Ketika Cinta Bestabih (1&2)

Rating: ★★★
Category: Movies
Genre: Drama

3 bintang dari 5 bintang? Yup! Itu opini saya ttg keseluruhan film Ketika Cinta Bertasbih (KCB) garapan sutradara Chaerul Umam. Sebenarnya banyak kelebihan dalam film ini, namun sayangnya banyak unsur yang menegasikan kelebihan film ini. Alhasil secara keseluruhan film ini pantas menyandang 3 bintang saja.

Dari segi akting para pemain, saya acungkan 2 jempol untuk mereka, terutama para pendatang baru…Standing applause untuk mereka. Kolaborasi para aktor senior maupun junior dapat melebur dengan harmonis sehingga mampu membawa para penonton ke dalam emosi para tokoh. Meski demikian, beberapa figuran aktingnya pas-pasan, bahkan nyata terlihat bersusah payah menghapal dialog, sehingga aktingnya tidak natural. Tapi secara keseluruhan para tokoh utama film aktingnya bintang lima, salut!

Hal lain yang ‘lumayan’ bagus adalah upaya adaptasi novel ke film. Meskipun novel dan film adalah 2 media berbeda, namun hal ini tak bisa dinafikan dari penilaian para penonton yang awalnya adalah pembaca novel KCB. Jujur saja saya belum membaca novelnya. Tetapi sebagai penonton yang belum membaca novelnya, saya bisa memahami jalan cerita dengan baik. Sayangnya–seperti kebanyakan film adaptasi dari novel–alurnya terkesan tergesa-gesa. Sutradara nampak ingin menumpahkan semua yang ada di novel, namun terbentur pada durasi waktu.

Alur yang tergesa-gesa ini dilengkapi dengan dialog/monolog yang “lebay” (kalau tidak mau dibilang “buruk” ^^). Kesan ini sudah nampak dari awal film KCB 2 saat Husna memberikan ucapan terima kasih di acara penganugerahan award sastra. Duh… kata-katanya lebay banget! Sangat hiperbola. Mungkin maksudnya ingin membawa emosi penonton, tapi kok jadinya malah bikin ilfil. Ke-lebay-an ini diperparah dengan ekspresi Azzam yang ujug-ujug menangis terharu oleh kata-kata Husna yang “lebay” menyanjung dirinya.

Ketergesa-gesaan lain dalam dialog film ini menonjol saat adegan tokoh-tokoh yang bertamu dan hendak menyampaikan maksud kedatangannya. Sutradara (atau penulis naskah) nyata nampak dikejar durasi waktu, sehingga dialog langsung to the point, seolah mengabaikan budaya basa-basi orang Jawa–mengingat setting film KCB 2 di wilayah Jawa Tengah.

Ketergesa-gesaan ini membuat emosi penonton menjadi datar-datar saja. Karena belum tuntas emosi suatu adegan, eeeh… sudah pindah ke adegan lain yang membawa ke emosi yang berbeda. Tapi… sempat terharu juga sih waktu ibunya Azzam meninggal. Tragis!

Namun demikian, film ‘khas’ Chairul Umam ini memiliki pesan-pesan religi yang tidak menggurui. Bahkan mungkin bagi penonton umum yang awam dengan proses taaruf tanpa pacaran, film ini menjadi referensi apik bagi mereka yang ingin mengetahui proses mencari jodoh yang sesuai syariat Islam.

After all, film ini lumayan menghibur. Terutama di KCB 2, penonton dijamin akan terhibur dengan harmonisasi akting para aktor. Selamat menonton 😉

Advertisements
Previous Post
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: