Having Baby

“Hidup ini aneh ya. Ada yang kepingiiin banget punya anak, malah belum dikasih juga sama Allah. Ada yang bosen ngelahirin, eh dikasih anak. Malahan ada yang nangis pas tahu dia hamil,” celoteh seorang teman.

Aku hanya tersenyum. Yeah… manusia memang amat terbatas ilmunya sampai-sampai begitu sulitnya memahami rencana Allah.

Celotehan temanku itu mengingatkanku pada kisah sejumlah pasutri teman-temanku. Ada yang pingin honey moon dulu (belum pingin punya anak. Red), eh langsung hamil. Ada yang sudah lima tahun menikah ternyata belum dikasih momongan, karena ada masalah kesehatan sehingga mereka berencana mengadopsi anak. Ada yang enam tahun menikah tapi keguguran terus, akhirnya memutuskan melakukan inseminasi. Bahkan ada yang sudah tiga tahun menikah dan didiagnosa tidak ada masalah kesehatan/kesuburan pada diri suami maupun istrinya, tetapi sang istri belum juga hamil.

Yang lebih menyayat hati, seorang temanku yang amat menjaga kehamilannya ternyata melahirkan anak cacat. Putrinya terkena Edward Syndrome, yaitu kelainan kromosom nomor 19. Aku sampai menahan air mata waktu membezuknya. Bayi mungil itu harus dibantu selang oksigen untuk bernafas karena sekat di paru-parunya tidak sempurna. Bahkan sang ibu sempat stres lantaran anaknya tidak bisa menangis, sehingga tidak terdeteksi apakah sang anak lapar atau ingin pub. Kisah selengkapnya tentang sahabatku dan putrinya ini bisa diklik di sini.

Subhanallah… aku turut prihatin dengan kisah mereka. Namun aku salut dengan ketabahan sahabatku itu. Aku sendiri tak tahu apakah sanggup menanggung jika diberi ujian serupa.

Kisah lainnya tak kalah membuatku menitikkan air mata. Seorang sahabat yang amat merindukan anak dengan izin Allah hamil setelah 5 bulan menikah. Sahabatku yang sejak sebelum menikah punya tagline “Mom wannabe” ini sangat rajin meng-update status di facebook tentang kehamilannya. Bahkan sampai menjelang persalinan pun ia setia meng-update status. Namun setelah beberapa hari sampai status terakhir menjelang persalinannya, tidak ada status update lagi. Yang ada justru tulisan di wall facebook-nya yang berbunyi, “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Sabar ya sayang, ikhlas ya…”.

Innalillahi… ternyata putri pertama sahabatku telah dipanggil Allah di hari kelahirannya. Air mataku menetes saat membaca wall facebook-nya sambil tak henti aku berdoa. Aku memang tidak merasakan apa yang dirasakan sahabatku, tapi saat itu aku seperti berada di posisinya. Namun aku tidak bisa membayangkan jika aku yang ditimpa cobaan itu.

Masih dalam suasana duka, tak sengaja aku membaca blog seorang ayah yang baru saja kehilangan bayinya yang baru lahir, padahal setelah bertahun-tahun menikah ia belum juga dikaruniai anak. Merinding aku membaca tulisannya yang dengan ringannya berujar, “Kenapa harus sedih? Justru saya bersyukur, gak perlu repot membesarkan anak, dia sudah masuk surga.”

Subhanallah… Iya ya, Rasulullah kan telah bersabda bahwa bayi yang meninggal itu akan menjadi syafaat (penolong) bagi kedua orang tuanya di akhirat kelak. Allahu Akbar… Betapa besar hati orang ini. Betapa besar rasa syukur dan sabarnya pada Allah bahkan di saat duka sekalipun. Kata-katanya yang begitu ringan namun menyentil ini seolah membalik logikaku tentang ‘duka’. Betapa suatu fenomena atau kejadian itu tergantung bagaimana kita memaknainya. Bukankah “Bersama kesulitan itu ada kemudahan” (QS Al Insyirah: 6)?

Aku sangat bersyukur mendapat kesempatan oleh Allah memetik pelajaran dari kisah-kisah tersebut. Meskipun aku sendiri tidak tahu akan termasuk yang mana dari kisah di atas, karena apa yang menurutku baik belum tentu baik di mata Allah. Begitu juga sebaliknya, apa yang menurutku tidak baik, justru baik di mata Allah. Tapi kalau boleh memilih, aku ingin segera hamil kemudian melahirkan dan membesarkan anak yang sehat, normal, dan sholeh/sholehah…. boleh kan ya Allah ? Amin ya Robbal’alamin.

Advertisements
Leave a comment

16 Comments

  1. Ya Alloh mbakkk………………

    salut untuk orang tua yang tabah menerima semua takdirNYA, apalagi berkaitan dengan seseorang yang sangat ia sayangi =(

    Reply
  2. Subhanallah mbak..*termangu baca postinganmu…

    Reply
  3. Aku ….dengan ringan berujar…kabulkanlah doaku ya Allah….engkau maha tahu doa seorang hamba, bahkan bersitan hatinya.amin

    Reply
  4. inget Tyas… 😦

    Reply
  5. iya fetry, subhanallah

    Reply
  6. amin Ya Rabb..

    Reply
  7. Allahu Akbar…

    Reply
  8. amin ya robbal'alamin

    Reply
  9. iya nov, Tyas ternasuk dalam kisah di atas. Semoga Allah selalu memberi kesabaran dan keikhlasan untuknya dan keluarganya, amin.

    Reply
  10. Masyaallah… aku jadi terharu sekaligus bersyukur… 🙂 thx buat supportnya wkt itu ya 🙂 sedikit koreksi, Edwards Syndrome itu Trisomi 18 🙂 Alhamdulillah aku dpt ganti yang lebih sehat, lucu, cerdas… sampai2 aku memutuskan buat resign biar bisa total ngurus anakku ini 🙂 pasti udah ada rencana indahNya juga buat Miss Je 🙂

    Reply
  11. Amin… Alhamdulillah, ngiring bingah dengan rencana indah-Nya buat Fivie & Zaki 🙂 Trims koreksiannya soal Edward Syndrome.

    Reply
  12. merinding jat.. baca keseluruhannya… =((

    Reply
  13. Amiin ya rabbal 'alamiin…
    Aku juga ingin anakku sehat, normal, sholeh/sholehah…. boleh kan ya Allah? Amin ya Rabbal'alamiin

    Reply
  14. iya mbak… Allahu Akbar… semoga kita bisa memetik hikmahnya ya mbak

    Reply
  15. Amin ya robbal'alamin… positive thinking & positive feeling selalu ya bumil 🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: