Enggak Jodoh

“Si Reva (bukan nama sebenarnya) kan baru aja putus,” ujar seorang teman.

“Ha? Putus sama Ferdi (bukan nama sebenarnya juga)??” Masak sih Reva sama Ferdi yang serasi dan sangat serius membina hubungan ini putus? Apalagi mengingat lika-liku kisah mereka sampai akhirnya mereka ‘jadian’, kayaknya sulit telinga ini untuk percaya kata-kata temanku itu.

“Iya, Revi dan Ferdi.”

“Kenapa?”

“Ferdi yang gak jelas. Kasihan kan Reva,” ujar temanku itu datar. Aku langsung menangkap maksudnya sekaligus mengamini kata-katanya. Ingatanku melayang ke nostalgia cinta mereka.

Ferdi sejak SMP naksir Reva sang primadona sekolah. Namun ia baru bisa merasakan ‘gayung bersambut’ setelah 2 tahun lulus kuliah. Gara-gara reuni SMP, mereka jadi akrab. Padahal waktu SMP dulu, boro-boro Reva melirik Ferdi. Ia sangat ‘sibuk’ dengan pacarnya yang bertitel “cowok idaman kaum hawa”.

Sementara Reva yang kian dewasa kian ‘matang’ dalam berpikir, sudah emoh dengan gemerlap pemujaan fisik. Ia mendamba laki-laki sederhana yang ‘serius’. Sosok Ferdi yang sederhana ternyata klop di mata Reva. Ferdi pun yang sejak SMP menyukai Reva, tidak pernah berpaling ke lain hati. Reva selalu di hatinya.

Lantas, kenapa mereka bisa putus? Mengapa temanku itu bisa bilang, “Ferdi yang gak jelas. Kasihan kan Reva”?

Kalo orang tua bilangnya “enggak jodoh” untuk sebuah kondisi yang timpang. Yep, ternyata kondisi Reva dan Ferdi tidak serasi alias timpang alias enggak jodoh. Di satu sisi, Reva ingin segera menikah. Keluarganya juga sudah mendesaknya, mengingat usia yang sudah seperempat abad lebih. Di sisi lain, Ferdi yang memang ingin menikahi Reva, merasa belum siap secara materi, apalagi ia tulang punggung keluarga. Ia menafkahi ibu dan adik-adiknya. Keluarganya pun belum siap ‘ditinggal’ sang tumpuan nafkah.

Ternyata cinta bukanlah jaminan berjodoh tidaknya seseorang. Kondisi yang serasi atau tidak timpang lah yang menggaransi ke-klop-an dua sejoli bahkan dua keluarga.

Jadi ingat soal ulangan jaman SD. “Jodohkanlah kalimat-kalimat di bawah ini dengan kata-kata di samping!” Dari kalimat tersebut, jodoh jelas bermakna sebagai dua kondisi yang saling berserasian, imbang, klop, cocok.

Dari Kota Toea Sampai Pulau Onrust

Ini sedikit oleh-oleh dari Jelajah “Rahasia Meede” 2 yang digelar komunitas Goodreads Indonesia pada 25 Januari 2009. Baru posting sekarang soale upload-nya lama hehehe…

Apa itu Jelajah “Rahasia Meede” 2? Klik aja di http://sudahkahkaubaca.multiply.com/journal/item/104/Kisah_Jelajah_Rahasia_Meede_2_JRM2

Gong Xi Fat Chai Eclipse

Meski ‘terlambat’ mengamati fenomena alam yang jarang terjadi ini, alhamdulillah sempat juga sore tadi mengabadikan beberapa ‘pose’ gerhana matahari yang tampak dari halaman rumah. Sayangnya aku gak sempat menyaksikan pose cincin yang indah itu.

Berbekal kamera digital Canon power shot A700 dengan shutter speed paling tinggi (1/1000) dan bukaan diafragma 8, plus filter ND dadakan yang terbuat dari film seluloid, berikut ini karya ilahi yang tertangkap lensaku. 3 gambar terakhir aku ambil dari beberapa situs internet. Selamat menikmati amatan amatir berikut ini… ;p

Kajian Hermeneutika by INSISTS

Start:      Jan 24, ’09 09:00a
End:      Jan 24, ’09 3:00p
Location:      Jl. Kalibata Utara II No. 84, Jakarta 12740

Kajian Intensif INSISTS:

Filsafat Hermeneutika:
* Dosen: Adnin Armas MA (Direktur Eksekutif INSISTS)

Sabtu, tanggal 24 Januari 2009 Jam 09:00 s/d 15:00
* Hermeneutika Schleiermacher dan Dithley
* Hermeneutika Emilio Betti
* Hermeneutika Hirsch

Sabtu, tanggal 31 Januari 2009 Jam 09:00 s/d 15:00
* Hermeneutika Gadamer
* Hermeneutika Habermas
* Hermeneutika Paul Ricoeur

Persyaratan mengikuti kajian intensif:
* Membayar infaq minimal sebesar Rp. 20.000,- untuk makan siang dan makalah.
* Datang tepat waktu dan harus mengikuti sampai materi selesai diberikan.
* Peserta terbatas untuk 30 orang (saat ini sudah ada 17 peserta yang konfirmasi).
* Peminat serius harap SMS ke 08111102549.

For further info, please click http://insistnet.com/index.php?option=com_content&task=view&id=88

Kajian Hermeneutika by INSISTS

Start:      Jan 24, ’09 09:00a
End:      Jan 24, ’09 3:00p
Location:      Jl. Kalibata Utara II No. 84, Jakarta 12740

Kajian Intensif INSISTS:

Filsafat Hermeneutika:
* Dosen: Adnin Armas MA (Direktur Eksekutif INSISTS)

Sabtu, tanggal 17 Januari 2009 Jam 09:00 s/d 15:00
* Hermeneutika Schleiermacher dan Dithley
* Hermeneutika Emilio Betti
* Hermeneutika Hirsch

Sabtu, tanggal 31 Januari 2009 Jam 09:00 s/d 15:00
* Hermeneutika Gadamer
* Hermeneutika Habermas
* Hermeneutika Paul Ricoeur

Persyaratan mengikuti kajian intensif:
* Membayar infaq minimal sebesar Rp. 20.000,- untuk makan siang dan makalah.
* Datang tepat waktu dan harus mengikuti sampai materi selesai diberikan.
* Peserta terbatas untuk 30 orang (saat ini sudah ada 17 peserta yang konfirmasi).
* Peminat serius harap SMS ke 08111102549.

Hans Christian Andersen: My Life As a Fairytale

Rating: ★★★★★
Category: Movies
Genre: Drama

Mencintai berarti membebaskan. Karena cinta sejati seorang Jetta Collins, nama Hans Christian Andersen melegenda karena karya-karyanya.

Dibesarkan oleh keluarga miskin dengan ayah seorang veteran yang suka berfantasi, Hans tumbuh sebagai remaja yang kaya akan imajinasi. Di umur 15 tahun, Hans menjadi yatim piatu karena kepergian ayahnya yang memang sudah tua dan sakit-sakitan.

Hans yang sebatang kara kemudian pergi ke Copenhagen berkat ramalah seorang Gypsy yang meramalkan ia akan menjadi tenar di sana. Keberuntungan memang berpihak pada Hans saat tak sengaja bertemu dengan Jetta Collins, gadis cacat dari keluarga kaya yang baik hati di Copenhagen. Hans lalu diangkat sebagai anak oleh keluarga tersebut. Ia disekolahkan secara layak, hingga akhirnya ia bisa menuliskan fantasi-fantasinya menjadi cerita.

Jetta-lah yang selalu memotivasinya untuk menulis dan rutin mengiriminya surat. Kumpulan ceritanya kemudian dibukukan dan diterbitkan, bahkan diterjemahkan ke berbagai bahasa. Ratu dan raja Denmark bahkan sangat menyukai cerita-ceritanya, sehingga Hans sering diundang sebagai story-teller di kerajaan.

Lalu bagaimana nasib Jetta? Hans sangat menyayanginya. Namun rasa sayangnya pada Jetta tak lebih sebagai rasa sayang seorang kakak kepada adik. Hans tidak pernah menyadari cinta terpendam Jetta, apalagi Hans tengah tergila-gila pada penyanyi tenar pada masa itu, Jenny Lind. Suara merdu Jenny Lind menginspirasi Hans untuk menulis cerita “The Nightingale”. Karena itu pula, Jenny pada masa itu dijuluki “Jenny The Nightingale”.

Nasib baik memang tidak berpihak pada Jetta. Namun cintanya yang tulus kepada Hans-lah yang membuat Hans bebas berekspresi dan pergi mengelilingi Eropa sehingga mendapatkan banyak inspirasi untuk cerita-ceritanya. Jetta adalah ‘martir’ dalam kehidupan Hans Christian Andersen. Karena cintanya yang bertepuk sebelah tangan, ia memutuskan pergi ke New York, Amerika. Naas menimpa kapal dari Austria ke Amerika. Ia meninggal dalam kebakaran kapal yang akhirnya tenggelam tersebut.

Tokoh Hans Christian Andersen diperankan secara apik oleh aktor Kieran Bew. Peran Jetta Collins dan Jenny Lind juga sangat memikat. Pokoknya, film ini highly recommended untuk ditonton segala usia. Dan yang terpenting buatku, film ini bersih 😉 *muak dengan film yang ada adegan2 ‘gak jelas’*

Keabadian Telah Dimulai (Eternity Has Already Begun)

Rating: ★★★★
Category: Books
Genre: Religion & Spirituality
Author: Harun Yahya

Keabadian Telah Dimulai, Eternity Has Already Begun Keabadian Telah Dimulai, Eternity Has Already Begun by Harun Yahya

My review


rating: 3 of 5 stars
Buku ini sebenarnya adalah salah satu bab dalam buku Harun Yahya yang lain, berjudul “Mengenal Allah Lewat Akal” (Allah Is Known Trough Reason), dimana bercerita tentang relativitas waktu. Harun Yahya yang bernama asli Adnan Octar ini secara cerdas dan memikat menjelaskan sifat waktu yang fana. Membaca buku ini seperti membangunkan kita dari mimpi panjang yang sebenarnya adalah tidur beberapa menit saja. Dan inilah hakikat hidup yang sementara itu… masyaallah.

View all my reviews.





Aku Bosan Jadi Karyawan!

Entah mengapa di usia yang sudah tidak ‘muda’ lagi ini aku malah ingin melakukan hal-hal ‘gila’ yang jauh dari kata “kemapanan”. Rasanya ini dipicu oleh rasa bosan, bahkan muak, menjadi karyawan. Kalau dihitung-hitung sudah 4 tahun aku bekerja sebagai karyawan full-time, meskipun tidak di satu perusahaan yang sama.

Terpikir untuk wirausaha? Jelas! Insyaallah aku sedang merancang hal itu. Yang pasti, aku pingiiin banget nerusin sekolah ke luar negeri, mengingat ilmu yang aku dalami masih belum berkembang di Indonesia. Apalagi, ada pengalaman yang gak mungkin didapatkan di tanah air kalau aku sekolah ke luar negeri, yaitu cross culture experience.

Tetapi yang boleh dibilang ‘gila’, saat ini aku ingin melakukan hal-hal bebas sesuka hati yang anti kemapanan, terutama yang berkaitan dengan travelling . Contohnya, aku ingin mencoba jadi au pair di luar negeri … yaa, barang 3 bulan saja lah. “Tapi gajinya cuma 50-60 pond per minggu”. Kupikir why not, asal bisa balik modal buat transportasi dan visa? Toh makan dan biaya hidup ditanggung host.

Sempat juga kepikiran daftar jadi TKI. Hanya saja, kalau jadi TKI harus mau dikontrak 2 tahun. Waah… udah bosan deh sama yang namanya kontrak-kontrakan, 2 tahun lagi!

Terbersit juga sebuah ide waktu kemarin ketika ditawari teman permen asam yang biasa dijual di bus antarkota. Kenapa gak mencoba jualan macam permen asam gini aja ya? Kan bisa jalan-jalan gratis keliling Indonesia, minimal Jawa-Sumatera lah .

Mencoba jadi relawan kemanusiaan ke luar negeri? Sempat daftar via online, tapi anehnya kok malah suruh bayar sekian ratus dolar ya… wah, jadi urung. Tapi kalau ada kesempatan, insyaallah langsung daftar! Hehehe… kepikiran juga sih ikutan jadi relawan kemanusiaan ke Palestina. Hanya saja, tenaga relawan tak berpengalaman seperti aku salah-salah malah ngerepotin orang Palestina nanti .

Kalau ditanya kenapa? Buat pengalaman hidup, mumpung belom married . Aku percaya bahwa pengalaman adalah guru yang baik, dan pengalaman itu tidak akan didapatkan dari bangku sekolah atau tempat kursus.

So, why don’t you do it? Phew… Ternyata mendapat izin orang tua (Indonesia) tidak semudah itu, mengingat budaya kita yang sangat kekeluargaan dan mendambakan kemapanan. Apalagi aku anak semata wayang dengan orang tua tunggal, wedew… Tapi, aku percaya dengan yang namanya komunikasi. Selama kita bisa meyakinkan seseorang, aku rasa gak masalah…

Tapi kalau kesempatan go abroad-nya karena sekolah ya alhamdulillah banget. Masalahnya kuliah di luar negeri gak murah, butuh ratusan juta rupiah. Tapi kenapa enggak kalau kondisinya malah dibalik; pergi ke negara tujuan dulu, baru cari kesempatan sekolah lagi di sana. Kenapa tidak? 

Monas Pun Meradang


Selama aksi berlangsung, awan mendung memayungi para demonstran. Tidak ada hujan sedikit pun, padahal sejak 3 hari berturut-turut sebelumnya, hujan kerap mengguyur Jakarta.

500 ribu massa pro Palestina memadati Lapangan Monas, Jakarta pada Ahad (11/01) kemarin. Aksi bertajuk “Save Palestine with Your Blood and Money” yang digelar Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini dihadiri sejumlah tokoh nasional, seperti Ketua MPR RI DR Hidayat Nur Wahid, Ketua Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) dr Basuki Supartono, anggota DPR RI Nursanita Nasution, dan sejumlah rohaniawan dari berbagai agama. Dalam orasi mereka, semua mengutuk kebiadaban Israel dan prihatin dengan krisis kemanusiaan di Gaza.

Aksi solidaritas ini dimulai di Silang Monas sejak pukul 8 pagi hingga 11 siang. Aksi dilanjutkan dengan long march menuju kantor perwakilan PBB di Jl. MH. Thamrin. Sejumlah happening art digelar di depan kantor perwakilan PBB.

Selama aksi berlangsung, awan mendung memayungi para demonstran. Tidak ada hujan sedikit pun, padahal sejak 3 hari berturut-turut sebelumnya, hujan kerap mengguyur Jakarta. Namun setelah aksi berakhir, pukul 13.00, hujan deras pun mengguyur Jakarta. (jat)

Eramuslim Digest (magz) – Satanic Finance

Rating: ★★★★
Category: Other

Majalah edisi hardcopy terbitan eramuslim ini highly recommended to read! Majalah edisi ke-8 yang mengangkat tema “Satanic Finance” ini akan membuka mata kita semua tentang UANG KERTAS (fiat money) yang selama ini kita percaya sebagai “harta” dan alat pembayaran yang sah. Padahal, uang kertas yang nilai nominalnya jauuuuh lebih besar daripada nilai intrinsiknya ini tak lain adalah tipuan belaka alias akal-akalan Yahudi untuk menghegemoni dunia. Karena nilai uang kertas itu tercipta lewat konvensi atau kepercayaan bersama, tidak lebih! Dan di situlah terdapat riba itu sendiri.

Selain itu, secara gamblang dijelaskan tentang motif ‘bank Islam’ yang kini tengah menjamur di dunia internasional yang tak lain hanyalah kosmetik sistem ribawi yang dipelopori oleh (lagi-lagi) Yahudi. Karena sistem perbankan didasari oleh konsep fiat money. Karena itu, sistem bagi hasil yang katanya sesuai dengan syariat Islam tidaklah mengubah esensi ribawi tadi, tetapi hanya memolesnya menjadi seolah-olah syar’i.

Masalahnya, sistem perbankan di dunia ini telah berabad-abad mengurat akar. Karena itu, untuk memerangi sistem perekonomian kafir ini, diperlukan ‘gerilya’ yang sungguh-sungguh. Salah satu upayanya adalah dengan menggencarkan penggunaan dinar (emas) dan dirham (perak) seperti pada perekonomian di masa Rasulullah dan masa sebelumnya.

Asal muasal fiat money ini sebenarnya adalah surat sertifikat/jaminan kepemilikan emas seseorang. Jadi, pada masa itu, orang yang memiliki fiat money sudah pasti memiliki emas. Fiat money pada masa itu dikeluarkan untuk membeli barang-barang yang nilainya sangat murah, jauh di bawah harga emas. Namun pada perjalanannya, uang kertas (fiat money) dicetak sesuka hati tanpa back up cadangan emas. Dan inilah yang dilakukan AS pasca perang dunia. Kestabilan nilai tukar dolar AS sebagai patokan kurs mata uang di seluruh dunia tidak di-back up oleh cadangan emas, melainkan oleh kekuasaan dan kekuatan militernya.

Meskipun singkat, majalah ini cukup komprehensif menjelaskan A-Z tentang uang kertas (fiat money), mulai dari sejarahnya, implikasinya, hingga solusinya. Kalau Anda menemukan majalah ini di mana saja, jangan ragu untuk membeli dan membacanya. Saya bukanlah bagian marketing ataupun redaksi majalah ini. Saya hanyalah pembaca yang terkesan dengan isi dan berita dalam majalah eramuslim digest ini.