terharu dan salut pada Sinar, bocah 6 th (kelas 1SD) yg sekolah sambil bekerja sbg PRT sekaligus merawat ibunya yang lumpuh…!!! Masyaallah

KAUST’ scholarship for science & technology

http://www.kaust.edu.sa/admissions/tokaust/fellowship.html#deadline
Beasiswa buat anak MIPA & Teknik ke King Abdullah University of Science of Technology. Closing date January 15, 2010

Another Law of Attraction…?

“Ya Allah, mudahkan dan lancarkan perjalananku,” gumamku sambil menyeberang jalan menuju ‘terminal bayangan’ pintu tol Kebon Jeruk. Malam itu, sehabis ngantor, gerimis tipis dan angin lumayan kencang membuatku memohon pada-Nya agar aku tetap ‘kering’ hingga sampai di rumah.

Lalu kuburu langkahku, karena saat itu bus jurusan Kampung Rambutan tampak beranjak perlahan meninggalkan ‘terminal bayangan’. Namun tiba-tiba sebuah mobil Avanza hitam berhenti di sisiku.

“Mau bareng, Mbak? Tapi paling sampai Pancoran aja,” ujar sang pengemudi kepadaku.

Setengah kaget, di tengah temaram lampu indoor mobil aku amati wajah si empunya suara. “Oh, ternyata si mas yang sekantor denganku pulangnya ke arah Pancoran toh?”, gumamku.

Melihat aku masih bergeming, sang pengemudi berujar lagi, “Emang turun dimana, Mbak?”

“Di UKI, mas!”

“Gimana, mau bareng nggak?”

“Boleh deh,” sahutku seraya buru-buru melompat ke dalam mobil, karena mobil-mobil di belakang yang mengantri sibuk mengklakson. Alhamdulillah dapat tebengan, jadi tidak perlu berdiri sepanjang perjalanan pulang .

“Pulangnya ke arah Pancoran tho, mas?” ujarku mengakrabkan diri dengan mas teman sekantor yang aku gak hafal namanya.

“Kebetulan tadi habis nganter dokumen ke daerah Meruya,” sahutnya. “Mbak kerja dimana?”

What?! Kerja dimana?? Bukannya si mas ini salah satu karyawan kantor tempat aku bekerja?? Wah, ternyata aku salah! Jadi, saat ini aku semobil dengan orang yang ‘tidak’ kukenal. Ini Jakarta gitu loh…!

Panikkah aku? Surprisingly no! Entah mengapa perasaanku saat itu damai-damai saja. Aku sama sekali tidak merasakan getaran negatif yang kata orang sering disebut sebagai “perasaan gak enak”. Namun demikian tak henti aku berzikir dalam hati dan ber-husnuzon pada orang ‘asing’ yang wajahnya mirip si mas teman sekantorku.

Sepanjang perjalanan aku sangat bersyukur karena lalu lintas lumayan lancar. Padahal pada jam pulang kantor, jalur Tomang-Cawang langganan macet. Keputusan kami untuk tidak lewat jalan tol dalam kota pun alhamdulillah tepat, karena sepanjang jalan aku melihat arus kendaraan di dalam tol tidak bergerak. Seandainya tadi aku jadi naik bus jurusan Kp. Rambutan, mungkin aku masih jauh tertinggal di belakang.

“Tapi lo semobil sama orang asing gitu loh!” seru teman sekantorku keesokannya saat kuceritakan.

“Tapi alhamdulillah gue baik-baik aja tuh,” ujarku. Aku sendiri masih tak habis pikir mengapa saat itu aku bisa begitu yakin, padahal sebagai orang lama di Jakarta, aku termasuk orang yang cukup waspada.

Anyway, apa pun itu aku sangat bersyukur. Hari itu perjalanan pulang amat sangat lancar. Bukannya GR, tapi aku merasa saat itu doaku langsung Dijawab. Pengalaman ini mengingatkanku pada hukum ketertarikan (Law of Attraction), seperti firman-Nya, “Aku sesuai prasangka hamba-Ku”.

Dan hal serupa terjadi semalam saat pulang kantor (lagi). Sepanjang jalan menuju ‘terminal bayangan’ pintu tol Kebon Jeruk, aku berharap, “Semoga ada Patas 74,” sambil membayangkan sosok bus mayasari biru berkaca gelap dengan plang berlampu redup bertuliskan P74 di sisi depan atas bus. Subhanallah… tak lama menunggu, bus yang aku bayangkan muncul di depan mataku.

Belum selesai sampai di sini. Saat menaiki tangga bus, aku merasa yakin akan mendapatkan tempat duduk. Padahal sejauh mata memandang, seluruh tempat duduk dalam P74 sudah terisi penuh. Namun entah mengapa aku merasa yakin, no doubt!

Setelah menyisir setiap baris bangku bus tersebut, akhirnya aku sampai di baris paling belakang. Ternyata tidak ada satu pun bangku kosong. Jadilah aku orang pertama yang berdiri dalam bus itu. “Tak mengapa,” pikirku sambil melipir ke tengah bus untuk berdiri dengan nyaman. Lalu… “Duduk bu,” ujar seorang bocah usia SMP mempersilakan bangkunya untukku. Alhamdulillah…

Subhanallah… aku seolah diingatkan kembali betapa Allah itu sesuai prasangka hamba-Nya, betapa Ia berjanji pasti mengabulkan setiap doa. Meminjam teorinya Michael J. Losier dalam “Law of Attraction”-nya dan Erbe Sentanu dalam “Quantum Ikhlas“-nya, bahwa apa yang kita pikirkan/rasakan/inginkan/yakini dengan ikhlas pasti akan terwujud dengan izin-Nya. Wallahua’lam bishawab….

Bagaimana dengan Anda?

PS. Terima kasih buat Pak Santoso atas ketulusannya memberiku tebengan sampai ke Pancoran. Semoga Allah membalasnya dengan berlipat ganda !!

Another Law of Attraction…?

“Ya Allah, mudahkan dan lancarkan perjalananku,” gumamku sambil menyeberang jalan menuju ‘terminal bayangan’ pintu tol Kebon Jeruk. Malam itu, sehabis ngantor, gerimis tipis dan angin lumayan kencang membuatku memohon pada-Nya agar aku tetap ‘kering’ hingga sampai di rumah.

Lalu kuburu langkahku, karena saat itu bus jurusan Kampung Rambutan tampak beranjak perlahan meninggalkan ‘terminal bayangan’. Namun tiba-tiba sebuah mobil Avanza hitam berhenti di sisiku.

“Mau bareng, Mbak? Tapi paling sampai Pancoran aja,” ujar sang pengemudi kepadaku.

Setengah kaget, di tengah temaram lampu indoor mobil aku amati wajah si empunya suara. “Oh, ternyata si mas yang sekantor denganku pulangnya ke arah Pancoran toh?”, gumamku.

Melihat aku masih bergeming, sang pengemudi berujar lagi, “Emang turun dimana, Mbak?”

“Di UKI, mas!”

“Gimana, mau bareng nggak?”

“Boleh deh,” sahutku seraya buru-buru melompat ke dalam mobil, karena mobil-mobil di belakang yang mengantri sibuk mengklakson. Alhamdulillah dapat tebengan, jadi tidak perlu berdiri sepanjang perjalanan pulang .

“Pulangnya ke arah Pancoran tho, mas?” ujarku mengakrabkan diri dengan mas teman sekantor yang aku gak hafal namanya.

“Kebetulan tadi habis nganter dokumen ke daerah Meruya,” sahutnya. “Mbak kerja dimana?”

What?! Kerja dimana?? Bukannya si mas ini salah satu karyawan kantor tempat aku bekerja?? Wah, ternyata aku salah! Jadi, saat ini aku semobil dengan orang yang ‘tidak’ kukenal. Ini Jakarta gitu loh…!

Panikkah aku? Surprisingly no! Entah mengapa perasaanku saat itu damai-damai saja. Aku sama sekali tidak merasakan getaran negatif yang kata orang sering disebut sebagai “perasaan gak enak”. Namun demikian tak henti aku berzikir dalam hati dan ber-husnuzon pada orang ‘asing’ yang wajahnya mirip si mas teman sekantorku.

Sepanjang perjalanan aku sangat bersyukur karena lalu lintas lumayan lancar. Padahal pada jam pulang kantor, jalur Tomang-Cawang langganan macet. Keputusan kami untuk tidak lewat jalan tol dalam kota pun alhamdulillah tepat, karena sepanjang jalan aku melihat arus kendaraan di dalam tol tidak bergerak. Seandainya tadi aku jadi naik bus jurusan Kp. Rambutan, mungkin aku masih jauh tertinggal di belakang.

“Tapi lo semobil sama orang asing gitu loh!” seru teman sekantorku keesokannya saat kuceritakan.

“Tapi alhamdulillah gue baik-baik aja tuh,” ujarku. Aku sendiri masih tak habis pikir mengapa saat itu aku bisa begitu yakin, padahal sebagai orang lama di Jakarta, aku termasuk orang yang cukup waspada.

Anyway, apa pun itu aku sangat bersyukur. Hari itu perjalanan pulang amat sangat lancar. Bukannya GR, tapi aku merasa saat itu doaku langsung Dijawab. Pengalaman ini mengingatkanku pada hukum ketertarikan (Law of Attraction), seperti firman-Nya, “Aku sesuai prasangka hamba-Ku”.

Dan hal serupa terjadi semalam saat pulang kantor (lagi). Sepanjang jalan menuju ‘terminal bayangan’ pintu tol Kebon Jeruk, aku berharap, “Semoga ada Patas 74,” sambil membayangkan sosok bus mayasari biru berkaca gelap dengan plang berlampu redup bertuliskan P74 di sisi depan atas bus. Subhanallah… tak lama menunggu, bus yang aku bayangkan muncul di depan mataku.

Belum selesai sampai di sini. Saat menaiki tangga bus, aku merasa yakin akan mendapatkan tempat duduk. Padahal sejauh mata memandang, seluruh tempat duduk dalam P74 sudah terisi penuh. Namun entah mengapa aku merasa yakin, no doubt!

Setelah menyisir setiap baris bangku bus tersebut, akhirnya aku sampai di baris paling belakang. Ternyata tidak ada satu pun bangku kosong. Jadilah aku orang pertama yang berdiri dalam bus itu. “Tak mengapa,” pikirku sambil melipir ke tengah bus untuk berdiri dengan nyaman. Lalu… “Duduk bu,” ujar seorang bocah usia SMP mempersilakan bangkunya untukku. Alhamdulillah…

Subhanallah… aku seolah diingatkan kembali betapa Allah itu sesuai prasangka hamba-Nya, betapa Ia berjanji pasti mengabulkan setiap doa. Meminjam teorinya Michael J. Losier dalam “Law of Attraction”-nya dan Erbe Sentanu dalam “Quantum Ikhlas“-nya, bahwa apa yang kita pikirkan/rasakan/inginkan/yakini dengan ikhlas pasti akan terwujud dengan izin-Nya. Wallahua’lam bishawab….

Bagaimana dengan Anda?

PS. Terima kasih buat Pak Santoso atas ketulusannya memberiku tebengan sampai ke Pancoran. Semoga Allah membalasnya dengan berlipat ganda !!

Mekarsari’s trip

Kesampean juga jalan-jalan ke taman buah Mekarsari di awal 2010, di penghujung liburan panjang 2009… Sayangnya batal naik kano keliling danau…hix 😥
Anyway, here are some of our the trip 😉

anak 4 tahun bagusnya dikadoin apa ya, yang mendidik?