Anak Gue Jangan Masuk Pesantren!

“Ntar anak gue jangan masuk pesantren, ah!” ujar seorang teman setelah menonton berita tentang tragedi bom JW Marriott II.

Oh my God… Para teroris dan orang-orang yang ingin mendiskreditkan Islam tentu akan tertawa bahagia jika mendengar pernyataan itu.

Tentu bukan tanpa alasan pernyataan tersebut terlontar. Aku pun tidak menyalahkan temanku berkata demikian, apalagi tayangan yang baru kami saksikan adalah berita dugaan Nur Said (tersangka pelaku bom Marriott II) adalah lulusan pesantren di Ngruki. Tidak hanya itu, para terpidana kasus-kasus bom pun dikabarkan memiliki riwayat bersama pesantren.

Tak pelak, saat ini telah terbentuk mitos bahwa pesantren adalah tempat para teroris dibesarkan. Seolah-olah aksi terorisme selalu terkait dengan pesantren. Bahanya lagi, saat ini telah terjadi plintiran makna antara jihad dan aksi bom bunuh diri. Padahal antara terorisme dan pesantren tidak ada kaitannya sama sekali. Bahkan makna jihad pun jauh berbeda makna dari aksi bom bunuh diri.

Hubungan-hubungan tersebut tercipta tentu saja karena pencitraan. Mitos itu terbentuk karena pencintraan yang pada akhirnya melekat di masyarakat. Lantas, siapakan yang mencitrakan? Siapa lagi kalau bukan media massa? Bombardir pesan lewat berbagai bacaan, tayangan, siaran lama-lama menjadi doktrin, bahkan cuci otak yang akhirnya menjadi top of mind di sebagian besar masyarakat. Karena itu, muncullah celetukan dari temanku tadi.

Jadi, haruskah kita mematikan TV, radio, menutup lembaran majalah, koran, buku dan menutup mata dan telinga atas segala berita? Bisa jadi ya, jika Anda ingin terisolasi dan melakukan purifikasi diri . Tapi apakah seperti itu hakekat hidup? Bukankah Rasullah SAW sendiri membenci gaya hidup kerahiban yang hanya hidup untuk dirinya sendiri dan tidak terjun ke masyarakat?

Karena itu, marilah berpikir kritis dan tidak langsung memercayai apa yang diberitakan media massa. Bukankah dalam Al Qur’an Allah telah mengingatkan bahwa kita harus tabayyun alias check and recheck atas kabar yang dibawa oleh orang-orang fasik? Ingat, orang ‘fasik’!! Apalagi kabar yang dibawa oleh orang-orang kafir… kita harus lebih waspada. So, mengutip kata-kata Bang Napi, “Waspadalah! Waspadalah!”

Advertisements
Leave a comment

7 Comments

  1. pesantren adalah sarangnya pejuang. dulu waktu melawan penjajah para santrilah yg paling depan..
    namun ketika merdeka, para santri kemudian disisihkan. sampai sekarang santri2 dilekatkan pada term teroris. ini adalah gerakan sistematis dari kalangan yang membenci islam..olehnya itu, kita harus tetap tidak terpengaruh dengan term tsb

    Reply
  2. abis manis sepah dibuang,, makanye Allah murke,

    Reply
  3. yup, dan itu PR kita juga sebagai muslim agar term tsb tidak dilekatkan pada para santri dan pesantren

    Reply
  4. saya alumni pesantren loh…
    jadi.. hati2 sama saya. hihihihihi

    Reply
  5. awas ada bundaelly!!! xixixixi ;p

    Reply
  6. pesantren yang mana bu? sekolahannya bagus muridnya yang ngga bagus kaliii…hehe…

    Reply
  7. kok bisaaaa…..?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: