Maryamah Karpov

Rating: ★★★
Category: Books
Genre: Science Fiction & Fantasy
Author: Andrea Hirata

Maryamah Karpov: Memoar Yang Surealis

Saat membaca lembar demi lembar Maryamah Karpov, sulit bagi saya untuk percaya bahwa buku itu adalah memoar. Pun saat tamat membacanya, saya sangsi.

Maryamah Karpov mengajak pembaca bertualang dalam dunia khayalan yang hiperbolis. Dahsyat nan menggugah imaji. Begitu imajinatif hingga condong kepada surealis, meskipun—menurut dugaan saya—Andrea mati-matian membuatnya realis. Karena itu, pada titik ini Andrea Hirata telah gagal.

Apakah ini lantaran persepsi yang telah tertanam pada pembaca bahwa tetralogi Laskar Pelangi adalah memoar? Maka setiap kisah yang ‘tidak masuk akal’ dalam Maryamah Karpov membuat pembaca skeptis, sehingga menilainya condong kepada surealis alih-alih mengada-ada.

Saya sendiri sangsi tentang waktu pembuatan novel keempat tetralogi Laskar Pelangi ini; apakah sebelum Andrea tenar atau sesudah novel pertamanya booming? Apakah ketika shooting film Laskar Pelangi sedang berlangsung atau jauh hari sebelum itu? Sebab saya merasakan ‘kenarsisan’ Ikal yang cukup akut dalam buku ini. Jauh berbeda dari tiga buku sebelumnya yang relative rendah hati.

Yang menjadi tanda tanya berikutnya adalah; jika novel ini ditulis setelah Andrea tenar, ia sangat tidak antisipatif, karena berkali-kali ia gagal mengejutkan pembaca. Dengan gaya bertuturnya yang khas pada tiga novel sebelumnya, pembaca sudah sangat mahfum dengan jalinan kata-kata Andrea, sehingga kejutan yang telah disiapkannya tidak lagi mengejutkan.

Sebagai contoh; lika-liku kata-kata Andrea tentang mimik ayahnya yang hendak mengungkapkan sesuatu saat pertama kali melihatnya pulang dari Eropa, sangat dapat ditebak arahnya. Sehingga klimaks di akhir bab tidak lagi mengejutkan. Sangat berbeda ketika membaca Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor. Saya bisa tertawa terbahak-bahak atau terisak-isak mendapati klimaks di akhir bab. Bisa jadi, karena pada era tiga novel sebelumnya, pembaca masih awam dengan gaya bertutur Andrea.

Roxana

Kehadiran Roxana di infotainment sedikit banyak mengganggu persepsi pembaca saat membaca novel ini. Apalagi Roxana amat jauh dari deskripsi tentang A-Ling. Sehingga—sekali lagi—membuat pembaca sangsi bahwa Ikal benar-benar bertemu A-Ling. Apalagi di akhir cerita, Andrea menggantung kisah antara Ikal dan A-Ling. Entahlah, apakah ini strategi bisnis agar mungkin dibuat sekuelnya.

Namun demikian, eksistensi Roxana menjadi misteri baru dalam wacana riwayat hidup ‘Pendekar Ikal’, karena kehadirannya seolah menjadi bayang-bayang A-Ling. Tapi jangan khawatir, bagi yang tidak mengikuti infotainment, tidak akan terpengaruh pada sosok Roxana berikut pernyataannya yang cukup membuat penggemar Andrea kecewa atau malah tidak percaya.

Pernyataan itu adalah tentang ‘bualan’ Andrea dalam memoar tetralogi Laskar Pelangi. Roxana menyebut Andrea Hirata berani berbohong di muka publik lewat keempat novelnya ini. Entahlah… hanya saja, setelah membaca Maryamah Karpov, pernyataan Roxana tersebut menjadi cukup dipertimbangkan. Apalagi saya mencium aroma kisah ‘mengada-ada dalam buku ini. Hal ini terbaca lewat inkonsistensi Andrea pada beberapa ‘fakta’.

Salah satu contohnya adalah tokoh Mahar. Pada novel pertama, Mahar dikisahkan telah insaf dari fanatisme dunia gaib dan akhirnya menjadi guru seni di sebuah sekolah. Namun aneh, tokoh Mahar dalam Maryamah Karpov dikisahkan justru makin menjadi-jadi ilmu perdukunannya. Pun Societeit de Limpai yang telah bubar di akhir buku Laskar Pelangi, di novel keempat ini mereka hidup lagi.

Pesan Moral

Membaca Maryamah Karpov jauh berbeda dengan membaca Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, atau Edensor. Meskipun gayanya masih mirip (atau tidak terlalu sama), satir dan hiperbolis, namun kesan yang ditimbulkannya sangat berbeda. Pesan moral yang inspiratif hampir tidak ditemukan di sini.

Saya menganggap pada titik ini Andrea pun gagal, sebab kesan yang tertangkap tak lebih dari sekedar petualangan khayali melintasi samudara nan garang demi cinta pada seorang gadis Tionghoa. Selebihnya, tidak ada pesan moral yang menggugah pembaca seperti tiga novel sebelumnya.

Saya mendapati banyak orang terinspirasi untuk belajar lebih giat gara-gara membaca Laskar Pelangi. Menekuri kisah Lintang dalam novel pertama ini membuat semua yang membaca menjadi lebih mensyukuri hidup. Mirip dengan novel pertama, banyak orang terinspirasi untuk melanjutkan sekolah tinggi dan mencari beasiswa ke luar negeri lantaran membaca Sang Pemimpi dan Edensor. Sayangnya, tidak demikian halnya dengan Maryamah Karpov. Entah karena saya overestimate ketika hendak membaca, atau memang karena karya ini kurang membumi? []

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

5 Comments

  1. Jadi mo nyari dimana saya meletakkan novel itu. Secara belum sampe habis bacanya. Hehehe

    Reply
  2. wah, novelnya dibawa ke tanah suci juga bunda?

    Reply
  3. hahahaha… kalo saya sih dari awal sudah sangat antisipatif dengan tulisan 'sebuah novel' di cover depannya:)
    jadi teknis pembacaan novelnya lebih concern ke 'sirkus kata' Andrea hehehehe

    Reply
  4. ya.. ya… kalo yang ini Andrea cukup berhasil hahaha…

    Reply
  5. hehe tetep ampe sekarnag gk dibuka2 lagi tuh buku….. masih sampe Mozaik 10.. abis itu gk dikebet2 lagi…… malasss

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: