TRAGEDI KIPAS ANGIN (Part 3 – tamat)

Sesaat setelah kepanikan tadi, aku dan Susan menghembuskan nafas hampir berbarengan di atas sofa. Kami saling menenangkan dan menghibur diri dari kekecewaan. Sambil merebahkan diri di sofa, aku memutar otak. Kira-kira kemana larinya kado berisi kipas angin itu ya? Tiba-tiba sebuah lampu menyala di otakku, “Ting!” 

“San, emang kadonya bentuknya seperti apa? Kertas kadonya warna apa?”

“Pokoknya bentuknya kotak besar, motif kadonya garis-garis berwarna-warni,“ ujar Susan.

Aku kemudian bangkit dari sofa. Kemudian aku menggamit tangan Susan dan berjalan menuju kamar. “Kayak gitu bukan, San?“ ujarku sambil menunjuk bingkisan kotak besar dengan motif kertas kado garis-garis berwarna-warni yang tergeletak di pojok kolong tempat tidur.

GUBRAKKK….!!!!! 

***

Susan, Tya, Dikei, Eno, Widya terima kasih kado kipas anginnya yaa…

TRAGEDI KIPAS ANGIN (Part 3 – tamat)

Sesaat setelah kepanikan tadi, aku dan Susan menghembuskan nafas hampir berbarengan di atas sofa. Kami saling menenangkan dan menghibur diri dari kekecewaan. Sambil merebahkan diri di sofa, aku memutar otak. Kira-kira kemana larinya kado berisi kipas angin itu ya? Tiba-tiba sebuah lampu menyala di otakku, “Ting!”

“San, emang kadonya bentuknya seperti apa? Kertas kadonya warna apa?”

“Pokoknya bentuknya kotak besar, motif kadonya garis-garis berwarna-warni,“ ujar Susan.

Aku kemudian bangkit dari sofa. Kemudian aku menggamit tangan Susan dan berjalan menuju kamar. “Kayak gitu bukan, San?“ ujarku sambil menunjuk bingkisan kotak besar dengan motif kertas kado garis-garis berwarna-warni yang tergeletak di pojok kolong tempat tidur.

GUBRAKKK….!!!!!

***

Susan, Tya, Dikei, Eno, Widya terima kasih kado kipas anginnya yaa…

Bulan Sabit Lambang Islam?

Belakangan ini penggunaan ikon tertentu sebagai simbol atau lambang agama tertentu cukup menggelitik benakku gara-gara my hubby lagi asik dengan wacana RUU Penggunaan Lambang Palang Merah.

Aku sengaja menggunakan kata „ikon“ dan bukannya „simbol“, karena dalam pengertiannya, ikon adalah tanda berupa gambar yang mirip dengan bentuk aslinya. Misalnya bulan sabit yang digambarkan beruba lingkaran tidak penuh yang menyerupai huruf „C“. Maka tanda mirip bulan sabit tersebut adalah ikon.

Bagian Dari Suatu Kaum

Sedikit gumam dalam hati, „Kenapa sih penggunaan lambang saja diperdebatkan?“. Tapi lama kelamaan aku menyadari sabda Rasulullah tentang signifikasi lambang atau simbol; “Barang siapa mengikuti suatu kaum, maka ia adalah bagian dari kaum itu” (hadits).

Sabda Nabi Muhammad SAW di atas terdengar sederhana, namun ternyata begitu dalam maknanya. Artinya, ketika kita mengikuti atau menggunakan simbol-simbol yang biasa digunakan suatu kaum, maka tanpa kita sadari kita telah menjadi bagian dari kaum itu. How come?? Tentu saja, dengan mengikuti kebiasaa suatu kaum, setidaknya kita mengakui atau setuju dengan keyakinan yang dianut kaum tersebut. Contohnya, ketika ikut merayakan Tahun Baru Masehi, maka tanpa sadar kita setuju dengan keyakinan kaum yang merayakannya.

Lantas mengapa Rasulullah SAW mengklaim kita sebagai bagian dari suatu kaum jika kita mengikuti kebiasaan kaum tersebut? Tentu saja kebiasaan mengikuti kebiasaan atau tradisi suatu kaum lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan yang berurat akar dan sulit dirubah. Sama halnya seperti kebiasaan „haul“ atau peringatan 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari kematian seseorang oleh umat Islam Jawa yang asal muasalnya merupakan kebiasaan umat Hindu dan Kejawen, karena sudah berurat akar maka sulit sekali dirubah. Alhasil, meskipun seseorang itu mengaku Muslim, tetapi sesungguhnya bagian dari dirinya adalah Hindu. Itu sebabnya Rasulullah pernah bersabda, bahwa keimanan itu ada di ‚sini’ (sambil menunjuk dadanya). Yeah.. karena memang keimanan itu bukan di lisan, tetapi di hati.

Lantas, apa kaitannya dengan penggunaan ikon atau lambang?

Sebagai muslim, pernahkah kita bertanya pada diri sendiri, mengapa ikon bulan sabit dan bintang menjadi simbol Islam? Mengapa di ujung atas kubah masjid bertengger ikon bulan sabit dan bintang? Benarkah ikon bulan sabit dan bintang adalah lambang Islam?

Bulan Sabit dan Penaklukan Byzantium

Setelah googling dengan kata kunci „crescent Islam“, ternyata penggunaan ikon bulan sabit tak lepas dari pemujaan terhadap para dewa atau politeisme. Ikon bulan sabit dan bintang sendiri telah digunakan jauh sebelum Islam datang. Sebagian besar ikon ini digunakan oleh bangsa-bangsa di Asia Tengah dan Siberia yang memuja bulan dan matahari. Ikon ini juga digunakan oleh bangsa Yunani untuk menyembah Dewi Diana.

Generasi pertama Islam pada zaman Nabi Muhammad SAW tidak memiliki atau mengadopsi ikon apa pun. Pada masa itu, Rasulullah dan para sahabat hanya menggunakan warna solid untuk menandai pasukan pada saat perang. Namun demikian, warna itu pun bukanlah ikon umat Islam.

Lantas, darimana bulan sabit dan bintang diadopsi menjadi ikon umat Islam?

Sebelum ditaklukan oleh Islam, Byzantium menggunakan ikon bulan sabit dan bintang sebagai lambang kerajaannya. Ikon bulan sabit dan bintang digunakan sebagai penghormatan kepada Dewi Diana. Di awal penaklukan Byzantium oleh Islam, ikon ini tidak digunakan oleh umat Islam.

Nah, sejak dinasti Ottoman berkuasa di Konstantinopel (dulu Byzantium), ikon bulan sabit dan bintang sering diafiliasikan dengan Islam. Sejak Turki menguasai Konstantinopel tahun 1453, mereka mengadopsi bendera yang berlambangkan bulan sabit dan bintang. Karena itu, sebagian sejarawan berpendapat bahwa ikon bulan sabit dan bintang adalah lambang dinasti Ottoman dan bukan lambang Islam. Namun karena pada masa itu Islam—di bawah pemerintahan dinasti Ottoman—tengah berjaya, maka ikon bulan sabit dan bintang diidentikkan dengan Islam. Identifikasi ini kemudian terus berlangsung hingga hari ini.

Kaum Manakah Kita?

Mencermati sejarah dan cikal bakal penggunaan ikon bulan sabit dan bintang tersebut, maka jelas bahwa ikon bulan sabit dan bintang tidak merepresentasikan Islam. Karena itu, jika hari ini kita masih menggunakan ikon bulan sabit dan atau bulan sabit dan bintang, termasuk kaum manakan kita?

NB. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam referensi. Silakan jika ada yang perlu dibetulkan  dan atau ditambahkan

TRAGEDI KIPAS ANGIN (Part 2)

“Miss Je, apa kabar??” ujar Susan sebulan setelah pernikahanku.

“Alhamdulillah baik… kumaha damang?” sahutku sambil cipika cipiki kangen (adik-adik menties-ku yang lain, kemana sajakah kalian. Red).

Sebagai sesama penganten baru, spontan kami saling curhat ringan yang ‘gak penting’, termasuk cerita ‘gak pentingku’ tentang kipas angin.

“Tahu gak sih, San, masak konyol banget deh pas waktu bukain kado,” ujarku membuka small talk. Dan bla..bla..bla terucaplah tragedi kipas angin yang aku dan suamiku alami.

“Haaa??? Masak sih, Miss??” pekik Susan tak percaya. Wajahku jadi berkerut melihat ekspresi wajah Susan. “Itu kan hadiah dari kita-kita,” ujarnya hampir menangis.

“Apaa???” Allahu Akbar… Aku jadi ikut memekik lirih mendengarnya. Membayangkan Susan dan adik-adik mentiesku yang patungan dan bersusah payah membeli kipas angin itu.

“Padahal aku udah bawa berat-berat, Miss. Mana sempet berantem sama tukang ojek lagi,” kisah Susan lirih. Aduh, semakin melas aku mendengarnya.

“Ma-maaf ya, San…”

“Yah… gak apa-apa sih.”

Pertanyaan berikutnya adalah, kemanakah kado berisi kipas angin itu berada? Apakah tertinggal di gedung tempat resepsi berlangsung? Atau terbawa di mobil pengangkut pengantin plus seserahan dan tumpukan kado? (Maklum kita gak pake mobil khusus pengantin. Red)

“Ah, Tya gimana sih?” ujar Susan agak sewot terhadap kinerja para penjaga buku tamu, termasuk Tya .

Akhirnya kami menghubungi Tya lewat telepon. Jawaban Tya ternyata juga tidak memuaskan. “Aku gak ikut ngangkutin kado-kado. Aku cuma nomorin kado sama nyimpen kado-kado itu di deket meja buku tamu,” ujarnya pelan. Meskipun aku tidak melihat ekspresinya, tapi aku merasa Tya jadi feeling guilty.

Meskipun sedikit kecewa, aku berusaha menenangkan Susan, “Sudah, gak apa-apa, nanti aku cari, San. Siapa tahu kadonya kebawa mobil tanteku yang ngangkut kado-kado”.

Dari raut wajahnya, aku dapat melihat kekecewaan Susan, apalagi kado itu adalah hasil patungan yang berarti amanah sejumlah orang. Duh… adik-adikku, maaf ya kalau hadiah kalian tidak sampai. Mohon diikhlaskan jika dana patungan dan jerih payah kalian demi kado buatku menjadi sia-sia belaka. Insyaallah pasti ada hikmah di baliknya….

TO BE CONTINUED…

 : pengantin dan para penjaga buku tamu

TRAGEDI KIPAS ANGIN (Part 2)

“Miss Je, apa kabar??” ujar Susan sebulan setelah pernikahanku.

“Alhamdulillah baik… kumaha damang?” sahutku sambil cipika cipiki kangen (adik-adik menties-ku yang lain, kemana sajakah kalian. Red).

Sebagai sesama penganten baru, spontan kami saling curhat ringan yang ‘gak penting’, termasuk cerita ‘gak pentingku’ tentang kipas angin.

“Tahu gak sih, San, masak konyol banget deh pas waktu bukain kado,” ujarku membuka small talk. Dan bla..bla..bla terucaplah tragedi kipas angin yang aku dan suamiku alami.

“Haaa??? Masak sih, Miss??” pekik Susan tak percaya. Wajahku jadi berkerut melihat ekspresi wajah Susan. “Itu kan hadiah dari kita-kita,” ujarnya hampir menangis.

“Apaa???” Allahu Akbar… Aku jadi ikut memekik lirih mendengarnya. Membayangkan Susan dan adik-adik mentiesku yang patungan dan bersusah payah membeli kipas angin itu.

“Padahal aku udah bawa berat-berat, Miss. Mana sempet berantem sama tukang ojek lagi,” kisah Susan lirih. Aduh, semakin melas aku mendengarnya.

“Ma-maaf ya, San…”

“Yah… gak apa-apa sih.”

Pertanyaan berikutnya adalah, kemanakah kado berisi kipas angin itu berada? Apakah tertinggal di gedung tempat resepsi berlangsung? Atau terbawa di mobil pengangkut pengantin plus seserahan dan tumpukan kado? (Maklum kita gak pake mobil khusus pengantin. Red)

“Ah, Tya gimana sih?” ujar Susan agak sewot terhadap kinerja para penjaga buku tamu, termasuk Tya .

Akhirnya kami menghubungi Tya lewat telepon. Jawaban Tya ternyata juga tidak memuaskan. “Aku gak ikut ngangkutin kado-kado. Aku cuma nomorin kado sama nyimpen kado-kado itu di deket meja buku tamu,” ujarnya pelan. Meskipun aku tidak melihat ekspresinya, tapi aku merasa Tya jadi feeling guilty.

Meskipun sedikit kecewa, aku berusaha menenangkan Susan, “Sudah, gak apa-apa, nanti aku cari, San. Siapa tahu kadonya kebawa mobil tanteku yang ngangkut kado-kado”.

Dari raut wajahnya, aku dapat melihat kekecewaan Susan, apalagi kado itu adalah hasil patungan yang berarti amanah sejumlah orang. Duh… adik-adikku, maaf ya kalau hadiah kalian tidak sampai. Mohon diikhlaskan jika dana patungan dan jerih payah kalian demi kado buatku menjadi sia-sia belaka. Insyaallah pasti ada hikmah di baliknya….

TO BE CONTINUED…

: pengantin dan para penjaga buku tamu

"Jangan kamu berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu,’ (QS Al Hadid: 23)."

TRAGEDI KIPAS ANGIN (Part 1)

“Miss, mau kado apa?” tanya Susan dua minggu menjelang pernikahanku. Spontan kujawab, “Kipas angin,” sambil melirik calon kamar pengantin yang hawanya sumpah panas banget. Maklum, kamar-kamar di rumahku memang kecil, ditambah lagi udara Jakarta yang panas dan sumpek, maka sempurnalah hawa panas dalam kamar jika tidak dilengkapi dengan kipas angin (karena gak mampu pake AC. Red).

Benar saja, malam pertama kami lalui dengan sedikit sauna karena hawa panas plus tidak ada kipas angina. Eits… jangan ngeres yak! Malam pertama asli tidur pulas kok, secara capek banget seharian mengurusi tetek bengek akad nikah dan resepsi .

Karena itu, keesokan harinya aku berinisiatif untuk membuka kado-kado hadiah dari para handai taulan. “Siapa tahu ada kipas angin dari Susan nih,” ujarku penuh harap.

“Yang itu kali,” seru ibuku sambil menunjuk salah satu bungkusan yang agak besar.

Dengan semangat kami membukanya. Ternyata isinya seperangkat gelas minum teh. Yang gedean itu kali,“ ujar suamiku. Ternyata isinya barang pecah belah juga. Hal serupa terjadi ketika kami membuka kado yang berukuran agak besar. Meskipun sedikit kecewa karena belum menemukan benda yang diharapkan, kami tetap bersemangat membuka kado satu per satu.

Lama-lama kami lelah juga membuka hampir semua kado tapi tak kunjung mendapatkan benda yang diharapkan. Sebagian besar kado berupa barang pecah belah dan sprei. Kemudian mataku melirik sebuah bingkisan berbentuk kotak besar dengan motif kado garis-garis warna-warni yang nyempil di pojok ruangan. “Apa itu kali,“ ujarku.

Suamiku lalu menyeret bingkisan berbentuk kotak yang ternyata beratnya lumayan itu. Namun binar mataku kemudian meredup ketika membaca label di sisi atas bingkisan yang bertuliskan “Hati-hati Barang Pecah Belah!“.

“Yah… barang pecah belah lagi. Kalau gitu bukanya nanti aja deh,“ ujarku sedikit kecewa

Akhirnya kami beralih ke kado-kadi berukuran kecil yang tentu saja mustahil isinya kipas angin. Meski demikian, pikiran konyolku tetap berharap siapa tahu ada kipas angin lipat sehingga bungkusnya kecil hehehe…

Alhasil, kami tidak menemukan benda yang diharapkan, yaitu kipas angin. “Kayaknya emang gak boleh ngarepin kado dari orang nih hehehehe…“ ujarku sambil istighfar dalam hati. Memang, ternyata berharap itu cuma sama Allah, bukan sama manusia

 

TO BE CONTINUED….

TRAGEDI KIPAS ANGIN (Part 1)

“Miss, mau kado apa?” tanya Susan dua minggu menjelang pernikahanku. Spontan kujawab, “Kipas angin,” sambil melirik calon kamar pengantin yang hawanya sumpah panas banget. Maklum, kamar-kamar di rumahku memang kecil, ditambah lagi udara Jakarta yang panas dan sumpek, maka sempurnalah hawa panas dalam kamar jika tidak dilengkapi dengan kipas angin (karena gak mampu pake AC. Red).

Benar saja, malam pertama kami lalui dengan sedikit sauna karena hawa panas plus tidak ada kipas angina. Eits… jangan ngeres yak! Malam pertama asli tidur pulas kok, secara capek banget seharian mengurusi tetek bengek akad nikah dan resepsi .

Karena itu, keesokan harinya aku berinisiatif untuk membuka kado-kado hadiah dari para handai taulan. “Siapa tahu ada kipas angin dari Susan nih,” ujarku penuh harap.

“Yang itu kali,” seru ibuku sambil menunjuk salah satu bungkusan yang agak besar.

Dengan semangat kami membukanya. Ternyata isinya seperangkat gelas minum teh. Yang gedean itu kali,“ ujar suamiku. Ternyata isinya barang pecah belah juga. Hal serupa terjadi ketika kami membuka kado yang berukuran agak besar. Meskipun sedikit kecewa karena belum menemukan benda yang diharapkan, kami tetap bersemangat membuka kado satu per satu.

Lama-lama kami lelah juga membuka hampir semua kado tapi tak kunjung mendapatkan benda yang diharapkan. Sebagian besar kado berupa barang pecah belah dan sprei. Kemudian mataku melirik sebuah bingkisan berbentuk kotak besar dengan motif kado garis-garis warna-warni yang nyempil di pojok ruangan. “Apa itu kali,“ ujarku.

Suamiku lalu menyeret bingkisan berbentuk kotak yang ternyata beratnya lumayan itu. Namun binar mataku kemudian meredup ketika membaca label di sisi atas bingkisan yang bertuliskan “Hati-hati Barang Pecah Belah!“.

“Yah… barang pecah belah lagi. Kalau gitu bukanya nanti aja deh,“ ujarku sedikit kecewa

Akhirnya kami beralih ke kado-kadi berukuran kecil yang tentu saja mustahil isinya kipas angin. Meski demikian, pikiran konyolku tetap berharap siapa tahu ada kipas angin lipat sehingga bungkusnya kecil hehehe…

Alhasil, kami tidak menemukan benda yang diharapkan, yaitu kipas angin. “Kayaknya emang gak boleh ngarepin kado dari orang nih hehehehe…“ ujarku sambil istighfar dalam hati. Memang, ternyata berharap itu cuma sama Allah, bukan sama manusia

TO BE CONTINUED….

haji dengan paspor hijau? berarti bisa haji backpacking doong… insyaallah, alhamdulillah :))