Aku Bosan Jadi Karyawan!

Entah mengapa di usia yang sudah tidak ‘muda’ lagi ini aku malah ingin melakukan hal-hal ‘gila’ yang jauh dari kata “kemapanan”. Rasanya ini dipicu oleh rasa bosan, bahkan muak, menjadi karyawan. Kalau dihitung-hitung sudah 4 tahun aku bekerja sebagai karyawan full-time, meskipun tidak di satu perusahaan yang sama.

Terpikir untuk wirausaha? Jelas! Insyaallah aku sedang merancang hal itu. Yang pasti, aku pingiiin banget nerusin sekolah ke luar negeri, mengingat ilmu yang aku dalami masih belum berkembang di Indonesia. Apalagi, ada pengalaman yang gak mungkin didapatkan di tanah air kalau aku sekolah ke luar negeri, yaitu cross culture experience.

Tetapi yang boleh dibilang ‘gila’, saat ini aku ingin melakukan hal-hal bebas sesuka hati yang anti kemapanan, terutama yang berkaitan dengan travelling . Contohnya, aku ingin mencoba jadi au pair di luar negeri … yaa, barang 3 bulan saja lah. “Tapi gajinya cuma 50-60 pond per minggu”. Kupikir why not, asal bisa balik modal buat transportasi dan visa? Toh makan dan biaya hidup ditanggung host.

Sempat juga kepikiran daftar jadi TKI. Hanya saja, kalau jadi TKI harus mau dikontrak 2 tahun. Waah… udah bosan deh sama yang namanya kontrak-kontrakan, 2 tahun lagi!

Terbersit juga sebuah ide waktu kemarin ketika ditawari teman permen asam yang biasa dijual di bus antarkota. Kenapa gak mencoba jualan macam permen asam gini aja ya? Kan bisa jalan-jalan gratis keliling Indonesia, minimal Jawa-Sumatera lah .

Mencoba jadi relawan kemanusiaan ke luar negeri? Sempat daftar via online, tapi anehnya kok malah suruh bayar sekian ratus dolar ya… wah, jadi urung. Tapi kalau ada kesempatan, insyaallah langsung daftar! Hehehe… kepikiran juga sih ikutan jadi relawan kemanusiaan ke Palestina. Hanya saja, tenaga relawan tak berpengalaman seperti aku salah-salah malah ngerepotin orang Palestina nanti .

Kalau ditanya kenapa? Buat pengalaman hidup, mumpung belom married . Aku percaya bahwa pengalaman adalah guru yang baik, dan pengalaman itu tidak akan didapatkan dari bangku sekolah atau tempat kursus.

So, why don’t you do it? Phew… Ternyata mendapat izin orang tua (Indonesia) tidak semudah itu, mengingat budaya kita yang sangat kekeluargaan dan mendambakan kemapanan. Apalagi aku anak semata wayang dengan orang tua tunggal, wedew… Tapi, aku percaya dengan yang namanya komunikasi. Selama kita bisa meyakinkan seseorang, aku rasa gak masalah…

Tapi kalau kesempatan go abroad-nya karena sekolah ya alhamdulillah banget. Masalahnya kuliah di luar negeri gak murah, butuh ratusan juta rupiah. Tapi kenapa enggak kalau kondisinya malah dibalik; pergi ke negara tujuan dulu, baru cari kesempatan sekolah lagi di sana. Kenapa tidak? 

Previous Post
Leave a comment

11 Comments

  1. Ooo, alasannya “mumpung” belum —-tit—–
    8-))

    Reply
  2. kamu bisa kok, jat. ibek aja dulu au pair dulu 1 tahun 😉

    Reply
  3. hayoooo, tunjukkan jiwa berpetualangmu, nak 😀

    aku juga bosan, mbak jadi karyawan, hehehe… 😀

    Reply
  4. semangat mbak

    Reply
  5. iya…. klo ga ada kerjaan dari stengah 8 mpe jam lima mang bosen banget di kantor….
    mau kuliah lagi…

    Reply
  6. ayo..aku dulu mimpi pengen jadi wartwan jalan-jalan:D kalau dah punya anak dah ga mungkin hehehe

    Reply
  7. ah? serieus bek?! mau dunks au pair di jerman 😉

    Reply
  8. iya dong, klo udh nikah ntar suamiku gk rela aku jauh ;p

    Reply
  9. seeeep 😉

    Reply
  10. anaknya diajak aja teh 😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: