Puding Karamel Kukus


Description:
Udah lama banget pengen bikin puding karamel, tapi karena gak punya pemanggang alias oven, makanya belom pernah bikin. Alhamdulillah dapet resep yang versi kukus dari FB-nya Mbak Neta. Meski belum dipraktekkin, semoga resep ini bermanfaat ;p *mengusap liur sambil menuju dapur*

Ingredients:
300 ml susu cair
30 gr gula pasir
2 butir telur
½ sdm essens vanili
40 gr gula pasir untuk saus karamel

Directions:
Saus caramel :
Gula pasir ditambah 1 sdm air matang, rebus dengan api kecil. Biarkan hingga berwarna kuning kecoklatan. Selagi panas segera tuangkan ke dalam cup/cangkir tahan panas. Biarkan hingga mengeras.

Pudding :
masak susu cair dan gula pasir hingga panas dan berasap (tidak perlu sampai mendidih). Kocok lepas telur dan campur dengan susu. Tuangkan ke dalam wadah yang sudah diberi saus caramel. Kukus selama kurang lebih 30 menit.

Disajikan dingin lebih enak. Aroma caramel bercampur dengan vanilla, hmmm… nikmaaaat… (yang ini kata Mbak Neta :))

Advertisements

Kami, putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, Bangsa Indonesia….

Having Baby

“Hidup ini aneh ya. Ada yang kepingiiin banget punya anak, malah belum dikasih juga sama Allah. Ada yang bosen ngelahirin, eh dikasih anak. Malahan ada yang nangis pas tahu dia hamil,” celoteh seorang teman.

Aku hanya tersenyum. Yeah… manusia memang amat terbatas ilmunya sampai-sampai begitu sulitnya memahami rencana Allah.

Celotehan temanku itu mengingatkanku pada kisah sejumlah pasutri teman-temanku. Ada yang pingin honey moon dulu (belum pingin punya anak. Red), eh langsung hamil. Ada yang sudah lima tahun menikah ternyata belum dikasih momongan, karena ada masalah kesehatan sehingga mereka berencana mengadopsi anak. Ada yang enam tahun menikah tapi keguguran terus, akhirnya memutuskan melakukan inseminasi. Bahkan ada yang sudah tiga tahun menikah dan didiagnosa tidak ada masalah kesehatan/kesuburan pada diri suami maupun istrinya, tetapi sang istri belum juga hamil.

Yang lebih menyayat hati, seorang temanku yang amat menjaga kehamilannya ternyata melahirkan anak cacat. Putrinya terkena Edward Syndrome, yaitu kelainan kromosom nomor 19. Aku sampai menahan air mata waktu membezuknya. Bayi mungil itu harus dibantu selang oksigen untuk bernafas karena sekat di paru-parunya tidak sempurna. Bahkan sang ibu sempat stres lantaran anaknya tidak bisa menangis, sehingga tidak terdeteksi apakah sang anak lapar atau ingin pub. Kisah selengkapnya tentang sahabatku dan putrinya ini bisa diklik di sini.

Subhanallah… aku turut prihatin dengan kisah mereka. Namun aku salut dengan ketabahan sahabatku itu. Aku sendiri tak tahu apakah sanggup menanggung jika diberi ujian serupa.

Kisah lainnya tak kalah membuatku menitikkan air mata. Seorang sahabat yang amat merindukan anak dengan izin Allah hamil setelah 5 bulan menikah. Sahabatku yang sejak sebelum menikah punya tagline “Mom wannabe” ini sangat rajin meng-update status di facebook tentang kehamilannya. Bahkan sampai menjelang persalinan pun ia setia meng-update status. Namun setelah beberapa hari sampai status terakhir menjelang persalinannya, tidak ada status update lagi. Yang ada justru tulisan di wall facebook-nya yang berbunyi, “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Sabar ya sayang, ikhlas ya…”.

Innalillahi… ternyata putri pertama sahabatku telah dipanggil Allah di hari kelahirannya. Air mataku menetes saat membaca wall facebook-nya sambil tak henti aku berdoa. Aku memang tidak merasakan apa yang dirasakan sahabatku, tapi saat itu aku seperti berada di posisinya. Namun aku tidak bisa membayangkan jika aku yang ditimpa cobaan itu.

Masih dalam suasana duka, tak sengaja aku membaca blog seorang ayah yang baru saja kehilangan bayinya yang baru lahir, padahal setelah bertahun-tahun menikah ia belum juga dikaruniai anak. Merinding aku membaca tulisannya yang dengan ringannya berujar, “Kenapa harus sedih? Justru saya bersyukur, gak perlu repot membesarkan anak, dia sudah masuk surga.”

Subhanallah… Iya ya, Rasulullah kan telah bersabda bahwa bayi yang meninggal itu akan menjadi syafaat (penolong) bagi kedua orang tuanya di akhirat kelak. Allahu Akbar… Betapa besar hati orang ini. Betapa besar rasa syukur dan sabarnya pada Allah bahkan di saat duka sekalipun. Kata-katanya yang begitu ringan namun menyentil ini seolah membalik logikaku tentang ‘duka’. Betapa suatu fenomena atau kejadian itu tergantung bagaimana kita memaknainya. Bukankah “Bersama kesulitan itu ada kemudahan” (QS Al Insyirah: 6)?

Aku sangat bersyukur mendapat kesempatan oleh Allah memetik pelajaran dari kisah-kisah tersebut. Meskipun aku sendiri tidak tahu akan termasuk yang mana dari kisah di atas, karena apa yang menurutku baik belum tentu baik di mata Allah. Begitu juga sebaliknya, apa yang menurutku tidak baik, justru baik di mata Allah. Tapi kalau boleh memilih, aku ingin segera hamil kemudian melahirkan dan membesarkan anak yang sehat, normal, dan sholeh/sholehah…. boleh kan ya Allah ? Amin ya Robbal’alamin.

Doa di Hadapan Ka’bah

Menyimak berita-berita tentang haji membuatku menoleh ke Bulan Dzulhijah 1427 H alias dua tahun lalu saat menunaikan rukun Islam ke-5 bersama ibunda tercinta. Ditambah lagi akhir-akhir ini ibu sering bertanya ‘gak penting’, seperti, “Jat, dulu kita penginapan haji jaraknya berapa km ya dari Masjidil Haram?” atau “Jat, dulu kita ke Jabal Rahmah juga kan ya?” dll.

Hihihi… Jadi ingat teks daftar titipan doa dari handai taulan di tanah air yang selalu kuselipkan dalam mushaf Quran supaya gak lupa. Pada suatu kesempatan di hadapan Ka’bah kupanjatkan daftar doa tersebut. Dan tanpa sadar, spontan kupanjatkan sebuah doa di luar daftar. Ya Allah… semoga suatu saat nanti permohonan itu Kau Wujudkan… amin ya Robbal’alamin.

Having Baby

“Hidup ini aneh ya. Ada yang kepingiiin banget punya anak, malah belum dikasih juga sama Allah. Ada yang bosen ngelahirin, eh dikasih anak. Malahan ada yang nangis pas tahu dia hamil,” celoteh seorang teman.

Aku hanya tersenyum. Yeah… manusia memang amat terbatas ilmunya sampai-sampai begitu sulitnya memahami rencana Allah.

Celotehan temanku itu mengingatkanku pada kisah sejumlah pasutri teman-temanku. Ada yang pingin honey moon dulu (belum pingin punya anak. Red), eh langsung hamil. Ada yang sudah lima tahun menikah ternyata belum dikasih momongan, karena ada masalah kesehatan sehingga mereka berencana mengadopsi anak. Ada yang enam tahun menikah tapi keguguran terus, akhirnya memutuskan melakukan inseminasi. Bahkan ada yang sudah tiga tahun menikah dan didiagnosa tidak ada masalah kesehatan/kesuburan pada diri suami maupun istrinya, tetapi sang istri belum juga hamil.

Yang lebih menyayat hati, seorang temanku yang amat menjaga kehamilannya ternyata melahirkan anak cacat. Putrinya terkena Edward Syndrome, yaitu kelainan kromosom nomor 19. Aku sampai menahan air mata waktu membezuknya. Bayi mungil itu harus dibantu selang oksigen untuk bernafas karena sekat di paru-parunya tidak sempurna. Bahkan sang ibu sempat stres lantaran anaknya tidak bisa menangis, sehingga tidak terdeteksi apakah sang anak lapar atau ingin pub. Kisah selengkapnya tentang sahabatku dan putrinya ini bisa diklik di sini.

Subhanallah… aku turut prihatin dengan kisah mereka. Namun aku salut dengan ketabahan sahabatku itu. Aku sendiri tak tahu apakah sanggup menanggung jika diberi ujian serupa.

Kisah lainnya tak kalah membuatku menitikkan air mata. Seorang sahabat yang amat merindukan anak dengan izin Allah hamil setelah 5 bulan menikah. Sahabatku yang sejak sebelum menikah punya tagline “Mom wannabe” ini sangat rajin meng-update status di facebook tentang kehamilannya. Bahkan sampai menjelang persalinan pun ia setia meng-update status. Namun setelah beberapa hari sampai status terakhir menjelang persalinannya, tidak ada status update lagi. Yang ada justru tulisan di wall facebook-nya yang berbunyi, “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Sabar ya sayang, ikhlas ya…”.

Innalillahi… ternyata putri pertama sahabatku telah dipanggil Allah di hari kelahirannya. Air mataku menetes saat membaca wall facebook-nya sambil tak henti aku berdoa. Aku memang tidak merasakan apa yang dirasakan sahabatku, tapi saat itu aku seperti berada di posisinya. Namun aku tidak bisa membayangkan jika aku yang ditimpa cobaan itu.

Masih dalam suasana duka, tak sengaja aku membaca blog seorang ayah yang baru saja kehilangan bayinya yang baru lahir, padahal setelah bertahun-tahun menikah ia belum juga dikaruniai anak. Merinding aku membaca tulisannya yang dengan ringannya berujar, “Kenapa harus sedih? Justru saya bersyukur, gak perlu repot membesarkan anak, dia sudah masuk surga.”

Subhanallah… Iya ya, Rasulullah kan telah bersabda bahwa bayi yang meninggal itu akan menjadi syafaat (penolong) bagi kedua orang tuanya di akhirat kelak. Allahu Akbar… Betapa besar hati orang ini. Betapa besar rasa syukur dan sabarnya pada Allah bahkan di saat duka sekalipun. Kata-katanya yang begitu ringan namun menyentil ini seolah membalik logikaku tentang ‘duka’. Betapa suatu fenomena atau kejadian itu tergantung bagaimana kita memaknainya. Bukankah “Bersama kesulitan itu ada kemudahan” (QS Al Insyirah: 6)?

Aku sangat bersyukur mendapat kesempatan oleh Allah memetik pelajaran dari kisah-kisah tersebut. Meskipun aku sendiri tidak tahu akan termasuk yang mana dari kisah di atas, karena apa yang menurutku baik belum tentu baik di mata Allah. Begitu juga sebaliknya, apa yang menurutku tidak baik, justru baik di mata Allah. Tapi kalau boleh memilih, aku ingin segera hamil kemudian melahirkan dan membesarkan anak yang sehat, normal, dan sholeh/sholehah…. boleh kan ya Allah ? Amin ya Robbal’alamin.

Doa di Hadapan Ka’bah

Menyimak berita-berita tentang haji membuatku menoleh ke Bulan Dzulhijah 1427 H alias dua tahun lalu saat menunaikan rukun Islam ke-5 bersama ibunda tercinta. Ditambah lagi akhir-akhir ini ibu sering bertanya ‘gak penting’, seperti, “Jat, dulu kita penginapan haji jaraknya berapa km ya dari Masjidil Haram?” atau “Jat, dulu kita ke Jabal Rahmah juga kan ya?” dll.

Hihihi… Jadi ingat teks daftar titipan doa dari handai taulan di tanah air yang selalu kuselipkan dalam mushaf Quran supaya gak lupa. Pada suatu kesempatan di hadapan Ka’bah kupanjatkan daftar doa tersebut. Dan tanpa sadar, spontan kupanjatkan sebuah doa di luar daftar. Ya Allah… semoga suatu saat nanti permohonan itu Kau Wujudkan… amin ya Robbal’alamin.

Ketegasan Pak Anton Soal Halal

Di perjamuan makan resmi pemerintah Rumania, (mantan) Menteri Pertanian RI hanya mencicipi salad, roti tawar, air putih, dan buah.

Suatu hari empat tahun lalu, Anton Apriyantono sedang mengajar di Kampus IPB Darmaga ketika ditelepon Sudi Silalahi untuk bertemu SBY di Puri Cikeas. Mulanya, ia tak begitu saja percaya pada si penelepon, sampai Sudi memberikan keterangan yang meyakinkan bahwa dirinya memang ‘’orang SBY’’ – yang baru saja terpilih sebagai presiden menggantikan Presiden Megawati.

Anton sempat menawar agar ia diberi waktu lebih longgar untuk datang. ‘’Bukan apa-apa, soalnya saat itu saya sedang ngajar. Saya juga harus mencari sopir yang tahu jalan ke Cikeas,’’ ungkap Anton dalam sebuah buka bersama di rumah dinasnya. Ternyata, sopir yang dibutuhkan tidak didapat. Akhirnya Anton memutuskan menyetir sendiri, didampingi rekan sepengajiannya, Dr Ahmad.

Ketika sampai di Puri Cikeas, para petugas jaga mengira Anton hanyalah sopir yang membawa calon menteri. Ia pun disuruh memarkir mobil pada kaplingnya dan diminta menunggu di ruang tunggu. Eh, ternyata si ‘’sopir’’ justru berjalan menuju tempat SBY sementara rekannya ke ruang tunggu.

‘’Wah, tapi tas dan sepatu saya nggak lusuh seperti yang diberitakan. Tapi barangkali kalau dibandingkan dengan penampilan calon menteri lain memang begitu ya,’’ kenang Anton sambil tertawa.

Anton memang dikenal bersahaja sejak dulu. Saat ia diangkat menjadi Mentan dalam Kabinet Indonesia Bersatu yang dikomandoi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Daisy Irawan lewat surat elektronik panjang memberi kesaksian tentang sosoknya. Daisy adalah sarjana alumnus UGM Yogyakarta yang dekat dengan Anton tatkala mengambil master di bidang food science di IPB. Tulis Daisy:

Hari ini, kecelelah orang-orang yang selama ini memandang rendah terhadap beliau. Tergondok-gondoklah orang yang menertawakan kaus kakinya yang bolong. Terhinalah mereka semua yang hobi menghina-hina orang karena hal-hal duniawi. Pak Anton yang sederhana, yang bertahun-tahun tidak punya televisi karena menurut beliau lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya, yang suka ‘’merepotkan’’ karena sifatnya yang perfeksionis, yang rewel dengan status kehalalan makanan — sifat yang ini menguntungkan saya sebagai tukang cicip 🙂 — eh, hari ini sudah resmi jadi menteri!

‘’Sungguh perjalanan hidup yang tak disangka pula saya berkesempatan mengenal beliau secara pribadi baik sebagai mahasiswa Program Studi Pasca Sarjana IPB maupun asisten beliau semasa kuliah. He is one of the best!’’ lanjut perempuan beragama Katolik yang bekerja di Indofood.

Dalam Resonansi-nya di Republika, Zaim Uchrowi yang alumnus IPB menulis: ‘’Sebagai ilmuwan, Anton Apriyantono dikenal perfeksionis, konsisten, pekerja keras, dan fokus. Ia memperjuangkan ’halal’ di tengah masyarakat yang katanya agamis ini. Ia mengikhlaskan hidup untuk perjuangannya itu.’’

Perjuangan Anton didukung anugerah berupa indera penciuman yang tajam untuk menggeledah jenis dan kualitas makanan atau minuman. ‘’Sebagai seorang flavour scientist, saya selalu curious dengan bau-bauan. Saya punya kebiasaan mencium apa-apa yang akan dimakan,’’ aku pakar pangan IPB ini.

Suatu pagi Rossi, sang istri, menyodorkan mie goreng buat sarapan suami. Dengan bersemangat, Anton menuju meja makan. Tapi, dari jarak agak jauh, hidungnya sudah membau kurang enak. Ia lalu mengendus bau mie goring tersaji. Eh, ternyata benar, mie tersebut sudah menyimpang baunya.

‘’Ini mie kemarin ya Ma,’’ kata Anton. ‘’Iya tuh, maaf yah,’’ sahut sang istri malu-malu. ‘’Aduh, maaf nih Ma, saya nggak bisa memakannya. Mie ini sudah rusak, saya khawatir dengan perut saya,’’ kata Anton.

Lain pagi, iseng-iseng Anton ikut pesan jamu keliling langganan pembantunya. Tak tanggung-tanggung, ia mengorder jamu sehat lelaki. ‘’Pakai telur mboten, Pak,’’ tanya si Mbok jamu. Sambil mengiyakan, Anton lalu membuka tutup botol-botol jamu, lalu membauinya satu per satu. ‘’Bapak emang biasa begitu, Mbok,’’ kata istri Anton melihat kelakuan suaminya. ‘’Ya ndak apa-apa, to Bu,’’ sahut si Mbok sambil tertawa.

‘’Nah,’’ kata Anton tiba-tiba. ‘’Iki opo Mbok?’’ katanya sambil menunjukkan botol yang mengobarkan aroma alcoholic beverages.

‘’Iku anggur,” jawab si Mbok kalem.

Masya Allah, betul dugaan Anton. Ia pun lalu memberi pengertian pada penjual jamu. ‘’Tolong ini jangan diberikan untuk orang Islam, ya Mbok. Nggak boleh sama Gusti Allah,’’ pinta Anton dalam dialek Jawa. Saat itu ia belum tega untuk melarang si Mbok jualan anggur sama sekali.
Jangan kira Anton beraninya hanya pada wong cilik. Pernah, seusai mengaudit sebuah pabrik milik perusahaan besar, Anton dan rekan-rekan auditor LPPOM MUI disuguhi makan siang oleh tuan rumah. Saat itu dengan lugunya para petinggi perusahaan menyilakan tamunya menyantap makanan paket bermenu Jepang dari sebuah resto Jepang terkenal.

‘’Maaf, ini belum bersertifikat halal. Tolong saya minta nasi Padang saja,’’ kata Anton sambil menyingkirkan hidangan dari hadapannya.

Warung Padang pula yang akhirnya menjadi solusi bagi tuan rumah di sebuah acara resmi di NTT, tatkala menteri Pertanian Anton Apriyantono berkunjung ke sana. Semula panitia ngeri, sambutannya bakal dinilai keterlaluan untuk menghargai seorang petinggi negara. Tapi ternyata Pak Anton makan dengan lahapnya di warung Padang itu.

Skenario tersebut susah payah di-arrange oleh Sekretaris Menteri, Dr Abdul Munif, berdasarkan pengalaman sebelumnya mendampingi Mentan di Bali. Waktu itu, panitia menjamu Mentan dan rombongan di sebuah restoran besar. Hidangan memang tidak menyuguhkan babi. Tapi, demi melihat menu babi di daftar menu reguler restoran tersebut, Pak Menteri kontan mengurungkan makan.

‘’Saya makan pop mie (yang bersertifikat halal) dan air putih saja,’’ kata Anton tanpa basa basi.

Kementrian Pertanian dan Peternakan Rumania pun pernah mencicipi ketegasan Anton Apriyantono dalam soal makanan halal. Waktu itu, mereka mengundang Mentan dan rombongan Kedubes RI di Bukarest dalam sebuah jamuan kenegaraan.

‘’Silakan, ini halal food, tidak ada babi,’’ tuan rumah yang sudah berkoordinasi dengan Sekretaris Menteri Pertanian RI, mempersilakan Menteri Anton.

Saat itu, selain menu vegetables, juga tersaji daging bison dan kalkun muda nan mengundang selera. Anggota rombongan Mentan yang memang sedang lapar, sudah membayangkan bakal bersantap besar yang uenak tenan.

Olala, ternyata Pak Anton hanya memakan salad, makan roti tawar, minum air putih, lalu mengakhiri makan dengan buah-buahan. That’s all. Sebab, perkara halal bukan sekadar ada tidaknya daging babi. Daging binatang halal pun mesti dikejar lagi bagaimana cara penyembelihannya. Terlebih di negeri Barat yang umumnya tidak mengenal halal-haram.
Ketika tuan rumah Rumania setengah memaksa mencicipi hidangan besar lainnya, Menteri Pertanian hanya berucap, ‘’Sudah cukup buat saya, terima kasih.’’

Tak hanya shohibul bait yang melongo. Rombongan Pak Menteri pun terpaksa mengikuti jejak boss-nya.

Anton Apriyantono dengan ketegasannya, di masa kiwari tentulah menjadi sosok pribadi asing (al ghuraba). Kata Rasulullah SAW, “Islam bermula dalam keadaan asing (gharib), dan akan kembali di anggap asing sebagaimana bermula. Maka beruntunglah orang-orang asing itu (ghuraba)” (HR Imam Muslim).

“Siapakah Al ghuraba itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang melakukan perbaikan ketika orang-orang lain rusak” (HR Imam Thabrani dari Sahal ra).
Dalam riwayat Imam Baihaqy dan Imam Tirmidzi, maksud ghuraba adalah “Orang-orang yang menghidupkan sunnahku dan mengajarkannya kepada manusia.” Sedangkan dalam riwayat Imam Ahmad dan Imam Thabrani, maksud ghuraba adalah “Manusia shalih yang sedikit di antara manusia yang banyak. Orang yang menentang mereka lebih banyak di banding yang mentaati mereka.” (nurbowo/majalah ALIA nop 09)

di-copy paste dari sini

What is that

Mengharukan…
Robbi firli wali wali daya warhamhuma kama robbaya ni soghiroh

Idul Adha

Start:      Nov 27, ’09 02:00a

Ketegasan Pak Anton Soal Halal

Di perjamuan makan resmi pemerintah Rumania, (mantan) Menteri Pertanian RI hanya mencicipi salad, roti tawar, air putih, dan buah.

Suatu hari empat tahun lalu, Anton Apriyantono sedang mengajar di Kampus IPB Darmaga ketika ditelepon Sudi Silalahi untuk bertemu SBY di Puri Cikeas. Mulanya, ia tak begitu saja percaya pada si penelepon, sampai Sudi memberikan keterangan yang meyakinkan bahwa dirinya memang ‘’orang SBY’’ – yang baru saja terpilih sebagai presiden menggantikan Presiden Megawati.

Anton sempat menawar agar ia diberi waktu lebih longgar untuk datang. ‘’Bukan apa-apa, soalnya saat itu saya sedang ngajar. Saya juga harus mencari sopir yang tahu jalan ke Cikeas,’’ ungkap Anton dalam sebuah buka bersama di rumah dinasnya. Ternyata, sopir yang dibutuhkan tidak didapat. Akhirnya Anton memutuskan menyetir sendiri, didampingi rekan sepengajiannya, Dr Ahmad.

Ketika sampai di Puri Cikeas, para petugas jaga mengira Anton hanyalah sopir yang membawa calon menteri. Ia pun disuruh memarkir mobil pada kaplingnya dan diminta menunggu di ruang tunggu. Eh, ternyata si ‘’sopir’’ justru berjalan menuju tempat SBY sementara rekannya ke ruang tunggu.

‘’Wah, tapi tas dan sepatu saya nggak lusuh seperti yang diberitakan. Tapi barangkali kalau dibandingkan dengan penampilan calon menteri lain memang begitu ya,’’ kenang Anton sambil tertawa.

Anton memang dikenal bersahaja sejak dulu. Saat ia diangkat menjadi Mentan dalam Kabinet Indonesia Bersatu yang dikomandoi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Daisy Irawan lewat surat elektronik panjang memberi kesaksian tentang sosoknya. Daisy adalah sarjana alumnus UGM Yogyakarta yang dekat dengan Anton tatkala mengambil master di bidang food science di IPB. Tulis Daisy:

Hari ini, kecelelah orang-orang yang selama ini memandang rendah terhadap beliau. Tergondok-gondoklah orang yang menertawakan kaus kakinya yang bolong. Terhinalah mereka semua yang hobi menghina-hina orang karena hal-hal duniawi. Pak Anton yang sederhana, yang bertahun-tahun tidak punya televisi karena menurut beliau lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya, yang suka ‘’merepotkan’’ karena sifatnya yang perfeksionis, yang rewel dengan status kehalalan makanan — sifat yang ini menguntungkan saya sebagai tukang cicip 🙂 — eh, hari ini sudah resmi jadi menteri!

‘’Sungguh perjalanan hidup yang tak disangka pula saya berkesempatan mengenal beliau secara pribadi baik sebagai mahasiswa Program Studi Pasca Sarjana IPB maupun asisten beliau semasa kuliah. He is one of the best!’’ lanjut perempuan beragama Katolik yang bekerja di Indofood.

Dalam Resonansi-nya di Republika, Zaim Uchrowi yang alumnus IPB menulis: ‘’Sebagai ilmuwan, Anton Apriyantono dikenal perfeksionis, konsisten, pekerja keras, dan fokus. Ia memperjuangkan ’halal’ di tengah masyarakat yang katanya agamis ini. Ia mengikhlaskan hidup untuk perjuangannya itu.’’

Perjuangan Anton didukung anugerah berupa indera penciuman yang tajam untuk menggeledah jenis dan kualitas makanan atau minuman. ‘’Sebagai seorang flavour scientist, saya selalu curious dengan bau-bauan. Saya punya kebiasaan mencium apa-apa yang akan dimakan,’’ aku pakar pangan IPB ini.

Suatu pagi Rossi, sang istri, menyodorkan mie goreng buat sarapan suami. Dengan bersemangat, Anton menuju meja makan. Tapi, dari jarak agak jauh, hidungnya sudah membau kurang enak. Ia lalu mengendus bau mie goring tersaji. Eh, ternyata benar, mie tersebut sudah menyimpang baunya.

‘’Ini mie kemarin ya Ma,’’ kata Anton. ‘’Iya tuh, maaf yah,’’ sahut sang istri malu-malu. ‘’Aduh, maaf nih Ma, saya nggak bisa memakannya. Mie ini sudah rusak, saya khawatir dengan perut saya,’’ kata Anton.

Lain pagi, iseng-iseng Anton ikut pesan jamu keliling langganan pembantunya. Tak tanggung-tanggung, ia mengorder jamu sehat lelaki. ‘’Pakai telur mboten, Pak,’’ tanya si Mbok jamu. Sambil mengiyakan, Anton lalu membuka tutup botol-botol jamu, lalu membauinya satu per satu. ‘’Bapak emang biasa begitu, Mbok,’’ kata istri Anton melihat kelakuan suaminya. ‘’Ya ndak apa-apa, to Bu,’’ sahut si Mbok sambil tertawa.

‘’Nah,’’ kata Anton tiba-tiba. ‘’Iki opo Mbok?’’ katanya sambil menunjukkan botol yang mengobarkan aroma alcoholic beverages.

‘’Iku anggur,” jawab si Mbok kalem.

Masya Allah, betul dugaan Anton. Ia pun lalu memberi pengertian pada penjual jamu. ‘’Tolong ini jangan diberikan untuk orang Islam, ya Mbok. Nggak boleh sama Gusti Allah,’’ pinta Anton dalam dialek Jawa. Saat itu ia belum tega untuk melarang si Mbok jualan anggur sama sekali.
Jangan kira Anton beraninya hanya pada wong cilik. Pernah, seusai mengaudit sebuah pabrik milik perusahaan besar, Anton dan rekan-rekan auditor LPPOM MUI disuguhi makan siang oleh tuan rumah. Saat itu dengan lugunya para petinggi perusahaan menyilakan tamunya menyantap makanan paket bermenu Jepang dari sebuah resto Jepang terkenal.

‘’Maaf, ini belum bersertifikat halal. Tolong saya minta nasi Padang saja,’’ kata Anton sambil menyingkirkan hidangan dari hadapannya.

Warung Padang pula yang akhirnya menjadi solusi bagi tuan rumah di sebuah acara resmi di NTT, tatkala menteri Pertanian Anton Apriyantono berkunjung ke sana. Semula panitia ngeri, sambutannya bakal dinilai keterlaluan untuk menghargai seorang petinggi negara. Tapi ternyata Pak Anton makan dengan lahapnya di warung Padang itu.

Skenario tersebut susah payah di-arrange oleh Sekretaris Menteri, Dr Abdul Munif, berdasarkan pengalaman sebelumnya mendampingi Mentan di Bali. Waktu itu, panitia menjamu Mentan dan rombongan di sebuah restoran besar. Hidangan memang tidak menyuguhkan babi. Tapi, demi melihat menu babi di daftar menu reguler restoran tersebut, Pak Menteri kontan mengurungkan makan.

‘’Saya makan pop mie (yang bersertifikat halal) dan air putih saja,’’ kata Anton tanpa basa basi.

Kementrian Pertanian dan Peternakan Rumania pun pernah mencicipi ketegasan Anton Apriyantono dalam soal makanan halal. Waktu itu, mereka mengundang Mentan dan rombongan Kedubes RI di Bukarest dalam sebuah jamuan kenegaraan.

‘’Silakan, ini halal food, tidak ada babi,’’ tuan rumah yang sudah berkoordinasi dengan Sekretaris Menteri Pertanian RI, mempersilakan Menteri Anton.

Saat itu, selain menu vegetables, juga tersaji daging bison dan kalkun muda nan mengundang selera. Anggota rombongan Mentan yang memang sedang lapar, sudah membayangkan bakal bersantap besar yang uenak tenan.

Olala, ternyata Pak Anton hanya memakan salad, makan roti tawar, minum air putih, lalu mengakhiri makan dengan buah-buahan. That’s all. Sebab, perkara halal bukan sekadar ada tidaknya daging babi. Daging binatang halal pun mesti dikejar lagi bagaimana cara penyembelihannya. Terlebih di negeri Barat yang umumnya tidak mengenal halal-haram.
Ketika tuan rumah Rumania setengah memaksa mencicipi hidangan besar lainnya, Menteri Pertanian hanya berucap, ‘’Sudah cukup buat saya, terima kasih.’’

Tak hanya shohibul bait yang melongo. Rombongan Pak Menteri pun terpaksa mengikuti jejak boss-nya.

Anton Apriyantono dengan ketegasannya, di masa kiwari tentulah menjadi sosok pribadi asing (al ghuraba). Kata Rasulullah SAW, “Islam bermula dalam keadaan asing (gharib), dan akan kembali di anggap asing sebagaimana bermula. Maka beruntunglah orang-orang asing itu (ghuraba)” (HR Imam Muslim).

“Siapakah Al ghuraba itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang melakukan perbaikan ketika orang-orang lain rusak” (HR Imam Thabrani dari Sahal ra).
Dalam riwayat Imam Baihaqy dan Imam Tirmidzi, maksud ghuraba adalah “Orang-orang yang
menghidupkan sunnahku dan mengajarkannya kepada manusia.” Sedangkan dalam riwayat Imam Ahmad dan Imam Thabrani, maksud ghuraba adalah “Manusia shalih yang sedikit di antara manusia yang banyak. Orang yang menentang mereka lebih banyak di banding yang mentaati mereka.” (nurbowo/majalah ALIA nop 09)

di-copy paste dari sini