“Ya Allah Sesungguhnya aku ini adalah hamba, anak dari hamba-Mu laki-laki, anak dari hamba-Mu perempuan. Ubun-Ubunku berada di tangan-Mu, mengikuti keputusan takdir-Mu dan berjalan sesuai dengan ketetapan-Mu. Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang menjadi milik-Mu, Nama yang Engkau lekatkan sendiri untuk diri-Mu, atau Engkau sebutkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada salah seorang di antara hamba-Mu (Nabi), atau Engkau sembunyikan di alam keghaiban-Mu, hendaknya Engkau menjadikan al Qur’an ini sebagai penyejuk hatiku, cahaya dalam dadaku, penghilang kesedihanku dan penolak rasa gundahku.” (HR Ahmad, Ibn Hibban)

‘Buruan Punya Anak!’

“Makanya buruan punya anak, jangan pake nunda-nunda mumpung belum umur 30,” kata seorang teman kepadaku.

Duuuh… siapa juga yang nunda? Justru kepengen banget segera diamanahi momongan. Terus terang kata-kata temanku itu lumayan ngejleb di jantung, sampai-sampai sebuah cairan dari mata hampir menetes.

“Astaghfirullah! Kenapa mesti sedih?“ tiba-tiba aku tersadar. Ya, kenapa harus bersedih? Bukankah temanku itu tidak mengerti?

Alhamdulillah… lafaz puji syukur akhirnya terlantun di bibir. Aku sangat bersyukur atas nikmat-Nya yang tak terkira pada diri ini, termasuk nikmat akal yang insyaallah senantiasa berusaha mencari hikmah di balik setiap ketetapan-Nya. Karena aku yakin, Allah hendak menyampaikan pesan kebaikan lewat setiap rencana-Nya kepada hamba-Nya.

Aku menjadi sangat bersyukur atas ketetapan-Nya menunda menitipkan ruh ke dalam rahimku. Semua itu semata-mata karena besarnya kasih sayang-Nya padaku. Seandainya setelah menikah aku langsung hamil dan punya anak, mungkin akan lain ceritanya. Mungkin lisanku akan dengan ringannya melontarkan kata-kata seperti temanku itu tanpa mempertimbangkan perasaan orang yang diajak bicara. Yah… aku maklum, karena temanku ini sudah punya anak balita dan tidak pernah merasakan penantian buah hati selama berbulan-bulan. Wallahua’lam bishawab.

Aku jadi ingat kata-kata seorang teman yang lain, “Kenapa jat, kok udah umur segini belum nikah juga?“ Yap, kata-kata ini dilontarkannya saat aku belum menikah (dan tentu saja waktu itu udah pingin nikah banget, tapi belum dipertemukan jodohnya oleh Allah). Bisa dibayangkan betapa ngejleb-nya kata-kata temanku ituh. Sekali lagi, aku ber-istighfar… karena aku tahu dia mengucapkan itu karena dia tidak mengerti, maka ia tidak dapat berempati.

Alhamdulillah… terima kasih ya Allah, atas segala ketepan-Mu atasku. Aku menjadi lebih berempati terhadap saudara-saudaraku yang masih menanti jodohnya, juga yang tengah menanti kehadiran buah hatinya. Puji syukur pada-Mu ya Allah… Setiap rencana-Mu atasku semata-mata untuk kebaikanku, karena rahmat-Mu yang begitu besar kepada hamba-hamba-Mu.

Ya Allah, ampunilah aku yang seringkali menafikan nikmat dan kasih sayang-Mu yang begitu besar. Ya Rabb, jadikanlah aku hamba-Mu yang sabar yang senantiasa mengambil hikmah dari setiap ketetapan-Mu. Jadikanlah aku hamba-Mu yang pandai bersyukur…. amin ya robbal’alamin.

why do i feel so dizzy??

Islamic Book Fair 1431 H/2010 M

Start:      Mar 5, ’10
End:      Mar 14, ’10
Location:      Istora Gelora Bung Karno, Jakarta

Tema “MEMBANGUN GENERASI ISLAMI, CERDAS DAN MANDIRI”

Wilayah Abu-abu COKLAT

”Katakan dengan coklat”. Begitu pesan iklan produk coklat berbagai merek di televisi. Ada santai, ada Silverqueen. Ada break, ada KitKat. Memang, coklat digemari banyak orang. Bahkan tak hanya anak-anak dan kaum remaja. Dalam parcel lebaran misalnya, coklat menjadi salah satu menu wajib. Ia juga menjadi buah tangan favorit antar-negara, sehingga hampir selalu ada di bandara internasional setiap negara.

Coklat berbentuk padatan pada suhu ruang, yang akan mudah meleleh begitu tiba di mulut. Dikombinasikan dengan gula dan susu, coklat memiliki sensasi kelezatan yang menggoyang lidah. Begitu masuk mulut, kelezatannya mengguyur seluruh tubuh. Demikian sebuah iklan menggambarkan secara berlebihan.

Tapi, tentu saja, hidup bukan sekadar memanja selera. Sebelum pertimbangan lain-lain, orang Islam akan menggugat makanannya: halalkah?

Sebagaimana produk olahan yang lain, coklat juga memiliki wilayah abu-abu. Artinya, bisa jadi dia haram dimakan. Kenapa?

Proses Pembuatan

Coklat dibuat dari biji coklat yang dihasilkan dari tanaman cacao (Theobroma cacao, L.). Cacao pertama kali dikenal oleh bangsa Maya di Yukatan selatan, Amerika Selatan. Ketika ekspedisi Eropa pertama tiba di Amerika Tengah, mereka mendapatkan cacao ditanam oleh bangsa Aztec di Meksiko dan bangsa Inca di Peru. Biji coklat pada masa itu dijadikan mata uang, juga dibuat menjadi minuman dengan nama chocolatl. Dari nama minuman itulah agaknya asal-muasal nama coklat.

Setelah dikeluarkan dari buah coklat, biji coklat kemudian difermentasiagar menghasilkan bahan-bahan kimia yang dibutuhkan dalam pembentukan flavor (aroma dan rasa) coklat yang khas.

Setelah fermentasi, biji coklat dikeringkan dan disangrai. Selain untuk memantapkan flavor coklat, penyangraian juga untuk membunuh mikroorganisme. Sehingga, biji coklat kian awet. Setelah itu, dilakukan pemisahan kulit biji coklat sehingga hanya bagian dalam biji coklat saja yang diproses lebih lanjut.

Penggilingan biji coklat kemudian akan menghasilkan cocoa mass atau cocoa liquor. Agar menghasilkan coklat bubuk yang mudah larut dalam air panas atau susu, juga mempengaruhi flavor dan warna, setelah itu biasanya dilakukan proses Dutching. Yakni menambahkan larutan alkali, biasanya potasium karbonat.

Cocoa liquor mengandung lemak sekitar 55%. Jika dikeringkan akan menghasilkan coklat berlemak tinggi, yang kurang bisa larut merata dalam air panas. Karena itu lemak cocoa mass biasanya dikurangi melalui pengepresan. Hasilnya, kadar lemak cocoa mass berkurang menjadi sekitar 8% – 24%.

Dari hasil pengepresan cocoa mass akan dihasilkan lemak yang disebut dengan cocoa butter dimana bahan ini sangat dibutuhkan untuk membuat berbagai jenis produk coklat. Sisa hasil pengepresan cocoa mass adalah apa yang diistilahkan dengan cocoa press cake yang nantinya digiling sehingga menjadi coklat bubuk dengan kandungan lemak 10% – 22%.
 
Untuk membuat produk-produk coklat maka dibuat coklat dalam bentuk cair. Ada yang disebut dengan dark chocolate, yang dibuat dari pencampuran gula, biji coklat dan cocoa butter. Ada juga yang disebut dengan coklat susu (milk chocolate) yang dibuat dengan mencampurkan gula, cocoa butter, biji coklat dan susu penuh. Agar diperoleh bahan yang seragam, flavor yang enak dan tekstur yang lembut maka dilakukan proses conching dengan menggunakan alat khusus dimana bahan-bahan campuran diaduk pada suhu dan waktu tertentu sehingga dicapai sifat yang diinginkan. Coklat cair ini selanjutnya digunakan sebagai bahan dasar pembuatan produk-produk coklat termasuk digunakan sebagai bahan pelapis (coating).

Status Kehalalan

Sampai cocoa liquor, cocoa mass, maupun cocoa press cake, tidak ada masalah dengan kehalalannya. ‘’Yang jadi soal adalah penggunaan bahan alternatif yang lebih murah dan bersifat menyerupai coklat. Di samping itu tentu saja dalam pembuatan produk coklat diperlukan bahan-bahan aditif dan ingredien lainnya yang tentu saja harus kita perhatikan kehalalannya,’’ tutur DR Anton Apriyantono, mantan menteri pertanian RI yang juga staf pengajar Teknologi Pangan dan Gizi IPB.

Bahan-bahan utama dalam pembuatan produk coklat adalah susu, pemanis, lesitin, dan flavor. Susu dan produk turunanannya seperti whey banyak digunakan dalam pembuatan produk coklat. Bahkan salah satu jenis produk coklat yang favorit adalah coklat susu. Jika susu yang digunakan susu skim, yaitu susu yang telah dipisahkan lemaknya (krimnya), menurut Anton tidaklah jadi masalah.

Namun bila menggunakan susu rekombinasi, tidak tertutup kemungkinan susu ini mengandung whey yang syubhat. Sebab, proses pembuatan whey dari keju sebagian besar menggunakan enzim yang salah satunya bisa berasal dari babi atau sapi yang tidak disembelih secara Islami.

Pemanis yang acap digunakan dalam produksi coklat adalah gula pasir, syrup glukosa, fruktosa, atau sorbitol. Anton menjelaskan, hamper tidak ada keraguan pada gula pasir. Sedangkan dalam pembuatan sirup glukosa, sebagian besar melibatkan enzim alfa-amilase. Nah, salah satu sumber enzim alfa-amilase adalah hewan, khususnya babi, sehingga kehalalan sirup glukosa patut dipertanyakan. Walaupun demikian, sebenarnya ada sirup glukosa halal.

Dengan kandungan yang sama, jenis lain dari sirup glukosa adalah dekstrosa dimana dekstrosa sebetulnya nama lain dari glukosa, hanya saja desktrosa biasanya dalam bentuk padat, bukan cair.

Jenis pemanis lainnya adalah sirup fruktosa dimana kehalalan sirup fruktosa tidak dipermasalahkan. Cara pembuatan sirup fruktosa mirip dengan cara pembuatan sirup glukosa dimana enzim terlibat dalam pembuatannya, hanya saja enzim yang digunakan tidak sama dengan enzim yang digunakan dalam pembuatan sirup glukosa dan belum diketahui ada enzim yang bermasalah dalam pembuatan sirup fruktosa. Pemanis non kalori sorbitol layak dipertanyakan, karena sorbitol dibuat dari glukosa.

Lesitin komersial lesitin berasal dari kedele. Jika dilihat dari sumber asalnya, kehalalan lesitin tidak dipermasalahkan. Yang jadi soal adalah jenis turunan lesitin atau lesitin yang sudah diolah lebih lanjut.

Elemen rawan dalam pemrosesan lesitin adalah enzim fosfolipase A yang berasal dari pankreas babi untuk mengubah struktur kimia lesitin, alkohol untuk mengekstraksi lesitin, dan bahan pengemulsi yang secara umum berstatus syubhat karena sebagian dibuat dari bahan hewani.

Perasa favorit yang digunakan dalam proses produksi coklat adalah flavor vanilin. Vanilin sendiri secara umum ada 2 jenis. Yang buatan (sintetik), yakni bahan kimia etil vanilin, biasanya dalam bentuk padat dan kehalalannya tidak dipermasalahkan. Jenis kedua adalah vanilin alami yang sebenarnya ekstrak vanilla. Jenis ini kehalalannya diragukan karena biasanya pelarut yang digunakan untuk mengekstrak vanila adalah campuran alkohol (etanol) dengan air. Ekstrak vanila yang diperoleh masih mengandung alkohol yang relatif tinggi.

Banyak sekali jenis flavor lain sedlain flavor vanila yang digunakan dalam pembuatan produk coklat. Dan seperti sering diingatkan oleh DR Anton, secara umum status kehalalan flavor adalah syubhat. Apalagi flavor coklat sintetik yang banyak di pasaran dengan harga murah. (dari majalah ALIA/Nurbowo) []

tulisan diambil dari milis Halal-Baik-Enak

Wilayah Abu-abu COKLAT

”Katakan dengan coklat”. Begitu pesan iklan produk coklat berbagai merek di televisi. Ada santai, ada Silverqueen. Ada break, ada KitKat. Memang, coklat digemari banyak orang. Bahkan tak hanya anak-anak dan kaum remaja. Dalam parcel lebaran misalnya, coklat menjadi salah satu menu wajib. Ia juga menjadi buah tangan favorit antar-negara, sehingga hampir selalu ada di bandara internasional setiap negara.

Coklat berbentuk padatan pada suhu ruang, yang akan mudah meleleh begitu tiba di mulut. Dikombinasikan dengan gula dan susu, coklat memiliki sensasi kelezatan yang menggoyang lidah. Begitu masuk mulut, kelezatannya mengguyur seluruh tubuh. Demikian sebuah iklan menggambarkan secara berlebihan.

Tapi, tentu saja, hidup bukan sekadar memanja selera. Sebelum pertimbangan lain-lain, orang Islam akan menggugat makanannya: halalkah?

Sebagaimana produk olahan yang lain, coklat juga memiliki wilayah abu-abu. Artinya, bisa jadi dia haram dimakan. Kenapa?

Proses Pembuatan

Coklat dibuat dari biji coklat yang dihasilkan dari tanaman cacao (Theobroma cacao, L.). Cacao pertama kali dikenal oleh bangsa Maya di Yukatan selatan, Amerika Selatan. Ketika ekspedisi Eropa pertama tiba di Amerika Tengah, mereka mendapatkan cacao ditanam oleh bangsa Aztec di Meksiko dan bangsa Inca di Peru. Biji coklat pada masa itu dijadikan mata uang, juga dibuat menjadi minuman dengan nama chocolatl. Dari nama minuman itulah agaknya asal-muasal nama coklat.

Setelah dikeluarkan dari buah coklat, biji coklat kemudian difermentasiagar menghasilkan bahan-bahan kimia yang dibutuhkan dalam pembentukan flavor (aroma dan rasa) coklat yang khas.

Setelah fermentasi, biji coklat dikeringkan dan disangrai. Selain untuk memantapkan flavor coklat, penyangraian juga untuk membunuh mikroorganisme. Sehingga, biji coklat kian awet. Setelah itu, dilakukan pemisahan kulit biji coklat sehingga hanya bagian dalam biji coklat saja yang diproses lebih lanjut.

Penggilingan biji coklat kemudian akan menghasilkan cocoa mass atau cocoa liquor. Agar menghasilkan coklat bubuk yang mudah larut dalam air panas atau susu, juga mempengaruhi flavor dan warna, setelah itu biasanya dilakukan proses Dutching. Yakni menambahkan larutan alkali, biasanya potasium karbonat.

Cocoa liquor mengandung lemak sekitar 55%. Jika dikeringkan akan menghasilkan coklat berlemak tinggi, yang kurang bisa larut merata dalam air panas. Karena itu lemak cocoa mass biasanya dikurangi melalui pengepresan. Hasilnya, kadar lemak cocoa mass berkurang menjadi sekitar 8% – 24%.

Dari hasil pengepresan cocoa mass akan dihasilkan lemak yang disebut dengan cocoa butter dimana bahan ini sangat dibutuhkan untuk membuat berbagai jenis produk coklat. Sisa hasil pengepresan cocoa mass adalah apa yang diistilahkan dengan cocoa press cake yang nantinya digiling sehingga menjadi coklat bubuk dengan kandungan lemak 10% – 22%.

Untuk membuat produk-produk coklat maka dibuat coklat dalam bentuk cair. Ada yang disebut dengan dark chocolate, yang dibuat dari pencampuran gula, biji coklat dan cocoa butter. Ada juga yang disebut dengan coklat susu (milk chocolate) yang dibuat dengan mencampurkan gula, cocoa butter, biji coklat dan susu penuh. Agar diperoleh bahan yang seragam, flavor yang enak dan tekstur yang lembut maka dilakukan proses conching dengan menggunakan alat khusus dimana bahan-bahan campuran diaduk pada suhu dan waktu tertentu sehingga dicapai sifat yang diinginkan. Coklat cair ini selanjutnya digunakan sebagai bahan dasar pembuatan produk-produk coklat termasuk digunakan sebagai bahan pelapis (coating).

Status Kehalalan

Sampai cocoa liquor, cocoa mass, maupun cocoa press cake, tidak ada masalah dengan kehalalannya. ‘’Yang jadi soal adalah penggunaan bahan alternatif yang lebih murah dan bersifat menyerupai coklat. Di samping itu tentu saja dalam pembuatan produk coklat diperlukan bahan-bahan aditif dan ingredien lainnya yang tentu saja harus kita perhatikan kehalalannya,’’ tutur DR Anton Apriyantono, mantan menteri pertanian RI yang juga staf pengajar Teknologi Pangan dan Gizi IPB.

Bahan-bahan utama dalam pembuatan produk coklat adalah susu, pemanis, lesitin, dan flavor. Susu dan produk turunanannya seperti whey banyak digunakan dalam pembuatan produk coklat. Bahkan salah satu jenis produk coklat yang favorit adalah coklat susu. Jika susu yang digunakan susu skim, yaitu susu yang telah dipisahkan lemaknya (krimnya), menurut Anton tidaklah jadi masalah.

Namun bila menggunakan susu rekombinasi, tidak tertutup kemungkinan susu ini mengandung whey yang syubhat. Sebab, proses pembuatan whey dari keju sebagian besar menggunakan enzim yang salah satunya bisa berasal dari babi atau sapi yang tidak disembelih secara Islami.

Pemanis yang acap digunakan dalam produksi coklat adalah gula pasir, syrup glukosa, fruktosa, atau sorbitol. Anton menjelaskan, hamper tidak ada keraguan pada gula pasir. Sedangkan dalam pembuatan sirup glukosa, sebagian besar melibatkan enzim alfa-amilase. Nah, salah satu sumber enzim alfa-amilase adalah hewan, khususnya babi, sehingga kehalalan sirup glukosa patut dipertanyakan. Walaupun demikian, sebenarnya ada sirup glukosa halal.

Dengan kandungan yang sama, jenis lain dari sirup glukosa adalah dekstrosa dimana dekstrosa sebetulnya nama lain dari glukosa, hanya saja desktrosa biasanya dalam bentuk padat, bukan cair.

Jenis pemanis lainnya adalah sirup fruktosa dimana kehalalan sirup fruktosa tidak dipermasalahkan. Cara pembuatan sirup fruktosa mirip dengan cara pembuatan sirup glukosa dimana enzim terlibat dalam pembuatannya, hanya saja enzim yang digunakan tidak sama dengan enzim yang digunakan dalam pembuatan sirup glukosa dan belum diketahui ada enzim yang bermasalah dalam pembuatan sirup fruktosa. Pemanis non kalori sorbitol layak dipertanyakan, karena sorbitol dibuat dari glukosa.

Lesitin komersial lesitin berasal dari kedele. Jika dilihat dari sumber asalnya, kehalalan lesitin tidak dipermasalahkan. Yang jadi soal adalah jenis turunan lesitin atau lesitin yang sudah diolah lebih lanjut.

Elemen rawan dalam pemrosesan lesitin adalah enzim fosfolipase A yang berasal dari pankreas babi untuk mengubah struktur kimia lesitin, alkohol untuk mengekstraksi lesitin, dan bahan pengemulsi yang secara umum berstatus syubhat karena sebagian dibuat dari bahan hewani.

Perasa favorit yang digunakan dalam proses produksi coklat adalah flavor vanilin. Vanilin sendiri secara umum ada 2 jenis. Yang buatan (sintetik), yakni bahan kimia etil vanilin, biasanya dalam bentuk padat dan kehalalannya tidak dipermasalahkan. Jenis kedua adalah vanilin alami yang sebenarnya ekstrak vanilla. Jenis ini kehalalannya diragukan karena biasanya pelarut yang digunakan untuk mengekstrak vanila adalah campuran alkohol (etanol) dengan air. Ekstrak vanila yang diperoleh masih mengandung alkohol yang relatif tinggi.

Banyak sekali jenis flavor lain sedlain flavor vanila yang digunakan dalam pembuatan produk coklat. Dan seperti sering diingatkan oleh DR Anton, secara umum status kehalalan flavor adalah syubhat. Apalagi flavor coklat sintetik yang banyak di pasaran dengan harga murah. (dari majalah ALIA/Nurbowo) []

tulisan diambil dari milis Halal-Baik-Enak

Resep Komplit – Aneka Resep Masakan dari Indonesia dan Mancanegara

http://www.resepkomplit.com/
Buat yang doyan eksperimen di dapur 😉

Roti Goreng Ayam Wortel Ala Mbakje


Description:
Musim hujan gini enaknya emang ngemil yang hangat dan gurih. Kebetulan di kulkas nangkring sepotong ayam goreng sisa makan malam plus roti tawar ‘nganggur’… Akhirnya ke-ide-an berkreasi bikin makanan lezat yang bikin hari-hari dingin menjadi hangat, hmmmm… apalagi makannya ditemani teh tubruk hangat plus belahan hati tercinta… slurrp ;p

Ingredients:
Bahan Roti:
– 4 lembar roti tawar tanpa kulit berbentuk segi empat

Bahan pelapis
– 1 butir telur kocok lepas
– Tepung roti secukupnya

Bahan Isi:
– 1 potong ayam goreng disuir-suir halus
– 1/2 batang wortel dipotong dadu kecil-kecil
– 1 siung bawang putih dicincang halus
– 1/4 siung bawang bombay dicincang halus
– lada secukupnya
– garam secukupnya
– 1 sdm susu UHT cair/susu kental manis secukupnya
– air sedikit saja
– 1 sdm mentega untuk menumis

Bahan lainnya:
– minyak untuk menggoreng
– saus sambal
– mayonese

Directions:
Isi:
1. Cairkan mentega di atas wajan dengan api sedang
2. Tumis bawang bombay dan bawang putih sampai harum
3. Masukkan potongan wortel, aduk-aduk
4. Tambahkan susu, aduk-aduk
5. Tambahkan air agar wortel lebih cepat matang, aduk-aduk
6. Masukkan ayam yang sudah disuir-suir, aduk-aduk
7. Tambahkan lada dan garam secukupnya
8. Setelah bahan isi sudah cukup matang, biarkan agar dingin.

Roti dan Pelapis:
1. Sambil menunggu bahan isi dingin, siapkan roti tawar, tepung roti, dan telur yang telah dikocok lepas.
2. Ambil roti tawar, lipat menjadi bentuk segitiga
3. Buka lipatan roti, isi tengah roti dengan 1 sendok makan bahan isi, lalu lipat kembali
4. Gulingkan roti secara merata pada telur yang sudah dikocok. Pastikan seluruh permukaan roti terlapisi oleh telur.
5. Lalu gulingkan roti secara merata pada tepung roti. Pastikan juga seluruh permukaan roti terlapisi tepung roti.
6. Ulangi proses ini pada roti kedua dan seterusnya.
7. Panaskan minyak
8. Goreng roti sebentar saja sampai warnanya kecokelatan
9. Tiriskan roti
10. Sajikan roti goreng isi ayam wortel ini bersama mayonese dan saus sambal… Gampang kan?! ;p

Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Rumaysho.Com

http://rumaysho.com/
Pemilik site ini adalah Muhammad Abduh Tuasikal, sedangkan Rumaysho adalah nama putri pertamanya. Ia aktif menulis di Buletin Dakwah At Tauhid, website muslim.or.id dan pengusahamuslim.com. Insyaallah banyak artikel penting dan bermanfaat di situs ini…

Old Collections as BSMI volunteer

Foto ini saya ambil menggunakan kamera Nikon F3, film Lucky pro BW, lensa 50 mm (dengan sedikit jamur… makanya ada efek ‘soft’ xixixi ;p)

Foto ini saya ambil waktu jadi relawan humas Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) bagian dokumentasi, pasca musibah kebakaran di Jakarta Utara–kalo tidak salah di Tambora–tahun 2002.