nama-nama bayi dalam berbagai bahasa

http://www.findyourfate.com/numerology/names_dictionary.html
Baby names, Baby names in INDIAN, ENGLISH, MUSLIM, Names Dictionary, GREEK, CHINESE – Baby names

Bila Bumil Harus Bepergian

  • Selama kehamilannya sehat, tidak berisiko dan tidak sedang berada di trimester III, wanita hamil boleh melakukan perjalanan jauh.
  • Usia kehamilan ideal untuk melakukan perjalanan jauh adalah trimester II, karena pada trimester I berisiko keguguran, sedangkan pada trimester III berisiko kelahiran prematur.
  • Wanita hamil dengan hipertensi dan diabetes sebaiknya tidak melakukan perjalanan jauh untuk menghindari terjadinya keterlambatan penanganan medis jika terjadi komplikasi.
  • Wanita hamil sebaiknya melakukan perjalanan jauh dengan kendaraan yang nyaman, waktu tempuhnya cepat, dan rutenya tidak terlalu berliku. Hal ini untuk mencegah terjadinya komplikasi atau terkena pembekuan pembuluh darah vena akibat terlalu lama duduk.
  • Wanita hamil trimester III sebaiknya menghindari ketinggian 8200 kaki karena perubahan tekanan udaranya akan berisiko terjadinya perdarahan, keguguran, dan kelahiran prematur.

Yuni ingin sekali pergi mengunjungi adiknya yang tinggal di luar kota dan akan menikah, pekan depan. Ia ingin sekali ikut mendampingi dan merayakan hari kebahagiaan adiknya itu. Sayangnya, ia juga sedang menanti hari bahagianya, yaitu hari kelahiran buah hatinya yang pertama. Meskipun usia kehamilannya baru memasuki usia 7 bulan dan dalam kondisi sehat, namun dokter sudah melarangnya untuk bepergian jauh dengan pesawat.

Setiap orang memang ingin memiliki waktu khusus untuk berlibur dan melakukan perjalanan ke luar kota atau ke luar negeri, tidak terkecuali ibu hamil. Kegiatan berlibur yang juga biasa disebut pre-baby vacation ini memang bisa menjadi kesempatan untuk menikmati waktu yang berkualitas bersama suami dan keluarga, sebelum si kecil lahir. Sayangnya, tidak semua ibu hamil bisa melakukan perjalanan ini.

Trimester II paling ideal
Menurut Dr. Junita Indarti, SpOG, spesialis kebidanan dan penyakit kandungan dari RSCM, berlibur atau melakukan perjalanan jauh ketika hamil adalah kegiatan yang aman dan pada dasarnya diperbolehkan. “Hanya saja, ada beberapa hal atau kondisi yang harus diperhatikan sebelum melakukannya. Yang pasti, selama kandungannya sehat dan tidak berisiko, maka boleh-boleh saja mereka melakukannya,” ujar Junita. Meski sehat, namun bukannya tanpa risiko sama sekali. Pemeriksaan kehamilan secara rutin wajib dilakukan oleh ibu hamil. Menurut Junita, selama masih berada dalam masa kehamilan, berbagai risiko bisa saja terjadi, karena itu setiap kehamilan harus benar-benar dijaga kondisinya.

Selain kondisi kehamilan yang sehat, aman dan cenderung tidak berisiko buruk, usia kehamilan tetap harus diperhatikan ketika akan melakukan liburan atau melakukan perjalanan jauh. Dr. Caroline Tirtajasa, SpOG, spesialis kebidanan dan kandungan dari RS OMNI Pulomas, merekomendasikan usia kehamilan trimester kedua, atau 18–24 minggu, merupakan usia yang paling ideal untuk melakukan kegiatan ini. “Pada usia kehamilan trimester II, kondisi plasenta sudah terbentuk dengan baik dan sempurna sehingga dinilai aman bagi ibu hamil untuk melakukan perjalanan jauh. Tapi, sekali lagi, semuanya harus kembali dikonsultasikan kepada dokter,” ujarnya.

Menurut Caroline, usia kehamilan trimester I dinilai kurang baik atau kurang aman bagi ibu hamil untuk melakukan perjalanan jauh, karena kondisi plasentanya masih rapuh dan belum terbentuk sempurna, sehingga berisiko tinggi mengalami keguguran. “Apalagi jika dalam sejarah kesehatan atau kehamilan sebelumnya pernah mengalami keguguran, maka risiko keguguran pada kehamilan yang ini pun akan tinggi jika melakukan perjalanan jauh. Jadi sebaiknya dihindarkan dulu kegiatan ini. Kalaupun akan bepergian, sebaiknya jaraknya jangan terlalu jauh,” ujar  Caroline.

Selain itu, Junita juga mengusulkan agar ibu hamil tidak melakukan perjalanan jauh pada trimester I untuk menghindari komplikasi lainnya. “Sebelum dokter benar-benar memastikan bahwa kehamilan ini bukan di luar kandungan, sebaiknya ibu hamil muda jangan bepergian jauh dahulu,” jelasnya.

Sedangkan ketika usia kehamilan trimester III, atau sekitar 28–40 minggu, ibu hamil yang melakukan perjalanan jauh juga berisiko tinggi untuk mengalami proses kelahiran prematur. Junita menurutkan, pada usia kehamilan itu, rasa mulas dapat datang kapan saja sehingga semua hal yang berhubungan dengan proses melahirkan dapat terjadi. Belum lagi kondisi-kondisi lainnya yang harus diperhatikan pada masa kehamilan trimester III. “Karena itu, kegiatan bepergian jauh juga sebaiknya dihindari sampai bayi lahir. Atau, jika sangat terpaksa sekali, jaraknya jangan terlalu jauh dan tidak melelahkan,” ujarnya. Namun itu pun harus memeuhi syarat; telah dikonsultasikan ke dokter dan ibu hamil beserta keluarganya mengetahui dimana fasilitas kesehatan yang memadai dan dapat segera dihubungi di perjalanan maupun di kota tujuan. “Sehingga jika sewaktu-waktu harus melahirkan tidak bingung lagi,” Junita menambahkan.

Kondisi berisiko tinggi       
Selain faktor usia kehamilan, ada beberapa faktor dan kondisi yang harus diperhatikan ibu hamil ketika akan melakukan perjalanan jauh. Ada beberapa penyakit yang diderita ibu hamil yang membuatnya tidak diperbolehkan melakukan perjalanan jauh, di antaranya adalah hipertensi dan diabetes. “Namun, selama kedua penyakit ini masih terkontrol, maka dokter biasanya mengijinkan,” ujar Junita. Menurutnya, tekanan darah ibu hamil biasanya memang naik. Apalagi jika memang dia memiliki penyakit hipertensi, maka risikonya akan meningkat dua kali lipat. Begitu pun dengan penyakit diabetes. “Diabetes yang tidak terkontrol bisa berakibat fatal bagi bayi, oleh karena itu ibu hamil dengan diabetes sebaiknya tidak bepergian jauh, agar jika terjadi komplikasi pada kehamilannya bisa segera diatasi,” tambahnya.

Kondisi lain yang membuat dokter melarang ibu hamil untuk melakukan perjalanan jauh adalah sejarah keguguran atau lahir prematur pada kehamilan sebelumnya, kehamilan di luar kandungan, kehamilan kembar, kelainan plasenta (letaknya di bawah), mengeluarkan flek selama kehamilan, pernah mengalami perdarahan selama hamil, kelainan rahim, dan lainnya. “Kondisi-kondisi tersebut merupakan faktor risiko tinggi bagi ibu hamil jika bepergian jauh. Karena itu, sebaiknya dihindari saja kegiatan ini,” papar Junita.

Karena itu, sebelum melakukan perjalanan jauh, untuk menekan risiko komplikasi pada kehamilan, sebaiknya berkonsultasi dulu kepada dokter spesialis kandungan. Caroline mengatakan, jika dokter mengatakan boleh, dengan sederet persyaratan sekali pun, sebaiknya patuhi semua aturannya. Tapi, jika dokter sudah merekomendasikan untuk tidak melakukan perjalanan jauh, sebaiknya dituruti juga. “Sudah banyak kasus yang membuktikannya, misalnya melahirkan di perjalanan, mengalami perdarahan karena tidak tepat memilih kendaraan, melahirkan prematur, dan komplikasi lainnya,” ujar Caroline.

Hati-hati guncangan dan tekanan udara
Selain faktor usia dan kondisi kehamilan yang berisiko, pemilihan jenis kendaraan juga mempengaruhi keselamatan dan keamanan ibu hamil selama dalam perjalanan jauh. Caroline merekomendasikan, agar ibu hamil sebaiknya memilih jenis kendaraan yang nyaman dan aman untuk bepergian jauh. Mobil bisa menjadi pilihan karena memiliki tempat duduk yang empuk, ada sabuk pengamannya, tertutup dari udara panas dan hujan, dan mudah untuk berhenti kapan saja untuk beristirahat, stretching dan pergi ke toilet. Pesawat juga ideal, karena waktu tempuhnya yang cepat dan menawarkan kenyamanan bagi ibu hamil. “Jangan nekat bepergian jauh dengan alat transportasi yang tidak nyaman karena bisa memicu risiko komplikasi pada kehamilan,” sarannya.

Meski begitu, ada beberapa hal lainnya yang juga harus diperhatikan. Misalnya, pemilihan rute jalan yang kurang mulus atau rusak ketika mengendarai mobil, sehingga sering terjadi guncangan selama perjalanan. “Guncangan ini bisa memicu terjadinya perdarahan, keguguran atau kelahiran prematur,” ujar Caroline. Sedangkan ketika naik pesawat, ibu hamil juga harus hati-hati terhadap perubahan tekanan udara yang terjadi. Selain itu, jangan lupa untuk berjalan-jalan sebentar setiap satu jam sekali untuk menekan risiko terjadinya pembekuan pembuluh darah vena (deep vein thrombosis/DVT).

“Jika ibu hamil terlalu lama duduk dan tidak menggerakkan bagian bawah tubuhnya, maka bisa terjadi pembuluh venanya beku, bahkan pecah. Kalau sudah begini, maka bisa berisiko fatal terhadap kehamilannya,” Junita mengingatkan. Karena itu, mayoritas maskapai penerbangan biasanya tidak membolehkan ibu hamil di atas 34 minggu untuk bepergian dengan pesawat terbang.  “Dikhawatirkan ibu hamil akan mengalami perdarahan, keguguran atau kelahiran prematur, terutama saat take off dan landing,” tambahnya.

Selain itu, bila ingin bepergian jauh dalam rangka liburan, sebaiknya ibu hamil tidak memilih beberapa tempat yang bisa memicu komplikasi pada kehamilan. Para ahli merekomendasikan semua wanita hamil untuk menghindari lokasi atau tempat dengan ketinggian lebih dari 12.000 kaki. Pada ketinggian sekitar 10.000 meter, lapisan udara menjadi sangat tipis. Kondisi ini bisa mengakibatkan semua sinar atau zat radiasi kosmik menerpa tubuh manusia yang ada di dalam pesawat di ketinggian tersebut. Paparan ini dapat membahayakan janin dan organ reproduksi manusia (testis dan ovarium).

Oleh karena itu, sebaiknya wanita hamil di bawah 17 minggu tidak bepergian dengan pesawat. Sementara untuk usia kehamilan di trimester akhir, hindari ketinggian lebih dari 8.200 kaki. “Perubahan tekanan udara bisa mempengaruhi tekanan darah ibu hamil serta merangsang kontaksi dan mempercepat proses kelahiran,” ujar Junita.

=================

Tips Melakukan Perjalanan Jauh
Jika memang terpaksa harus melakukan perjalanan jauh, Junita dan Caroline mengatakan ada beberapa hal penting yang harus disiapkan dan dilakukan oleh ibu hamil, sejak sebelum berangkat dan dalam perjalanan.  

Sebelum berangkat

  1. Periksa kehamilan dan berkonsultasi ke dokter kandungan mengenai rencana perjalanan ini. Dokter yang akan memutuskan apakah kondisi kehamilan dan kesehatan ibu hamil itu bisa cukup kuat dan aman dari risiko komplikasi untuk melakukan perjalanan ini.
  2. Jangan pernah pergi sendirian. Pastikan ada keluarga yang mendampingi karena ibu hamil pasti membutuhkan bantuan, mulai dari mengangkat tas, pergi ke toilet sampai kram kaki.
  3. Bawalah persediaan makanan bergizi namun ringan yang cukup selama dalam perjalanan, agar asupan nutrisi bagi ibu dan bayi tetap bisa tercukupi. Jangan lupa untuk membawa air putih agar terhindar dari dehidrasi. Bawa juga bantal kecil untuk kenyamanan ibu hamil selama dalam perjalanan.
  4. Pastikan ibu hamil dan keluarganya mengetahui letak rumah sakit atau klinik yang memiliki fasilitas dan SDM yang mendukung di tempat tujuan. Pelajari dengan baik rute dan kendaraan menuju ke fasilitas kesehatan itu.
  5. Bawa rekam medik kehamilan untuk memudahkan pengobatan dan penanganan oleh tim medis jika terjadi sesuatu dalam perjalanan atau di tempat tujuan. Catat golongan darah dan resus darah ibu hamil.
  6. Tentukan alat transportasi yang akan digunakan dalam perjalanan, kemudian persiapkan semua hal yang berkaitan dengan kondisi alat transportasi dan kemungkinan terburuknya. Pastikan juga ibu hamil memesan tempat duduk di bagian dekat pintu keluar, atau agak luas di bagian kaki, atau di bagian lorong untuk memudahkan pergerakan ke toilet atau stretching.
  7. Siapkan obat-obatan lengkap (P3K) untuk gejala-gejala yang umum dialami ibu hamil seperti obat konstipasi (sembelit), sakit kepala, demam, dan sebagainya.
  8. Pastikan asuransi Anda masih berlaku dan bisa menanggung biaya untuk ibu sekaligus anak yang dikandung.
  9. Pastikan tempat dituju aman dan bebas dari nyamuk malaria atau penyakit endemi lainnya.
  10. Pakailah busana yang nyaman dan berbahan menyerap keringat demi kenyamanan ibu hamil dan bayi dalam kandungannya. Pakai juga sepatu yang bertumit rendah atau datar untuk menghindari jatuh atau kaki terkilir.

Selama dalam perjalanan

  1. Gunakan selalu sabuk pengaman, baik ketika mengendarai mobil maupun pesawat. Pastikan sabuk pengaman yang digunakan tidak terlalu mengikat perut ibu hamil. Karena trauma kecil pada bayi dalam kandungan bisa berakibat fatal.
  2. Jangan terlalu lama duduk dalam satu posisi. Pastikan ibu hamil berjalan-jalan atau menggerak-gerakkan kaki secara berkala untuk menghindari terjadinya pembekuan pembuluh darah vena. Gunakan juga kaos kaki atau stocking khusus selama perjalanan. Meski begitu, ibu hamil juga disarankan untuk mendapatkan cukup istirahat selama dalam perjalanan.
  3. Minumlah air putih secara teratur untuk menghindari dehidrasi. Hal ini juga penting untuk menekan risiko pembekuan pembuluh darah vena.
  4. Jangan berjalan naik turun tangga di pesawat karena turbulansi mendadak bisa membahayakan kaki ibu hamil.
  5. Kebanyakan ibu hamil menderita anemia, jadi ketika ibu hamil mengalami napas pendek atau pening, segera minta bantuan pada pramugari untuk mendapatkan oksigen tambahan.
  6. Ekstra hati-hati terhadap penyakit yang berhubungan dengan perut, seperti sakit perut, diare, dan lain sebagainya. Karena penyakit tersebut bisa membuat rancu antara mulas diare dengan mulas hendak melahirkan. Jaga kebersihan makanan dan hindari soda dan alkohol untuk menghindari diare, serta lingkungan yang berpolusi, seperti asap rokok, selama dalam perjalanan.

Diambil dari http://www.inspiredkidsmagazine.com/ArtikelPregnancy.php?artikelID=463

2 Garis

Setelah 11 purnama
Akhirnya 2 garis itu nampak
Puji syukur Ya Rabb
Akan kujaga amanah ini
Bismillahi tawakaltu lahawla wa laa kuwwata illa billah

Jakarta, 23 Mei 2010

Hamil muda naik pesawat aman kah?

Bila Bumil Harus Bepergian

  • Selama kehamilannya sehat, tidak berisiko dan tidak sedang berada di trimester III, wanita hamil boleh melakukan perjalanan jauh.
  • Usia kehamilan ideal untuk melakukan perjalanan jauh adalah trimester II, karena pada trimester I berisiko keguguran, sedangkan pada trimester III berisiko kelahiran prematur.
  • Wanita hamil dengan hipertensi dan diabetes sebaiknya tidak melakukan perjalanan jauh untuk menghindari terjadinya keterlambatan penanganan medis jika terjadi komplikasi.
  • Wanita hamil sebaiknya melakukan perjalanan jauh dengan kendaraan yang nyaman, waktu tempuhnya cepat, dan rutenya tidak terlalu berliku. Hal ini untuk mencegah terjadinya komplikasi atau terkena pembekuan pembuluh darah vena akibat terlalu lama duduk.
  • Wanita hamil trimester III sebaiknya menghindari ketinggian 8200 kaki karena perubahan tekanan udaranya akan berisiko terjadinya perdarahan, keguguran, dan kelahiran prematur.

Yuni ingin sekali pergi mengunjungi adiknya yang tinggal di luar kota dan akan menikah, pekan depan. Ia ingin sekali ikut mendampingi dan merayakan hari kebahagiaan adiknya itu. Sayangnya, ia juga sedang menanti hari bahagianya, yaitu hari kelahiran buah hatinya yang pertama. Meskipun usia kehamilannya baru memasuki usia 7 bulan dan dalam kondisi sehat, namun dokter sudah melarangnya untuk bepergian jauh dengan pesawat.

Setiap orang memang ingin memiliki waktu khusus untuk berlibur dan melakukan perjalanan ke luar kota atau ke luar negeri, tidak terkecuali ibu hamil. Kegiatan berlibur yang juga biasa disebut pre-baby vacation ini memang bisa menjadi kesempatan untuk menikmati waktu yang berkualitas bersama suami dan keluarga, sebelum si kecil lahir. Sayangnya, tidak semua ibu hamil bisa melakukan perjalanan ini.

Trimester II paling ideal
Menurut Dr. Junita Indarti, SpOG, spesialis kebidanan dan penyakit kandungan dari RSCM, berlibur atau melakukan perjalanan jauh ketika hamil adalah kegiatan yang aman dan pada dasarnya diperbolehkan. “Hanya saja, ada beberapa hal atau kondisi yang harus diperhatikan sebelum melakukannya. Yang pasti, selama kandungannya sehat dan tidak berisiko, maka boleh-boleh saja mereka melakukannya,” ujar Junita. Meski sehat, namun bukannya tanpa risiko sama sekali. Pemeriksaan kehamilan secara rutin wajib dilakukan oleh ibu hamil. Menurut Junita, selama masih berada dalam masa kehamilan, berbagai risiko bisa saja terjadi, karena itu setiap kehamilan harus benar-benar dijaga kondisinya.

Selain kondisi kehamilan yang sehat, aman dan cenderung tidak berisiko buruk, usia kehamilan tetap harus diperhatikan ketika akan melakukan liburan atau melakukan perjalanan jauh. Dr. Caroline Tirtajasa, SpOG, spesialis kebidanan dan kandungan dari RS OMNI Pulomas, merekomendasikan usia kehamilan trimester kedua, atau 18–24 minggu, merupakan usia yang paling ideal untuk melakukan kegiatan ini. “Pada usia kehamilan trimester II, kondisi plasenta sudah terbentuk dengan baik dan sempurna sehingga dinilai aman bagi ibu hamil untuk melakukan perjalanan jauh. Tapi, sekali lagi, semuanya harus kembali dikonsultasikan kepada dokter,” ujarnya.

Menurut Caroline, usia kehamilan trimester I dinilai kurang baik atau kurang aman bagi ibu hamil untuk melakukan perjalanan jauh, karena kondisi plasentanya masih rapuh dan belum terbentuk sempurna, sehingga berisiko tinggi mengalami keguguran. “Apalagi jika dalam sejarah kesehatan atau kehamilan sebelumnya pernah mengalami keguguran, maka risiko keguguran pada kehamilan yang ini pun akan tinggi jika melakukan perjalanan jauh. Jadi sebaiknya dihindarkan dulu kegiatan ini. Kalaupun akan bepergian, sebaiknya jaraknya jangan terlalu jauh,” ujar Caroline.

Selain itu, Junita juga mengusulkan agar ibu hamil tidak melakukan perjalanan jauh pada trimester I untuk menghindari komplikasi lainnya. “Sebelum dokter benar-benar memastikan bahwa kehamilan ini bukan di luar kandungan, sebaiknya ibu hamil muda jangan bepergian jauh dahulu,” jelasnya.

Sedangkan ketika usia kehamilan trimester III, atau sekitar 28–40 minggu, ibu hamil yang melakukan perjalanan jauh juga berisiko tinggi untuk mengalami proses kelahiran prematur. Junita menurutkan, pada usia kehamilan itu, rasa mulas dapat datang kapan saja sehingga semua hal yang berhubungan dengan proses melahirkan dapat terjadi. Belum lagi kondisi-kondisi lainnya yang harus diperhatikan pada masa kehamilan trimester III. “Karena itu, kegiatan bepergian jauh juga sebaiknya dihindari sampai bayi lahir. Atau, jika sangat terpaksa sekali, jaraknya jangan terlalu jauh dan tidak melelahkan,” ujarnya. Namun itu pun harus memeuhi syarat; telah dikonsultasikan ke dokter dan ibu hamil beserta keluarganya mengetahui dimana fasilitas kesehatan yang memadai dan dapat segera dihubungi di perjalanan maupun di kota tujuan. “Sehingga jika sewaktu-waktu harus melahirkan tidak bingung lagi,” Junita menambahkan.

Kondisi berisiko tinggi
Selain faktor usia kehamilan, ada beberapa faktor dan kondisi yang harus diperhatikan ibu hamil ketika akan melakukan perjalanan jauh. Ada beberapa penyakit yang diderita ibu hamil yang membuatnya tidak diperbolehkan melakukan perjalanan jauh, di antaranya adalah hipertensi dan diabetes. “Namun, selama kedua penyakit ini masih terkontrol, maka dokter biasanya mengijinkan,” ujar Junita. Menurutnya, tekanan darah ibu hamil biasanya memang naik. Apalagi jika memang dia memiliki penyakit hipertensi, maka risikonya akan meningkat dua kali lipat. Begitu pun dengan penyakit diabetes. “Diabetes yang tidak terkontrol bisa berakibat fatal bagi bayi, oleh karena itu ibu hamil dengan diabetes sebaiknya tidak bepergian jauh, agar jika terjadi komplikasi pada kehamilannya bisa segera diatasi,” tambahnya.

Kondisi lain yang membuat dokter melarang ibu hamil untuk melakukan perjalanan jauh adalah sejarah keguguran atau lahir prematur pada kehamilan sebelumnya, kehamilan di luar kandungan, kehamilan kembar, kelainan plasenta (letaknya di bawah), mengeluarkan flek selama kehamilan, pernah mengalami perdarahan selama hamil, kelainan rahim, dan lainnya. “Kondisi-kondisi tersebut merupakan faktor risiko tinggi bagi ibu hamil jika bepergian jauh. Karena itu, sebaiknya dihindari saja kegiatan ini,” papar Junita.

Karena itu, sebelum melakukan perjalanan jauh, untuk menekan risiko komplikasi pada kehamilan, sebaiknya berkonsultasi dulu kepada dokter spesialis kandungan. Caroline mengatakan, jika dokter mengatakan boleh, dengan sederet persyaratan sekali pun, sebaiknya patuhi semua aturannya. Tapi, jika dokter sudah merekomendasikan untuk tidak melakukan perjalanan jauh, sebaiknya dituruti juga. “Sudah banyak kasus yang membuktikannya, misalnya melahirkan di perjalanan, mengalami perdarahan karena tidak tepat memilih kendaraan, melahirkan prematur, dan komplikasi lainnya,” ujar Caroline.

Hati-hati guncangan dan tekanan udara
Selain faktor usia dan kondisi kehamilan yang berisiko, pemilihan jenis kendaraan juga mempengaruhi keselamatan dan keamanan ibu hamil selama dalam perjalanan jauh. Caroline merekomendasikan, agar ibu hamil sebaiknya memilih jenis kendaraan yang nyaman dan aman untuk bepergian jauh. Mobil bisa menjadi pilihan karena memiliki tempat duduk yang empuk, ada sabuk pengamannya, tertutup dari udara panas dan hujan, dan mudah untuk berhenti kapan saja untuk beristirahat, stretching dan pergi ke toilet. Pesawat juga ideal, karena waktu tempuhnya yang cepat dan menawarkan kenyamanan bagi ibu hamil. “Jangan nekat bepergian jauh dengan alat transportasi yang tidak nyaman karena bisa memicu risiko komplikasi pada kehamilan,” sarannya.

Meski begitu, ada beberapa hal lainnya yang juga harus diperhatikan. Misalnya, pemilihan rute jalan yang kurang mulus atau rusak ketika mengendarai mobil, sehingga sering terjadi guncangan selama perjalanan. “Guncangan ini bisa memicu terjadinya perdarahan, keguguran atau kelahiran prematur,”
ujar Caroline. Sedangkan ketika naik pesawat, ibu hamil juga harus hati-hati terhadap perubahan tekanan udara yang terjadi. Selain itu, jangan lupa untuk berjalan-jalan sebentar setiap satu jam sekali untuk menekan risiko terjadinya pembekuan pembuluh darah vena (deep vein thrombosis/DVT).

“Jika ibu hamil terlalu lama duduk dan tidak menggerakkan bagian bawah tubuhnya, maka bisa terjadi pembuluh venanya beku, bahkan pecah. Kalau sudah begini, maka bisa berisiko fatal terhadap kehamilannya,” Junita mengingatkan. Karena itu, mayoritas maskapai penerbangan biasanya tidak membolehkan ibu hamil di atas 34 minggu untuk bepergian dengan pesawat terbang. “Dikhawatirkan ibu hamil akan mengalami perdarahan, keguguran atau kelahiran prematur, terutama saat take off dan landing,” tambahnya.

Selain itu, bila ingin bepergian jauh dalam rangka liburan, sebaiknya ibu hamil tidak memilih beberapa tempat yang bisa memicu komplikasi pada kehamilan. Para ahli merekomendasikan semua wanita hamil untuk menghindari lokasi atau tempat dengan ketinggian lebih dari 12.000 kaki. Pada ketinggian sekitar 10.000 meter, lapisan udara menjadi sangat tipis. Kondisi ini bisa mengakibatkan semua sinar atau zat radiasi kosmik menerpa tubuh manusia yang ada di dalam pesawat di ketinggian tersebut. Paparan ini dapat membahayakan janin dan organ reproduksi manusia (testis dan ovarium).

Oleh karena itu, sebaiknya wanita hamil di bawah 17 minggu tidak bepergian dengan pesawat. Sementara untuk usia kehamilan di trimester akhir, hindari ketinggian lebih dari 8.200 kaki. “Perubahan tekanan udara bisa mempengaruhi tekanan darah ibu hamil serta merangsang kontaksi dan mempercepat proses kelahiran,” ujar Junita.

=================

Tips Melakukan Perjalanan Jauh
Jika memang terpaksa harus melakukan perjalanan jauh, Junita dan Caroline mengatakan ada beberapa hal penting yang harus disiapkan dan dilakukan oleh ibu hamil, sejak sebelum berangkat dan dalam perjalanan.

Sebelum berangkat

  1. Periksa kehamilan dan berkonsultasi ke dokter kandungan mengenai rencana perjalanan ini. Dokter yang akan memutuskan apakah kondisi kehamilan dan kesehatan ibu hamil itu bisa cukup kuat dan aman dari risiko komplikasi untuk melakukan perjalanan ini.
  2. Jangan pernah pergi sendirian. Pastikan ada keluarga yang mendampingi karena ibu hamil pasti membutuhkan bantuan, mulai dari mengangkat tas, pergi ke toilet sampai kram kaki.
  3. Bawalah persediaan makanan bergizi namun ringan yang cukup selama dalam perjalanan, agar asupan nutrisi bagi ibu dan bayi tetap bisa tercukupi. Jangan lupa untuk membawa air putih agar terhindar dari dehidrasi. Bawa juga bantal kecil untuk kenyamanan ibu hamil selama dalam perjalanan.
  4. Pastikan ibu hamil dan keluarganya mengetahui letak rumah sakit atau klinik yang memiliki fasilitas dan SDM yang mendukung di tempat tujuan. Pelajari dengan baik rute dan kendaraan menuju ke fasilitas kesehatan itu.
  5. Bawa rekam medik kehamilan untuk memudahkan pengobatan dan penanganan oleh tim medis jika terjadi sesuatu dalam perjalanan atau di tempat tujuan. Catat golongan darah dan resus darah ibu hamil.
  6. Tentukan alat transportasi yang akan digunakan dalam perjalanan, kemudian persiapkan semua hal yang berkaitan dengan kondisi alat transportasi dan kemungkinan terburuknya. Pastikan juga ibu hamil memesan tempat duduk di bagian dekat pintu keluar, atau agak luas di bagian kaki, atau di bagian lorong untuk memudahkan pergerakan ke toilet atau stretching.
  7. Siapkan obat-obatan lengkap (P3K) untuk gejala-gejala yang umum dialami ibu hamil seperti obat konstipasi (sembelit), sakit kepala, demam, dan sebagainya.
  8. Pastikan asuransi Anda masih berlaku dan bisa menanggung biaya untuk ibu sekaligus anak yang dikandung.
  9. Pastikan tempat dituju aman dan bebas dari nyamuk malaria atau penyakit endemi lainnya.
  10. Pakailah busana yang nyaman dan berbahan menyerap keringat demi kenyamanan ibu hamil dan bayi dalam kandungannya. Pakai juga sepatu yang bertumit rendah atau datar untuk menghindari jatuh atau kaki terkilir.

Selama dalam perjalanan

  1. Gunakan selalu sabuk pengaman, baik ketika mengendarai mobil maupun pesawat. Pastikan sabuk pengaman yang digunakan tidak terlalu mengikat perut ibu hamil. Karena trauma kecil pada bayi dalam kandungan bisa berakibat fatal.
  2. Jangan terlalu lama duduk dalam satu posisi. Pastikan ibu hamil berjalan-jalan atau menggerak-gerakkan kaki secara berkala untuk menghindari terjadinya pembekuan pembuluh darah vena. Gunakan juga kaos kaki atau stocking khusus selama perjalanan. Meski begitu, ibu hamil juga disarankan untuk mendapatkan cukup istirahat selama dalam perjalanan.
  3. Minumlah air putih secara teratur untuk menghindari dehidrasi. Hal ini juga penting untuk menekan risiko pembekuan pembuluh darah vena.
  4. Jangan berjalan naik turun tangga di pesawat karena turbulansi mendadak bisa membahayakan kaki ibu hamil.
  5. Kebanyakan ibu hamil menderita anemia, jadi ketika ibu hamil mengalami napas pendek atau pening, segera minta bantuan pada pramugari untuk mendapatkan oksigen tambahan.
  6. Ekstra hati-hati terhadap penyakit yang berhubungan dengan perut, seperti sakit perut, diare, dan lain sebagainya. Karena penyakit tersebut bisa membuat rancu antara mulas diare dengan mulas hendak melahirkan. Jaga kebersihan makanan dan hindari soda dan alkohol untuk menghindari diare, serta lingkungan yang berpolusi, seperti asap rokok, selama dalam perjalanan.

Diambil dari http://www.inspiredkidsmagazine.com/ArtikelPregnancy.php?artikelID=463

2 Garis

Setelah 11 purnama
Akhirnya 2 garis itu nampak
Puji syukur Ya Rabb
Akan kujaga amanah ini
Bismillahi tawakaltu lahawla wa laa kuwwata illa billah

Jakarta, 23 Mei 2010

Singapore, here we come!

Start:      May 29, ’10 9:00p
End:      Jun 1, ’10
Location:      Singapore

In order to celebrate our 1st anniversary–and fortunately got cheap tickets ;)–insya Allah me and my beloved husband are going to visit a country of Indonesian corruptors’ destination ;p

Circle of Life

Sabtu (15/5): undangan pernikahan
Ahad (16/5): berita kelahiran
Selasa (18/5): syukuran milad (ulang tahun)
Rabu (19/5): kabar kematian

Masyaallah… kronologis risalah yang membuatku merinding. Setelah menghadiri resepsi pernikahan adik kelasku, esoknya aku menerima sms suka cita atas kelahiran putra pertama temanku yang lain. Lusanya, Hari Selasa, kami mengadakan syukuran kecil-kecilan ulang tahun suamiku dengan membuat nasi kuning. Kemudian esoknya mataku basah oleh berita duka meninggalnya teman seperjuangan semasa kuliah, Teh Eva Kurnia.

Menikah, melahirkan, tumbuh besar (ulang tahun), mati…. Sebuah kronologi yang mewakili perjalanan hidup setiap insan.

Dari pertemuan dua insan, laki-laki dan perempuan, lahirlah ke dunia seorang anak manusia, dimana ia kemudian tumbuh dan bertambah umurnya, dan pada titik tertentu umurnya, ia akan mati… pulang ke pangkuan Illahi…

Subhanallah… semoga kronologi risalah atau berita yang aku terima selama 4 hari berturut-turut ini dapat membawa hikmah dan membuat kita memperbaiki diri serta mempersiapkan mati. Wallahua’lam bishawab

Circle of Life

Sabtu (15/5): undangan pernikahan
Ahad (16/5): berita kelahiran
Selasa (18/5): syukuran milad (ulang tahun)
Rabu (19/5): kabar kematian

Masyaallah… kronologis risalah yang membuatku merinding. Setelah menghadiri resepsi pernikahan adik kelasku, esoknya aku menerima sms suka cita atas kelahiran putra pertama temanku yang lain. Lusanya, Hari Selasa, kami mengadakan syukuran kecil-kecilan ulang tahun suamiku dengan membuat nasi kuning. Kemudian esoknya mataku basah oleh berita duka meninggalnya teman seperjuangan semasa kuliah, Teh Eva Kurnia.

Menikah, melahirkan, tumbuh besar (ulang tahun), mati…. Sebuah kronologi yang mewakili perjalanan hidup setiap insan.

Dari pertemuan dua insan, laki-laki dan perempuan, lahirlah ke dunia seorang anak manusia, dimana ia kemudian tumbuh dan bertambah umurnya, dan pada titik tertentu umurnya, ia akan mati… pulang ke pangkuan Illahi…

Subhanallah… semoga kronologi risalah atau berita yang aku terima selama 4 hari berturut-turut ini dapat membawa hikmah dan membuat kita memperbaiki diri serta mempersiapkan mati. Wallahua’lam bishawab

Selamat Jalan Mujahidah*

Hari ini wajahku basah air mata
atas haru dan juga lara
karena kepergian seorang ukhti tercinta
tetehku sayang yang membawaku ke jalan cahaya

Kini kau berjalan kembali pada-Nya
dengan damai menuju surga-Nya
setelah bebas melawan kanker selaput paru
yang akhirnya merenggut nyawamu

30 tahun usiamu
dengan 2 buah hati yang lucu-lucu
Semoga Allah senantiasa menjaga para mujahid cilikmu
Dan kita akan berjumpa kembali bersamamu

Jakarta, 19 Mei 2010
*untuk Teh Eva Kurnia alumni BKI ’98… till we meet again in heaven, sister