Dua hal apabila dimiliki oleh seseorang dia dicatat oleh Allah sebagai orang yang bersyukur dan sabar. Dalam urusan agama (ilmu dan ibadah) dia melihat kepada yang lebih tinggi lalu meniru dan mencontohnya. Dalam urusan dunia dia melihat kepada yang lebih bawah, lalu bersyukur kepada Allah bahwa dia masih diberi kelebihan. (HR. Tirmidzi)

Buah Hati Kita

Tahukah Sayang,
Semalam aku mimpi begitu nyata
Menimang buah hati kita
Sungguh sehatnya dia
Kulitnya halus selembut kasih-Nya
Alisnya tebal seperti ayahnya
Bibirnya ranum seperti bundanya

Kelak, bibirnya selalu basah oleh doa
yang akan mengantar kita ke surga
Bersama kembali pada-Nya

Ya, surga!
Karena buah hati kita kini masih di peluk-Nya
menanti saat ruhnya ditiup ke rahim ibundanya

Sayang,
Aku yakin saat itu akan tiba
Saat tangisnya disambut suka cita
Saat polahnya menambah syukur kita pada-Nya

Tahukah engkau Sayang,
Aku mendapat kabar gembira
tentang rahmat & kebesaran-Nya
Tatkala Zakaria yang renta dan istrinya yang mandul dikaruniai putra atas izin-Nya
Betapa Maryam yang perawan melahirkan Isa atas kehendak-Nya
Ketika Shahnaz Haque yang hanya punya satu indung telur melahirkan anak-anak sehat di usianya yang ke-35
Saat Erbe Sentanu yang aspermatozoa dapat menimang putra atas kuasa-Nya
Betapa Mbak Ayu yang menderita tumor payudara dan kista di rahimnya bisa melahirkan normal seorang Radith atas kebesaran-Nya

Sayangku,
Betapa luas rahmat-Nya
Bagi-Nya, kehadiran seorang putra hanya jentikan jari saja
Tinggal waktu yang menjawabnya

Sayangku,
Mari kita syukuri apa yang ada
Dan tak letih untuk meminta
Karena tiap doa pasti dikabulkan-Nya

Jakarta, 25 Januari 2010

Buah Hati Kita

Tahukah Sayang,
Semalam aku mimpi begitu nyata
Menimang buah hati kita
Sungguh sehatnya dia
Kulitnya halus selembut kasih-Nya
Alisnya tebal seperti ayahnya
Bibirnya ranum seperti bundanya

Kelak, bibirnya selalu basah oleh doa
yang akan mengantar kita ke surga
Bersama kembali pada-Nya

Ya, surga!
Karena buah hati kita kini masih di peluk-Nya
menanti saat ruhnya ditiup ke rahim ibundanya

Sayang,
Aku yakin saat itu akan tiba
Saat tangisnya disambut suka cita
Saat polahnya menambah syukur kita pada-Nya

Tahukah engkau Sayang,
Aku mendapat kabar gembira
tentang rahmat & kebesaran-Nya
Tatkala Zakaria yang renta dan istrinya yang mandul dikaruniai putra atas izin-Nya
Betapa Maryam yang perawan melahirkan Isa atas kehendak-Nya
Ketika Shahnaz Haque yang hanya punya satu indung telur melahirkan anak-anak sehat di usianya yang ke-35
Saat Erbe Sentanu yang aspermatozoa dapat menimang putra atas kuasa-Nya
Betapa Mbak Ayu yang menderita tumor payudara dan kista di rahimnya bisa melahirkan normal seorang Radith atas kebesaran-Nya

Sayangku,
Betapa luas rahmat-Nya
Bagi-Nya, kehadiran seorang putra hanya jentikan jari saja
Tinggal waktu yang menjawabnya

Sayangku,
Mari kita syukuri apa yang ada
Dan tak letih untuk meminta
Karena tiap doa pasti dikabulkan-Nya

Jakarta, 25 Januari 2010

Lasagna Sayur Lapis Roti


Description:
Sebenarnya resep ini diadaptasi dari resep Lasagna Roti Keju ala ‘chef Anies’ ;p dari link ini http://onlyme26.multiply.com/recipes/item/19/Lasagna_Roti_Keju
Berhubung saya tidak punya daging cincang sekaligus memanfaatkan tumis buncis sisa, maka jadilah hidangan nikmat yang bikinnya lumayan gampang :))

*Foto diambil dari internet, soalnya gak sempet motret udah keburu abis hehehe…

Ingredients:
Bahan Utama.
– 8 lembar roti tawar/roti gandum –> jumlah roti disesuaikan dengan ukuran loyang/pinggan
– 4 lembar keju kraft single –> sesuaikan juga dg ukuran loyang/pinggan
– 10 lembar smoked beef –> idem
– Tepung panir, secukupnya
– Parutan/potongan keju mozarella (keju mudah leleh) secukupnya –> kalau tidak ada bisa diganti dengan keju cheddar 😉

Bahan Saus
– 1 1/2 siung bawang bombay, iris kasar
– 2 siung bawang putih, iris halus
– Saus tomat, secukupnya
– Mayonaise, 2 – 3 sdm
– Lada halus, 1/2 sdt
– Garam secukupnya
– 6 batang buncis dipotong kecil-kecil
– 3 buah wortel dipotong dadu kecil-kecil
– Mentega untuk menumis, secukupnya
– Air sedkit saja
(Buat sausnya kalau bisa agak banyak dan sesuaikan dengan ukuran loyang, biar makin mantaphh)

Bahan larutan susu
– Susu putih cair (UHT) instant atau susu bubuk yang dicairkan
– 2 butir telur
– Lada halus, sedikit saja

Directions:
1. Semir roti dengan mayonaise (bagian atas & bawah)
2. Buat saus dengan menumis semua bahan saus hingga matang
3. Buat larutan susu dengan mencampur telur dan susu hingga rata
4. Siapkan loyang/pinggan tahan panas, semir dasar loyang dengan mentega
5. Masukkan 1/2 bagian saus tomat ke loyang
6. Tata lembaran roti di atas saus
7. Tata lembaran keju Kraft Single di atas roti
8. Tata smoked beef di atas keju
9.. Masukkan 1/2 bagian sisa saus di atas smoked beef
10.Tata lembaran roti yang tersisa
11. Masukkan larutan susu secara merata
12. Bubuhkan tepung panir dan parutan keju mudah leleh sebagai penutup (topping)
13. Masukkan ke dalam oven (160 derajat) atau kukus, biarkan hingga matang (kurang lebih 35 menitan)
14. Selamat mencoba! Percaya deh, gampang banget and dijamin uenak!!

Keyakinan Yang Menyembuhkan*

Mungkin ini sebuah keajaiban bahwa aku masih hidup sampai detik ini.

Awal tahun 1990. Aku hampir tak mempercayai pendengaranku sendiri. Aku sampai pergi ke empat dokter berbeda untuk meyakinkan diri bahwa aku mengidap tumor di payudara. Setiap dokter yang memeriksaku menyampaikan hal senada, yaitu aku harus segera operasi tumor payudara dan umurku mungkin tinggal dua tahun lagi.

Jelas aku syok sekali saat itu. Apalagi pada masa itu penderita tumor masih sangat jarang. Mendengar itu, rasanya hidupku sudah tak bernilai lagi. Setiap hari aku hanya menangis. Aku malah menzholimi diri dengan tidak makan, bahkan aku meninggalkan sholat. Ketiga anakku yang masih kecil juga kuterlantarkan.

Tak satupun yang menyemangatiku. Suamiku juga pasrah saja. Habis mau apa lagi? Yang pasti aku tidak mau dioperasi. Aku tahu operasi itu hanya mengangkat tumor dari luar. Aku juga tahu bahwa operasi bisa jadi gagal. Apalagi biaya operasi tidak murah.

Sebulan itu aku merasa seperti debu tertiup angin. Aku merasa tidak berarti apa-apa. Sampai di suatu malam, di tengah isak tangisku, aku melihat ketiga anakku tengah tertidur pulas, Ranny yang waktu itu masih 3 SD, Sandy yang baru masuk SD, dan si kecil Dipa yang masih TK. Wajah mereka begitu polos, begitu murni. Mereka tidak tahu apa yang sedang dialami mamanya.

Tanpa sadar bulir air mata tambah deras mengalir. Ya Allah, anak-anakku yang masih polos ini. Siapa nanti yang akan mengasuh dan mendidik mereka jika aku tiada? Aku tidak mau intan-intanku tumbuh menjadi anak durhaka.

Akhirnya aku bangkit dari keterpurukanku selama sebulan itu. Aku harus sembuh, pikirku. Sejak itu aku meyakinkan diri bahwa aku bisa sembuh. Tentu sambil mencoba berbagai pengobatan alternatif. Sedapat mungkin aku menghindari dokter. Karena menurutku, vonis dokter hanya membuatku down.

Bermacam jamu kusikat dengan keyakinan bahwa aku sembuh. Berbagai nasihat kuturuti, bahkan ada yang menyarankan makan cicak mentah setiap hari sebulan penuhpun kuturuti. Dan selama pengobatan, aku tidak pernah meraba benjolan pada payudaraku. Maka aku tidak tahu apakah benjolan itu kempes atau menghilang begitu saja. Hanya satu keyakinanku, aku sembuh.

Sampai sekitar satu tahun kemudian. Aku mencoba meraba benjolan itu. Dan subhanallah ternyata tidak ada sama sekali. Aku tidak tahu kapan tepatnya benjolan itu hilang, karena memang aku tidak pernah merabanya. Kemudian aku mencoba periksa ke dokter. Dokter menyatakan tumor itu hilang sama sekali dan dia juga heran.

Sudah hampir 14 tahun sejak kejadian itu dan aku masih bisa menghirup udara-Nya. Di usia ke-46, alhamdulillah aku masih dikaruniai sehat tanpa keluhan sakit seperti yang kuderita 14 tahun lalu. Kini ketiga anakku yang sudah duduk di bangku kuliah masih bisa merasakan belaian tanganku.

Ternyata ayat yang mengatakan bahwa, Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya, tidaklah main-main. Karenannya; yakin, berusaha, dan berdoa, menjadi hal tak terpisahkan dari diriku. Dan itu pula yang selalu kutanamkan pada anak-anakku. (jat)

*Seperti dituturkan Ibu Hartinah kepada reporter Majalah Amal ‘Amanah (edisi Maret 2004)

Keyakinan Yang Menyembuhkan*

Mungkin ini sebuah keajaiban bahwa aku masih hidup sampai detik ini.

Awal tahun 1990. Aku hampir tak mempercayai pendengaranku sendiri. Aku sampai pergi ke empat dokter berbeda untuk meyakinkan diri bahwa aku mengidap tumor di payudara. Setiap dokter yang memeriksaku menyampaikan hal senada, yaitu aku harus segera operasi tumor payudara dan umurku mungkin tinggal dua tahun lagi.

Jelas aku syok sekali saat itu. Apalagi pada masa itu penderita tumor masih sangat jarang. Mendengar itu, rasanya hidupku sudah tak bernilai lagi. Setiap hari aku hanya menangis. Aku malah menzholimi diri dengan tidak makan, bahkan aku meninggalkan sholat. Ketiga anakku yang masih kecil juga kuterlantarkan.

Tak satupun yang menyemangatiku. Suamiku juga pasrah saja. Habis mau apa lagi? Yang pasti aku tidak mau dioperasi. Aku tahu operasi itu hanya mengangkat tumor dari luar. Aku juga tahu bahwa operasi bisa jadi gagal. Apalagi biaya operasi tidak murah.

Sebulan itu aku merasa seperti debu tertiup angin. Aku merasa tidak berarti apa-apa. Sampai di suatu malam, di tengah isak tangisku, aku melihat ketiga anakku tengah tertidur pulas, Ranny yang waktu itu masih 3 SD, Sandy yang baru masuk SD, dan si kecil Dipa yang masih TK. Wajah mereka begitu polos, begitu murni. Mereka tidak tahu apa yang sedang dialami mamanya.

Tanpa sadar bulir air mata tambah deras mengalir. Ya Allah, anak-anakku yang masih polos ini. Siapa nanti yang akan mengasuh dan mendidik mereka jika aku tiada? Aku tidak mau intan-intanku tumbuh menjadi anak durhaka.

Akhirnya aku bangkit dari keterpurukanku selama sebulan itu. Aku harus sembuh, pikirku. Sejak itu aku meyakinkan diri bahwa aku bisa sembuh. Tentu sambil mencoba berbagai pengobatan alternatif. Sedapat mungkin aku menghindari dokter. Karena menurutku, vonis dokter hanya membuatku down.

Bermacam jamu kusikat dengan keyakinan bahwa aku sembuh. Berbagai nasihat kuturuti, bahkan ada yang menyarankan makan cicak mentah setiap hari sebulan penuhpun kuturuti. Dan selama pengobatan, aku tidak pernah meraba benjolan pada payudaraku. Maka aku tidak tahu apakah benjolan itu kempes atau menghilang begitu saja. Hanya satu keyakinanku, aku sembuh.

Sampai sekitar satu tahun kemudian. Aku mencoba meraba benjolan itu. Dan subhanallah ternyata tidak ada sama sekali. Aku tidak tahu kapan tepatnya benjolan itu hilang, karena memang aku tidak pernah merabanya. Kemudian aku mencoba periksa ke dokter. Dokter menyatakan tumor itu hilang sama sekali dan dia juga heran.

Sudah hampir 14 tahun sejak kejadian itu dan aku masih bisa menghirup udara-Nya. Di usia ke-46, alhamdulillah aku masih dikaruniai sehat tanpa keluhan sakit seperti yang kuderita 14 tahun lalu. Kini ketiga anakku yang sudah duduk di bangku kuliah masih bisa merasakan belaian tanganku.

Ternyata ayat yang mengatakan bahwa, Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya, tidaklah main-main. Karenannya; yakin, berusaha, dan berdoa, menjadi hal tak terpisahkan dari diriku. Dan itu pula yang selalu kutanamkan pada anak-anakku. (jat)

*Seperti dituturkan Ibu Hartinah kepada reporter Majalah Amal ‘Amanah (edisi Maret 2004)

Biskuit "Roma Sari Gandum" ternyata BELUM berlabel HALAL!

Istiqomah Pada Resolusi

Di minggu-minggu pertama awal tahun 2010 ini banyak sekali saya temukan bahasan dengan kata kunci serupa, yaitu “resolusi”. Yup, entah itu artikel di majalah, koran, internet, blog, status di jejaring sosial, ceramah ustadz, sampai di buku harian saya sendiri .

Enggak heran, karena awal tahun adalah ‘musimnya’ orang-orang membuat rencana atau rancangan hidupannya dalam satu tahun ke depan. Semboyannya, “tahun baru, semangat baru”. Karena itu, pergantian dan awal tahun seolah membawa harapan tersendiri bagi setiap orang, sehingga masing-masing menggantungkan berbagai harapan dalam rentang waktu 365 hari (satu tahun) ini.

Apakah salah? Tentu tidak, sama sekali tidak! Bukankah dalam Al Qur’an surah Al Hasyr ayat 18 Allah SWT memperingatkan kita untuk merencanakan hari esok?

“… dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok…” (Al Hasyr : 18).

Hanya saja, buat saya, yang tersulit adalah tetap fokus dan istiqomah (konsisten) pada resolusi yang telah kita tetapkan sendiri. Fokus? Tentu saja. Gak usah jauh-jauh lah, coba sedikit menengok ke belakang. Apakah resolusi kita–kita? elo kali?!–tahun lalu sudah benar-benar tercapai? Jika sudah, alhamdulillah. Tentu formulasi pencapaiannya bisa kita terapkan lagi di tahun ini. Jika belum, tentu harus dievaluasi.

Bisa jadi kegagalan resolusi kita tahun lalu lantaran kita tidak fokus dalam menjalankannya. Misalnya, target/resolusi lulus tahun ini tapi ternyata di tengah jalan dapat tawaran pekerjaan yang menggiurkan. Kalau kita tidak fokus dengan target/resolusi kita, tentu tawaran yang belum tentu datang dua kali itu akan kita terima sehingga fokus kita pada skripsi/tesis/disertasi untuk lulus menjadi buyar. Dalam hal ini saya sepakat dengan Pak Mario Teguh, bahwa orang yang berhasil adalah orang yang memfokuskan diri pada kebaikan-kebaikan yang mendukung pencapaiannya untuk sukses (kurang lebih redaksionalnya seperti itu).

Mirip dengan fokus, dalam mewujudkan resolusi, kita juga harus istiqomah alias konsisten dalam menjalankannya. Di awal tahun lazimnya memang semangat kita meluap-luap. Yakin se-yakin-yakinnya bahwa kita akan menjalankan semua resolusi kita, dan pada akhirnya resolusi tersebut akan terwujud. Namun, apakah semangat dan keyakinan serupa akan terus konsisten pada tengah tahun hingga akhir tahun?

Saya mengakui, menjaga semangat dan keyakinan butuh perjuangan juga, sama halnya dengan upaya mewujudkan resolusi itu sendiri. Saya jadi teringat resolusi saya di tahun 2006, saya akan bekerja dan tinggal di Jakarta. Kebetulan waktu itu saya masih bekerja sebagai reporter Radio MQ FM Bandung. Banyak yang menyayangkan tekad saya untuk resign, termasuk para petinggi MQ FM. Bahkan salah satu dari mereka menawarkan saya seorang ikhwan untuk ta’aruf. Wow! Sebuah tawaran yang menguji ‘keimanan’, apalagi menikah juga menjadi resolusi saya di tahun itu. Dilematis memang… tapi bukankah Allah pun selalu menguji azzam (tekad) hamba-Nya? Maka, saat itu saya istiqomah pada tekad untuk pulang ke Jakarta, untuk menemani ibu saya yang tinggal seorang diri di rumah.

Back to the topic… So, menurut saya, fokus dan istiqomah pada resolusi merupakan hal yang harus dijaga. Bahkan keyakinan akan kesuksesan kita pun harus dijaga. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda, “Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lengah dan ragu”. Karena itu, kita harus yakin bahwa Allah akan mengabulkan resolusi kita, jika kita yakin pada-Nya.

Yang terakhir dan terpenting… tentu saja resolusi yang kita buat semata-mata kita niatkan karena Allah. Mungkin tanpa kita sadari resolusi yang kita buat bersifat duniawi semata. Untuk itu, dalam menetapkan sebuah resolusi perlu ada motivasi (niat) yang mendasarinya. Semoga rencana-rencana itu semata-mata karena Allah SWT. Wallahua’lam bishawab.

NB. Buat yang masih belum punya resolusi, atau sudah punya resolusi tapi bingung memformulakannya, silakan klik di sini. Semoga bisa membantu  

Istiqomah Pada Resolusi

Di minggu-minggu pertama awal tahun 2010 ini banyak sekali saya temukan bahasan dengan kata kunci serupa, yaitu “resolusi”. Yup, entah itu artikel di majalah, koran, internet, blog, status di jejaring sosial, ceramah ustadz, sampai di buku harian saya sendiri .

Enggak heran, karena awal tahun adalah ‘musimnya’ orang-orang membuat rencana atau rancangan hidupannya dalam satu tahun ke depan. Semboyannya, “tahun baru, semangat baru”. Karena itu, pergantian dan awal tahun seolah membawa harapan tersendiri bagi setiap orang, sehingga masing-masing menggantungkan berbagai harapan dalam rentang waktu 365 hari (satu tahun) ini.

Apakah salah? Tentu tidak, sama sekali tidak! Bukankah dalam Al Qur’an surah Al Hasyr ayat 18 Allah SWT memperingatkan kita untuk merencanakan hari esok?

“… dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok…” (Al Hasyr : 18).

Hanya saja, buat saya, yang tersulit adalah tetap fokus dan istiqomah (konsisten) pada resolusi yang telah kita tetapkan sendiri. Fokus? Tentu saja. Gak usah jauh-jauh lah, coba sedikit menengok ke belakang. Apakah resolusi kita–kita? elo kali?!–tahun lalu sudah benar-benar tercapai? Jika sudah, alhamdulillah. Tentu formulasi pencapaiannya bisa kita terapkan lagi di tahun ini. Jika belum, tentu harus dievaluasi.

Bisa jadi kegagalan resolusi kita tahun lalu lantaran kita tidak fokus dalam menjalankannya. Misalnya, target/resolusi lulus tahun ini tapi ternyata di tengah jalan dapat tawaran pekerjaan yang menggiurkan. Kalau kita tidak fokus dengan target/resolusi kita, tentu tawaran yang belum tentu datang dua kali itu akan kita terima sehingga fokus kita pada skripsi/tesis/disertasi untuk lulus menjadi buyar. Dalam hal ini saya sepakat dengan Pak Mario Teguh, bahwa orang yang berhasil adalah orang yang memfokuskan diri pada kebaikan-kebaikan yang mendukung pencapaiannya untuk sukses (kurang lebih redaksionalnya seperti itu).

Mirip dengan fokus, dalam mewujudkan resolusi, kita juga harus istiqomah alias konsisten dalam menjalankannya. Di awal tahun lazimnya memang semangat kita meluap-luap. Yakin se-yakin-yakinnya bahwa kita akan menjalankan semua resolusi kita, dan pada akhirnya resolusi tersebut akan terwujud. Namun, apakah semangat dan keyakinan serupa akan terus konsisten pada tengah tahun hingga akhir tahun?

Saya mengakui, menjaga semangat dan keyakinan butuh perjuangan juga, sama halnya dengan upaya mewujudkan resolusi itu sendiri. Saya jadi teringat resolusi saya di tahun 2006, saya akan bekerja dan tinggal di Jakarta. Kebetulan waktu itu saya masih bekerja sebagai reporter Radio MQ FM Bandung. Banyak yang menyayangkan tekad saya untuk resign, termasuk para petinggi MQ FM. Bahkan salah satu dari mereka menawarkan saya seorang ikhwan untuk ta’aruf. Wow! Sebuah tawaran yang menguji ‘keimanan’, apalagi menikah juga menjadi resolusi saya di tahun itu. Dilematis memang… tapi bukankah Allah pun selalu menguji azzam (tekad) hamba-Nya? Maka, saat itu saya istiqomah pada tekad untuk pulang ke Jakarta, untuk menemani ibu saya yang tinggal seorang diri di rumah.

Back to the topic… So, menurut saya, fokus dan istiqomah pada resolusi merupakan hal yang harus dijaga. Bahkan keyakinan akan kesuksesan kita pun harus dijaga. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda, “Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lengah dan ragu”. Karena itu, kita harus yakin bahwa Allah akan mengabulkan resolusi kita, jika kita yakin pada-Nya.

Yang terakhir dan terpenting… tentu saja resolusi yang kita buat semata-mata kita niatkan karena Allah. Mungkin tanpa kita sadari resolusi yang kita buat bersifat duniawi semata. Untuk itu, dalam menetapkan sebuah resolusi perlu ada motivasi (niat) yang mendasarinya. Semoga rencana-rencana itu semata-mata karena Allah SWT. Wallahua’lam bishawab.

NB. Buat yang masih belum punya resolusi, atau sudah punya resolusi tapi bingung memformulakannya, silakan klik di sini. Semoga bisa membantu

Sinar – sebuah lagu buat Sinar by ST12

Lagu yang ditulis Charly ST12 ini didedikasikan untuk Sinar, seorang bocah perempuan 6 tahun (kelas 1 SD) yang setiap hari harus sekolah sambil merawat ibunya yang lumpuh, mulai dari memindahkan tubuh ibunya, membuatkan makanan, memandikan, sampai membantunya buang air…
Sebuah bakti anak kepada orang tua yang mengharukan. Kerja keras dan ketulusan Sinar seolah ‘menampar’ kita anak yang sudah dewasa namun enggan berbakti pada orang tua…