TRAGEDI KIPAS ANGIN (Part 1)

“Miss, mau kado apa?” tanya Susan dua minggu menjelang pernikahanku. Spontan kujawab, “Kipas angin,” sambil melirik calon kamar pengantin yang hawanya sumpah panas banget. Maklum, kamar-kamar di rumahku memang kecil, ditambah lagi udara Jakarta yang panas dan sumpek, maka sempurnalah hawa panas dalam kamar jika tidak dilengkapi dengan kipas angin (karena gak mampu pake AC. Red).

Benar saja, malam pertama kami lalui dengan sedikit sauna karena hawa panas plus tidak ada kipas angina. Eits… jangan ngeres yak! Malam pertama asli tidur pulas kok, secara capek banget seharian mengurusi tetek bengek akad nikah dan resepsi .

Karena itu, keesokan harinya aku berinisiatif untuk membuka kado-kado hadiah dari para handai taulan. “Siapa tahu ada kipas angin dari Susan nih,” ujarku penuh harap.

“Yang itu kali,” seru ibuku sambil menunjuk salah satu bungkusan yang agak besar.

Dengan semangat kami membukanya. Ternyata isinya seperangkat gelas minum teh. Yang gedean itu kali,“ ujar suamiku. Ternyata isinya barang pecah belah juga. Hal serupa terjadi ketika kami membuka kado yang berukuran agak besar. Meskipun sedikit kecewa karena belum menemukan benda yang diharapkan, kami tetap bersemangat membuka kado satu per satu.

Lama-lama kami lelah juga membuka hampir semua kado tapi tak kunjung mendapatkan benda yang diharapkan. Sebagian besar kado berupa barang pecah belah dan sprei. Kemudian mataku melirik sebuah bingkisan berbentuk kotak besar dengan motif kado garis-garis warna-warni yang nyempil di pojok ruangan. “Apa itu kali,“ ujarku.

Suamiku lalu menyeret bingkisan berbentuk kotak yang ternyata beratnya lumayan itu. Namun binar mataku kemudian meredup ketika membaca label di sisi atas bingkisan yang bertuliskan “Hati-hati Barang Pecah Belah!“.

“Yah… barang pecah belah lagi. Kalau gitu bukanya nanti aja deh,“ ujarku sedikit kecewa

Akhirnya kami beralih ke kado-kadi berukuran kecil yang tentu saja mustahil isinya kipas angin. Meski demikian, pikiran konyolku tetap berharap siapa tahu ada kipas angin lipat sehingga bungkusnya kecil hehehe…

Alhasil, kami tidak menemukan benda yang diharapkan, yaitu kipas angin. “Kayaknya emang gak boleh ngarepin kado dari orang nih hehehehe…“ ujarku sambil istighfar dalam hati. Memang, ternyata berharap itu cuma sama Allah, bukan sama manusia

 

TO BE CONTINUED….

Advertisements
Leave a comment

6 Comments

  1. lucu juga ya…
    ^_^v
    klo aku ntar minta hadiah AC aja deh :p
    *mintaditabokdotcom*

    Reply
  2. klo AC mikir bayar listrik dan perawatannya, trid ^^

    Reply
  3. Betul!!
    Kan hadiah, ga musti dipasang kan?n bisa dijual lagi ta'an?

    ^^v

    Reply
  4. hahaha… dasar

    Reply
  5. bukannya 'ngeres' di malam pertama itu halal, Jati?

    Reply
  6. 'ngeres' yang kumaksud adalah pembaca yang berpikiran ngeres mbak hehehehe…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: