Menangkap Teroris Hidup-hidup

Kini timbul kesan bahwa pemerintah menempuh jalan pintas dalam memerangi teroris. Hampir semua gembong teroris ditembak mati di tempat penyergapan. Jika bukan suatu kebetulan, inilah cara yang lebih murah memberantas terorisme dibanding lewat proses hukum. Masalahnya, kebijakan seperti ini–andaikata benar-benar ada–jelas tidak bisa dibenarkan karena melanggar hak asasi manusia.

Publik mulai mempertanyakan hal itu karena buron teroris yang disergap belum lama ini, Syaifudin Zuhri dan Mohamad Syahrir, pun dihabisi saat penyergapan. Nasib mereka sama dengan gembong teroris Noor Din M. Top, juga buron teroris lain, seperti Ibrohim. Polisi seolah tak punya cara melumpuhkan mereka selain dengan menembak mati.

Bukan berarti kita tidak menghargai prestasi. Pencapaian polisi tetap penting dalam memberantas teroris. Soalnya, Syaifudin, misalnya, sosok yang andal di kalangan teroris. Dialah yang merekrut dua pelaku bom bunuh diri yang meledakkan Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton di Mega Kuningan, Jakarta, Juli lalu. Bahkan Syaifudin disebut-sebut bisa lebih hebat dibanding Noor Din karena pergaulannya yang luas di negara yang warganya menjadi donatur aksi terorisme di Indonesia.

Persoalannya, kenapa polisi tidak berusaha keras menangkap hidup-hidup para tersangka teroris, termasuk juga Noor Din. Padahal perlawanan mereka, paling tidak yang muncul ke permukaan, tidaklah sesengit yang dilakukan oleh kelompok Azahari ketika ditangkap di Malang, Jawa Timur. Dulu, Azahari mengamankan perimeternya dengan bom, selain membawa-bawa bom rompi. Belakangan, para tersangka cuma melawan dengan bom pipa–mirip dinamit.

Menangkap teroris hidup-hidup amatlah penting agar pemerintah tak dituding membalas aksi biadab mereka dengan cara serupa. Keuntungan lain, polisi masih bisa menggali informasi dari mereka. Syaifudin, misalnya, bisa dimintai konfirmasi benarkah ia bukan anggota “asli” kawanan Noor Din dan bukan berasal dari kalangan Jamaah Islamiyah. Informasi dari kakaknya, Syahrir, tak kalah berguna. Misalnya, benarkah ia memiliki rencana melakukan serangan teroris dengan moda pesawat terbang.

Lagi pula saat ini masih banyak pentolan teroris yang bebas. Ada, misalnya, Para Wijayanto, yang diduga pemimpin senior di Jamaah Islamiyah. Ada Dulmatin, tersangka pembuat Bom Bali I. Ada Upik Lawanga, ahli bom lainnya, dan tersangka berbagai serangan bom di Poso, termasuk bom Tentena. Informasi apa pun dari tersangka terorisme, sungguhpun sedikit, bisa menjadi pengantar untuk menuju ke jejaring mereka.

Memang menangkap tersangka teroris hidup-hidup tidak gampang. Soalnya, sebagian dari mereka malah telah menyiapkan diri untuk mati. Itulah pentingnya polisi mendeteksi potensi bahaya target, dan melumpuhkan atau menangkap hidup-hidup mereka ketika dalam keadaan lemah.

Hanya dengan cara itu kesan bahwa pemerintah cenderung menghindari proses peradilan bagi teroris bisa dihapus. Dengan berusaha menangkap hidup-hidup pula kita memberikan kesempatan kepada para teroris membela diri, sekaligus tetap menghargai hak asasi mereka.

(Editorial Koran Tempo, Selasa 13 Oktober 2009)

Advertisements
Leave a comment

2 Comments

  1. belajar dari kasusnya amrozi cs kali, ditangkap idup2, proses hukum, lalu eksekusi tembak mati.eh, malah banyak dapet “simpati” dari masyarakat.

    Reply
  2. wallahua’lam… hanya Tuhan, Polri, dan pemilik modal yang tahu

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: