‘Buruan Punya Anak!’

“Makanya buruan punya anak, jangan pake nunda-nunda mumpung belum umur 30,” kata seorang teman kepadaku.

Duuuh… siapa juga yang nunda? Justru kepengen banget segera diamanahi momongan. Terus terang kata-kata temanku itu lumayan ngejleb di jantung, sampai-sampai sebuah cairan dari mata hampir menetes.

“Astaghfirullah! Kenapa mesti sedih?“ tiba-tiba aku tersadar. Ya, kenapa harus bersedih? Bukankah temanku itu tidak mengerti?

Alhamdulillah… lafaz puji syukur akhirnya terlantun di bibir. Aku sangat bersyukur atas nikmat-Nya yang tak terkira pada diri ini, termasuk nikmat akal yang insyaallah senantiasa berusaha mencari hikmah di balik setiap ketetapan-Nya. Karena aku yakin, Allah hendak menyampaikan pesan kebaikan lewat setiap rencana-Nya kepada hamba-Nya.

Aku menjadi sangat bersyukur atas ketetapan-Nya menunda menitipkan ruh ke dalam rahimku. Semua itu semata-mata karena besarnya kasih sayang-Nya padaku. Seandainya setelah menikah aku langsung hamil dan punya anak, mungkin akan lain ceritanya. Mungkin lisanku akan dengan ringannya melontarkan kata-kata seperti temanku itu tanpa mempertimbangkan perasaan orang yang diajak bicara. Yah… aku maklum, karena temanku ini sudah punya anak balita dan tidak pernah merasakan penantian buah hati selama berbulan-bulan. Wallahua’lam bishawab.

Aku jadi ingat kata-kata seorang teman yang lain, “Kenapa jat, kok udah umur segini belum nikah juga?“ Yap, kata-kata ini dilontarkannya saat aku belum menikah (dan tentu saja waktu itu udah pingin nikah banget, tapi belum dipertemukan jodohnya oleh Allah). Bisa dibayangkan betapa ngejleb-nya kata-kata temanku ituh. Sekali lagi, aku ber-istighfar… karena aku tahu dia mengucapkan itu karena dia tidak mengerti, maka ia tidak dapat berempati.

Alhamdulillah… terima kasih ya Allah, atas segala ketepan-Mu atasku. Aku menjadi lebih berempati terhadap saudara-saudaraku yang masih menanti jodohnya, juga yang tengah menanti kehadiran buah hatinya. Puji syukur pada-Mu ya Allah… Setiap rencana-Mu atasku semata-mata untuk kebaikanku, karena rahmat-Mu yang begitu besar kepada hamba-hamba-Mu.

Ya Allah, ampunilah aku yang seringkali menafikan nikmat dan kasih sayang-Mu yang begitu besar. Ya Rabb, jadikanlah aku hamba-Mu yang sabar yang senantiasa mengambil hikmah dari setiap ketetapan-Mu. Jadikanlah aku hamba-Mu yang pandai bersyukur…. amin ya robbal’alamin.

Advertisements
Leave a comment

12 Comments

  1. sabar..mungkin memang belum dipercaya oleh Allah
    ya jaga kesehatan, banyak makan sayur
    semangat ya 🙂

    Reply
  2. setuju… smg kita senantiasa jd hamba yg bersyukur atas pemberian-Nya yang tak terhitung.. aku juga udah 'kenyang' dgn statement2 serupa, paling kalo lg bete aku tinggal pergi aja orang yang nanya.. hehe.. malas nanggepinnya.. ^_^

    Reply
  3. jujur aja aku sebel sama orang yang ngmong sembarangan kayak gitu..ga bisa empati banget sih kata2nya? emang siapa sih yang mau nunda nikah? punya anak? emang orang tuh kudu berhati-hati tentang apa yang mreka ucapkan…peringatan buat aku juga 😦

    Reply
  4. duh, sabar ya mba..

    Reply
  5. hehehe… iya kali yaa… wow, sayur dan buah mah kesukaanku! Terima kasih yaa 😉

    Reply
  6. amin ya robbal'alamin… tetap semangat ya, Lisa 😉

    Reply
  7. hehe… terima kasih atas empatinya, teh 😉 peringatan buat aku juga teh, biar lebih menjaga lisan… mudah2an, allahuma amin…

    Reply
  8. terima kasih ^_^

    Reply
  9. ya..banyak istirahat saja..kerja jangan terlalu diforsir
    sebaiknya memperbanyak konsumsi protein nabati seperti tempe, tahu, susu kedelai, kecambah 🙂

    Reply
  10. seperti klao kita nonton pertandingan final badminton. pemain andalan kita, si om taufik,….kalah!! dan segera para penonton menghujat si om taufik dengan segala sumpah serapah n kebun binatang….padahal,…..dibalik kekalahan andalan kita ini, ia telah mengantongi beragam prestasi yang membuat penggemar dan penontonnya kagum setengah mampus………semoga kita bisa menganalisa sebab akibat, sebelum mengomentari tentang seseorang, ………………….ehm

    Reply
  11. amin…. semoga masing-masing kita bisa menjaga lisan… ehm, “bicara baik, atau diam” Thanks 4 d respond, gus 😉

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: