Comments

  1. uhuy…!!, jalanan rumah ogut juga terimbas rame gegara jalan Kramat Jati diperbaiki.
    tapi kok malah ada berkahnya yah, Mikrolet 06 sering lewat depan rumah.
    Asyik ke Cililitan jadi gak usah ngojek dah.

    Yang rindu Soeharto, ke laut ajeh..!!!
    8-))

    Reply
  2. yang egois dan gak mikirin rakyat kecil, ke laut ajah!!

    Reply
  3. iye, skrg ane kudu ngojek lewat kampung tengah/kampung makasar… ongkos pp jadi membengkak neh 😦

    Reply
  4. Keknya kalo aku sih ga rindu ama pak hartonya, cuman kadang bandingin aja antara pemerintahan masa dahulu dan masa sekarang yang hanya jalan di tempat 😀
    1988-1998 lumayan banyak pembangunan, ringroad, jalan tol, dll
    1998-2008 hmmm….apa ya ? lupa, apa ga ada, apa dikit hihihihih…

    Reply
  5. Rindu itu biasanya kepada sesuatu yg baik, yang indah, yang menyenangkan. Jadi kalo orang-2 kecil itu rindu pada Soeharto, mereka memang belum merasakan dampak reformasi dan mereka tidak bisa disalahkan. Jangan-2 para reformer inilah yg punya andil shg wong cilik belum nyaman. Ayooo…sopo sing ngaku reformer, bantuin wong cilik tanpo pamrih yuukk…

    Reply
  6. hehehe lucu juga…yah kondisi sekarang juga si S juga trurt andil..korupsi sekarang yang merajalela dan sulit diberantas juga andil siapa. S juga kan? yah, kasian deh rakyat kita yang dibodohi gituiu. aku juga rada kecewa sama PKS kenapa menampilkan S hanya karena ingin mengambil masa mengambang orang2 yang rindu S? bukankah ini sikap oportunis?
    IMHO lho!

    Reply
  7. kalo membandingkan dari segi durasi waktu, pastinya memang tidak sebanding. bayangkan saja, 32 tahun dibanding 10 tahun (orde reformasi)…. So, gak bisa dibandingkan kan?

    Reply
  8. hehehe… padahal orang2 yang rindu S belum tentu rindu PKS ;p

    Reply
  9. makanya dinamakan reformasi, kan harusnya bisa lebih baik, lagian yang aku tulis itu durasinya sama2 dasa warsa gitu, kemaren liat di tv di berita keknya, banyak jalan2 di jakarta yang berlobang, proyek banyak yang macet, kemacetan terjadi, masyarakat emang ada diwawancara, kok ya jawabnya nyrempet2 kek mba tulis 😀

    Reply
  10. haha… mungkin memang begitulah realita masyarakat Indonesia sekarang. beginilah reformasi, bangsa kita 'dipaksa' untuk melek dan belajar berdemokrasi. kalau pendapat saya pribadi, ini jauh lebih baik daripada kita terus dininabobokan oleh penguasa yang otoriter. So, selamat belajar yah 😉

    Reply
  11. hihihihi..semoga 2009 jauh lebih baik mba, regards 🙂

    Reply
  12. Ini yang mungkin kurang di kita sekarang ini…kita dan masyarakat kita kurang belajar, kurang menjadi pembelajar dan mengajar. Apa yang kita lihat sekarang ini lebih banyak kepada jurus cepat (instan). Giliran ada proses yang emang butuh waktu panjang, kita jadi agak lemes dech…dan akhirnya menunggu perubahan diciptakan, bukannya berusaha menciptakan…hehehe..Ibda' bii nafsik yuuk…

    Reply
  13. iya, semoga…

    Reply
  14. Hampir satu dasa warsa sudah angin reformasi berhembus, Harapan datangnya perubahan seolah masih terngiang dalam ingatan kita tapi realitas sosial politik menunjukkan kondisi yang bertolak belakang dengan imajinasi kita
    Imajinasi akan hadirnya sistem dan budaya pemerintahan yang berorientasi kepada kepentingan rakyat kebanyakan, tapi apa yang kita saksikan hari ini….?
    justru melahirkan aktor-aktor korupsi baru, baik di lembaga birokrasi, parlemen bahkan sudah menembus berbagai lintas… baik ideologis, Agama, Gender, sosial dll

    Reply
  15. yah… sangat ironis

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: