Tumis Tahu Tauge


Description:
Ini dia niy resep favoritku sejak jaman masih jadi anak kos. Selain rasanya yang suegerr, bikinnya gampang banget, plus kaya akan vitamin K (K = kesuburan ^^…. toge gitu loh!).

Ingredients:
1 mangkuk tauge
2 buah tahu potong-potong dadu
3 buah cabai merah potong-potong menyerong
1 batang bawang daun cincang kasar
3 siung bawang putih potong-potong tipis
2 siung bawang merah potong-potong tipis
1/2 buah tomat potong-potong
merica bubuk secukupnya
garam secukupnya
1/4 sdt gula pasir (sebagai pengganti MSG, karena saya anti MSG^^)

Directions:
# Tumis bawang merah, bawang putih, cabai merah sampai harum
# Masukkan potongan tahu. Tambahkan sedikit air agar tahu matang.
# Setelah air mendidih, bubuhi merica, garam, dan gula pasir, lalu aduk-aduk.
# Masukkan tauge, lalu masukkan potongan tomat dan daun bawang.
# Aduk hingga rata dan tauge cukup matang, tapi tidak terlalu layu.
# Resep favorit siap disajikan…hmmmm ^__^

Ayam Pop


Description:
Gara-gara makan ayam pop di restoran padang Sederhana dan temenku yang asli Padang bilang bahwa masak ayam pop gampang, aku jadi tergiur mencobanya. Ternyata benar gampang… plus dapat pujian suami ^_^. Katanya, “Kurang banyak.” hehehe…

Ingredients:
1 ekor ayam buras tanpa kepala dan cakar, potong 4 bagian
4 siung bawang putih, parut
1 ibu jari jahe
1 sdt garam
2 sdm air jeruk nipis
300 ml air kelapa
minyak sayur

Untuk Sambal:
2 sdm minyak untuk menumis
4 sdm air panas

Haluskan:
10 buah cabai merah, rebus
12 butir bawang merah, rebus
200 g tomat merah, rebus
1 sdt garam

Directions:
# Lumuri potongan ayam dengan parutan jahe, bawang putih, garam, dan air jeruk nipis. Diamkan selama 1 jam agar meresap.
# Didihkan air kelapa, masukkan ayam berikut bumbu perendamnya. Masak hingga ayam empuk dan kuah habis. Angkat ayam.
# Panaskan minyak di atas api sedang. Goreng ayam sebentar, angkat dan tiriskan.
# Sajikan panas dengan sambal dan daun singkong rebus.

Untuk Sambal:
#Panaskan minyak, tumis bumbu halus hingga harum.
# Tambahkan air, aduk hingga mendidih. Angkat.

Untuk 4 orang

Kok banyak kosakata Bahasa Indonesia mirip Bahasa Arab yak? Hmmm… teori yang menyebutkan Islam lebih dulu masuk ke Nusantara daripada Hindu-Budha bisa jadi benar!

Anak-anak Indonesia, selamat yaa…!!! Semoga kelak kalian menjadi generasi yang lebih baik

masalah itu ada agar kita mendekat pada-Nya :))

Cake Ketan Hitam


Description:
Cake dengan rasa lezat dan sensasi spesial saat dikunyah ini merupakan favorit dan andalanku, karena membuatnya gampang sekali dan 99,9% pasti berhasil. Mau? Mau? Mau?

Ingredients:
250 gr tepung ketan hitam
250 gr telur ayam
250 gr mentega (dicairkan)
250 gr gula pasir
1 bks vanili

Directions:
1. Campur telur dan gula pasir dengan mixer dengan kecepatan sedang.

2. Setelah kedua bahan tadi tecampur rata dan mengembang, matikan mixer. Masukan mentega yang sudah dicairkan kemudian aduk rata menggunakan spatula. Lalu masukkan vanili.

3. Masukkan tepung ketan hitam dan aduk hingga merata.

4. Tuang adonan ke dalam baking pan yang bagian dalamnya sudah dilapisi mentega dan tepung terigu.

5. Panggang dengan api kecil agar adonan matang merata. Angkat setelah adonan matang dan tidak lengket.

TIPS: untuk mengetahui adonan sudah matang atau belum, gunakan sebatang lidi dan tusukkan perlahan ke dalam adonan. Jika adonan lengket pada lidi, berarti belum matang. Namun jika adonan tidak lengket pada lidi, berarti sudah matang

Anak Gue Jangan Masuk Pesantren!

“Ntar anak gue jangan masuk pesantren, ah!” ujar seorang teman setelah menonton berita tentang tragedi bom JW Marriott II.

Oh my God… Para teroris dan orang-orang yang ingin mendiskreditkan Islam tentu akan tertawa bahagia jika mendengar pernyataan itu.

Tentu bukan tanpa alasan pernyataan tersebut terlontar. Aku pun tidak menyalahkan temanku berkata demikian, apalagi tayangan yang baru kami saksikan adalah berita dugaan Nur Said (tersangka pelaku bom Marriott II) adalah lulusan pesantren di Ngruki. Tidak hanya itu, para terpidana kasus-kasus bom pun dikabarkan memiliki riwayat bersama pesantren.

Tak pelak, saat ini telah terbentuk mitos bahwa pesantren adalah tempat para teroris dibesarkan. Seolah-olah aksi terorisme selalu terkait dengan pesantren. Bahanya lagi, saat ini telah terjadi plintiran makna antara jihad dan aksi bom bunuh diri. Padahal antara terorisme dan pesantren tidak ada kaitannya sama sekali. Bahkan makna jihad pun jauh berbeda makna dari aksi bom bunuh diri.

Hubungan-hubungan tersebut tercipta tentu saja karena pencitraan. Mitos itu terbentuk karena pencintraan yang pada akhirnya melekat di masyarakat. Lantas, siapakan yang mencitrakan? Siapa lagi kalau bukan media massa? Bombardir pesan lewat berbagai bacaan, tayangan, siaran lama-lama menjadi doktrin, bahkan cuci otak yang akhirnya menjadi top of mind di sebagian besar masyarakat. Karena itu, muncullah celetukan dari temanku tadi.

Jadi, haruskah kita mematikan TV, radio, menutup lembaran majalah, koran, buku dan menutup mata dan telinga atas segala berita? Bisa jadi ya, jika Anda ingin terisolasi dan melakukan purifikasi diri . Tapi apakah seperti itu hakekat hidup? Bukankah Rasullah SAW sendiri membenci gaya hidup kerahiban yang hanya hidup untuk dirinya sendiri dan tidak terjun ke masyarakat?

Karena itu, marilah berpikir kritis dan tidak langsung memercayai apa yang diberitakan media massa. Bukankah dalam Al Qur’an Allah telah mengingatkan bahwa kita harus tabayyun alias check and recheck atas kabar yang dibawa oleh orang-orang fasik? Ingat, orang ‘fasik’!! Apalagi kabar yang dibawa oleh orang-orang kafir… kita harus lebih waspada. So, mengutip kata-kata Bang Napi, “Waspadalah! Waspadalah!”

Struktur Detail Organisasi Internasional Illuminati

http://www.supermance.com/struktur-detail-organisasi-internasional-illuminati/
Sedikit referensi tentang organisasi Illuminati dan Orde Dunia Baru (New World Order)

Anak Gue Jangan Masuk Pesantren!

“Ntar anak gue jangan masuk pesantren, ah!” ujar seorang teman setelah menonton berita tentang tragedi bom JW Marriott II.

Oh my God… Para teroris dan orang-orang yang ingin mendiskreditkan Islam tentu akan tertawa bahagia jika mendengar pernyataan itu.

Tentu bukan tanpa alasan pernyataan tersebut terlontar. Aku pun tidak menyalahkan temanku berkata demikian, apalagi tayangan yang baru kami saksikan adalah berita dugaan Nur Said (tersangka pelaku bom Marriott II) adalah lulusan pesantren di Ngruki. Tidak hanya itu, para terpidana kasus-kasus bom pun dikabarkan memiliki riwayat bersama pesantren.

Tak pelak, saat ini telah terbentuk mitos bahwa pesantren adalah tempat para teroris dibesarkan. Seolah-olah aksi terorisme selalu terkait dengan pesantren. Bahanya lagi, saat ini telah terjadi plintiran makna antara jihad dan aksi bom bunuh diri. Padahal antara terorisme dan pesantren tidak ada kaitannya sama sekali. Bahkan makna jihad pun jauh berbeda makna dari aksi bom bunuh diri.

Hubungan-hubungan tersebut tercipta tentu saja karena pencitraan. Mitos itu terbentuk karena pencintraan yang pada akhirnya melekat di masyarakat. Lantas, siapakan yang mencitrakan? Siapa lagi kalau bukan media massa? Bombardir pesan lewat berbagai bacaan, tayangan, siaran lama-lama menjadi doktrin, bahkan cuci otak yang akhirnya menjadi top of mind di sebagian besar masyarakat. Karena itu, muncullah celetukan dari temanku tadi.

Jadi, haruskah kita mematikan TV, radio, menutup lembaran majalah, koran, buku dan menutup mata dan telinga atas segala berita? Bisa jadi ya, jika Anda ingin terisolasi dan melakukan purifikasi diri . Tapi apakah seperti itu hakekat hidup? Bukankah Rasullah SAW sendiri membenci gaya hidup kerahiban yang hanya hidup untuk dirinya sendiri dan tidak terjun ke masyarakat?

Karena itu, marilah berpikir kritis dan tidak langsung memercayai apa yang diberitakan media massa. Bukankah dalam Al Qur’an Allah telah mengingatkan bahwa kita harus tabayyun alias check and recheck atas kabar yang dibawa oleh orang-orang fasik? Ingat, orang ‘fasik’!! Apalagi kabar yang dibawa oleh orang-orang kafir… kita harus lebih waspada. So, mengutip kata-kata Bang Napi, “Waspadalah! Waspadalah!”

Panekuk Apel Nanas


Description:
Gara-gara menonton acara “Gula-gula”-nya Bara Patirajawane, aku jadi tertarik mencoba resep Panekuk Apel-nya yang asli dari Belanda. Cuma yang satu ini aku modifikasi sedikit, berhubung bahan-bahan yang ada tidak sama persis dengan yang di TV ;p
Ternyata gampang lho bikinnya… Selamat mencoba!

Ingredients:
1 gelas susu cair
1 gelas tepung terigu
2 1/2 sendok makan mentega
3 butir telur ayam
1 buah apel dipotong-potong pipih
1/2 buah jeruk lemon/jeruk nipis
selai nanas secukupnya
gula halus atau susu kental manis secukupnya

Directions:
1. Apel yang sudah dipotong-potong pipih diberi perasan jeruk nipis agar tidak teroksidasi (berubah warna menjadi cokelat).

2. Cairkan mentega

3. Sambil menunggu mentega cair, campur susu dan terigu, aduk-aduk. Tambahkan telur sambil terus diaduk. Tambahkan mentega cair, aduk sampai rata.

4. Panaskan wajan teflon yang berbentuk bundar ceper (kalo gak punya yang teflon, wajan biasa juga gpp kok, tapi dikasih minyak goreng sedikit dan ratakan supaya tidak lengket).

5. Setelah wajan panas, ratakan adonan di atas wajan dengan api kecil.

6. Susun apel di atas adonan sebelum adonan panekuk matang.

7. Setelah matang dan tidak lengket, taruh panekuk di atas piring ceper. Tambahkan dengan topping selai nanas, taburi gula halus atau susu kental manus untuk mempercantik tampilan panekuk 🙂

*)foto aku ambil dari google, soale abis masak gk sempet motret karya sendiri… keburu di-nyam nyam.. hihihi