Having Baby (Part 2)

… Setiap bulan, saat haidku datang, aku pun menangis. (Orenstein, 2008: 38).

Kutipan kata-kata dari kisah nyata Peggy Ornstein dalam memoarnya “Six Years in Waiting” membuatku tersenyum kecut. Apa yang dialami Peggy persis dengan apa yang kualami akhir-akhir ini.

Sejak awal, aku dan suami memang tidak ada niatan menunda untuk punya anak. Kami bahkan berharap segera punya momongan. Karena itu pula sejak awal menikah, setiap menjelang datang bulan perasaan kami selalu deg-degan.

Mungkin sebagian orang menganggap aku agak ‘lebay’ dalam hal ini, apalagi usia pernikahanku yang belum setahun. “Aku aja dulu kosong setahun kok,” ujar seorang teman. Sementara yang lain menimpali, “Gua dulu delapan bulan baru hamil.”

Anyway, terima kasih telah membesarkan hati kami. Mungkin ke-lebay-an ini lantaran sejumlah teman yang menikah beberapa minggu setelah kami sekarang sudah pada buncit perutnya. Bahkan seorang teman dengan bangganya memajang status di FB perihal perut buncitnya yang mulus. Sementara yang lain memajang foto hasil USG di FB. Kawan, tahukah kalian betapa kebanggaan kalian itu membuatku iri? Astagfirullah…

Mungkin teman-temanku itu tidak pernah merasakan seperti yang ditulis Peggy Orenstein, wallahua’lam. Meskipun aku tidak agnostig seperti Peggy Orenstein, namun aku menangis seperti Peggy. Hanya saja, kata-kata “La tahzan, innallaha ma’ana (jangan bersedih, Allah bersamamu)” dapat sedikit melipur laraku.

Dengan berbekal kata-kata ‘La Tahzan’ itulah aku mencoba mengambil hikmah. Barangkali jika aku langsung hamil setelah menikah, mungkin aku akan menjadi orang yang ujub (sombong) dan berbangga hati atas ‘keberuntunganku’ . Bisa jadi, jika aku cepat hamil dan punya anak, aku akan menjadi orang yang riya dan suka pamer betapa beruntungnya aku. Nauzubillahiminzalik.

Entahlah… aku tidak tahu seperti apa rencana-Nya. Yang pasti “alhamdulillah” kini aku ucapkan atas segala rencana-Nya atasku. Karena apa pun skenario-Nya, semata-mata untuk kebaikanku.

Masih banyak yang harus disyukuri selain kehamilan, kelahiran, dan punya anak. Jika aku menengok ke bawah, betapa malunya aku yang sering lupa bersyukur akan nikmat-Nya yang luas. Betapa aku tersadar, boro-boro mikir punya anak, masih banyak saudara-saudaraku yang bahkan belum bertemu jodohnya…

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

12 Comments

  1. iya mba ngga bisa sih dbanding2kan gitu..yg ptg rileks..pikiran en perasaan rileks berpengaruh pada proses kehamilan, didoain segera hamil ya..

    Reply
  2. hmmm…. saling mendoakan Jat.

    Reply
  3. perasaan yg manusiawi kok mba, cuma mungkin harus sering2 istighfar kali ya.. aku juga sering mengalami hal serupa, terakhir ada teman yg baru lahiran dg bangganya sms anaknya lahir di hari sumpah pemuda dan diberi nama yg unik. Sms itu ga aku bales karena bingung mau bilang apa, plus hati ini mgkn merasa iri. beberapa hari berikutnya sang teman sms lagi, dia minta maaf kalau membuat aku trsinggung karna sms-nya tidak kubalas…Mmm… kalau sudah seperti ini, aku jadi merasa makin ga enak.. :)Jadi curhat deh.. hehe.. yang penting tetap bersyukur dan bersabar ya mba ^_^

    Reply
  4. mbakje said: Betapa aku tersadar, boro-boro mikir punya anak, masih banyak saudara-saudaraku yang bahkan belum bertemu jodohnya…

    betul itu mbak…hehehewalaupun belum bertemu jodoh, tetap bersyukur masih hidup hingga saat ini dan bisa menanti atau mencari jodohnya… :))

    Reply
  5. dedew80 said: didoain segera hamil ya..

    amin ya robbal’alamin… terima kasih

    Reply
  6. salmadifa said: saling mendoakan Jat.

    iya fi… smg lancar ya kehamilan hingga persalinannya

    Reply
  7. irfanlisa said: Jadi curhat deh.. hehe.. yang penting tetap bersyukur dan bersabar ya mba ^_^

    hehehe… gpp kok mba, insyaallah curhatnya bermanfaat. Bener banget, banyak bersabar dan tak lupa bersyukur. Insyaallah segera dikasih momongan ya mbak 😉

    Reply
  8. tanasa said: walaupun belum bertemu jodoh, tetap bersyukur masih hidup hingga saat ini dan bisa menanti atau mencari jodohnya… :))

    amin… insyaallah sebentar lagi Pita akan ketemu jodohnya kok :)bener pit, ttp bersyukur dlm kondisi apapun. Karena itu sering2 lihat ke bawah buat introspeksi 🙂

    Reply
  9. “Oh Jat, itu hak prerogatif Allah””Ya Allah Jangan biarkan aku sendirian, Engkau adalah sebaik-baik pewaris

    Reply
  10. mau sharing jurnalku yg ini Mba http://irfanlisa.multiply.com/journal/item/41semoga jadi penyemangat 🙂

    Reply
  11. saya membahasakannya ‘ada-yg-retak-setiap-kabar-kehidupan-baru-tampak’ (betapa alay-nya…) sebelumnya sy ngomel2,saya tulis di FB ‘saya benci setiap ada status bla…bla…blaaaa’,tanpa kontrol sy juga bilang ‘saya hasad!’,suami protes ‘saya kecewa dirimu begitu…’ pertanyaannya: perasaan laki2 beda ya,sama perempuan ketika menunggu anak?

    Reply
  12. saviadaramita said: pertanyaannya: perasaan laki2 beda ya,sama perempuan ketika menunggu anak?

    mungkin perasaannya sama, hanya cara berekspresinya yang berbeda… mari kita tanya pada laki2 🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: