Di ibukota ini, kenapa orang yang ramah sama orang baru ternyata sales asuransi…??

Advertisements

The Naked Traveler 2

Rating: ★★★★
Category: Books
Genre: Travel
Author: Trinity

The Naked Traveler 2 The Naked Traveler 2 by Trinity

My rating: 4 of 5 stars
Mirip dengan buku sebelumnya–The Naked Traveler–, buku ini bikin yang baca cekikikan sendiri. Tapi jujur aja aku lebih suka sama buku pertamanya yang lebih banyak nuansa traveling-nya.

Kalau buku kedua ini lebih membahas tentang orang-orang/penduduk suatu tempat yang dikunjungi penulis. Selain itu, buku kedua ini lebih kepada ‘survei’ pribadi penulis dalam membandingkan unsur antropologis setiap negara/daerah.

But after all, tulisan yang ringan dan apa adanya khas Trinity ini enak dibaca dan perlu. Yang pasti, tulisan mbak Trinity ini membuatku “ngiler” traveling :))

View all my reviews >>


Nama 3 Kata

Belakangan ini aku selalu berkutat dengan perihal yang namanya “Nama 3 kata”! Kenapa? Karena hanya mereka yang memiliki nama 3 kata yang mudah beribadah ke tanah suci Mekkah dan Madinah. Itu pun dengan syarat, 3 kata itu tidak mengandung nama “Abdul”, “Abdullah”, “Achmad/Ahmad”, “Nur”, dan “Siti”, karena nama-nama itu tidak dianggap nama oleh Kedutaan Besar Arab Saudi.

Gila ya? Padahal orang Indonesia banyak yang namanya hanya 1 kata, seperti Sukarno, Suhartini, Sumiyati, Suharto, Suparman, dll. Dan nasib ini menimpa ibu saya yang hanya bernama “Latifah”. Untungnya petugas keimigrasian memahami perihal ini, sehingga dengan menunjukkan bukti-bukti autentik berupa akta, surat nikah, dan ijazah, nama ibu saya bisa menjadi 3 kata, yaitu “Latifah Achmad Basiran”.

Lalu, dari mana tambahan 2 kata itu? “Achmad” adalah nama ayah ibu saya, dan “Hardjo Basiran” adalah nama kakek ibu saya. Tadinya sih kami mengajukan nama 4 kata untuk ibu saya, yaitu “Latifah Achmad Hardjo Basiran”. Namun menurut petugas imigrasi, 4 kata terlalu panjang di paspor sehingga dihapus satu, menjadi “Latifah Achmad Basiran”.

Kami baru menyadari bahwa nama “Achmad” tidak dianggap nama oleh Kedubes Arab Saudi setelah paspor hampir jadi. Buru-buru kami menghubungi kantor imigrasi dan menanyakan apakah nama ibu saya masih bisa ditambah. Mereka bilang bisa, karena paspor belum jadi. “Alhamdulillah,” ucapku dalam hati.

Namun apa yang terjadi ketika kami mendatangi kantor imigrasi?

“Wah, bu. Kalo ini paspornya sudah dicetak,” ujar petugas TU keimigrasian.

“Jadi gimana dong, pak?” ujarku

“Begini saja. Ibu ambil saja paspor yang sudah jadi besok. Nanti temui Pak Hartawan di bagian civic dan membawa foto copy berkas-berkas pengajuan paspor. Bisa kok namanya ditambahkan,” ujar sang petugas yang membuatku lega.

Esoknya aku dan ibuku melakukan apa yang disarankan sang petugas TU.

“Mbak, kalo Pak Hartawan di bagian civic di sebelah mana?” tanya ibuku ke mbak-mbak di loket pengambilan paspor.

“Ada perlu apa, bu?” sahut mbak-mbak loket dengan agak ketus.

Lalu ibuku menjelaskan panjang lebar plus detail soal namanya yang terancam tidak dapat visa umroh. Kemudian dengan nada yang tidak sabaran, mbak-mbak loket itu menegaskan bahwa nama ibuku di paspor sudah tidak bisa diapa-apain lagi titik, tanpa koma. Dengan pasrah, ibu saya menerima paspornya yang telah jadi.

Lalu bagaimana nasib nama 3 kata milik ibu saya? Demi mendapatkan visa umroh, nama 3 kata ibu saya tetap harus ditambah 1 kata lagi, karena nama “Achmad” tidak dianggap nama. Gila ya? Kakek saya dianggap gak punya nama sama kedubes Arab !!! Ternyata…. untuk menambahkan nama di bagian “endorsement” buku paspor, harus dilakukan di kantor Depkumham, tentu saja dengan tambahan biaya lageee…. cappee deee….

*Moral of the story : nanti kalau punya anak sebaiknya diberi nama 3 kata dengan tidak mengandung kata “Abdul”, “Abdullah”, “Ahmad”, “Nur”, “Siti” supaya mudah untuk umroh dan haji

related story

Nama 3 Kata

Belakangan ini aku selalu berkutat dengan perihal yang namanya “Nama 3 kata”! Kenapa? Karena hanya mereka yang memiliki nama 3 kata yang mudah beribadah ke tanah suci Mekkah dan Madinah. Itu pun dengan syarat, 3 kata itu tidak mengandung nama “Abdul”, “Abdullah”, “Achmad/Ahmad”, “Nur”, dan “Siti”, karena nama-nama itu tidak dianggap nama oleh Kedutaan Besar Arab Saudi.

Gila ya? Padahal orang Indonesia banyak yang namanya hanya 1 kata, seperti Sukarno, Suhartini, Sumiyati, Suharto, Suparman, dll. Dan nasib ini menimpa ibu saya yang hanya bernama “Latifah”. Untungnya petugas keimigrasian memahami perihal ini, sehingga dengan menunjukkan bukti-bukti autentik berupa akta, surat nikah, dan ijazah, nama ibu saya bisa menjadi 3 kata, yaitu “Latifah Achmad Basiran”.

Lalu, dari mana tambahan 2 kata itu? “Achmad” adalah nama ayah ibu saya, dan “Hardjo Basiran” adalah nama kakek ibu saya. Tadinya sih kami mengajukan nama 4 kata untuk ibu saya, yaitu “Latifah Achmad Hardjo Basiran”. Namun menurut petugas imigrasi, 4 kata terlalu panjang di paspor sehingga dihapus satu, menjadi “Latifah Achmad Basiran”.

Kami baru menyadari bahwa nama “Achmad” tidak dianggap nama oleh Kedubes Arab Saudi setelah paspor hampir jadi. Buru-buru kami menghubungi kantor imigrasi dan menanyakan apakah nama ibu saya masih bisa ditambah. Mereka bilang bisa, karena paspor belum jadi. “Alhamdulillah,” ucapku dalam hati.

Namun apa yang terjadi ketika kami mendatangi kantor imigrasi?

“Wah, bu. Kalo ini paspornya sudah dicetak,” ujar petugas TU keimigrasian.

“Jadi gimana dong, pak?” ujarku

“Begini saja. Ibu ambil saja paspor yang sudah jadi besok. Nanti temui Pak Hartawan di bagian civic dan membawa foto copy berkas-berkas pengajuan paspor. Bisa kok namanya ditambahkan,” ujar sang petugas yang membuatku lega.

Esoknya aku dan ibuku melakukan apa yang disarankan sang petugas TU.

“Mbak, kalo Pak Hartawan di bagian civic di sebelah mana?” tanya ibuku ke mbak-mbak di loket pengambilan paspor.

“Ada perlu apa, bu?” sahut mbak-mbak loket dengan agak ketus.

Lalu ibuku menjelaskan panjang lebar plus detail soal namanya yang terancam tidak dapat visa umroh. Kemudian dengan nada yang tidak sabaran, mbak-mbak loket itu menegaskan bahwa nama ibuku di paspor sudah tidak bisa diapa-apain lagi titik, tanpa koma. Dengan pasrah, ibu saya menerima paspornya yang telah jadi.

Lalu bagaimana nasib nama 3 kata milik ibu saya? Demi mendapatkan visa umroh, nama 3 kata ibu saya tetap harus ditambah 1 kata lagi, karena nama “Achmad” tidak dianggap nama. Gila ya? Kakek saya dianggap gak punya nama sama kedubes Arab !!! Ternyata…. untuk menambahkan nama di bagian “endorsement” buku paspor, harus dilakukan di kantor Depkumham, tentu saja dengan tambahan biaya lageee…. cappee deee….

*Moral of the story : nanti kalau punya anak sebaiknya diberi nama 3 kata dengan tidak mengandung kata “Abdul”, “Abdullah”, “Ahmad”, “Nur”, “Siti” supaya mudah untuk umroh dan haji

related story

Sakau Traveling

Gara-gara baca buku-buku tentang traveling jadi ‘ngiler’ pengen jalan-jalan lagi. Sumpah! rasanya kangeeeen banget jadi mahasiswa lagi saat punya waktu yang lebih bebas mau kemana aja.

Hihii… jadi nostalgia saat kuliah sambil nyambi jadi reporter lepas di sebuah majalah internal perusahaan di Jawa Barat. Kayaknya saat itu–walau digaji kecil–merupakan pekerjaan yang paling aku enjoyyyy bangett. Setiap bulan kerjaannya jalan-jalan mengunjungi kota dan pelosok tempat di Jawa Barat untuk liputan. Habis itu nulis berita dan nyetak hasil foto (jaman dulu belom ada kamera digital. Red). Liputan terjauh adalah ke Cirebon dan Indramayu, mana waktu itu sempat hampir dikerjain sama tukang becak yang nyebelin di Cirebon. Btw, jangan dibayangkan liputan ke daerah ini difasilitasi mobil plus supir loh! Kami murni ngangkot, ngojek, mbecak, plus jalan kaki. Tapi asik-asik aja tuh! Pokoke kangen banget! If only I could turn back time

Pernah juga ‘tour de java’ saat tahun akhir kuliah yang udah gak ada mata kuliah lagi selain skripsi. Dengan tujuan mengisi pelatihan jurnalistik untuk anak-anak SMA 1 Kebumen, aku dan tiga teman sejurusan meluncur ke sana menggunakan KA ekonomi jurusan Bandung-Surabaya yang harga tiketnya cuma Rp 18 ribuan. Untung saat itu lagi low season, jadi gak umpel-umpelan dan gak repot rebutan tempat duduk.

I really enjoy that time! Naik KA ekonomi yang murah meriah ternyata memiliki sensasi sendiri. Dari dalam KA kita bisa merasakan perbedaan budaya setiap tempat yang kita lewati, karena KA ekonomi berhenti di hampir setiap stasiun dan membolehkan para bakul jualan masuk ke dalam KA. Berbeda dengan KA bisnis atau eksekutif yang hanya berhenti di stasiun tertentu dan melarang para pedagang masuk. Ingat banget waktu itu aku sampai tahu perbedaan pecel di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Kalo di Jawa Barat, pecelnya ada mie-nya, di Jawa Tengah ada bunga kecombrangnya, di Jawa Timur ada serundengnya.

Saat itu, habis dari Kebumen kami main ke Klaten, Solo, dan Jogja mengunjungi teman sekampus yang memang asli sana. Setelah puas foto-foto di Candi Prambanan, mancing di kampung, jalan-jalan di Malioboro, aku meneruskan perjalanan sendiri ke Madiun mengunjungi Pak De di sana. Pokoke what a wonderful life deh!

Kemudian setelah bebas dari judeg sama skripsi dan lulus dengan nilai A, sebenarnya aku ingiiiiin banget merayakannya dengan jalan-jalan ke luar Jawa. Kebetulan sebulan setelah lulus, peristiwa tsunami melanda Aceh, dan temanku dan aku diminta untuk jadi relawan Bulan Sabit Merah Indonesia ke sana. Tentu saja aku gak menolak! Tapi aku harus bersabar menunggu sebulan lagi menggantikan temanku yang sudah berangkat duluan ke sana.

Sayangnya, dalam rentang sebulan itu aku iseng silaturahmi ke radio MQ FM yang ternyata sedang butuh banget reporter radio. Alhasil aku disuruh masukin lamaran. Waktu itu kupikir, apa salahnya masukin doang. Toh belum tentu lolos. Ternyata seminggu kemudian aku dipanggil dan disuruh wawancara. Gak lama aku harus ikut karantina calon reporter dan penyiar MQ FM radio. Nah lo! Giliran saatnya aku harus menggantikan temanku di Aceh, aku masih dikarantina yang artinya aku akan gugur menjadi reporter radio….Intinya, saat itu aku batal ke Aceh. Dan rencanaku merayakan kelulusan dengan jalan-jalan pun pupus, karena aku langsung kerja. Well, kayaknya gak bersyukur banget yah, padahal sarjana nganggur yang udah ngebet kerja banyak banget .

Sampai sekarang alhamdulillah aku gak pernah merasakan nganggur. Dan alhamdulillah aku sudah berpengalaman kerja di 5 perusahaan besar yang membuatku menjadi ‘kaya’ akan pengalaman. Tapi karena aku rata-rata pindah kerja terus, jadinya aku gak pernah merasakan punya jatah cuti hehehe… Karena pas satu tahun atau dua tahun kerja, aku pindah ke tempat lain. Well, gak tahu kenapa yang pasti kondisi saat itu mengharuskan aku pindah karena satu dan banyak hal.

Terus, apa hubungannya dengan hasrat ingin traveling?? Well, mungkin karena keinginan yang gak keturutan sejak 6 tahun lalu itu yang akhirnya mendesakku sekarang, ditambah lagi baca buku-buku tentang travelling… duh, makin ‘sakau’ aja deh!! Apalagi setelah menikah dan belum juga dapat amanah anak ini, aku seolah mendengar Tuhan bicara, “Udah, travelling aja sono, mumpung belom punya anak!”

Well, kalau ditanya mau kemana? Ya maunya kemana-mana. Tapi kalau melihat budget yang ada sekarang kayaknya pengennya siy dalam negeri ajah. Toh dari semua referensi travelling yang kubaca, Indonesia adalah negara yang paling indah dengan kekayaan alamnya.

So, if you ask me when will you go traveling? I’ll answer, “As soon as possible…. insyaallah!”  

Sakau Traveling

Gara-gara baca buku-buku tentang traveling jadi ‘ngiler’ pengen jalan-jalan lagi. Sumpah! rasanya kangeeeen banget jadi mahasiswa lagi saat punya waktu yang lebih bebas mau kemana aja.

Hihii… jadi nostalgia saat kuliah sambil nyambi jadi reporter lepas di sebuah majalah internal perusahaan di Jawa Barat. Kayaknya saat itu–walau digaji kecil–merupakan pekerjaan yang paling aku enjoyyyy bangett. Setiap bulan kerjaannya jalan-jalan mengunjungi kota dan pelosok tempat di Jawa Barat untuk liputan. Habis itu nulis berita dan nyetak hasil foto (jaman dulu belom ada kamera digital. Red). Liputan terjauh adalah ke Cirebon dan Indramayu, mana waktu itu sempat hampir dikerjain sama tukang becak yang nyebelin di Cirebon. Btw, jangan dibayangkan liputan ke daerah ini difasilitasi mobil plus supir loh! Kami murni ngangkot, ngojek, mbecak, plus jalan kaki. Tapi asik-asik aja tuh! Pokoke kangen banget! If only I could turn back time

Pernah juga ‘tour de java’ saat tahun akhir kuliah yang udah gak ada mata kuliah lagi selain skripsi. Dengan tujuan mengisi pelatihan jurnalistik untuk anak-anak SMA 1 Kebumen, aku dan tiga teman sejurusan meluncur ke sana menggunakan KA ekonomi jurusan Bandung-Surabaya yang harga tiketnya cuma Rp 18 ribuan. Untung saat itu lagi low season, jadi gak umpel-umpelan dan gak repot rebutan tempat duduk.

I really enjoy that time! Naik KA ekonomi yang murah meriah ternyata memiliki sensasi sendiri. Dari dalam KA kita bisa merasakan perbedaan budaya setiap tempat yang kita lewati, karena KA ekonomi berhenti di hampir setiap stasiun dan membolehkan para bakul jualan masuk ke dalam KA. Berbeda dengan KA bisnis atau eksekutif yang hanya berhenti di stasiun tertentu dan melarang para pedagang masuk. Ingat banget waktu itu aku sampai tahu perbedaan pecel di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Kalo di Jawa Barat, pecelnya ada mie-nya, di Jawa Tengah ada bunga kecombrangnya, di Jawa Timur ada serundengnya.

Saat itu, habis dari Kebumen kami main ke Klaten, Solo, dan Jogja mengunjungi teman sekampus yang memang asli sana. Setelah puas foto-foto di Candi Prambanan, mancing di kampung, jalan-jalan di Malioboro, aku meneruskan perjalanan sendiri ke Madiun mengunjungi Pak De di sana. Pokoke what a wonderful life deh!

Kemudian setelah bebas dari judeg sama skripsi dan lulus dengan nilai A, sebenarnya aku ingiiiiin banget merayakannya dengan jalan-jalan ke luar Jawa. Kebetulan sebulan setelah lulus, peristiwa tsunami melanda Aceh, dan temanku dan aku diminta untuk jadi relawan Bulan Sabit Merah Indonesia ke sana. Tentu saja aku gak menolak! Tapi aku harus bersabar menunggu sebulan lagi menggantikan temanku yang sudah berangkat duluan ke sana.

Sayangnya, dalam rentang sebulan itu aku iseng silaturahmi ke radio MQ FM yang ternyata sedang butuh banget reporter radio. Alhasil aku disuruh masukin lamaran. Waktu itu kupikir, apa salahnya masukin doang. Toh belum tentu lolos. Ternyata seminggu kemudian aku dipanggil dan disuruh wawancara. Gak lama aku harus ikut karantina calon reporter dan penyiar MQ FM radio. Nah lo! Giliran saatnya aku harus menggantikan temanku di Aceh, aku masih dikarantina yang artinya aku akan gugur menjadi reporter radio….Intinya, saat itu aku batal ke Aceh. Dan rencanaku merayakan kelulusan dengan jalan-jalan pun pupus, karena aku langsung kerja. Well, kayaknya gak bersyukur banget yah, padahal sarjana nganggur yang udah ngebet kerja banyak banget .

Sampai sekarang alhamdulillah aku gak pernah merasakan nganggur. Dan alhamdulillah aku sudah berpengalaman kerja di 5 perusahaan besar yang membuatku menjadi ‘kaya’ akan pengalaman. Tapi karena aku rata-rata pindah kerja terus, jadinya aku gak pernah merasakan punya jatah cuti hehehe… Karena pas satu tahun atau dua tahun kerja, aku pindah ke tempat lain. Well, gak tahu kenapa yang pasti kondisi saat itu mengharuskan aku pindah karena satu dan banyak hal.

Terus, apa hubungannya dengan hasrat ingin traveling?? Well, mungkin karena keinginan yang gak keturutan sejak 6 tahun lalu itu yang akhirnya mendesakku sekarang, ditambah lagi baca buku-buku tentang travelling… duh, makin ‘sakau’ aja deh!! Apalagi setelah menikah dan belum juga dapat amanah anak ini, aku seolah mendengar Tuhan bicara, “Udah, travelling aja sono, mumpung belom punya anak!”

Well, kalau ditanya mau kemana? Ya maunya kemana-mana. Tapi kalau melihat budget yang ada sekarang kayaknya pengennya siy dalam negeri ajah. Toh dari semua referensi travelling yang kubaca, Indonesia adalah negara yang paling indah dengan kekayaan alamnya.

So, if you ask me when will you go traveling? I’ll answer, “As soon as possible…. insyaallah!”

IKATAN DOKTER INDONESIA (IDI): Pada Saat ini sedang ada wabah pengerasan otak atau sumsum tulang belakang. Jangan minum produk2: EXTRA JOSS, M-150, KOPI SUSU GELAS, KIRANTI, KRATINGDAENG, HEMAVITON, NEO HORMOVITON, MARIMAS, FRUTILLO, SEGAR SARI, POP ICE, SEGAR DINGIN vit C, OKKY JELLY DRINK, INACO, GATORADE, NABATI, ADEM SARI, NATURADE GOLD, AQUA SPLASH FRUIT, karena mengandung ASPARTAME (lebih keras dari Biang Gula) racun yg menyebabkan diabetes, kanker otak dan bisa mematikan sumsum tulang!!!

1st Indonesian Hot Air Balloon Adventure

Start:      Mar 26, ’10 06:00a
End:      Mar 28, ’10 8:00p
Location:      Sentul City, Bogor

Buat yang pengen naik/melihat balon udara guede yang ada keranjangnya, bisa kunjungi perhelatan ini nih!
Dan berdasarkan tanya-tanya ke pihak penyelenggara di 021-87926777, inilah informasi selengkapnya:

* Untuk masuk arena dan melihat hot air balloon : GRATIS!
* Untuk naik hot air balloon : Rp 100 ribu/orang dg tinggi min 120 cm
* Jadwal balon mengudara setiap harinya : 6:00-9:00 dan 17:00-20:00
* Lama mengudara setiap balon : 10 menit
* Jumlah balon udara yang disediakan : 20 balon
* Kapasitas keranjang : 4 penumpang + 1 pilot + 1 co-pilot = 6 orang

related link: http://www.sentulcity.co.id/news/events_details.aspx?id=39

Haji Backpacker

Rating: ★★
Category: Books
Genre: Travel
Author: Aguk Irawan

Haji Backpacker Haji Backpacker by Aguk Irawan

My rating: 2 of 5 stars
Kayaknya judul yang lebih tepat untuk buku ini adalah “Haji Nekat” (hehehe.. jadi kayak “Nekat Traveler” a.k.a. “Naked Traveler”), soalnya memoar perjalanan Haji Aguk Irawan ini benar-benar nekat! Persis seperti sub judul buku ini, “Memoar Mahasiswa Kere Naik Haji”. Membacanya saja membuatku capek (hehe lebay^^), apalagi ikutan merasakan petualangannya yang super nekat.

Apa yang dialami Haji Aguk ini seolah membalik 180 derajat logika kita tentang rukun Islam kelima yang identik dengan ‘harta melimpah’ untuk bisa melaksanakannya. Namun ternyata lewat buku ini, penulis telah membuktikan bahwa syarat “istito’ah” (mampu) untuk berhaji tidak berarti mampu secara materi, tetapi juga mampu secara fisik. Dengan hanya bermodal niat (plus nekat) tanpa uang cukup, Haji Aguk yang saat itu masih mahasiswa Al Azhar Kairo akhirnya mampu berhaji… Meskipun banyak juga gak enaknya. Lantaran gak punya uang untuk sewa penginapan, penulis terpaksa tidur di emperan Hotel Hilton atau kamar mandi Masjidil Haram. Tapi kalo lagi mujur, bisa numpang tidur di penginapan jamaah haji Indonesia, itu pun harus kucing-kucingan dengan satpam hotel yang sangar.

Lantaran duit mepet ini pula, konsentrasi ibadah di tanah suci otomatis terpecah, karena haji nekat ini harus memanfaatkan berbagai kesempatan untuk meraup riyal dengan halal. Alhasil, berbagai profesi dilakoninya, mulai dari mengantar katering jamaah haji, pemandu ziarah, tukang dorong kursi roda, sampai tukang pijat.

Mungkin pengalaman Aguk Irawan ini sudah tak asing bagi para mahasiswa Indonesia di Timur Tengah. Tetapi buku ini menjadi sebuah dokumentasi perjuangan sekaligus kenekatan para anak negeri yang telah membuktikan hukum “The power of ‘kepepet'” ^_^

View all my reviews >>


umroh backpacking mungkin gak yaa..?