Tips Menyimpan ASI Perah untuk Ibu Bekerja

Meskipun belum jadi ibu, penasaran juga bagaimana ‘seharusnya’ menjadi ibu. Apalagi sempat miris dengan teman (ibu bukerja) yang berhasil melahirkan dengan normal dan ingin memberikan ASI eksklusif untuk bayinya, tapi tidak tahu bagaimana cara memberikan ASI, apalagi memerah asih, duh!

Berikut ini tips yang diambil dari sini.

Sebagai seorang wanita karier, Vita memang sangat ingin sukses karier dan keluarganya. Karena itu, ia pun berusaha mengeksplorasi semua informasi soal bagaimana memberikan ASI eksklusif tanpa harus meninggalkan kariernya. Untuk itu, ia pun berusaha selalu memeras susunya setiap saat demi sang buah hati. Kendalanya, ia mesti harus banyak bekerja di luar kantor. Karena itu, ia pun kadang kesulitan jika harus memeras susu setiap saat. Tapi, meski merasa repot, dengan keinginan kuat memberikan yang terbaik, ia pun berhasil.

Ibu-ibu yang juga bekerja, barangkali mengalami kerepotan yang sama jika menjadi seperti Vita. Tapi dengan keyakinan dan kemauan kuat, memang semua bisa dilakukan. Untuk itu memang diperlukan niat yang menggebu dari seorang ibu demi buah hati. Lantas, sebenarnya, bagaimana sih proses memeras susu bagi bayi yang sesuai standar agar ibu bekerja tetap bisa memberikan ASI eksklusif?

Berikut ini adalah beberapa tahapan yang mungkin bisa dilakukan para ibu bekerja saat ingin menyusui sang buah hati. Meski sumbernya berlainan, pada intinya yang bisa dilakukan adalah ada pada tiga tahapan berikut, yakni memeras, menyimpan, dan menyajikan.

Memeras ASI
Yang pertama adalah siapkan cangkir atau mangkuk yang sangat bersih. Cuci dengan air sabun dan keringkan dengan tisu atau lap yang bersih. Lantas, hangatkan dengan air panas dalamnya. Jika sudah akan digunakan, buang segera air tersebut.

Sebelum memeras, jangan lupa cuci tangan dengan bersih. Lantas, jika sudah siap, letakkan cangkir di meja atau pegang, sedangkan satu tangan lain gunakan untuk menampung air susu ibu peras (ASI). Condongkan badan ke depan dan letakkan ibu jari di sekitar areola di atas puting dan jari telunjuk pada areola bawah puting.

Lakukan pijatan halus dengan ibu jari dan telunjuk ke dalam menuju dinding dada. Tekan ibu jari dan jari telunjuk sedikit ke arah dada, tetapi jangan terlalu kuat agar tidak menyumbat aliran susu. Lantas tekan sampai teraba pada sinus laktiferus yaitu tempat tampungan ASI di bawah areola.

Lakukan prosedur tekan dan lepas, tekan dan lepas. Kalau terasa sakit, berarti tekniknya salah. Apabila pada mulanya ASI tidak keluar, jangan berhenti, setelah beberapa kali maka ASI akan keluar. Tekan dengan cara sama di sisi sampingnya untuk memastikan memerasnya ASI dari semua segmen payudara.

Sebaiknya jangan memencet puting. Jangan menggerakkan jari sepanjang puting susu. Menekan atau menarik puting susu tidak dapat memeras ASI. Hal ini sama dengan yang terjadi bila bayi mengisap dari puting susu saja. Peras ASI selama 3-5 menit sampai ASI berkurang pada satu payudara, lalu pindah ke payudara satu lagi, demikian terus bergantian. Oh ya, memeras ASI perlu waktu sekitar 20-30 menit, dan usahakan jangan terlalu cepat dari waktu tersebut. ASI yang diperas harus dikeluarkan sebanyak mungkin. Walau sebenarnya satu cangkir (200 ml) sudah bisa untuk pemberian 2 kali @ 100 ml, tapi usahakan peras sebanyak mungkin.

Menyimpan
Simpanlah ASI dalam wadah atau botol steril. Ada baiknya jika botol yang digunakan dari kaca dan ditutup rapat. Jangan campur ASI yang diperas sekarang dengan ASI yang diperas sebelumnya. Untuk itu, berilah botol dengan label kapan ASI diperas (tanggal dan jam) dan berikan ASI yang diperas lebih dahulu pada sang anak.

Menurut beberapa sumber, ASI peras dapat dibiarkan dalam suhu kamar (kurang lebih 19-25o C) selama kurang lebih 6 – 8 jam. Sedangkan bila masih berupa kolostrum (susu awal atau susu yang pertama kali keluar pada 1-7 hari setelah kelahiran) bisa disimpan sampai 12 jam. Sedangkan jika ASI disimpan dalam lemari pendingin (suhu 4o C) bisa bertahan selama 24-48 jam dan jika ditaruh dalam lemari pembeku (suhu -4o C) biasanya dapat bertahan 2 mingguan lebih, sedangkan jika ditaruh dalam deep freezer (suhu -18o C), ASI bisa bertahan hingga empat bulanan. Namun, syaratnya, semua suhu di atas harus stabil. Untuk mempertahankan aktivitas antioksidan ASI, waktu penyimpanan harus dibatasi sampai 48 jam. ASI yang ditaruh di dalam lemari pendingin lebih baik daripada disimpan di dalam lemari pembeku.

Menyajikan
Untuk memberikan ASI beku untuk anak, pindahkan dulu ASI ke lemari pendingin agar mencair. Kemudian diambil seperlunya (sesuai dengan jumlah kebutuhan bayi sekali minum) untuk dihangatkan kalau mau diberi kepada bayi. ASI tidak boleh dimasak atau dipanaskan, hanya dihangatkan dengan merendam cangkir dalam air hangat. Apabila ASI yang telah dihangatkan tidak habis diminum oleh bayi, maka ASI tersebut harus dibuang.

Saat memberikan ASI pada anak, akan lebih baik jika menggunakan cangkir atau sendok, bukan dot. Hal ini dimaksudkan agar saat ibu menyusui langsung, bayi tidak menolak menyusu. Berikan ASI secara perlahan dan sabar agar bayi tidak tersedak hingga bayi mendapat ASI dalam jumlah yang mencukupi.

Jika memberikan ASI dalam cangkir, pastikan berikan dengan perlahan dan biarkan sang anak berusaha sendiri mengisap air susu itu. Berikan juga waktu istirahat sejenak saat bayi hendak minum, sehingga hal ini meminimalisir kemungkinan bayi tersedak.

Nah, bagaimana para ibu? Masih merasa sulit memberikan ASI eksklusif. Semua itu tergantung pada niat kita kok. Kalau masih merasa sulit, Prenagen menganjurkan agar dicoba saja dulu, jangan langsung mengatakan tidak. Jadi, coba dulu ya… dan jangan lupa, Say Yes to ASI!

PS. Thanks to Teh Rika yang udah ngasih kepercayaan ke aku utk ikutan garap buku tentang ASI

Advertisements
Next Post
Leave a comment

4 Comments

  1. waktu dulu aku hamil, rajin banget ngumpulin artikel seputar ASIP.. tapi pas udah dipraktekin, kok gak semudah teorinya ya? karena ada 3 komponen utama untuk memproduksi ASI, yang dikenal dengan 3B, brain, baby dan breast.. salah satu komponen itu hilang, ASI jadi kurang optimal produksinya… tapi alhamdulillah aku masih bisa kasih manda ASIP (baca : merah ASI di kantor) sampai Manda usia 14 bulan. kalo sekarang nenennya cuma mau tidur aja. kalo siang pake susu ultra. alhamdulillah gak pake sufor.. 🙂

    Reply
  2. semoga dimudahkan Allah ya mbak jati, dlm proses buku asi-nya :)selamat yaaa, artikelnya bermanfaat nih 🙂

    Reply
  3. wandaruni said: waktu dulu aku hamil, rajin banget ngumpulin artikel seputar ASIP.. tapi pas udah dipraktekin, kok gak semudah teorinya ya? karena ada 3 komponen utama untuk memproduksi ASI, yang dikenal dengan 3B, brain, baby dan breast.. salah satu komponen itu hilang, ASI jadi kurang optimal produksinya… tapi alhamdulillah aku masih bisa kasih manda ASIP (baca : merah ASI di kantor) sampai Manda usia 14 bulan. kalo sekarang nenennya cuma mau tidur aja. kalo siang pake susu ultra. alhamdulillah gak pake sufor.. 🙂

    hmmm… gitu ya mbak? kudu banyak belajar niy sama mbak neta. makanya rajin ngempi lagi ya mbak. kutunggu tulisan2mu dan resep2 barumu hehehe 😉

    Reply
  4. retnadi said: semoga dimudahkan Allah ya mbak jati, dlm proses buku asi-nya :)selamat yaaa, artikelnya bermanfaat nih 🙂

    amin… terima kasih retno

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: