Bulan Sabit Lambang Islam?

Belakangan ini penggunaan ikon tertentu sebagai simbol atau lambang agama tertentu cukup menggelitik benakku gara-gara my hubby lagi asik dengan wacana RUU Penggunaan Lambang Palang Merah.

Aku sengaja menggunakan kata „ikon“ dan bukannya „simbol“, karena dalam pengertiannya, ikon adalah tanda berupa gambar yang mirip dengan bentuk aslinya. Misalnya bulan sabit yang digambarkan beruba lingkaran tidak penuh yang menyerupai huruf „C“. Maka tanda mirip bulan sabit tersebut adalah ikon.

Bagian Dari Suatu Kaum

Sedikit gumam dalam hati, „Kenapa sih penggunaan lambang saja diperdebatkan?“. Tapi lama kelamaan aku menyadari sabda Rasulullah tentang signifikasi lambang atau simbol; “Barang siapa mengikuti suatu kaum, maka ia adalah bagian dari kaum itu” (hadits).

Sabda Nabi Muhammad SAW di atas terdengar sederhana, namun ternyata begitu dalam maknanya. Artinya, ketika kita mengikuti atau menggunakan simbol-simbol yang biasa digunakan suatu kaum, maka tanpa kita sadari kita telah menjadi bagian dari kaum itu. How come?? Tentu saja, dengan mengikuti kebiasaa suatu kaum, setidaknya kita mengakui atau setuju dengan keyakinan yang dianut kaum tersebut. Contohnya, ketika ikut merayakan Tahun Baru Masehi, maka tanpa sadar kita setuju dengan keyakinan kaum yang merayakannya.

Lantas mengapa Rasulullah SAW mengklaim kita sebagai bagian dari suatu kaum jika kita mengikuti kebiasaan kaum tersebut? Tentu saja kebiasaan mengikuti kebiasaan atau tradisi suatu kaum lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan yang berurat akar dan sulit dirubah. Sama halnya seperti kebiasaan „haul“ atau peringatan 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari kematian seseorang oleh umat Islam Jawa yang asal muasalnya merupakan kebiasaan umat Hindu dan Kejawen, karena sudah berurat akar maka sulit sekali dirubah. Alhasil, meskipun seseorang itu mengaku Muslim, tetapi sesungguhnya bagian dari dirinya adalah Hindu. Itu sebabnya Rasulullah pernah bersabda, bahwa keimanan itu ada di ‚sini’ (sambil menunjuk dadanya). Yeah.. karena memang keimanan itu bukan di lisan, tetapi di hati.

Lantas, apa kaitannya dengan penggunaan ikon atau lambang?

Sebagai muslim, pernahkah kita bertanya pada diri sendiri, mengapa ikon bulan sabit dan bintang menjadi simbol Islam? Mengapa di ujung atas kubah masjid bertengger ikon bulan sabit dan bintang? Benarkah ikon bulan sabit dan bintang adalah lambang Islam?

Bulan Sabit dan Penaklukan Byzantium

Setelah googling dengan kata kunci „crescent Islam“, ternyata penggunaan ikon bulan sabit tak lepas dari pemujaan terhadap para dewa atau politeisme. Ikon bulan sabit dan bintang sendiri telah digunakan jauh sebelum Islam datang. Sebagian besar ikon ini digunakan oleh bangsa-bangsa di Asia Tengah dan Siberia yang memuja bulan dan matahari. Ikon ini juga digunakan oleh bangsa Yunani untuk menyembah Dewi Diana.

Generasi pertama Islam pada zaman Nabi Muhammad SAW tidak memiliki atau mengadopsi ikon apa pun. Pada masa itu, Rasulullah dan para sahabat hanya menggunakan warna solid untuk menandai pasukan pada saat perang. Namun demikian, warna itu pun bukanlah ikon umat Islam.

Lantas, darimana bulan sabit dan bintang diadopsi menjadi ikon umat Islam?

Sebelum ditaklukan oleh Islam, Byzantium menggunakan ikon bulan sabit dan bintang sebagai lambang kerajaannya. Ikon bulan sabit dan bintang digunakan sebagai penghormatan kepada Dewi Diana. Di awal penaklukan Byzantium oleh Islam, ikon ini tidak digunakan oleh umat Islam.

Nah, sejak dinasti Ottoman berkuasa di Konstantinopel (dulu Byzantium), ikon bulan sabit dan bintang sering diafiliasikan dengan Islam. Sejak Turki menguasai Konstantinopel tahun 1453, mereka mengadopsi bendera yang berlambangkan bulan sabit dan bintang. Karena itu, sebagian sejarawan berpendapat bahwa ikon bulan sabit dan bintang adalah lambang dinasti Ottoman dan bukan lambang Islam. Namun karena pada masa itu Islam—di bawah pemerintahan dinasti Ottoman—tengah berjaya, maka ikon bulan sabit dan bintang diidentikkan dengan Islam. Identifikasi ini kemudian terus berlangsung hingga hari ini.

Kaum Manakah Kita?

Mencermati sejarah dan cikal bakal penggunaan ikon bulan sabit dan bintang tersebut, maka jelas bahwa ikon bulan sabit dan bintang tidak merepresentasikan Islam. Karena itu, jika hari ini kita masih menggunakan ikon bulan sabit dan atau bulan sabit dan bintang, termasuk kaum manakan kita?

NB. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam referensi. Silakan jika ada yang perlu dibetulkan  dan atau ditambahkan

Advertisements
Leave a comment

6 Comments

  1. mirip2 dg ikon janur kuning sebagai lambang ada kondangan (katanya janur kuning itu warisan budaya non islam)

    selama nggak ngerusak aqidah dan nggak ada niat syirik, nggak perlu memperbesar2kan masalah lama.

    toh banyak orang yg tahu arti janur kuning itu kondangan bukan syirik
    bulan bintang itu lambang mesjid juga bukan syirik (bahkan ada yg bilang masjid itu gedung tertinggi di dunia karena menaranya bisa menembus bulan dan bintang)

    peace aja, masalah yg lebih besar masih banyak bangets
    peace 🙂

    Reply
  2. pilihan sulit, ikut beresistensi atau sebagai penonton atau malah saking objektifnya kamu tidak memihak siapa-siapa,

    Reply
  3. bukan berarti kita tutup mata kan bang pada hal-hal yang seolah-olah 'sepele'… justru ternyata PR kita banyak banget, apalagi ilmu kita sedikit banget

    Reply
  4. tentu saja saya memihak kebenaran… dan kebenaran itu termaktub dalam Quran dan Hadits… dan pemilik kebenaran itu adalah Allah SWT

    Reply
  5. thanks infonya. Itu benarkah atau dikait2kan?

    Reply
  6. saya merujuk pada beberapa referensi. silakan klik hyperlink yang ada pada teks di atas.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: